Janji M

Janji M
Apa Itu Benar?


__ADS_3

.


.


.


.


"Dit, kamu yakin akan memberitahu Reyna?" Tanya Dion


"Iya"


"Baiklah, aku tidak menyangka kamu tertarik membantu Reyna" (Dengan nada bercanda)


*Tidak Yon, aku hanya ingin tahu siapa wanita yang bersama Ivan. Rasanya dia tidak asing bagiku* batin Aditya


-Di rumah Aditya-


"Kalian kemana saja? Kami sudah sangat lapar." Kata Rosa (Mengambil bungkusan makanan di tangan Dion)


"Makanlah" Kata Dion


Aditya memberitahu Dion untuk menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang Ivan pada Reyna, tanpa memberitahukan siapa sepupu Ivan yang sebenarnya.


*Bagaimana Aditya dan Dion mengenal sepupu Ivan, apa yang sebenarnya terjadi?* batin Rosa


Setelah melihat Reyna sedikit tenang, mereka menyudahi pembahasan tentang masalah Reyna.


Aditya meletakkan paper bag yang dia bawa di atas meja dekat dengan kursi yang diduduki Keysa dan berjalan masuk untuk membersihkan diri


Keysa meraih paper bag itu dan membukanya, ekspresi Keysa sedikit demi sedikit berubah. Matanya merah manahan air mata, Reyna yang menyadari Keysa diam dan tidak ikut makan menengok ke belakang


Melihat tangan Keysa yang gemetar, Reyna mendekatinya dan melihat surat yang di pegang Keysa.


"Surat apa ini Key?" (Reyna mengambil surat itu dari Keysa dan membacanya)


Isi Surat


________


...Hai Dit,...


...Saya harap setelah membaca surat ini rasa rindu mu padaku hilang, terima kasih untuk jaket mu berkat mu tubuh saya jadi hangat dan tertutupi. Saya mau kamu menemui saya lagi seperti kemarin malam, saya akan selalu menunggumu....


...Love You,...


...Putri...


...(Dengan cap bibir dari lipstik)...


_______


"Apa-apaan ini?!" Teriak Reyna


Dion dan Rosa yang mendengar Reyna berteriak langsung memalingkan matanya ke arah Reyna dan Keysa.


Rosa menghentikan makannya dan berjalan menghampiri Keysa dan Reyna, dia melihat surat yang dipegang Reyna. Seketika raut wajah Rosa ikut berubah.


"Ada apa?" Tanya Dion


Keysa menatap ke arah Dion dengan air mata yang tidak dapat dibendungnya lagi, bahkan Dion tidak paham mengapa Keysa menatapnya seperti itu. Hingga Dion mengarahkan matanya ke surat yang dipegang Rosa


"Keterlaluan" Kata Dion


Dion merebut surat itu dari Rosa dan berjalan menghampiri Aditya yang ada di dalam, digedor pintu kamar Aditya.


Aditya keluar dan menatap Dion bingung, Dion terdiam dan tidak mengatakan apapun pada Aditya. Dia hanya memberikan surat yang diambilnya dari Rosa


*Apa maksudnya ini?* batin Aditya


Aditya masuk ke kamarnya dan duduk ditepi ranjangnya, dia tidak tahu jika isi paper bag dari Putri akan seperti ini.


"Dit, aku rasa kamu harus jelasin semua pada Keysa. Sekarang ini dia sedang nangis."


Belum sampai Aditya bereaksi dengan ucapan Dion, Rosa masuk ke kamar Aditya dan melempar jaket milik Aditya tepat di wajah Aditya.


Aditya terkejut, dan secara sekilas mencium aroma pada jaketnya.


*Parfum wanita* batin Aditya


"Aku pikir kamu laki-laki baik Dit, ternyata kamu sama busuknya dengan laki-laki lain. Bahkan terhadap Keysa, seseorang yang mencintai kamu setulus hati, tapi kamu tidak menerimanya dengan setulus hati dan sibuk membangun cinta dengan wanita lain! O aku tahu kenapa kalian bisa mendapat informasi tentang Ivan dari sepupunya, ternyata sepupu Ivan wanita gelap mu" Teriak Rosa pada Aditya


"Saya bisa jelaskan" Kata Aditya


"Apa yang mau kamu jelaskan, dari luar kamu terlihat dingin dan cuek tapi siapa sangka kalau sikapmu seperti ini di belakang"


Dion berdiri dari duduknya dan menarik Rosa keluar dari kamar Aditya, Dion menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Aditya.


Amarah Rosa mereda mendengar cerita dari Dion, dia sudah salah memaki-maki Aditya seperti tadi.


Rosa berlari ke arah ruang tamu dan tidak melihat siapapun.


