
.
.
.
.
Di pagi hari saat jam menunjukkan pukul 05.12, Keysa masih sama tidak menjawab setiap pertanyaan Aditya. Bahkan untuk melihat kearah Aditya dia juga engga.
Aditya yang sibuk membuat makanan untuk Keysa, sesekali melihat ke arah ruang depan. Istirnya masih sangat sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan Aditya sedikitpun.
"Apa yang salah denganku?" Gumam Aditya dengan tangan sibuk memotong sayuran.
Setelah hampir setengah jam memasak, Aditya membawakan sepiring makanan serta susu untuk Keysa ke ruang depan.
"Makan dulu, saya mau mandi." Kata Aditya sambil meletakkan nampan berisi makanan dan susu di meja depan Keysa.
Lagi-lagi Keysa tidak menjawab ucapan Aditya, dan meletakkan ponselnya. Lalu meraih sendok dan melahap makanannya.
Aditya hanya menggelengkan kepala, kemudian masuk untuk bersiap-siap berangkat kerja.
-Pukul 06.09-
"Saya berangkat kerja dulu, jika menginginkan sesuatu beri tahu saya."
Mendengar Aditya yang berpamitan padanya, Keysa meletakkan sendok yang dipegangnya. Lalu menatap Aditya dengan tatapan datar.
"Aku mau keluar dengan temanku, mungkin sore baru pulang."
"Hmm? Kamu harus banyak istirahat, keluar kemana hingga sore baru pulang?"
"Kenapa? Kamu tidak memberi izin? Protektif banget sih kamu." Ucap Keysa yang kemudian berjalan melalui Aditya dan masuk kedalam kamar.
Suara bantingan pintu terdengar sangat jelas di telinga Aditya.
Aditya memijit kepalanya pelan melihat perilaku istrinya itu. Tanpa menenangkan Keysa, Aditya langsung berangkat ke kantor. Pikirannya kacau melihat sikap sang istri yang mulai sensitif.
"Selamat pagi pak" Sapa satpam didepan pintu utama kantor.
"Pagi"
Aditya memasuki ruang kerjanya dan masih belum melihat Felix di mejanya, seketika matanya langsung melirik ke arah jam tangan.
"Sudah pukul 06.23, tidak biasanya jam segini dia belum datang."
Aditya membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa data dan dokumen yang akan tertunda kemarin, sesekali matanya melirik ke arah ponselnya untuk memastikan Keysa menghubunginya atau tidak.
Tok...Tok...Tok...
"Masuk"
"Selamat siang pak, tuan Rai beserta asistennya dari perusahaan Candra sudah menunggu anda di ruang meeting."
"Sebelumnya sudah ada janji?"
"Belum pak, pak Gunawan memberikan pesan pada saya jika tuan Rai datang kemari anda dimohon menemui beliau."
"Suruh mereka menunggu 5 menit."
"Baik pak."
Cklek...
Aditya yang mendengar kabar dari Felix mengenai ayahnya yang datang untuk bisnis, langsung memakai jasnya yang tersandar di sofa dan berjalan menuju ruang meeting.
Kriet...
"Selamat siang tuan Rai." Sapa Aditya sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat siang." Jawab tuan Rai sambil membalas uluran tangan Aditya.
"Maaf jika anda sudah menunggu lama, ada beberapa hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa, saya belum lama disini."
"Anda ini menantu pak Gunawan ya?" Tanya tuan Rai dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Iya tuan benar, beliau meminta saya menjalankan proyek di kota M bersama anda."
"Saya takjub dengan kemampuanmu mengelola perusahaan ini, diusia mu yang muda."
"Anda berlebihan tuan, mari kita mulai meeting nya."
Tuan Rai dan asistennya mempersiapkan berkas yang hendak ditunjukan kepada Aditya, begitu juga dengan Aditya dan Felix yang sibuk membaca beberapa dokumen yang diberikan asisten tuan Rai.
Aditya sedikit melirik ke arah tuan Rai yang tengah sibuk di depannya.
*Ayah, aku disini. Apa ayah bisa merasakan keberadaan ku?* batin Aditya.
**Perasaan apa ini? Mengapa saya merasa sangat dekat dengan menantu pak Gunawan, mengingat baru kali ini saya berbica*ra dengan santai saat bersama rekan kerja yang sebelumnya tidak pernah.* batin tuan Rai.
"Bagaimana jika salah satu store di sana kita fokusnya untuk menjual oleh-oleh khas kota M, di kota itu tempat wisata sangat berkembang pesat dalam jangka waktu beberapa tahun ini. Untuk tenaga kerjanya sendiri kita ambil dari warga sekitar, dan untuk bahan dari produknya sendiri kita supply langsung dari perkebunan." Kata Aditya sambil memberikan berkas pada tuan Rai.
"Ide yang bagus, saya setuju." Jawab tuan Rai.
