
.
.
.
.
Aditya dan Dion berlari ke arah Ivan yang dipukuli beberapa orang
Aditya menendang punggung salah satu orang yang ingin menusuk Ivan dengan pisau
"Lo siapa? Jangan ikut campur urusan kami"
Orang itu bangun dan melayangkan tangannya ke arah Aditya, Aditya dapat menghindar serta dengan sigap diraihnya tangan orang yang menyerangnya
Kini orang itu ada dalam dekapan Aditya, dengan posisi tangan kanan Aditya menahan kepala orang itu
Dari sisi lain ada salah satu teman dari orang yang berada dalam dekapan Aditya, mendekati Aditya dengan membawa balok kayu
"Aditya, dibelakang mu" Teriak Dion dengan tangan yang masih sibuk memberi bogem pada orang didepannya
Aditya menengok ke arah belakang, refleks Aditya menendang orang yang mendekatinya dan melempar penjahat yang ada di dekapannya.
Beberapa orang sudah melarikan diri tinggal satu orang yang berada ditangan Dion
Aditya memandang ke arah Dion, matanya memberi isyarat pada Dion
Dion sedikit menekuk tangan orang didepannya, dan memaksanya mengakui siapa yang menyuruhnya menyerang Ivan
"Ampun mas, saya disuruh mas biarkan saya pergi"
"Disuruh siapa kamu?" Tanya Dion
Laki-laki dalam dekapan Dio hanya diam dan tidak ingin mengatakan siapa yang menyuruhnya
Dion mempererat genggamannya pada tangan laki-laki itu, dan membuatnya meringis kesakitan
"Ardhan" Kata laki-laki itu terpaksa
"Ardhan?" Tanya Aditya dan Dion bersamaan
Mereka tidak percaya jika Ardhan melakukan ini, Dion melepaskan laki-laki itu dan membiarkannya pergi
Aditya dan Dion saling menatap tidak percaya
Ivan menghampiri mereka dengan keadaan sempoyongan
"Terima kasih kalian sudah mau menolongku"
Aditya dan Dion hanya mengangguk pelan
"Ikut ke rumah saya, dan obati dulu lukamu" Kata Aditya berjalan meninggalkan Dion dan Ivan
Dion membantu Ivan berjalan menuju rumah Aditya
Sampai Di rumah Aditya, mama Reyna terkejut dan menghampiri Ivan
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Melati
"Aku tidak apa-apa tante" Sambil meringis menahan sakit
Aditya masuk kedalam rumah dan mengambilkan kotak P3K untuk Ivan
Dion menghampiri Aditya yang tampak hanya diam menatap Ivan yang tengah diobati oleh mama Reyna
"Dit, apa kamu tidak merasa aneh?" Tanya Dion dengan berbisik
"Iya, tidak mungkin Ardhan melakukan ini jika tidak ada sebab"
Aditya memalingkan pandangannya dari Ivan dan menghadap ke Dion
"Setelah ini kamu mau ngapain?"
"Tidur di rumah sepertinya, ada apa?"
"Jaga rumah, saya pinjam motormu untuk kerja"
"Bawalah aku ingin istirahat badanku sakit semua" Sambil memberikan kunci motor pada Aditya
Aditya masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap berangkat kerja, sedangkan Dion duduk didekat pintu menunggu Ivan selesai diobati
"Sudah, lain kali jangan sampai berurusan dengan orang yang membahayakan"
"Iya tante, terima kasih"
*Kenapa tante Melati bisa disini? Sedang apa dia menemui Aditya?* batin Ivan
Mama Reyna membereskan kotak P3K, kepalanya menengok ke arah belakang. Namun hanya Dion yang dia lihat
"Aditya dimana?" Tanya Melati
"Aditya bersiap untuk berangkat kerja tante" Jawab Dion
Mama Reyna masuk dan meletakkan kotak P3K di atas meja
Aditya keluar dari kamarnya sambil memakai jaket, mama Reyna menghampiri Aditya
"Mau kerja?"
__ADS_1
"Iya bu, saya minta maaf harus meninggalkan anda.
