
.
.
.
.
-6 bulan kemudian-
"Ayo Dit, kenapa lama sekali?" Kata Dion sambil sedikit berteriak
Aditya berjalan santai menghampiri Dion dan duduk disebelah Dion.
"Mau ngapain lagi? Rosa bisa marah kalau kita tidak segera datang"
"Tunggu, saya harus mengirim pesan pada Keysa"
Aditya membuka layar ponselnya dan mengirimkan beberapa kata ke Keysa
(Chatting)
_ _ _ _ _ _
^^^"Saya tidak ada di rumah, jika mau^^^
^^^kemari nanti sore saja"^^^
_ _ _ _ _ _
Aditya mematikan layar ponselnya dan berjalan keluar meninggalkan Dion, di depan rumah Aditya terlihat Ardhan yang duduk di kursi kayu depan rumahnya. Ardhan menghampiri Aditya dan memberikan sebuah kotak padanya.
"Apa ini?" Tanya Aditya
"Pesanan lo kemarin, emang mau lo buat apa barang itu?"
"Terima kasih" Jawab Aditya
"Yasudah gue balik dulu, ada hal yang harus gue kerjain" Kata Ardhan sambil berjalan menjauh dari Aditya dan Dion sambil melambaikan tangan
"Sudah mendapatkannya?" Tanya Dion
"Sudah, sesuai permintaan ibu Melati" Jawab Aditya membuka dan melihat isi kotak yang diberikan Ardhan
***
"Kenapa mereka belum kemari?" Tanya Melati
"Sebentar lagi mereka pasti kemari tante, kita tunggu saja"
Dok...Dok...Dok...
Suara pintu diketuk
"Sepertinya itu mereka tante" Kata Rosa
Mama Reyna mengangguk dan berjalan ke lantai bawah untuk membuka pintu
"Akhirnya kalian datang" Kata Melati
Aditya dan Dion mengikuti langkah mama Reyna menuju ruang kamar Reyna.
Didepan pintu langkah Aditya menjadi ragu untuk ikut masuk ke ruangan itu.
"Kenapa Dit?" Tanya Dion sambil menoleh ke arah Aditya yang berdiri diam
*Aku tidak tega melihatnya, bahkan sudah 6 bulan lamanya aku tidak menemuinya dan hanya berdiri di depan pintu*
Rosa dan mama Reyna ikut memandangi Aditya yang hanya diam di depan itu.
*Apa Aditya masih takut untuk menemui Reyna, bahkan dalam waktu setengah tahun dia masih belum menemui Reyna sama sekali* batin Rosa
-Flashback on-
-Saat Aditya pulang dari rumah sakit-
"Reyn, kamu kenapa? Tenanglah" Kata Rosa dengan membelai lembut rambut Reyna
Reyna hanya diam dan menangis kini dia sudah semakin tenang dari sebelumnya.
Terlihat Ardhan dan Dion masuk ke kamar Aditya untuk memastikan keadaan Reyna.
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanya Ardhan
Rosa hanya menggeleng pelan, menjawab pertanyaan Ardhan. Ardhan mendekati Reyna dan meraih kedua tangan Reyna.
Reyna memandang ke arah Ardhan yang sedang menggenggam tangannya dan duduk jongkok dibawahnya.
"Reyn, gue tahu lo kuat. Tapi lo punya kita semua, apa gunanya kita kalau lo tidak mau membagi beban lo. Lo ingat kan gue pernah cerita apa sama lo tentang Ariana? Dia gadis cerita seperti lo, dan gue yakin lo tidak akan mudah menyerah seperti dia." Kata Ardhan dengan lembut dan hangat
Reyna hanya diam tidak menjawab ucapan Ardhan, hingga dia berdiri dari posisi bersandar di badan Rosa dan melepaskan pelukannya dengan Rosa.
Reyna menahan air matanya, dan memejamkan matanya hingga dia mau berbicara.
"Aku merasa sudah tidak pantas disini, bahkan sebelum aku bikin mama dan nenek bangga. Hidupku hancur dalam sekejap, dan kini aku harus berusaha menyembunyikan kehadiran anak di rahimku. Aku takut kalian meninggalkanku dan benci padaku" Kata Reyna sambil terisak dan menundukkan kepala
Rosa mengusap air matanya dan memeluk hangat Reyna, Dion mendekati Reyna dan duduk di samping Ardhan dan menggenggam tangan Reyna.
"Kami tidak akan meninggalkanmu berjuang sendiri" Kata Dion
"Kami akan selalu ada buat kamu Reyn" Sambung Rosa
Ardhan tersenyum hangat melihat Reyna yang mau berbicara terus terang.
