
.
.
.
.
Aditya membopong Keysa dan menidurkannya dengan pelan di atas kasur, tidak lupa Aditya menyelimuti tubuh istrinya yang masih terbaring lemas.
"Mimpi indah sayang" Kata Aditya dengan memberi kecupan halus di dahi Keysa.
Keysa sedikit menggeliat dan menata posisi tidurnya dengan tangan memeluk lengan Aditya.
"Eh?"
Gerakan tubuh Aditya terhenti saat tangan Keysa memeluk lengannya yang hendak pergi ke kamar mandi.
"Ibu hamil satu ini manja sekali ya" Gumam Aditya, yang duduk ditepi ranjang menemani Keysa.
Saat Aditya tengah memandangi wajah istrinya dengan terus membelai rambut sang istri, tiba-tiba ponselnya berdering membuat dia harus mengerutkan dahinya.
"Nomer ini lagi, tengah malam seperti ini dia meneleponku. Sebenarnya siapa dia?" Kata Aditya yang meraih ponselnya di meja dan melepaskan pelukan tangan Keysa untuk menjawab panggilan itu tanpa mengganggu tidur sang istri.
Aditya keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu, dengan sangat terpaksa dia menjawab panggilan itu.
(Dalam panggilan)
_______
"Halo Aditya?"
^^^"Anda siapa?"^^^
"Aku sudah bilang ada yang mau
aku bicarakan denganmu"
...(Ternyata dia wanita yang waktu itu (*Chapter Aku Berharap) Siapa dia sebenarnya?) batin Aditya...
^^^"Anda tahu batasan untuk menghubungi seseorang dengan sopan jam berapa?"^^^
"Iya iya, aku tau kalau ini sangat
tidak sopan karena mengganggumu
di jam semalam ini. Tapi aku harus
berbicara denganmu."
^^^"Anda sebenarnya siapa?"^^^
^^^"Saya tidak ada waktu untuk merespon^^^
^^^an..."^^^
...(Kalimat Aditya terputus saat wanita itu memotong ucapannya)...
"Kamu mengenal Laura dengan
sangat baik kan?"
"Sayang sekali dia sudah bertemu
denganmu, aaa jadi tidak seru."
^^^"Apa maksud anda?"^^^
"Aditya Aditya, kamu pikir selama
ini aku tidak tau jika kamu
menyelidiki siapa keluargamu?"
^^^"Jangan main-main dengan saya, katakan^^^
^^^siapa anda sebenarnya?"^^^
"Hahahaha"
"Kalau ingin tau siapa aku sebenarnya, temui aku besok di cafe Flores jam 2 siang."
________
(Panggilan terputus)
Aditya melempar ponselnya di sofa tempatnya duduk, entah harus bagaimana dia merasa sangat khawatir dengan kakak dan ayahnya.
"Apa lagi ini?!" Kata Aditya yang mengacak rambutnya.
"Kenapa dia tahu apa yang sedang saya lakukan sebenarnya dia siapa?" Gumam Aditya yang memutar otaknya.
"Aditya?" Panggil Keysa dari dalam kamar.
Mendengar teriakan istrinya, Aditya tersadar dari lamunannya dan beranjak dari duduknya untuk menghampiri istrinya.
Kriet...
Aditya membuka pintu kamarnya dan melihat istrinya tengah duduk dengan rasa tidak nyaman.
"Kenapa bangun? Ada apa?" Tanya Aditya yang duduk ditepi tempat tidur.
"Punggungku rasanya sakit, aku tidak nyaman untuk tidur." Keluh Keysa.
__ADS_1
"Tidurlah, biar saya pijit punggungmu."
Keysa kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Aditya, Aditya memijit pelan punggung istrinya. Pikirannya masih terus sibuk bertanya-tanya siapa wanita yang tadi meneleponnya.
"Apa sudah terasa sedikit nyaman?" Tanya Aditya.
Keysa menjawab dengan anggukan dengan posisi mata yang sudah terpejam.
"Tidurlah, saya disini"
-Keesokan harinya-
Keysa membuka matanya dan melihat disebelahnya sudah tidak ada Aditya.
"Aditya sudah bangun ya?"
Keysa berjalan keluar dari kamar dan mencari keberadaan Aditya, saat melihat ke dapur Keysa tidak menemukan Aditya. Bahkan pintu kamar mandi juga terbuka lebar dan tidak ada Aditya, kemudian Keysa berjalan ke arah ruang tamu, dia melihat suaminya tengah tertidur pulas dengan posisi kepala di atas meja yang disebelahnya ada laptop dan beberapa berkas.