"Aditya! Dion! Keysa dan Reyna tidak ada!" Teriak Rosa


Dion dan Aditya yang mendengar teriakan Rosa berlari ke arah ruang tamu, dan mereka hanya melihat Rosa sendirian tanpa Reyna ataupun Keysa.


Aditya berlari keluar rumah dan mencari kemana Keysa dan Reyna pergi


Dion dan Rosa menaiki motor untuk menyusul Aditya


Aditya melihat ke arah jalan raya yang mulai sepi, ditepi jalan dia melihat Reyna yang sibuk menahan Keysa untuk tidak pergi


Aditya menghampiri mereka dan meraih tangan Keysa


"Kamu mau kemana?" Tanya Aditya


Keysa tidak menjawab pertanyaan Aditya dan berusaha melepaskan tangan Aditya dari tangannya.


"Reyn, kembalilah ke rumah." Perintah Aditya


Dion dan Rosa yang melihat hal itu membawa Reyna untuk kembali ke rumah, meninggalkan Aditya dan Keysa di tepi jalan.


"Ayo kembali" Minta Aditya


Keysa masih enggan mendengar ucapan Aditya, dan terus berusaha melepaskan tangannya.


Aditya tidak sabar dengan sikap Keysa, ingin sekali rasanya menarik Keysa untuk pulang. Namun, Aditya tahu Keysa akan bagaimana jika dia kasar padanya.


Aditya membuang nafasnya kasar dan menjelaskan pada Keysa apa yang terjadi, Keysa mulai tenang dan tidak meronta lagi.


Aditya mengajaknya kembali ke rumah, selama di perjalan pulang mereka hanya diam tanpa ada yang membuka pembicaraan.


Saat di depan rumah Aditya, Keysa tiba-tiba menghentikan langkahnya. Aditya berhenti dan melihat ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


"Apa lo sudah mulai menyukai gue?" Tanya Keysa


Seakan ada petir yang menyambarnya Aditya hanya bisa diam, dia tidak berani menjawab pertanyaan Keysa. Dia takut Keysa akan terluka mendengar pengakuannya

__ADS_1


Keysa menatap Aditya dengan penuh harap, namun Aditya terlihat masih diam dan tidak mengucapkan apapun.


"Gue mengerti, lebih baik gue pulang saja dari pada di sini."


Keysa masuk ke dalam rumah dan mengambil tasnya, Keysa tidak berkata apapun melihat Dion, Rosa, dan Reyna yang duduk menunggunya. Bahkan pertanyaan Rosa tidak dihiraukan, dan keluar dari rumah Aditya


Aditya masih mematung, dan berperang dengan pikirannya. Dia tidak bisa jujur tentang perasaannya, disisi lain Aditya tidak mau membuat Keysa sakit hati karenanya. Mau bagaimanapun pak Gunawan sudah menolongnya selama ini.


Aditya melihat Keysa yang berjalan menjauh dari rumahnya


"Nona" Panggil Aditya


Keysa hanya menghentikan langkahnya dan tidak berbalik badan untuk melihat Aditya.


"Maaf, jika saya menyakiti nona selama ini"


Keysa masih diam tidak menjawab


"Saya tidak bisa me..."


Perkataan Aditya terpotong saat Keysa berbalik badan dan menatapnya dengan mata yang bengkak dan penuh air mata


"Gue paham, selama ini lo hanya menganggap gue sebagai atasan bukan kekasih lo. Hanya saja lo berusaha menghargai perasaan gue dan mengakui gue sebagai kekasih karena hutang budi lo pada papa kan? Untuk apa itu semua? Apa yang lo lakuin hanya membuat gue sakit hati, gue tahu mau bagaimanapun perubahan sikap gue lo gak bakalan luluh sama gue Dit. Kita akan tetap melangsungkan pertunangan 2 bulan lagi sesuai rencana papa tahun lalu, gue harap lo tidak mempermalukan papa."


Keysa berlalu pergi setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Aditya, Aditya hanya diam dan melihat Keysa yang berjalan semakin jauh darinya.


Aditya diam dan terduduk di bangku kayu depan rumahnya dengan tatapan yang fokus ke depan.


Dion keluar melihat Aditya terduduk diam dan duduk disebelah Aditya.


"Aku tidak tahu masalah apa yang kamu alami, tapi aku harap jika kamu dalam kesulitan kamu bilang padaku. Sebisa mungkin aku akan membantumu." Kata Dion (Dengan pandangan mata fokus ke depan tanpa melihat ke arah Aditya)


Aditya tidak menjawab ucapan Dion, mereka hanya duduk dan saling diam.


***


"Sayang mama akan menjagamu, kamu sehat-sehat ya." Kata Laura (Mengelus perutnya yang masih rata)


Tok...Tokk...Tokkk...