***
Sedangkan di ruang tamu Aditya sedang bertengkar dengan Keysa, karena rasa cemburu Keysa pada Reyna dan tidak kepekaan Aditya pada perasaannya.
"Tolong jangan seperti ini, saya sudah jelasin semua pada nona. Dan apa yang terjadi dengan Reyna, hingga saya harus membantunya"
__ADS_1
"Sudahlah Dit, gue mau pulang saja dari pada disini hati gue sakit" Sambil berdiri berjalan keluar rumah Aditya
"Nona, jangan seperti ini. Saya minta maaf" Kata Aditya mengejar Keysa
Keysa membalikkan badannya dan menatap Aditya dengan mata yang basah akibat tangisan.
"Segitu pentingnya Reyna buat lo sampai lo tidak tahu perasaan tunangan lo sendiri, gue tahu hati lo bukan milik gue. Tapi setidaknya harga sedikit usaha gue buat lo Dit!" Tangan Keysa memukul dada Aditya dengan keras hingga Aditya sedikit meringis menahannya
"Nona boleh marah sama saya, tapi jangan salah paham. Reyna hanya teman saya, dan dia butuh support"
Keysa menjauhkan tangannya dari Aditya dan berjalan menjauhi Aditya yang diam mematung melihat tunangannya pergi menjauhinya.
Keysa menaiki taksi didepan gang rumah Aditya tanpa menatap ke arah Aditya sama sekali.
*Maafin aku, kamu pasti kecewa. Hanya saja aku tidak mau jika kamu terlalu jatuh hati padaku, aku tidak bisa memaksa hatiku untuk jadi milikmu* batin Aditya sambil memandang ke arah taksi yang dinaiki Keysa
***
Aditya merebahkan badannya dan memejamkan matanya di sofa ruang tamu, bahkan otaknya merasa lelah dan capek melihat masalah yang sering terjadi akhir-akhir ini.
Ardhan yang melihat Aditya seperti orang frustasi menghampirinya, dan duduk di sofa dekat Aditya merebahkan badannya.
"Lo tahu, Reyna menderita sekarang" Kata Ardhan
Aditya yang mendengar ucapan Ardhan hanya mendengarkannya tanpa merespon.
"Dia hamil Dit, karena ulah Ivan" Sambung Ardhan
Aditya membuka matanya dan melihat ke arah Ardhan
*Yang aku takutkan terjadi* batin Aditya
Aditya bangun dari rebahan nya dan memandangi Ardhan.
"Bagaimana dengan kuliahnya?" Tanya Aditya
"Itu yang gue takutkan, tidak mungkin jika dia akan diterima oleh mahasiswa lain. Kecuali jika dia ambil cuti setelah menyelesaikan semester ke 2-nya, iya alasan masih bisa kita cari. Cuma gue takut dia tertekan" Jelas Ardhan
"Sementara kita sembunyikan masalah ini jangan sampai ada yang tahu, termasuk tunangan lo." Sambung Ardhan
Aditya mengiyakan ucapan Ardhan dan kembali terdiam tanpa mengucapkan apapun.
-Flashback off-
"Dit, ayo masuk" Ajak Dion
Aditya berjalan memasuki kamar Reyna tanpa melihat ke arah Reyna sedikitpun
"Adi..." Teriak Reyna
Aditya semakin tidak tega melihat ke arah Reyna, mau bagaimanapun juga apa yang terjadi pada Reyna merupakan kesalahannya yang tidak mau terus terang tentang sikap Ivan dan milih untuk menyembunyikannya dari Reyna.
"Dit, duduklah" Kata Melati sambil memegangi pundak Aditya
Aditya masih diam tanpa mau melihat ke arah Reyna
(Suara rantai bergesekan)
Dion mendekati Aditya dan menyuruh Aditya melihat ke arah Reyna, awalnya Aditya ragu untuk melihatnya. Namun setelah membuka matanya, hati Aditya terasa perih. Bahkan dia tahu alasan mengapa Dion yang laki-laki bisa menangis melihat Reyna.
Melihat kondisi Reyna yang kurus dengan perut buncit akibat hamil, serta tangan dan kakinya yang harus dirantai untuk mencegah Reyna lari dan melukai bayinya.
Aditya langsung memalingkan pandangannya dari Reyna, Aditya melihat ke arah Dion dan mengangguk.
"Reyn, aku dan Aditya akan melepaskan rantai ini dari tangan dan kakimu. Aku harap kamu mau mengikuti kata mamamu dan kami demi kesembuhan mu" Kata Dion duduk ditepi ranjang Reyna
Reyna hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Dion dan Aditya.