"Dia lembur?" Gumam Keysa yang hendak membenarkan posisi Aditya.
Saat hendak memposisikan kepala Aditya agar lebih nyaman, Aditya tersadar lebih dulu.
"Keysa? Jam berapa ini?" Tanya Aditya yang celingukan mencari jam dinding.
"Istirahat dulu, masih jam 5.12. Nanti berangkat agak siangan saja sepertinya kamu kecapekan."
"Nanti jam 9 saya ada meeting, jadi saya harus berangkat pagi untuk menyiapkan beberapa dokumen."
"Kenapa tidak menyuruh Felix saja?"
"Sudah saya tangani, saya mandi dulu terus masak buat sarapan. Kamu mau makan apa?"
"Aditya?"
"Iya?" Jawab Aditya yang sibuk membereskan berkas dan laptopnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, kamu harus istirahat."
Aditya yang mendengar Keysa tengah mengkhawatirkannya, langsung menghentikan aktivitas tangannya.
"Kamu tenang saja, nanti setelah meeting saya akan istirahat di kantor." Kata Aditya sambil mengelus kepala Keysa yang kemudian dia berjalan masuk untuk mandi, meninggalkan Keysa yang terdiam di ruang tamu.
*Ada apa dengannya? Dari kemarin dia terlihat banyak pikiran* batin Keysa.
......................
-Di kantor-
"Meeting hari ini selesai, kalian bisa kembali." Kata Aditya sambil menutup berkas di tangannya.
Saat semua staf karyawan yang hadir dalam meeting itu keluar, Aditya melirik ke arah Felix.
"Cari tahu tentang siapa wanita yang memiliki nomer telepon ini, saya mau informasi yang sangat detail." Kata Aditya sambil mengarahkan ponselnya di depan Felix.
"Baik pak akan saya lakukan." Jawab Felix
"Hati-hati dalam mencari informasi tentangnya, jangan sampai melakukan kesalahan sekecil apapun."
"Baik pak."
Saat Felix sudah keluar dari ruang meeting, Aditya melihat ke arah jam tangannya.
"Pukul 11.06, masih ada waktu untuk istirahat." Gumam Aditya yang meraih berkas dan laptopnya di atas meja lalu keluar dari ruang meeting.
Aditya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan sedikit memejamkan matanya.
"Apa aku menemui kakak saja dulu untuk memastikan dia baik-baik saja" Gumam Aditya.
Tanpa menunggu lama Aditya meraih kunci mobilnya dan berjalan keluar dari ruangannya. Setelah hampir 20 menit perjalanan Aditya sampai di butik Parveen's.
Tring...
"Selamat siang tuan ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawan.
"Saya ingin menemui nona Laura, saya sudah ada janji dengannya."
"Dengan tuan siapa?"
"Aditya"
"Mohon tunggu sebentar tuan."
Karyawan itu masuk ke ruangan Laura dan kembali beberapa saat kemudian.
"Anda bisa masuk tuan."
Mendengar ucapan karyawan butik yang membiarkannya masuk ke dalam ruangan kakaknya, Aditya langsung menghampiri kakaknya.
Saat masuk ke dalam ruangan Laura, Aditya melihat seorang anak kecil yang tengah sibuk bermain didepan meja kerja kakaknya.
"Halo, lagi main apa nih?" Kata Aditya menghampiri anak itu.
"Mama?" Panggil anak itu ke Laura dengan ekspresi wajah sedikit merengek.
"Tidak perlu takut, dia adik mama." Kata Laura tersenyum pada Ervin anaknya.
"Main sama om mau?" Tanya Aditya pada Ervin yang dijawab anggukan semangat.
Aditya menemani Ervin bermain hampir 20 menit hingga Laura menyudahi pekerjaannya dan menghampiri Aditya serta anaknya.
"Kamu tidak kerja?" Tanya Laura sambil duduk di sofa dengan Aditya dan Ervin bermain.
"Sekarang lagi jam istirahat, saya kemari untuk mengunjungi kakak."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istrimu? Dia baik-baik saja kan?"
"Dia baik-baik saja kak, sekarang dia sedang istirahat di rumah."
"Kakak akan main ke rumahmu lain kali, sekarang kondisi butik lagi sedang sibuk banyak pesanan busana yang harus kami tangani."
Laura meraih ponselnya di atas meja dan memberikan ponsel itu pada Aditya.
"Berikan nomer telepon mu pada kakak."
Aditya mengangguk dan memberikan nomernya pada Laura, setelah hampir 2 jam bermain dengan keponakan serta berbincang dengan Laura. Matanya melirik ke arah jam tangan yang sudah menunjukan pukul 13.58.