"Papa?"


Laki-laki setengah paruh baya itu masuk ke dalam kamar Laura dan duduk di samping Putrinya.


"Sayang, maafkan papa. Semua ini karena papa tidak bisa menjaga dan melindungi mu dengan baik, diumur mu yang masih muda kamu harus menerima cobaan ini. Maafkan papa"


"Ini tidak salah papa, semua murni salahku terlalu percaya padanya. Dan kini aku tidak akan lagi memaksanya untuk bertanggung jawab pa, aku ingin fokus pada calon anakku."


"Papa bangga padamu, kamu wanita yang mau bertanggung jawab atas kesalahanmu"


"Pa... Aku merindukan mama dan nenek."


Terlihat laki-laki itu terkejut dengan ucapan Putrinya


"Mau sampai kapan papa tidak mengizinkanku menemui mereka? Aku sudah besar, sebentar lagi aku akan jadi ibu. Aku akan merasakan apa yang mama rasakan dulu."


"Papa tidak tahu sekarang mereka dimana, bahkan papa sudah berusaha mencari mereka dari kita masih tinggal di negara A namun masih tidak membuahkan hasil sampai sekarang"


Laura hanya diam, dia sempat bertemu dengan laki-laki yang wajahnya hampir mirip dengannya. Namun dia enggan untuk membicarakannya, mengetahui jika papanya tidak tahu keadaan mamanya yang ditinggal pergi dengan keadaan hamil.


*Lebih baik aku cari tahu sendiri tentang keberadaan mama dan nenek, sudah hampir 26 tahun aku tidak bertemu mereka* batin Laura


"Kamu istirahat ya, papa mau kembali ke kamar dulu."


Laura mengangguk dan memandang ke arah laki-laki setengah paruh baya itu keluar.


*Aku sangat merindukanmu Inara* batin laki-laki itu


***


"Dit, dipanggil sama dosen wali di ruang kepala prodi."


Aditya menutup bukunya dan berjalan ke arah ruang kepala prodi, Aditya mengetuk pintu ruangan dan masuk untuk menemui dosen walinya.


"Duduk Dit" Kata dosen wali


"Kami sudah melihat kinerja ipk mu yang baik, bahkan kamu termasuk mahasiswa yang aktif dan disiplin. Kami juga sudah menerima surat pengajuan beasiswa dan membaca data diri milik mu, jadi kami putuskan kamu mendapat beasiswa penuh sampai lulus."


"Terima kasih pak, bu"


"Sama-sama, kamu bisa kembali"


Aditya keluar dari ruangan dengan perasaan yang senang dan lega.


*Penghasilan dari restoran bisa aku gunakan untuk modal usaha sekarang* batin Aditya


Saat hendak memasuki ruang kelas, langkah Aditya terhenti melihat Keysa yang tengah duduk di kursi depan ruang kelasnya.


"Nona?"


"Apa kabar?" Tanya Keysa


"Seperti yang nona lihat, ada perlu apa anda kemari?"


Aditya duduk disebelah Keysa


"Sudah H-23 menuju hari pertunangan kita, lo sudah terima pesan dari papa?"


"Sudah"


-Flashback on-


Aditya meletakkan sepedanya, dan berjalan menuju ruang kelasnya. Ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, Aditya melihat ke arah ponselnya dan membaca isi pesan yang terdapat dilayar.


(Chatting)


_ _ _ _ _ _ _


"Beberapa hari ke depan ambilah cuti di


restoran, dan untuk nanti sore pergi dengan


Keysa ke butik Parveen's. Saya mau kamu


dan Keysa mempersiapkan gaun dan jas


untuk pertunangan."


^^^"Baik pak"^^^


_ _ _ _ _ _


*Sudah mendekati hari itu ya? Bu, apa ibu senang melihat aku akan bertunangan? Atau ibu merasakan apa yang aku rasakan?* batin Aditya


-Flashback off-


"Nanti akan gue jemput lo di rumah pukul 15.00"

__ADS_1


"Iya"


"Gue harap lo mau nerima gue dengan sepenuh hati lo, takdir kita sudah di tepat kan. Jangan sampai bikin malu papa gue."


Keysa pergi meninggalkan Aditya yang terduduk diam dan menatap kepergiannya.


Dari kejauhan terlihat Ivan sedang melihat ke arah Aditya, saat Aditya hendak memasuki ruang kelasnya. Langkahnya dihadang oleh Ivan


"Ada yang mau aku bicarakan padamu" Kata Ivan


Aditya mengikuti langkah Ivan pergi, mereka sekarang ada di rooftop gedung fakultas ekonomi.


