Janji M

Janji M
Latar Belakangku 2


__ADS_3

.


.


.


.


Hari sudah menjelang sore, Aditya yang tersadar dari tidurnya. Mulai berusaha membuka matanya agar lebih lebar, terlihat langit-langit di dalam kamar tidurnya.


"Mbok Ijah?" Panggil Aditya dengan kaki kiri turun dari ranjang diikuti dengan kaki kanannya.


Kriet...


"Mbok Ijah?"


Aditya keluar dari kamarnya dan mencari-cari dimana mbok Ijah berada, hingga seluruh ruangan telah dia lihat. Namun tidak terlihat sama sekali wanita yang tengah dia cari.


Mendengar suara Aditya yang bergema didalam rumah, ibu dan neneknya yang tengah berada di luar rumah bergegas masuk untuk menghampiri Aditya.


Mereka berdua melihat Aditya tengah menangis tersedu-sedu dibawah tangga lantai dua rumahnya.


"Sayang?"


Aditya yang mendengar suara ibunya, seketika itu langsung mendongakkan kepalanya.


"Ibu, mbok Ijah kemana? Aditya sudah mencari ke seluruh rumah bahkan di belakang rumah Aditya juga sudah cari tapi tidak ada." Kata Aditya dengan air mata yang tidak henti-hentinya menetes.


"Dengarkan ibu, mbok Ijah hanya pulang ke rumahnya. Kita masih bisa menemui mbok Ijah kalau ada waktu nanti, Aditya tidak perlu sedih ya? Mbok Ijah tadi pesan sama ibu dan nenek, kalau Aditya masih nangis mbok Ijah bakal sedih."


"Nenek buat batagor kesukaan Aditya, ayo makan, jangan nangis lagi ya cucu kesayangan nenek."


Tanpa menjawab ucapan nenek dan ibu nya, Aditya hanya mengangguk dan mengusap air matanya lalu berjalan menuju dapur. Ibu dan nenek nya merasa lega, Aditya mau mendengarkan ucapan mereka dan berhenti menangis.


"Nek, Aditya mau." Kata Aditya sambil menyodorkan piring yang dipeganginya pada nenek Sekar.


"Oke bos, nenek ambilkan dulu batagor kesukaan Aditya." Canda nenek Sekar.


Inara yang melihat putra serta ibunya hanya tersenyum lega.


Mereka bertiga menyantap hidangan yang telah dibuat nenek Sekar, bahkan Aditya kecil terlihat sangat lahap menghabiskan makanan di atas piringnya.


"Bu, sepertinya dalam waktu dekat ini. Kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk pindah, Inara tidak mau lagi tinggal disini bu. Rasanya sudah tidak berhak untuk tetap disini."


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu."


-1 tahun kemudian-


"Kenapa kita pindah rumah bu?"


"Agar dekat dengan tempat kerja ibu dan sekolah Aditya."


Setelah hampir sejam mereka dalam perjalanan, mobil yang mengangkut keluarga kecil beserta beberapa barang mereka tiba di depan salah satu rumah yang sangat sederhana namun terlihat sangat damai.


"Kita sampai" Kata Inara sambil membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ini rumah kita bu?" Tanya Aditya sambil menunjuk ke rumah itu.


"Iya ini rumah baru kita, apa Aditya suka? Iya walaupun ukuran dan nampaknya lebih bagus rumah kita dulu."


"Aditya suka bu, pasti akan banyak teman yang bisa Aditya ajak main kan bu?"


"Pastinya sayang, kita masuk sekarang."


Kriet...


Terlihat beberapa perabotan telah tertata rapi di ruangan rumah itu, membuat Aditya meloncat kegirangan.


"Kapan kamu membeli semua ini?" Tanya nenek Sekar pada ibu Aditya.


"Tidak lama bu, beberapa hari yang lalu sampai. Saya pikir setelah membangun rumah ini, akan lebih baik jika saya beli sedikit perabotan. Mengingat tidak ada barang yang kita bawa dari rumah itu selain baju dan beberapa perlengkapan kerja saya dan Aditya."


"Apa semua perhiasan dan mobil yang kamu jual itu cukup untuk ini semua?"


"Ibu tenang saja, dari hasil aku jual perhiasan dan mobil ku itu cukup. Karena tanah disini terbilang sangat murah, mengingat dalam lingkup kampung dan sedikit jauh dari pusat kota."


"Syukurlah kalau begitu."


"Ayo bu, ibu pasti lelah istirahatlah dulu."


Aditya mengeluarkan beberapa mainan kesukaannya dan meletakkannya di atas meja dekat dengan kursi ruang tamu.


"Jangan letakkan disitu sayang, letakkan di kamar Aditya. Masuk kedalam ada pintu sebelah kanan yang terdapat nama Aditya."


"Yeee Aditya punya kamar."