"Dit, kotak dari senior tadi dimana?" Tanya Dion
"Di mobil" Jawab Aditya
"Kenapa kamu tidak membawanya, benar-benar" Ucap Dion sambil berjalan keluar dari kamar Reyna
Aditya melirik ke arah Reyna yang sedikit merintih kesakitan.
"Adi..." Panggil Reyna
Aditya menoleh ke arahnya dan sedikit tersenyum.
"Reyn, setelah ini saya harap kamu lebih nurut sama mamamu. Kamu ingin sembuh kan? Ikhlaskan apa yang terjadi padamu, saya yakin semua akan berakhir indah." Ucap Aditya sambil mendekati Reyna.
"Aku ingin sembuh" Kata Reyna sambil menangis
Dion masuk ke kamar Reyna dan meletakkan kotak dari Ardhan tadi di atas lantai.
Aditya menghampiri Dion dan mengambil satu alat pemotong besi dari kotak itu.
Dion mengangguk ke pada Aditya memberi isyarat jika dia siap.
Aditya dan Dion memotong rantai yang melingkar di kedua kaki Reyna, sedangkan Rosa dan mama Reyna menggunting tali dan berusaha melepaskannya dari tangan Reyna.
Reyna memeluk mamanya ketika tali dan besi itu lepas dari dirinya
"Reyna mau sembuh" Kata Reyna didalam pelukan mamanya
***
Selama hampir 2 bulan Reyna menjalani pengobatan yang membuat keadaan mentalnya semakin membaik dan keadaan perutnya yang semakin membesar.
Saat Reyna hendak menuruni tangga, dia dikejutkan dengan kehadiran orang tua Ivan di ruang tamunya.
Reyna mendengar rencana pernikahan yang direncanakan keluarga Ivan demi kebaikan anak di dalam perut Reyna.
*Aku belum siap* batin Reyna
Reyna menggelengkan kepalanya dan berlari menaiki tangga untuk kembali ke kamarnya, karena sandal yang digunakannya sedikit licin dan tidak hati-hati Reyna terpeleset dan jatuh ke bawah tangga.
"Reyna!" Teriak Melati yang sontak membuat orang tua Ivan menoleh ke arah tangga dan melihat Reyna terjatuh.
__ADS_1
Cairan berwarna merah segar mengalir di kakinya, mama Reyna panik melihat hal itu.
Reyna dilarikan ke rumah sakit dan kondisinya kritis yang mengharuskan dia dirawat di ICU
"Tante bagaimana keadaan Reyna?" Tanya Rosa panik
Mama Reyna hanya menangis dan memeluk Rosa, Dion dan Aditya memandang ke arah jendela kaca ruang ICU yang dari luar mereka bisa melihat Reyna.
"Dit, Reyna sudah melahirkan?" Tanya Dion polos setelah melihat ke arah Reyna dengan keadaan tidak sadarkan diri serta kondisi perut yang rata.
Aditya menghampiri mama Reyna yang berada di pelukan Rosa.
"Apa yang terjadi bu?" Tanya Aditya
Mama Reyna melepaskan pelukannya dan duduk di kursi dekat mereka.
Mama Reyna menceritakan semua yang terjadi termasuk kedatangan orang tua Ivan yang mendengar kehamilan Reyna dan berniat menikahkan Ivan dengan Reyna.
"Sekarang keadaan Reyna kritis, dan bayinya..." Kata Melati sambil terisak tidak bisa menahan kesedihannya
"Meninggal dalam rahim Reyna, dan harus terpaksa dikeluarkan" Lanjut Melati
Ekspresi wajah Rosa, Dion, dan Aditya terkejut, bahkan mereka tidak menduga jika semua ini akan terjadi.
Mereka terduduk lemas, mengingat Reyna mulai menyayangi anak didalam kandungannya itu.
***
3 bulan setelah insiden mengerikan itu terjadi, Reyna dengan kondisinya yang semakin membaik walaupun masih merasa terpukul karena kehilangan anaknya terlihat mengunjungi kantor polisi tempat Ivan ditahan bersama dengan Rosa dan Dion.
"Reyn, apa kamu yakin ingin menemuinya?" Tanya Rosa
Reyna menganggukkan kepalanya dengan mantab, Dion dan Rosa hanya saling tatap mengikuti keinginan Reyna.
Reyna menemui Ivan yang berada di sel penjara.
"Saudara Ivan, ada tamu untuk anda" Kata polisi
Ivan dibawa keluar dari sel dan diarahkan menuju ruang kunjungan, Ivan terkejut melihat Reyna, Rosa, dan Dion.
*Reyna? Apa kabar sayang?* batin Ivan sambil tersenyum
Reyna mendongakkan kepalanya ketika merasa ada seseorang didepannya.
Ivan meraih tangan Reyna yang kemudian dihalangi oleh Dion, Reyna menyembunyikan tangannya ke bawah meja.
