
.
.
.
.
"Saya mau mandi dulu." Kata Aditya sambil berdiri membuat Keysa tersadar dari lamunannya.
"Iya Dit."
"Kalau lapar, di kulkas ada makanan." Ucap Aditya sambil berjalan masuk meninggalkan Keysa
Mata Keysa tidak sengaja melihat ponsel Aditya di atas meja, ingin sekali dia melihat siapa yang menelfon nya tadi. Tapi Keysa takut jika kenyataannya tidak bisa dia terima, dengan penuh rasa takut Keysa membuka layar ponsel Aditya dan melihat log panggilan.
"Zery?"
"Siapa Zery?"
Air mata Keysa mengalir dengan sendirinya, Keysa tidak bisa menahan tangisnya. Hatinya sakit saat melihat panggilan yang masuk tadi adalah seorang wanita, yang bahkan bisa membuat Aditya tersenyum dan bersikap hangat.
Keysa sudah menangis lama, hingga Aditya sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi.
"Kamu kenapa?" Tanya Aditya yang melihat Keysa menangis
Keysa terkejut mendengar ucapan Aditya, dan mengusap air matanya.
"Gue tidak apa-apa."
"Gue pamit pulang." Kata Keysa sambil meraih tas nya dan berjalan menuju pintu
Tangan Keysa ditahan oleh Aditya membuat Keysa semakin menangis sejadi-jadinya.
"Ada apa?" Tanya Aditya yang kebingungan dan tidak tega melihat Keysa menangis seperti itu
"Lepasin, gue mau pulang."
"Saya tanya ada apa?"
"Lepasin Dit! Gue mau pulang!" Teriak Keysa membuat Aditya melepaskan tangan Keysa
"Jawab dulu pertanyaan saya!"
"Apa yang gue rasakan GAK PENTING BUAT LO!"
"Apa maksudmu?"
"Masih tanya?! Lo pikir saja sendiri! Gak ada orang yang sudah menjalin hubungan tapi bersifat seperti lo"
"Ucapan mu semakin kelewatan!"
"Gue pulang"
"Mau kemana? Jawab dulu pertanyaan ku."
"Buat apa?!"
Aditya bingung dengan sikap Keysa, bahkan dia tidak tau Keysa kenapa. Aditya mengejar Keysa dan berniat untuk mengantarnya, namun Keysa menolak dan berlari menjauh dari Aditya.
*Dia kenapa? Aku ngelakuin kesalahan apa lagi? Bahkan aku sudah berusaha belajar ngertiin perasaannya* batin Aditya
***
Keysa berjalan menjauh dari Aditya yang berusaha mengejarnya, dia melambaikan tangan saat taksi lewat didepannya.
"Pak, perum Bukit Indah jalan Mawar no. 34."
"Baik Non."
*Apa ini waktunya gue menyerah Dit? Lo membuat gue bimbang, tadi lo menganggap gue kekasih. Tapi diam-diam lo jalin hubungan dengan cewek lain* batin Keysa
Drt...Drtt...Drtt...
Keysa melihat layar ponselnya, terlihat mama Aditya di layar ponsel milih Keysa. Namun dia enggan untuk mengangkatnya, bahkan ponsel itu sudah berbunyi berulang kali.
***
-Aditya POV-
"Sebenarnya ada apa? Membuatku pusing saja."
Aku mengacak rambut dengan frustasi, bahkan aku sudah berusaha menelfon Keysa namun tidak diangkat sama sekali. Aku mencoba mengirim pesan padanya...
(Chatting)
^^^"Kamu kenapa?"^^^
(Tidak ada balasan...)
Aku menyimpan lagi ponselku dan berjalan mengambil sepedaku untuk ke rumah sakit.
Aku mengayuh sepeda dengan sedikit cepat, dalam hatiku masih bertanya-tanya mengapa Keysa pergi meninggalkan rumahku dengan keadaan marah dan menangis.
Dipertengahan jalan aku menghentikan sepedaku didepan toko roti, aku membeli beberapa roti coklat dan biskuit.
"Sepertinya Zery akan senang..."
Secara tidak sengaja aku melihat Ivan duduk di cafe depan toko roti dengan seorang cewek, namun aku yakin kalau itu bukan Reyna.
"Ivan? Sedang apa dia?" Tanyaku pada diri sendiri
*Sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku cepat pergi ke rumah sakit*
Aku melanjutkan perjalananku...
-Di rumah sakit sehat sejahtera-
Aku berjalan menuju lobby dan mengeluarkan ponselku untuk mengirim pesan pada papa Zery....
(Chatting)
--------
^^^"Mohon maaf pak mengganggu, saya^^^
^^^ingin menanyakan dimana ruang^^^
^^^rawat Zery?"^^^
(1 menit 23 detik)
"Kamu dimana? Biar saya jemput"
^^^"Tidak perlu pak, biar saya yang^^^
^^^langsung ke sana"^^^
"Yasudah, Zery di ruang bugenvil
nomer 34"
^^^(Read)^^^
----------
Aku melangkahkan kakiku untuk menuju ruang dimana Zery di rawat.
"nomer 34... Ini..."
"Permisi..."
"Siapa?"
"Oh Aditya, silahkan masuk. Zery sudah menunggu" Jawab papa Zery
"Halo manis, bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
"Kakak baik!! Aku senang kakak kesini menjengukku." Kata Zery sambil sedikit berteriak
"Saya ada sesuatu buat kamu." Sambil memberikan sekantong plastik isi roti dan biskuit
Zery membuka kantong plastik yang aku berikan padanya dengan semangat. Mama dan papa nya tersenyum melihat Zery yang begitu senang.
"Wah roti dan biskuit coklat" Kata Zery sambil mengangkat roti itu dengan ekspresi senang
"Ini untukku kan kak? Semuanya? Aku suka sekali" Sahutnya lagi
"Itu semua milikmu." Sahutku
"Apa kamu tidak sibuk? Maaf kami merepotkan mu." Kata mama Zery
"Saya senang bisa kesini."
"Kami benar-benar beruntung bisa mengenal orang baik sepertimu Dit, bahkan Zery tidak pernah sekali pun tersenyum dan sebahagia ini dengan orang yang baru dia kenal" Kata papa Zery sambil menepuk pelan punggungku
"Saya juga senang pak bisa bermain dengan Zery."
"Di makan dulu Dit camilannya." Kata mama Zery sambil meletakkan beberapa camilan di atas meja
Aku bermain dengan Zery, bahkan dia adalah gadis yang sangat ceria. Entah sejak kapan terakhir kalinya aku tersenyum lebar seperti ini dulu, setelah ibuku meninggal dan hari-hari aku jalani hanya dengan nenekku perasaan hampa sedikit menyelimuti diriku.
Bahkan setelah aku kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya, aku tidak pernah lagi tersenyum bahkan bahagia.
Namun, aku beruntung bertemu teman-teman yang selalu ada buatku ditambah dengan kehadiran Zery.
Drt...Drtt...Drttt
Ponselku berbunyi, ku lihat layar di ponselku "nomer tidak dikenal". Aku mengerutkan dahi ku dan berpikir siapa yang menelfon ku.
Aku abaikan telfon itu, dan kembali bermain dengan Zery. Namun, ponselku berbunyi lagi.
"Saya permisi sebentar." Ucapku kepada mama dan papa Zery
Aku keluar dari ruang rawat Zery, dan mengangkat panggilan telfon itu.
(Panggilan tersambung)
_______
"Halo?"
^^^"Siapa?"^^^
"Maaf mas Aditya, ini saya bi Inah."
"Maaf mengganggu waktu mas Aditya."
^^^"Tidak apa bi, saya pikir siapa."^^^
^^^"Ada apa bi?"^^^
"Anu... itu mas..."
^^^"Iya kenapa bi?"^^^
"Non Keysa mas..."
^^^"Nona Keysa kenapa bi?"^^^
"Non Keysa, mengunci diri dalam
kamar tidak mau keluar. Bibi sudah
coba mengetuknya tapi tidak ada
jawaban, setelah pulang tadi nona
tidak makan siang dan langsung
masuk kamar."
^^^"Setelah ini saya ke sana."^^^
"Baik mas, terima kasih."
^^^"Tolong bi Inah bujuk dia untuk keluar dari kamar sambil menunggu saya datang^^^
"Baik mas, hati-hati di jalan."
___________
(Panggilan Terputus)
"Aku harus segera ke sana, benar-benar merepotkan."
"Masih jam 13.12 masih ada waktu untuk aku ke sana sebelum kerja."
Aku masuk ke dalam ruang rawat Zery, dan menemuinya
"Zery, saya pamit pulang dulu ya. Zery istirahat biar cepat sembuh, nanti kita bisa main kalau Zery sudah sembuh."
"Kakak baik kok sudah mau pamit saja, mau kemana?" Tanyanya dengan wajah polos
"Saya ada urusan, kalau ada waktu saya kesini lagi. Oke?"
"Janji ya kak?"
"Janji."
"Cepat sembuh ya." Ucapku sambil mengelus kepala nyeri dengan lembut
"Pa, ma, sepertinya kakak baik punya pacar" Ucap Zery dengan ekspresi yang berniat menggodaku
"Kak Aditya kan sudah besar, wajar kalau punya pacar." Jawab mama Zery
Aku hanya bisa tersenyum kikuk, tidak tahu harus menjawab apa.
"Yah, kalau kakak baik punya pacar beneran. Aku gak bisa jadi pacar kakak baik." Ucap Zery (polos sambil memanyunkan bibirnya)
"Zery ingin jadi pacar saya?" Tanyaku sambil menggodanya
"Pa, ma. Kakak baik menggodaku." (sambil memukuli bonekanya)
Aku tersenyum melihat tingkah Zery yang sangat lucu, sampai aku hampir lupa kalau harus ke rumah Keysa.
"Pak, bu saya pamit dulu. Lain kali saya akan mampir untuk bermain dengan Zery."
"Terima kasih ya Aditya sudah nyempetin kesini." Kata mama Zery
"Makasih ya Dit, hati-hati di jalan." Sahut papa Zery
"Saya permisi."
Aku melambaikan tangan ke arah Zery, dan keluar dari ruang rawat Zery. Aku berjalan dengan sedikit berlari menuju parkir sepeda.
"Kebetulan perumahan Bukit Indah dekat dengan rumah sakit ini."
Aku mengayuh sepedaku dengan cepat, agar nantinya tidak telat masuk kerja.
-Aditya POV and-
***
-Kediaman Keluarga Gunawan-
Aditya sampai didepan pintu gerbang rumah pak Gunawan, dia menaruh sepedanya dan berjalan menuju pos satpam untuk di bukakan pintu gerbang.
"Permisi pak Asep, saya ada keperluan dengan Nona Keysa. Boleh saya masuk?" Kata Aditya
"Boleh sekali mas tunggu ya."
Pak Asep membuka pintu gerbang untuk Aditya...
"Tadi non Keysa pulang sambil nangis mas, saya tidak tahu kenapa." (sambil membuka gembok gerbang)
"Dia pulang naik apa pak?
"Naik taksi mas, pak Iwan sudah pulang dari tadi."
__ADS_1
Gerbang sudah kebuka Aditya masuk dan menuju pintu utama rumah pak Gunawan.
Belum sampai di depan pintu, Aditya sudah di tunggu bi Inah dengan ekspresi yang tegang dan panik.
"Bi, kenapa disini? Nona bagaimana?" Tanya Aditya sambil berjalan ke arah bi Inah
"Itu mas, dari dalam kamar nona terdengar suara benda jatuh. Saya khawatir mas."
"Kita ke sana sekarang."
Aditya dan bi Inah berjalan menuju kamar Keysa, yang berada di lantai dua rumah utama.
Aditya berusaha membuka pintu dan menggedor-gedor pintu kamar Keysa berharap dia mendengar suaranya.
"Nona, ini saya. Buka pintunya." Teriak Aditya
Namun masih sama tidak ada jawaban dari Keysa.
"Nona! Buka pintunya!" Teriak Aditya lebih kencang
Aditya tidak bisa bersabar dan menunggu sampai Keysa meresponnya, dia berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar Keysa. Aditya khawatir jika Keysa melakukan hal konyol yang melukai dirinya sendiri.
"Saya rasa pintunya terkunci dari dalam, kalau kita buka dengan kunci cadangan tetap tidak akan bisa."
"Bi biar saya dobrak saja pintunya."
"Iya mas, apa perlu saya minta bantuan pak Asep?"
"Tidak perlu bi"
"Nona, dengarkan saya. Mundur dari pintu." Kata Aditya
"Non, tolong menjauh dari pintu mas Aditya mau mendobrak pintunya." Teriak bi Inah
*Aku harus nahan sakit di lenganku, jangan sampai ada apa-apa dengan Keysa* batin Aditya
Bruk... Bruk... Brukk.... Brakkk...
Pintu kamar Keysa terbuka, Aditya dan bi Inah mencari dimana Keysa. Ketika hendak keluar untuk mengecek di balkon kamar, Aditya melihat Keysa tertidur lemas di lantai dengan darah yang mengalir keluar dari pergelangan tangannya.
"Apa yang kamu perbuat?!" Teriak Aditya sambil menaruh kepala Keysa pangkuannya
Bi Inah yang mendengar suara Aditya berteriak langsung menoleh dan melihat nona nya pingsan.
"Nona, bagaimana ini mas?" Tanya Bu Inah panik
"Siapkan mobil bi, tolong minta bantuan pak Iwan."
"Baik mas."
Bi Inah bergegas memanggil pak Iwan untuk menyiapkan mobil.
Aditya membopong Keysa keluar kamar dan membawanya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit.
Pak Iwan menjalankan mobilnya dengan keadaan panik melihat baju Aditya yang terkena darah dari nona nya.
"Nona, tolong bangunlah." Kata Aditya sambil menepuk pelan pipi Keysa
"Bagaimana dengan nona mas? Bibi takut tuan marah jika tahu."
"Tolong sementara bibi jangan bilang tuan, biar saya yang menjaga nona dan menjelaskan pada tuan nanti."
"Pak Iwan tolong agak ngebut ya pak." Minta Aditya
"Baik mas."
"Apa nona akan baik-baik saja mas?"
"Saya yakin dia wanita yang kuat"
*Apa yang dia perbuat? Apa ini karena salahku? Tapi apa salahku* batin Aditya.
-Di rumah sakit sejahtera-
Bi Inah keluar lebih dulu dan memanggil perawat yang sedang bertugas di IGD, Aditya membopong Keysa dengan bantuan pak Iwan.
"Suster tolong bawakan brankar nya." Teriak Aditya
"Nona tolong sadarlah." Kata bi Inah sambil menangis
"Nona bangunlah, aku disini. Aku mohon." Timpa Aditya
(Didepan ruang IGD)
"Keluarga pasien silahkan tunggu disini, kami akan berusaha semaksimal mungkin." Kata salah satu perawat
"Bagaimana ini mas, saya takut." Kata bi Inah
"Bibi tenang dulu kita berdoa saja semoga nona cepat sadar."
"Saya takut, harus bilang apa pada tuan mas."
Aditya mengelus punggung bi Inah, bahkan dia sedang berperang dengan pikirannya. Aditya tidak tahu harus bagaimana bahkan dia tidak tahu sebab Keysa seperti itu.
*Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dia ada masalah sampai melakukan ini?* batin Aditya
"Mas saya ke mushola dulu ya, kalau ada perkembangan kondisi nona tolong kabari saya."
"Iya bi hati-hati."
Aditya terduduk lemas sambil memegangi kepalanya, dia tidak tahu harus bilang apa pada pak Gunawan.
"Maaf mas Aditya, apa ada yang bisa saya bantu?" (Tiba-tiba pak Iwan bertanya membuat Aditya terkejut)
"Pak Iwan, saya kira siapa. Tidak ada pak, bapak istirahat saja dulu, nanti kalau nona Keysa butuh sesuatu yang harus diambil dari rumah, saya kasih tau bapak."
"Baik mas, saya permisi."
"Iya pak."
Setelah hampir 20 menit bi Inah kembali dari mushola, dan dokter juga belum juga memberi tahu tentang keadaan Keysa. Membuat Aditya dan bi Inah semakin cemas.
"Kenapa belum ada kabar tentang nona?" Tanya Aditya sambil mondar-mandir
"Mas Aditya sudah menghubungi tuan besar?" Tanya bi Inah
"Belum bi, saya tidak mau membuat pak Gunawan kepikiran dan khawatir. Sementara kita diam saja dulu ya bi."
"Iya mas, semoga saja nona tidak apa-apa."
Setelah 1 jam menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang IGD, Aditya dan bi Inah berjalan menghampiri dokter.
"Keluarga nona Keysa."
"Kami dok, bagaimana keadaan nona saya dok?" Tanya Aditya
"Keadaannya kritis pak, pasien kehilangan banyak darah untungnya persediaan kantong darah AB+ di rumah sakit ini ada. Kita hanya bisa berdoa semoga pasien cepat siuman."
"Terima kasih dok."
"Apakah kami bisa menemui nona Keysa?" Tanya bi Inah
"Silahkan, sekitar 1 jam lagi kami akan mengecek keadaan pasien. Jika keadaan pasien semakin membaik bisa dipindahkan ke ruang rawat."
"Terima kasih dok." Kata Aditya
"Kami permisi..." Ucap dokter (Sambil berjalan diikuti 1 suster dibelakangnya)
*Aku harap kamu bisa cepat pulih dari masa kritis mu Key, aku mohon. Kamu wanita yang kuat* batin Aditya
(Aditya dan bi Inah masuk ke ruang IGD untuk melihat keadaan Keysa)
.
.
.
.
Aditya merupakan salah satu manusia tidak peka dengan keadaan-
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen ya...
Dukungan readers sangat bermakna bagi author xoxo :)