Uhuk...Uhuk...


"Dan lagi seperti ini, aku harus segera ke dokter." Gumam Inara saat melihat cairan berwarna merah segar dari telapak tangannya setelah menutup mulutnya ketika batuk.


-Pukul 20.35-


Aditya kecil tengah belajar dengan sangat Asyik ditemani dengan nenek Sekar yang sedang sibuk membaca koran.


"Rajin sekali anak ibu."


"Kata bu guru Aditya harus rajin kalau ingin jadi pandai bu."


Belum sempat ibunya menjawab, Aditya melanjutkan lagi ucapannya.


"Ibu, tadi di sekolah bu guru minta untuk menceritakan pengalaman menyenangkan bersama ayah sebagai pahlawan keluarga. Semua teman Aditya cerita mengenai ayah mereka, dan hanya Aditya yang tidak bisa menceritakan tentang ayah."


Inara terdiam tanpa suara sedikitpun mendengar ucapan Aditya, nenek Sekar yang sebelumnya fokus dengan koran menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Inara serta Aditya secara bergantian.


"Aditya tidak menceritakan tentang ibu?" Tanya nenek Sekar yang melihat Inara enggan untuk menjawab ucapan Aditya.


"Bu guru mintanya ayah nek, kalau Aditya cerita tentang ibu. Nanti teman-teman Aditya bakalan menertawakan Aditya."


"Tentu saja tidak, Aditya bilang pada teman-teman Aditya kalau ibu adalah sosok ayah yang hebat untuk Aditya. Bahkan ibu bisa jadi ibu sekaligus ayah untuk Aditya, bener kan?"


"Iya nek benar, tapi..."

__ADS_1


Ucapan Aditya terputus, dia hanya menundukkan kepalanya dan sedikit melihat ke arah ibunya.


"Kenapa Aditya tidak punya ayah seperti teman-teman Aditya?"


Mendengar pertanyaan Aditya, air mata Inara tidak dapat lagi dibendung dan lolos membasahi pipinya.


Aditya yang melihat ibunya menangis, dengan wajah panik langsung memeluk ibunya.


"Maafin Aditya ibu, Aditya sayang sekali sama ibu. Maaf, ibu jangan nangis. Aditya tidak akan lagi tanya-tanya tentang ayah, Aditya sayang banget sama ibu." Kata Aditya sambil memeluk erat ibunya.


"Tidak sayang, ini bukan salah Aditya. Ibu yang minta maaf sama Aditya ya." Jawab Inara sambil membalas pelukan Aditya.


"Aditya sudah selesai belajar? Kita istirahat ya sekarang? Besok Aditya mau sarapan apa?" Kata Inara sambil sedikit menenangkan Aditya.


"Aditya sudah ngantuk bu, Aditya mau sarapan nasi pecel bungkus. Pasti enak sekali." Kata Aditya dengan sedikit semangat.


"Baiklah, besok bangun pagi temani ibu beli nasi pecel yang Aditya mau. Sekarang Aditya buang air kecil, gosok gigi, sama cuci muka dulu ya. Habis ini ibu nyusul Aditya."


"Iya bu." Jawab Aditya sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Ibu?" Kata Inara sambil memeluk nenek Sekar.


"Inara harus bagaimana bu? Inara tidak sanggup jika harus bilang pada Aditya, Inara gak mau Aditya jadi benci dengan ayahnya."


"Lebih baik kamu cerita padanya, mau sampai kapanpun Aditya akan terus bertanya-tanya tentang ayahnya. Apapun responnya nanti kita terima, tidak akan bisa jika masalah ini kita tutup-tutupi terus menerus."


"Tapi Inara tidak bisa bu."


"Ibu? Cepat kemari." Teriak Aditya dari dalam.


"Iya sayang sebentar."


"Cepat kamu hampiri dia, jangan menangis lagi didepan Aditya. Ibu harap kamu mau terus terang dengan Aditya."


"Ibu istirahatlah, aku menemani Aditya dulu."


"Iya kamu duluan, setelah ini ibu istirahat."


Setelah selesai dari kamar mandi, Aditya dan ibunya menuju kamar tidur. Seperti biasa Aditya selalu tidur dengan posisi memeluk lengan ibunya sebagai pengganti guling. Dalam hitungan menit dia tertidur pulas, namun tidak dengan ibunya yang masih terjaga memikirkan ucapan nenek Sekar mengenai ayah kandung Aditya.


*Bagaimana aku bisa memberitahu Aditya? Bahkan mengingatnya saja aku tak mampu, maafin ibu nak.* batin Inara.


Dan sejak saat itu Aditya tidak lagi menanyakan apapun mengenai ayahnya.


.


.


.


.


Jangan lupa support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤


Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗

__ADS_1


Ditunggu vote, like, dan komen xoxo❤❤❤


__ADS_2