Janji M

Janji M
Terima Kasih


__ADS_3

.


.


.


.


"Dhan, udah kita cabut saja." Ucap salah satu senior itu sambil membantu temannya yang masih tersungkur di tanah.


"Lo minta gue ngalah Ka?!" Bentak senior itu


"Gue rasa sudah cukup Dhan, jangan memperpanjang masalah dengan Ivan. Kurasa mereka kenal dengan Ivan." Ucap Raka dengan sedikit berbisik


"Pergilah kalau lo gak mau ikut campur." Sahut Ardhan


"Sebenarnya kau mau ngapain? Apa yang calon mahasiswa ini lakuin?" Tanya Ivan sambil mendekati dua senior itu


"Mereka menggoda kekasih Aditya kak, bahkan mereka memegang tangannya." Jelas Dion


"Wow... Semakin lama semakin kurang ajar kamu Ardhan!" Teriak Ivan dan hendak memukul senior itu lagi


"Ngapain lo ikut campur urusan gue dan anak baru ini?" Tanya Ardhan dengan mendekat ke arah Ivan


"Lo pikir lo siapa?! Urus saja masalahmu ngapain lo ikut campur urusan mereka?" Sambung Ardhan lagi


*Masalah? Memang kekasih Reyna sedang ada masalah apa dengan mereka?* batin Aditya


*Bahkan diluar dugaan, kekasih Reyna mengenal orang ini bahkan membicarakan masalah? Orang sebaik kekasih Reyna punya masalah dengan mereka?* batin Dion


"Cukup! Apa maksudmu?!" bentak Ivan


"Ouu pura-pura lupa atau bagaimana? Lo pikir dengan lo berpura-pura lupa atau bahkan seperti gak punya masalah, gue bisa bawa dia kehadapan kekasihmu!"


"Cukup aku bilang!"


"Mereka berdua ini teman kekasihmu kan?"


"Hei, lo kenal kekasihnya kan?" (Tanya Ardhan pada Aditya)


"Aku bilang cukup! Keterlaluan!" Teriak Ivan


*Aku gak bisa membiarkan Ivan ikut campur dalam urusanku* batin Aditya


Ivan hendak memberikan bogem pada Ardhan. Namun tangan Ivan dicegah oleh Aditya, membuat Ivan menoleh ke arahnya.


"Ini urusan saya, jangan sampai anda terlibat, biarkan mereka pergi." Ucap Aditya


"Apa yang kamu lakukan? Mau membiarkan mereka pergi begitu saja?"


Aditya mendekati dua senior itu dan memukul senior yang memegang tangan Keysa (Ardhan).


Dion dan Ivan terkejut melihat sikap Aditya yang langsung memukul Ardhan tanpa ampun.


*Aku yakin Dit, cepat atau lambat kamu bakal luluh dengan perhatian Keysa. Bahkan selama ini, baru pertama kali aku melihatmu marah sampai seperti ini* batin Dion


*Aku salah pikir, kukira kamu bakal melepaskan mereka begitu saja* batin Ivan


Teman senior yang dipukul Aditya (Raka) meminta maaf atas perbuatannya dan membantu Ardhan berdiri untuk meninggalkan mereka.


"Awas saja lo!" Ucap Ardhan sambil menahan sakit di seluruh badannya.


Mereka berdua pergi meninggalkan, Aditya, Dion, dan Ivan.


"Kamu gak apa-apa Dit?" Tanya Dion sambil memegang pundak Aditya


"Aku baik-baik saja."


"Apa yang kamu lakukan? Bisa gila Dit aku."


Dion berkata dengan frustasi dan mengacak rambutnya melihat apa yang dilakukan Aditya, dia yakin senior tadi tidak akan melepaskan Aditya dengan mudah melihat tubuhnya sudah dipukuli oleh Aditya.


"Makasih." Ucap Aditya pada Ivan


"Sama-sama, aku mau minta maaf tentang kejadian kemarin. Aku terlalu emosi." Kata Ivan sambil menghampiri Aditya


"Tidak masalah, saya paham."


"Dasar, singa beku habis ini aku yang repot ngurusin dirimu." Kata Dion sambil memukul kepala Aditya


Aditya hanya diam dan berjalan meninggalkan Dion dan Ivan yang tengah terkekeh melihat sikap Aditya menerima ejekan Dion.


"Memeng dia seperti itu dari dulu? Kaku dan cuek dengan keadaan?" Tanya Ivan


"Dari dulu, bahkan sebelum kita akrab dia memang orang seperti itu kak."