"Tidak apa-apa, kamu hati-hati. Saya juga harus segera kembali ke kantor" Jawab Melati sambil mengelus kepala Aditya
Aditya tersenyum hangat dan bersalaman dengan mama Reyna
Mama Reyna meraih tasnya
"Saya pamit terlebih dahulu ya, terima kasih sudah mau mengobrol dengan tante" Kata Melati sambil mengelus kepala Aditya
Mama Reyna berjalan keluar rumah Aditya
Ivan menghampiri Aditya dan Dion yang tengah berdiri di depan pintu
"Terima kasih ya, sudah mau menolongku"
Aditya hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ivan
"Sebenarnya ada masalah apa kamu dengan senior?" Celetuk Dion
"Hanya salah paham" Jawab Ivan
Ivan tersenyum dan meninggalkan rumah Aditya
*Semakin aneh* batin Dion
Aditya melihat ke arah Dion yang sibuk memperhatikan Ivan
"Yon, saya nitip rumah"
Dion terkejut dan mengalihkan pandangannya
"Iya Dit, tenang. Aku mau tidur, badanku lelah ditambah lagi sedikit atraksi tadi" Jawab Dion sambil menutup mulutnya yang sedang menguap
Aditya menyalakan mesin motor Dion, dan meninggalkan halaman rumahnya
***
"Bagaimana?"
"Maaf bos, Ivan berhasil lolos dia dibantu oleh dua pemuda yang menghabisi kita semua."
"Siapa pemuda itu?"
"Salah satu temannya memanggilnya Aditya bos"
"Aditya?"
Ardhan menurunkan kakinya di atas meja dan berjalan ke arah anak buahnya, satu bogem terjun di pipi kanan pemuda depan Ardhan
"Gue sudah menyuruh kalian untuk hati-hati, dan jangan sampai ada yang tahu"
"Gue mau kalian habisi dia, kalau bisa lenyap kan dia dari dunia ini untuk selamanya. Tapi apa yang akan lalukan? Beberapa kali kecerobohan dan selalu berakhir gagal"
Ardhan berjalan mendekat dan menendang dua pemuda didepannya
Dua pemuda itu tersungkur dan hanya diam tidak membantah
*Kenapa harus Aditya yang menolongnya? Mungkin hari ini kamu aman, tapi suatu saat nanti aku pastikan kamu hancur Ivan* batin Ardhan
Tangan Ardhan mengepal menahan amarah.
Ardhan meraih kunci mobilnya dan berjalan ke luar ruangannya
***
Dari jauh seseorang sedang memperhatikan Aditya dengan senyum di bibirnya, terlihat dia berjalan ke arah Aditya dengan santai
Aditya terkejut saat ada sepasang tangan melingkar di bagian perutnya, serta badan yang bersandar di punggungnya.
Aditya melepaskan sepasang tangan itu dan membalikkan badan
"Senior?"
"Halo sayang, apa kabar? Aku merindukanmu"
"Apa maksud anda?"
Putri meraih pipi Aditya dan mengelusnya lembut, Aditya terkejut dan menepis tangan Putri kasar
"Sakit sayang"
"Apa yang senior lakukan?!" Tanya Aditya dengan nada sedikit meninggi
Saat Putri ingin memeluk Aditya, badannya ditarik seseorang dari belakang membuatnya menoleh ke arah seseorang itu
"Wanita murahan" Kata Ardhan
Putri terkejut dan melepaskan diri dari cengkraman Ardhan
"Ngapain kamu ikut campur urusanku?" Teriak Putri
Ardhan mendorong tubuh Putri hingga tersungkur, Aditya hanya melihatnya dan enggan menolongnya.
"Dit, ada waktu?" Tanya Ardhan melihat ke arah Aditya
"Setengah jam lagi saya istirahat"
"Ok gue tunggu, gue pesan americano ice dua"
__ADS_1
Aditya mengangguk dan berjalan meninggalkan Ardhan yang masih memandang remeh ke arah Putri
"Wanita tidak punya harga diri, pergilah jangan merusak pemandangan ku" Kata Ardhan sambil melepas kaca mata hitamnya
Putri berdiri dan merapikan bajunya, dia berjalan meninggalkan Ardhan dengan kesal dan malu
*Lain kali kamu tidak akan lolos dariku Aditya* batin Putri
Aditya melihat Putri yang berjalan meninggalkan restoran, dan meletakkan pesanan dan tagihan Ardhan
Ardhan tersenyum pada Aditya dan memberikan satu americano ice ke Aditya beserta uang tagihan pesanannya
Aditya menerimanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya
-Saat waktu istirahat-
Aditya menghampiri Ardhan yang tengah memainkan ponselnya
"Ada apa?" Tanya Aditya duduk di kursi dekat Ardhan
"Kenapa lo membantu Ivan?"