Pandangan Reyna hanya mengarah pada meja, bahkan dia tidak berani melihat ke arah Ivan.
"Sayang, apa kabar? Aku senang kamu menjengukku kemari setelah hampir satu tahun ini" Kata Ivan
"Aku benar-benar minta maaf padamu, aku khilaf aku gelap mata saat itu. Aku hanya ingin memilikimu seutuhnya, jujur aku cemburu melihatmu begitu dekat dengan Aditya. Hingga aku tidak dasar melakukan hal itu" Sambung Ivan dengan menundukkan kepala berharap Reyna mau memaafkannya
Reyna melirik ke arah Ivan, tangannya meraih kepala Ivan dan mengusapnya pelan.
Reyna benar-benar kecewa dengan sikap Ivan, namun dihatinya yang paling dalam rasanya masih untuk Ivan. Walaupun akan berubah seiring berjalannya waktu, Reyna hanya berharap Ivan mau memperbaiki diri dan tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Aku sudah memaafkan kamu" Kata Reyna
Ivan mendongakkan kepalanya dan menggenggam tangan Reyna, yang secara bersamaan mendapat tatapan tajam dari Dion dan Rosa.
"Terima kasih, terima kasih sayang. Kamu sudah memberiku kesempatan"
Reyna hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
*Mungkin ini cara yang benar, aku harus ikhlas dan melupakan masa laluku. Aku hanya ingin hidup bahagia tanpa dendam ataupun menyimpan sakit hati pada siapapun.* batin Reyna.
"Laporan tentang kamu akan aku cabut, supaya kamu bisa bebas. Aku harap setelah ini kamu jadi manusia yang lebih baik." Kata Reyna melepaskan tangan Ivan dan berdiri dari duduknya
Rosa memegang pundak Reyna dan mengajaknya untuk pulang diikuti dengan Dion dibelakangnya.
Saat Reyna, Rosa, dan Dion hendak keluar dari pintu ruang kunjungan Aditya datang dengan ekspresi kesal dan terlihat ingin menyantap orang.
"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya Aditya dengan nada sedikit tinggi
Reyna terkejut dan berusaha tegar dihadapan Aditya, Reyna berjalan mendekati Aditya sambil tersenyum.
"Bukankah kamu yang menyuruhku untuk ikhlas menerima keadaan?" Tanya Reyna membuat Aditya tidak berkutik lagi
Dion menghampiri Aditya dan berusaha menenangkan Aditya yang diselimuti amarah.
"Dit, kita tidak bisa berbuat apa-apa jika ini keputusan Reyna. Bahkan aku juga sependapat denganmu untuk tetap menjatuhkan hukuman pada Ivan, tapi kita hanya teman. Tugas kita cuma bisa support dan jaga Reyna, biarlah ini keputusannya. Reyna orang yang kuat dia tahu jalan yang dia ambil" Jelas Dion
"Jujur aku juga ndak ikhlas melihatnya bebas dari masa hukuman secepat ini mengingat apa yang telah dia perbuat pada Reyna, tapi kembali lagi kita tidak bisa apa-apa. Semua keputusan hanya ditangan Reyna, dia hanya ingin hidup tanpa beban Dit. Mengertilah" Ucap Rosa
"Di, aku mengerti apa yang kamu pikirkan. Tapi aku ingin hidup tenang tanpa dendam dan sakit hati di masa kelam ku. Keadaanku semakin membaik dan sebentar lagi aku bisa melanjutkan kuliah ku yang sempat terputus beberapa bulan ini. Aku hanya ingin kamu, Rosa, dan Dion mau dukung keputusanku. Aku mohon" Kata Reyna menggenggam tangan kanan Aditya memohon agar Aditya mengerti
*Bagaimana bisa aku melepaskan manusia tidak punya hati yang berani menodai orang yang mencintainya?!* batin Aditya sambil menatap tajam ke arah Ivan
Aditya melepaskan tangan Reyna serta menepis tangan Dion dari pundaknya, dan berjalan keluar dari ruangan itu.
"Adi..." Teriak Reyna memanggil Aditya
"Sudah Reyn, dia butuh menenangkan diri. Kamu juga tahu Aditya orang seperti apa." Kata Dion
"Sebaiknya kita pulang sekarang, nanti biar aku dan Dion yang mencoba berbicara padanya lagi" Sambung Rosa
Mereka keluar dari ruang kunjungan dengan pandangan Ivan masih terarah pada Reyna yang meninggalkannya tanpa berbicara apapun lagi.
*Aku harap semua tidak berubah Reyn* batin Ivan
.
.
.
.
Terus support author ya, berkat dukungan kalian author jadi tetap semangat🤗❤
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