"Kak, saya harus pergi sekarang. Lain kali saya akan menemui kakak lagi."
"O iya sudah waktunya masuk kerja ya?"
"Hati-hati ya Dit."
"Iya kak"
"Om pergi dulu ya Ervin, lain kali kita main lagi."
"Hati-hati om Adit."
Aditya tersenyum sambil mengelus kepala keponakannya, saat berada di mobil Aditya mendapatkan telepon dari wanita itu lagi.
(Dalam panggilan)
________
"Masih tidak tertarik untuk
menemui ku?"
^^^"15 menit saya sampai."^^^
"Oke keputusan yang bagus."
________
(Panggilan terputus)
*Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat* batin Aditya
-Di cafe Flores-
Aditya memasuki cafe itu, matanya sibuk mencari dimana wanita yang sedang ingin dia ketahui identitas aslinya.
Saat melihat disudut cafe dekat dengan pintu bagian outdoor cafe, wanita yang Aditya cari tengah duduk tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aditya berjalan mendekati meja dimana wanita itu duduk, saat semakin dekat dengan meja itu. Langkah Aditya tiba-tiba terhenti, betapa terkejutnya dia melihat wajah wanita yang dia ketahui sedang duduk berhadapan dengan wanita yang sedang dia cari.
*Istri kedua ayah?* batin Aditya
"Ada apa Aditya? Kemari lah, ngapain kamu diam disitu?" Kata wanita itu yang menyadari ekspresi terkejut Aditya.
"Siapa anda sebenarnya?" Tanya Aditya yang masih berdiri didekat meja.
"Oh iya aku lupa memperkenalkan diriku, halo Aditya anak kandung papi Rai yang tidak diketahui keberadaannya. Namaku Freya, dan ini mamiku yang merupakan istri dari Tuan Astrada Rai Candra." Kata Freya sambil tersenyum puas melihat ekspresi Aditya yang terkejut.
*Anak? Bukankah informasi dari Felix ayah tidak memiliki anak dengan istri keduanya?* batin Aditya.
"Kenapa anda ingin menemui saya?" Tanya Aditya ketus.
"ADITYA! Anak kedua dari Inara Rahdian Anindira dengan tuan besar Rai, apa kabar anak terlantar?" Kata istri kedua tuan Rai.
Aditya memberikan sedikit senyuman pada istri kedua ayahnya, namun bukan senyuman tulus melainkan senyum yang terkesan meremehkan.
"Apa yang anda banggakan sampai berani mengatakan saya anak terlantar?"
"Jelas sekali, kamu lahir tanpa Rai dan bahkan Rai tidak tahu jika kamu ada. Sedangkan anak saya, dia bukan anak Rai tapi mendapatkan kemewahan serta diakui sebagai ANAK KANDUNGNYA!" Jelas Jovita.
"Jangan macam-macam dengan saya." Kata Aditya mendekatkan diri ke arah Jovita.
"Apa yang bisa kamu lakukan? Bahkan jika papamu tahu kamu anaknya dia tidak akan percaya begitu saja."
Aditya hanya diam sambil terus tersenyum mendengarkan ucapan Jovita.
"Asal kamu tahu Aditya, dari kamu lahir sampai kamu sebesar ini mamiku yang telah mengawasi semua gerak-gerik dari keluargamu. Termasuk kematian ibumu, dan mirisnya papi Rai dan kakak perempuanmu yang kotor itu tidak tahu kebenarannya." Sambung Freya.
Aditya yang tidak terima nama almarhumah ibunya diungkit serta penghinaan atas kakaknya, mendekati Freya dan mencengkram lengannya dengan erat.
"Auw, apa yang kamu lakukan?"
"DENGAR BAIK-BAIK, AKAN SAYA PASTIKAN KAMU BESERTA IBUMU TIDAK AKAN LAGI MERASAKAN HIDUP TENANG!" Kata Aditya dengan penuh penekanan pada semua kata yang dia ucapkan.
Setelah mengatakan itu Aditya membalikkan badan, dan pergi menjauh dari Freya beserta Jovita.
*Aku harus mencari informasi tentang mereka dengan sangat jelas kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka melakukan apapun pada ayah dan kakak." batin Aditya.
.
.
.
.
...Gimana nih, ada yang ikut emosi gak dengan chapter kali ini?? Tolong ungkapkan pendapat kalian di komen ya 🤗🌹...
Jangan lupa terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤
Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗
__ADS_1
Ditunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤❤