Janji M

Janji M
Hampir Saja


__ADS_3

.


.


.


.


"Hari sudah semakin malam, sebaiknya saya antar kakak sampai rumah. Biar nanti saya kembali pakai taksi." Kata Aditya sambil melirik ke arah jam tangannya.


"Apa kamu tidak ingin bertemu papa?" Tanya Laura kembali.


"Tidak kak, belum saatnya."


Aditya mengajak kakaknya untuk pulang, selama di perjalanan mereka berbincang-bincang dengan seru. Hingga tiba saat Laura bertanya mengenai ibu dan neneknya pada Aditya. Aditya yang tadinya fokus menyetir menjadi kacau, tidak tahu harus menjawab pertanyaan kakaknya dengan cara seperti apa Aditya hanya diam.


Laura yang merasa dengan sikap Aditya yang terus saja diam saat dia membahas tentang ibu dan neneknya, berinisiatif untuk bertanya kembali pada Aditya. Namun, saat hendak menepuk lengan Aditya yang sedang diam melamun. Mata Laura melihat ke arah depan, terlihat ada seekor kucing yang sedang menyebrang jalan.


"Aditya awas!" Teriak Laura.


Seketika lamunan Aditya membuyar dan dengan cepat menginjak rem mobil hingga badannya dan Laura terpental kebelakang dengan punggung menempel kursi mobil.


"Aditya apa yang kamu lakukan?" Tanya Laura yang masih dalam keadaan terkejut.


"Maaf kak, saya sedang tidak fokus." Kata Aditya sambil melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil untuk melihat apakah kucing tadi tertabrak atau tidak.


Aditya melihat kearah bawah mobil namun tidak ada kucing, pandangannya melihat ke arah pinggir jalan dan melihat kucing itu tengah duduk manis di lantai sebuah ruko dengan menjilati bulunya.


"Syukurlah" Ucap Aditya menghela nafas lega.


"Kucingnya tidak apa-apa?" Tanya Laura yang menyusul Aditya keluar dari mobil.


"Tidak apa-apa kak, dia sudah berada di sana." Sambil menunjuk ke arah depan ruko.


"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan Dit?" Tanya Laura sambil mendekati Aditya yang bersandar di bagian kap mesin.


Aditya menengok kan kepalanya ke arah Laura, dan hendak menjawab pertanyaan Laura. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi, Aditya meraih ponsel di sakunya dan terlihat nama "Papa" yang berarti panggilan dari pak Gunawan.


"Sebentar kak, papa mertua saya menelepon." Kata Aditya yang hanya dijawab anggukan oleh Laura.


*Dia sudah menikah, ah iya sih waktu dulu dia ke butik sudah mempersiapkan pertunangan. Andai dulu aku tahu kamu adikku, aku akan hadir dihari bahagia mu saat itu.* batin Laura.


(Dalam panggilan)


________


"Kamu dimana Dit?"


^^^"Saya masih di luar pa, ada apa pa? Kelihatannya papa kebingungan."^^^


"Bagaimana bisa kamu


meninggalkan istrimu sendirian


semalam ini, dia terjatuh dan

__ADS_1


sekarang saya dalam perjalanan


membawanya ke rumah sakit Permata."


^^^"Jatuh? Saya akan segera ke sana."^^^


"Iya, cepatlah"


_________


(Panggilan terputus)


"Kak, saya antar sekarang besok kita bertemu lagi. Saya harus ke rumah sakit, istri saya sedang di bawa ke rumah sakit." Kata Aditya dengan terburu-buru.


"Kenapa dengan istrimu?" Tanya Laura yang bergegas naik kedalam mobil kembali.


"Dia jatuh, saya khawatir dengan kandungannya."


"Kenapa bisa? Kamu langsung ke rumah sakit saja kakak antar, biar nanti kakak pulang sendiri."


"Tidak kak, saya harus memastikan kakak sampai rumah terlebih dahulu."


Laura hanya diam, bahkan sikap keras kepalanya sama dengan papanya. Mau merayu dan berbicara dengannya baik-baik, dia akan kekeh dengan keputusannya.


Sesampainya di depan rumah keluarga Candra, Aditya langsung berpamitan pada Laura. Dan Laura hanya bisa melihat saudaranya yang pergi dengan tergesa-gesa.


"Semoga istrimu baik-baik saja, kamu calon ayah yang sangat baik Aditya." Gumam Laura.