"Dit, saya mau kamu membantuku untuk berbicara pada Reyna"


Aditya tampak bingung dengan ucapan Ivan


"Sebagai gantinya saya akan memenuhi permintaanmu, katakan saja." Sambung Ivan


*Apa ini saatnya aku bertanya siapa wanita yang bersamanya saat itu* batin Aditya


"Saya akan coba berbicara pada Reyna, saya hanya ingin bertanya pada anda. Siapa wanita yang bersamaan anda waktu itu?"


Ivan terlihat terkejut mendengar pertanyaan Aditya, dia tidak mungkin menjawab pertanyaan Aditya karena itu rahasia keluarganya.


"Aku akan jelaskan semua pada Reyna, bantu aku menemuinya terlebih dahulu."


Ivan menepuk bahu Aditya pelan dan meninggalkan Aditya di rooftop sendirian tanpa menjawab pertanyaan dari Aditya.


Aditya mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Reyna.


(Chatting)


_ _ _ _ _ _ _


^^^"Kamu dimana?"^^^


"Di taman depan fakultas, ada apa Di?"


^^^"Ada kelas?"^^^


"Habis ini sekitar 10 menit lagi"


^^^"Selesai kelas saya temui, tunggu di^^^


^^^depan gedung fakultas mu saja"^^^


"Oke Adi"


^^^(Read)^^^


_ _ _ _ _ _


Aditya berjalan setengah berlari kembali ke kelas, saat hendak berbelok ke arah lorong depan kelasnya


Mata Aditya tidak sengaja melihat ke arah ujung lorong, dan melihat Ivan bergurau dengan seorang wanita. Namun, tidak terlihat wajah wanita itu


*Sudah jam segini kelas hampir dimulai* batin Aditya melihat kearah jam tangannya


-Selesai kelas-


Aditya berjalan menuju gedung fakultas kedokteran untuk menemui Reyna.


Sampai di depan gedung Aditya mencari di mana Reyna, dan melihatnya tengah membaca buku di gazebo dekat tempat dia berdiri.


"Sudah lama?" Tanya Aditya


"Akhirnya kamu sudah datang Di, apa yang mau kamu bicarakan padaku?"


"Tumben sekali kamu menemui ku, aneh saja seorang Aditya menemui ku dan rela membuang waktunya untukku" Sambung Reyna


"Ivan menemui saya tadi dan meminta saya untuk..."


Kalimat Aditya terpotong karena tangan Reyna yang sudah menutup mulutnya dengan cepat.


Aditya terkejut dan melempar tangan Reyna


"Maaf-maaf Di, aku tidak bermaksud" Jawab Reyna gugup


"Di, kamu tahu kan disini tempat umum tolong kecilkan suaramu jangan sampai ada yang dengar."


Aditya diam dan ingin sekali memukul kepala Reyna


"Bicaramu yang terlalu keras, bahkan saya tidak berteriak sepertimu" Kata Aditya dengan menatap tajam ke arah Reyna


"Oh aku ya yang salah, hehehe maaf."


*Otak pintar, calon dokter, namun sikap seperti anak ikan yang ketinggalan rombongan* batin Aditya


"Ayo Di lanjutkan ucapan mu jangan malah diam, kamu kira waktuku banyak?"


"Kenapa memarahi saya?" (Dengan wajah siap memukul Reyna)


"Ok ok, maaf cepat katakan"


"Ivan menemui saya dan meminta saya untuk membantunya berbicara padamu"


"Di?"


"Hmm?"


"Menurutmu, apa aku harus menemuinya?"


*Sekarang jadi lebih diam dan kalem, sifatnya berubah secepat ini?* batin Aditya


"Iya, masalah tidak bisa kamu hindari kecuali kamu selesaikan"


Reyna menjawab ucapan Aditya dengan anggukan, Reyna yang awalnya heboh dan cerewet mendadak menjadi diam dan tenang.


Aditya berdiri dari duduknya dan memandang Reyna yang masih duduk serta menundukkan kepalanya.


"Saya balik dulu." Kata Aditya


Ucapan Aditya tidak mendapat respon dari Reyna, Aditya mengambil buku disebelah Reyna dan memukul kepala Reyna dengan buku.


Reyna meringis menahan sakit


"Kamu kira ilmu dalam buku itu bisa langsung masuk dalam otakku dengan kamu memukulkannya pada kepalaku?" (Dengan nada kesal dan sedikit berteriak)


Aditya hanya menggelengkan kepala serta memberikan kembali buku Reyna, dan pergi meninggalkan Reyna yang menggosok-gosok kepalanya menahan sakit akibat ulah Aditya.


*Dasar singa beku, kenapa aku bisa memiliki teman sepertinya?* batin Reyna (Menatap Aditya yang berjalan mulai menjauh)


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa vote, like, dan komen ❤


__ADS_2