"Pantas saja waktu ku pukuli dia tidak banyak bicara."


"Bahkan melihat kekasihnya yang digoda oleh dua senior tadi dia hanya diam dan melihat, walaupun aku, Rosa, dan Reyna berteriak ke arahnya dia hanya diam dengan pandangan mengarah ke kekasihnya. Tapi setelah salah satu senior itu menarik tangan kekasihnya dia baru bertindak." Jelas Dion panjang lebar


*Kalau sampai Reyna menilainya sangat baik, aku tidak memungkirinya dia orang yang dingin dan cuek. Namun tidak segan buat melakukan apapun demi melindungi orang disekitarnya.* batin Ivan


"Aku tidak mengira orang kaku sepertinya punya kekasih.Tidak bisa dipercayai, melihat sikapnya yang seperti itu."


"Tidak hanya kakak, aku yang teman dekatnya saja tidak percaya dia punya kekasih."


"Bagaimana cara dia menembak cewek itu?" Tanya Ivan sambil menahan tawa


"Bahkan dia tidak perlu menembak, papa kekasihnya yang menjodohkan mereka langsung."


Ucapan Dion membuat Ivan terkejut, dan tidak percaya. Pada zaman modern seperti ini masih saja ada perjodohan.


"Laki-laki yang penurut." Kata Ivan sambil tertawa bersama Dion


Aditya yang mendengar suara ketawa mereka menengok ke arah belakang.


"Menertawakan siapa kalian?" Tanya Aditya dingin


"Oo... kita sedang tertawa karena kucing terjun ke selokan." Jawab Dion sambil berlari kecil ke arah Aditya


"Pembohong." Jawab Aditya


"Dia benar." Jawab Ivan


"Kalian pikir aku tidak dengar apa yang kalian bicarakan."


"Matilah kita." Kata Dion sambil melepas tangannya dari pundak Aditya


"Separah ini efek kakunya?" Kata Ivan sambil melirik ke arah Dion


"Kita lari sebelum dia marah." Kata Dion sambil menarik tangan Ivan


"Mau kemana kamu?" Tanya Aditya sambil menarik baju Dion


Dion dan Ivan tertawa, obrolan mereka tertangkap bahas oleh Aditya. Mereka berjalan kembali ke universitas untuk menemui Rosa, Reyna, dan Keysa.


*Sebenarnya masalah apa yang disembunyikan kak Ivan dari Reyna? Bahkan aku yang baru akrab dengannya merasa dia orang baik, dan tidak akan membuat masalah* batin Dion


*Ada apa ini? Masalah apa yang dimaksud kedua senior tadi, bahkan sampai membawa-bawa Reyna dalam obrolannya tadi. Apa ini masalah serius?* batin Aditya dengan masih berjalan


Kini Dion dan Aditya dalam pikirannya sama-sama mempertanyakan ada masalah apa Ivan dengan kedua senior tadi, bahkan kedua senior itu mengenal dekat Ivan.


***


"Kenapa mereka belum juga kembali?" Tanya Keysa pada Rosa dan Reyna


"Kamu tenang dulu Key, mereka akan baik-baik saja." Jawab Reyna


"Kamu tidak perlu khawatir, mereka laki-laki bisa melindungi dirinya sendiri." Sahut Rosa

__ADS_1


"Bahkan tidak akan ada masalah serius, iya walaupun bakal ada yang babak belur." Sahut Reyna


Keysa terlihat sangat cemas, melihat Aditya tidak kembali menemuinya.


"Lihat itu Aditya!" Kata Rosa


Keysa yang mendengarnya langsung berlari ke arah Aditya, dan memeluk Aditya erat membuat Aditya mematung.


Rosa dan Reyna yang melihat mereka kembali dengan baik-baik saja merasa lega.


"Lepasin saya." Ucap Aditya pelan karena merasa tidak nyaman dengan perlakuan Keysa


"Gue khawatir sama lo, maafin gue sudah nyusahin lo." Jawab Keysa sambil menangis


Reyna menghampiri Ivan yang berjalan dibelakang Dion...


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Reyna


"Aku gak apa-apa, kamu tenang saja." Kata Ivan sambil mengelus kepala Reyna


Aditya melepaskan pelukan Keysa secara tiba-tiba, perasaan tidak tega menyelimuti hatinya. Ingin sekali dia meninggalkan Keysa karena tidak ingin Keysa menjadi lebih berharap padanya.


"Tunggu disini." Kata Aditya sambil meninggalkan Keysa


Aditya berjalan menuju lobby, dan meninggalkan teman-temannya.