-Di rumah sakit Permata-


"Pa, bagaimana keadaan Keysa?" Tanya Aditya dengan wajah yang sangat panik.


"Dia masih diperiksa oleh dokter, kamu dari mana? Semalam ini membiarkan istrimu sendiri?" Tanya pak Gunawan dengan kata-kata yang terselimuti emosi.


"Maafkan saya pa, ada hal yang harus saya selesaikan tadi. Saya tidak tahu jika akan begini keadaannya." Jawab Aditya.


"Lain kali saya tidak mau melihat kamu membiarkan anak saya sendirian, terlebih lagi sampai membahayakan anak didalam kandungannya!"


"Maafkan saya pa"


Cklek...


"Keluarga nona Keysa?"


"Kami dok" Jawab Aditya dan pak Gunawan bersamaan.


"Tuan tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan nona Keysa hanya sempat syok tadi. Tapi syukurlah janinnya baik-baik saja, pesan saya kedepannya tolong dijaga baik-baik. Karena usia kehamilan muda sangat rentan mengalami keguguran."


"Baik dok terima kasih, apa saya bisa menemui istri saya?"


"Silahkan tuan, kalau begitu saya permisi dulu."


Pak Gunawan dan Aditya masuk ke dalam IGD, untuk melihat keadaan Keysa. Melihat istrinya yang terbaring lemas, Aditya langsung menghampiri Keysa dan menggenggam tangan istrinya.


"Maafkan aku, apa yang kamu rasa sakit? Bilang sama saya." Kata Aditya dengan wajah yang penuh ketakutan.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa." Jawab Keysa pelan


"Papa lega kamu tidak apa-apa, lain kali hati-hati jika ingin melakukan apapun. Dan untuk kamu Aditya ingat ucapan saya tadi!" Kata pak Gunawan dengan tatan tajam ke arah Aditya.


"Iya pa."


"Jangan marahi Aditya pa, dia tidak salah. Aku tadi yang kurang berhati-hati."


Selang beberapa menit, suster yang bertugas datang menghampiri Keysa dengan membawa beberapa peralatan ditangannya. Setelah mengecek keadaan Keysa untuk kedua kalinya, dokter memberikan perintah jika Keysa diizinkan pulang malam ini juga. Dengan syarat harus lebih berhati-hati dan jaga kesehatan.


-Di lobi rumah sakit-


"Kalian mau pulang kemana?" Tanya pak Gunawan


"Kami pulang ke rumah saja pa, terima kasih sudah membantu saya menjaga Keysa." Jawab Aditya.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Jika ada apa-apa segera hubungi papa, kalau begitu papa pulang dulu sayang." Kata pak Gunawan sambil mencium kepala Keysa yang sedang terduduk di kursi roda.


"Saya permisi nona tuan" Kata bi Inah yang lalu mengikuti pak Gunawan.


"Kita pulang naik taksi ya? Saya tidak membawa mobil." Kata Aditya sambil mengelus rambut Keysa dengan lembut.


Keysa hanya mengangguk, Aditya mendorong kursi roda Keysa hingga di depan rumah sakit. Dan memesan taksi online, sambil menunggu taksi datang Aditya duduk jongkok dihadapan Keysa.


Keysa yang melihat hal itu hanya merasa bingung dan bertanya-tanya.


"Maafkan saya, semua ini karena saya. Kedepannya saya akan berada di sisimu dan tidak lagi meninggalkanmu terlalu lama."


"Kamu tidak perlu seperti itu Dit, aku tidak apa-apa. Aku yang salah karena tidak hati-hati."


"Tetap saja saya sebagai suami punya tanggung jawab penuh terhadapmu."


Belum sampai Keysa menjawab ucapan Aditya, taksi yang dipesan Aditya sudah datang. Aditya membopong Keysa dan mendudukkan tubuh Keysa dengan hati-hati didalam mobil.


"Hati-hati pak, tidak perlu ngebut pelan-pelan saja." Kata Aditya.


"Baik tuan."


Selama di perjalanan Aditya hanya diam begitu juga Keysa yang sudah menahan kantuk, hingga menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Aditya yang melihat itu hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan Keysa.


*Hampir saja aku membahayakan anak dan istriku, bagaimana aku bisa lalai seperti ini. Bahkan aku lupa tidak meminta nomer telepon kakak, dan langsung pergi meninggalkannya.* batin Aditya.


.


.


.


.


Terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤


Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤


__ADS_2