Hampir 2 jam mereka melakukan rapat dengan sangat lancar, hingga jam menunjukkan pukul 14.34.
"Terima kasih atas hari ini tuan Rai." Kata Aditya sambil tersenyum lebar.
"Meeting kali ini sangat lancar, saya puas dengan hasil meeting kali ini. Terima kasih kembali Aditya."
"Semoga kedepannya tidak ada halangan untuk proyek ini tuan."
"Semoga, bagaimana jika kita makan siang bersama? Jam makan siang kita tadi terpotong karena meeting."
"Boleh tuan, mari." Jawab Aditya bersamaan dengan tuan Rai yang merangkul pundaknya.
*Ayah?* batin Aditya.
Aditya, tuan Rai, asisten tuan Rai, beserta Felix memasuki restoran yang jaraknya tidak jauh dari kantor Aditya.
Mereka berempat saling mengobrol sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang.
"Saya permisi ke toilet dulu tuan." Kata Aditya sambil bangun dari duduknya.
"Silahkan."
Tring...Tring...Tring...
Terlihat dilayar ponsel terdapat nama "Kak Laura" membuat tuan Rai yang tidak sengaja membacanya mengerutkan dahi.
Saat tuan Rai ingin melihat lebih dekat ke arah ponsel Aditya, dari jauh terlihat Aditya tengah berjalan menuju mejanya. Felix yang mendengar ponsel atasannya berdering terus-menerus, segera memberi isyarat pada Aditya jika ada panggilan masuk.
Aditya yang melihat isyarat dari Felix, mempercepat langkahnya.
"Kakak?" Gumam Aditya yang didengar tuan Rai yang duduk tepat didepannya.
*Apa hanya perasaan saya saja? Aditya memiliki kakak bernama Laura sangat kebetulan sama dengan nama putri saya.* batin tuan Rai
"Saya permisi menjawab telepon terlebih dahulu."
Ucapan Aditya dijawab anggukan oleh tuan Rai dan asistennya.
(Dalam panggilan)
_______
"Aditya?"
^^^"Iya kak, ada apa?"^^^
"Kamu sibuk? Kakak berencana
ingin main ke rumahmu nanti sore."
^^^"Saya masih ada urusan, sekitar pukul^^^
^^^16.00 saya akan pulang kak."^^^
"Oke, bisa kamu kirimkan alamat
rumahmu?"
^^^"Setelah ini akan saya share^^^
__ADS_1
^^^location, agar kakak lebih mudah^^^
^^^menemukan rumah saya."^^^
"Kamu mau minta kakak
bawakan apa?"
^^^"Tidak perlu kak, nanti saya yang^^^
^^^akan memasak untuk kakak."^^^
"Kalau begitu kakak beli beberapa
bahan ya? Ada yang ingin kakak
makan, aku harap kamu bisa
memasaknya." (Sambil tertawa)
^^^"Semua bisa saya masak, kakak^^^
^^^tenang saja."^^^
"Baiklah tunggu kedatangan
kakak."
^^^"Iya hati-hati."^^^
"Kakak tutup ya, daa."
^^^"Iya kak."^^^
________
(Panggilan terputus)
Aditya menutup ponselnya dengan senyum mengembang di bibirnya, lalu dia kembali ke meja dimana ada ayahnya dan asistennya yang tengah menunggu.
"Maaf, sudah membuat anda menunggu."
"Tidak masalah Aditya, duduklah kita makan sekarang." Jawab tuan Rai.
Hampir setengah jam mereka menyantap makan siang yang terhidang dihadapan mereka, hingga akhirnya tuan Rai dan asistennya berpamitan pada Aditya untuk undur diri terlebih dahulu.
"Terima kasih untuk waktu anda, lain kali kita makan bersama lagi." Kata tuan Rai sambil mengulurkan tangannya.
"Terima kasih kembali tuan, lain waktu saya yang akan mentraktir anda." Jawab Aditya sambil membalas jabatan tangan tuan Rai.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap tuan Rai dengan senyum yang mirip sekali dengan Aditya.
"Hati-hati tuan." Jawab Aditya.
"Kami permisi." Kata asisten tua Rai yang mendapat anggukan kepala dan senyum lagi Aditya dan Felix.
Saat di halaman parkir mobil resto, asisten tuan Rai mendekati tuan Rai yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Maaf tuan sebelumnya, apa anda tidak merasakan jika senyuman pak Aditya dengan anda sangat mirip." Tanya Asisten tuan Rai.
"Benar apa yang kamu katakan, saya juga merasa seperti itu. Dan hati saya merasa tentram saat berbicara dengannya." Jawab tuan Rai dengan senyuman.
*Sebenarnya siapa dia? Kenapa aku merasa tidak asing* batin tuan Rai.
.
.
.
.
Jangan lupa support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤
Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗
Author tunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤❤
__ADS_1