"Dia kenapa lagi Key?" Tanya Dion yang mendekati Keysa, Rosa, dan Reyna.


"Gue gak tau"


"Laki-laki yang misterius, bahkan pacarnya sendiri tidak bisa menebak dia mau ngapain." Kata Ivan


"Yah begitulah Adi, memang benar-benar aneh." Sahut Reyna


"Walaupun aneh dia kekasih gue." Jawab Keysa (Membuat mereka semua menahan tawa melihat ekspresi Keysa yang sedikit kesal)


"Oke, kita tunggu saja dia di sini." Jawab Rosa


"Dia laki-laki yang baik sepertinya." Sahut Ivan sambil memandang ke arah Aditya pergi


"Sepertinya gue pernah ketemu lo." Kata Keysa tiba-tiba


"Iya di depan restoran, saat aku menabrak mu didepan pintu restoran karena tergesa-gesa."


"O iya gue ingat."


Aditya berjalan kembali mendekati mereka yang tengah mengobrol.


"Kamu lolos sesuai jurusan yang kamu mau." Kata Aditya tiba-tiba


"Lo serius?" Tanya Keysa untuk memastikan kebenaran


"Iya, selamat."


Keysa memeluk lagi Aditya karena rasa sangat bahagianya, bahkan Aditya yang memberinya ucapan selamat pertama kali.


Aditya yang semakin tidak nyaman dengan keadaan ini hanya bisa diam dan menahan, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Selamat Key." Ucap Reyna dan Rosa bersamaan


"Kamu lolos jurusan apa Key?" Tanya Reyna


"Kedokteran."


"Wih bakal satu angkatan dengan Reyna." Timpa Dion


"Jadi aku ada temen nih, setidaknya yang sekelas denganku bukan Adi tapi kekasihnya. Jadi aku gak perlu tuh kehabisan kata buat mengajak ngobrol." Kata Reyna sambil sedikit menyindir Aditya


"Bisa saja lo" Kata Keysa


Mereka semua tertawa, kecuali Ivan karena mereka tau bahwa mengobrol dengan Aditya sangat sulit jika tidak memiliki banyak topik, akibat jawaban singkat Aditya.


"Terima kasih."


Setelah selesai berbincang, mereka pulang. Aditya pulang bersama dengan Keysa, Ivan dan Reyna. Sedangkan Dion masih sibuk membujuk Rosa untuk naik motonya.


"Ayolah Ros, tenang motorku aman."


"Yon, jangan bercanda bahkan ini panas banget."


"Iya kuakui kalau motorku tidak bisa dingin seperti mobilmu" Kata Dion sambil memakai helmnya


"Terus? Aku pulang sama siapa?"


"Jalan kaki, lagian dikasih tebengan bukannya bersyukur malah repot sendiri." Kata Dion sambil menyalakan motornya


"Wah parah sama temen sendiri kau gini?"


"Kalau gak mau naik aku tinggal."


"Oke aku naik."


"Nah gitu dong, dari tadi kan enak ngapain harus negosiasi dulu baru naik."


"Iya iya dasar cerewet"


"Lagian nebeng bukannya ngikut malah banyak nawar."


Plak...


"Aduh sakit tahu." Kata Dion sambil mengelus kepalanya yang kena pukul Rosa


"Sudah jalan."


Diperjalanan...


Perut Dion terasa panas, sudah tak tahan lagi menahan laparnya.


"Ros kita mampir dulu ya."


"Mampir kemana?"


"Makan perutku lapar gak tahan kalau nunggu sampai rumah"


"Otakmu cuma makan ya? Aneh saja makan banyak tapi badan tetap bagus"


Dion hanya membalas ucapan Rosa dengan tertawa.


Dion menghentikan motornya didepan warung soto ayam langganannya dan Aditya.


"Kita makan disini"


"Aku gak pernah makan soto, kita cari tempat lain"


"Wah rugi kalau ndak pernah makan soto ayam, kali ini kamu harus coba." (Kata Dion sambil meletakkan helmnya)


Dion memaksa Rosa untuk masuk kedalam warung...


"Pak yang seperti biasa 1 porsi, 1 porsi lagi yang soto ayam spesial."


"Siap mas."


Sambil menunggu pesanan mereka datang...


"Yon, kamu pikir sifat Keysa memang sudah berubah?"