Aditya mengerutkan dahinya dan tidak percaya dengan pertanyaan Ardhan
"Karena dia butuh bantuan"
"Dit, sebenarnya gue sudah benar-benar muak berurusan dengan Ivan. Namun, semua ini gue lakukan demi orang yang gue sayang. Anak buah gue lapor pada gue saat lo dan temen lo bantuin Ivan, berhentilah dan jangan terlibat lagi dengannya."
Aditya bingung dengan ucapan Ardhan, dan hanya diam mendengarkan ucapan Ardhan
"Apa yang terjadi?" Tanya Aditya
Ardhan menghela nafas dan meletakkan kedua tangannya secara menyilang dimeja
"Setelah adik gue sekarang kekasih gue, gue hanya ingin lo memberitahu Reyna untuk hati-hati dengan Ivan, dia orang yang paling dekat dengan Ivan karena dia kekasihnya. Lebih baik lagi jika kalian semua menjauhi Ivan" Sambung Ardhan
"Apa maksud anda?"
"Santai bos, jangan kaku seperti itu" Kata Ardhan tertawa sambil menepuk pundak Aditya
"Gue kesini bukan untuk cari masalah" Sambung Ardhan
Ardhan diam sejenak dan tersenyum ke arah Aditya
"Kedepannya gue mau lo jangan ikut campur urusan Ivan, bahkan menolongnya. Gue tahu lo orang baik, tapi untuk masalah Ivan jangan terlibat"
Aditya mengerti ucapan Ardhan dan hanya mengangguk
Ardhan memalingkan pandangannya dan melihat kearah mobil diseberang jalan
*Mobil Ivan, apa yang dia lakukan disini?* batin Ardhan
"Apa yang Ivan lakukan pada kekasihmu?" Tanya Aditya tiba-tiba membuat Ardhan memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Aditya
Ardhan hanya diam, tapi ekspresinya menjawab pertanyaan Aditya. Dia sedih, kecewa, marah bercampur jadi satu
"Tidak apa-apa, gue cuma mau ngomong itu saja. Tolong jaga Reyna baik-baik." Jawab Ardhan berdiri dan meninggalkan Aditya
*Masalah apa lagi yang sudah kamu perbuat Van?* batin Aditya
Aditya meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya sejenak, beban pikirannya semakin bertambah mengingat mamanya Reyna yang tidak mau memberitahu siapa ayah kandung Aditya.
*Ibu, apa aku harus memaafkan ayah ketika suatu saat nanti aku menemukannya? Atau aku harus membencinya?* batin Aditya
***
Ardhan mendekati mobil Ivan dan melangkahkan kakinya dari arah belakang mobil
Brak...
"Keluar!" Teriak Ardhan
Ivan terkejut melihat Ardhan ada di balik kaca mobilnya dengan tatapan tajam
Ivan membuka pintu mobil, dengan cepat Ardhan mendorong Ivan dan mengunci gerakan Ivan
"Dengan baik-baik, gue tidak akan membiarkan lo kabur dan lepas dari genggaman gue dengan mudah. Gue berani jamin hidupmu sengsara setelah apa yang lo lakukan pada gue!" Kata Ardhan dengan mendorong tangannya ke arah dada Ivan
"Apa yang mau kamu lakukan padaku?" Tanya Ivan dengan remeh
Ardhan mengangkat tangannya dan bersiap untuk memberikan bogem pada Ivan namun ada beberapa sepasang mata yang melihat ke arah Ardhan
Ardhan melepaskan tangannya dari tubuh Ivan, saat melihat keadaan di daerah itu cukup ramai
"Jangan pernah ganggu Aditya dan orang-orang disekelilingnya!" Ancam Ardhan dengan menatap tajam ke arah Ivan
Ardhan meninggalkan Ivan yang tersenyum sinis ke arahnya
*Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada Aditya dan teman-temannya* batin Ivan, pandangan matanya masih mengarah ke Aditya yang duduk di meja depan restoran
.
.
.
.
Terus support author ya, berkat dukungan kalian author jadi tetap semangat🤗❤
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