"Mm, kalau dilihat dari perhatiannya ke Aditya seperti sudah. Tapi aku tidak tahu lagi, aku lega melihat Aditya sekarang mulai perhatian dengannya. Aku kira dia akan seperti itu terus dengan Keysa." (Sambil memakan kerupuk didepannya)


"Aku juga seneng lihatnya, ku kira dia tidak akan bisa perhatian seperti itu. Ya, walaupun tidak terlihat seperti perhatian sih." Sambung Rosa sambil tertawa

__ADS_1


"Semakin lama sepertinya singa beku ku mengalami kemajuan, Hahaha."


"Silahkan sotonya."


"Makasih pak" Jawab Dion dan Rosa bersamaan


"Cobalah" Kata Dion


Rosa mencoba soto ayam yang belum pernah dia coba sebelumnya, dengan perasaan tidak yakin dia mencoba.


"Enak banget, lebih enak dari pada sop daging" Kata Rosa sambil memakan lagi sotonya


"Kan aku sudah bilang..."


Dion dan Rosa menikmati makanan mereka dengan berbincang sesekali.


***


Drtt...drtt...drtt


"Kak ponsel kakak bunyi tuh." Kata Reyna sambil menunjuk ke arah ponsel Ivan


"Biarkan tidak penting, nanti saja aku angkat."


Reyna curiga setelah melihat nama di layar ponsel Ivan saat panggilan tadi.


*Tia? Apa itu temen sekelas kakak? Apa sih kenapa aku berpikir macem-macem gini* batin Reyna.


***


(Dalam panggilan)


__________


^^^"Papa"^^^


"Hallo sayang? Ada apa?"


^^^"Pa, aku lolos jurusan kedokteran di universitas bina bangsa."^^^


"Syukurlah papa ikut senang, selamat


ya sayang."


^^^"Iya pa, ini berkat doa papa juga."^^^


"Aditya bagaimana?"


^^^"Aditya lolos, bahkan urutan pertama^^^


^^^di jurusan manajemen."^^^


"Papa senang mendengarnya, sekarang


kamu dimana?"


^^^"Aku masih perjalanan pulang^^^


^^^bersama Aditya."^^^


"Hati-hati dijalan, sampaikan salam


papa untuk Aditya. Papa mau meeting


dulu, daa sayang."


^^^"Daa papa, semangat meeting nya."^^^


__________


Panggilan berakhir.


Keysa memandang Aditya yang melihat ke arah luar jendela mobil, Keysa ingin sekali bilang terima kasih karena sudah menolongnya dan bahkan mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Namun keinginannya, dia urungkan melihat Aditya yang sepertinya tidak ingin di ganggu.


-Di rumah Aditya-


"Masuklah"


"Dit, gue boleh ngomong sesuatu?"


Belum saja Aditya menjawab pertanyaan Keysa, ponselnya berbunyi. Aditya melihat layar ponselnya dan tertulis "Zery" Tanpa sadar Aditya tersenyum lebar dan Keysa sadar akan hal itu. Entah kenapa Aditya merasa semangat setiap melihat keceriaan Zery, bahkan dia yang belum pernah merasakan menjadi kakak karena anak tunggal dari keluarganya bisa bersikap hangat pada anak kecil.


*Siapa yang menelfon nya, sampai dia tersenyum seperti itu. Bahkan ini pertama kalinya aku melihat Aditya tersenyum seperti itu dan bukan kepadaku* batin Keysa


Keysa duduk di seberang Aditya yang tengah sibuk mengobrol dengan seseorang. Keysa terus memandangi Aditya, namun Aditya tidak menyadarinya.


(Dalam panggilan Aditya)


__________


"Halo kakak baik, apa kabar?"


^^^"Halo, kabar baik. Kamu sendiri^^^


^^^bagaimana?"^^^


"Aku tidak baik kak" (Ucap Zery dengan


nada sedih)


^^^"Kamu kenapa? Ada apa?"^^^


"Aku sakit demam sudah beberapa hari kak dan sekarang di rumah sakit, aku tidak suka aku mau pulang."


^^^"Kamu di rumah sakit mana? Biar^^^


^^^nanti saya ke sana ya?"^^^


"Kakak janji?"


^^^"Iya janji"^^^


"Di rumah sakit sehat sejahtera"


"Aku tunggu kakak ke sini"


"Daaa kakak baik"


^^^"Daaa"^^^


"Kakak baik hati-hati di jalan jangan ngebut


Zery tunggu kakak"


^^^"Iya"^^^


___________


Panggilan berakhir.


*Siapa yang menelfon Aditya sampai dia sehangat itu, kenapa hatiku sakit melihatnya* batin Keysa


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen. Dukungan readers sangat berarti buat author xoxo :)


__ADS_2