
.
.
.
.
-Di rumah sakit doa sehat-
"Suster..." Teriak Dion
Cairan berwarna merah segar masih keluar dari bagian perut Aditya
Aditya memasuki ruang IGD dengan beberapa perawat yang membawanya
Ardhan dan Dion terduduk lemas melihat kondisi Aditya, mereka hanya berharap Aditya cepat sadarkan diri
Dari jauh terlihat mama Reyna berlari mendekati mereka dengan wajah yang panik serta dibelakangnya diikuti Rosa dan Reyna yang masih menangis
"Bagaimana keadaan Aditya?" Tanya Melati
"Aditya masih ditangani te, kita berdoa saja semoga dia cepat sadarkan diri" Jawab Dion
Selang 15 menit Aditya keluar dari ruang IGD bersama dengan perawat, tubuhnya masih terbujur lemas dan tidak sadarkan diri.
Mereka berlima terkejut dan menatap ke arah Aditya, perawat membawa Aditya ke ruang operasi dengan terburu-buru
"Pasien dalam keadaan kritis, dan harus menjalani operasi. Semoga operasinya berjalan dengan lancar" Kata Dokter yang kemudian memasuki ruang operasi
*Aditya...* batin Melati
"Permisi, disini siapa wali dari pasien?" Kata perawat yang keluar dari ruang operasi
"Saya sus" Jawab Melati
"Silahkan ibu melakukan biaya administrasi terlebih dahulu"
Dion mengeluarkan ponselnya dan berjalan menjauh dari Ardhan
"Mau kemana?" Tanya Ardhan
"Aku harus menghubungi tunangan Aditya" Jawab Dion menempelkan ponselnya ke telinga
Beberapa saat setelah Dion menelepon Keysa, Keysa datang dengan keadaan panik. Keysa menanyakan keadaan Aditya, dan berjalan menghampiri Reyna yang berada di pelukan Rosa.
Keysa menatap tajam ke arah Reyna sambil menunjuk Reyna dengan jari telunjuknya
"Ini semua salah lo!" Kata Keysa sambil terisak
Rosa menurunkan tangan Keysa yang menunjuk ke arah Reyna
"Jika tidak tahu apa-apa, tutup rapat mulutmu!" Kata Rosa
Ardhan dan Dion yang mendengar ucapan Rosa menengok ke arahnya, Dion menarik tangan Keysa agar menjauh dari Rosa
"Jangan membuat masalah disini" Kata Dion
Pandangan mereka terarah pada pintu IGD yang terbuka, salah satu perawat keluar dari ruangan itu. Memberi tahu keadaan Aditya yang kekurangan darah akibat kehilangan banyak darah
"Pasien membutuhkan 3 kantong darah golongan AB+, diantara kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" Tanya suster
"Darah saya AB+, ambil punya saya saja sus" Kata Ardhan
Mereka semua saling menatap, hanya Ardhan yang memiliki darah yang sama dengan Aditya. Perawat menyarankan untuk segera mencari golongan darah yang sama dengan Aditya karena persediaan darah AB+ di rumah sakit sedang kosong
Ardhan mengikuti perawat untuk melakukan transfusi darah, mama Reyna berlari menuju ruang informasi untuk menginformasikan pada pengunjung rumah sakit jika dibutuhkan dua kantong darah golongan AB+
"Permisi, saya dengar pasien di ruang operasi membutuhkan darah AB+. Saya mau mendonorkan darah saya, kebetulan golongan darah saya AB+" Kata seorang wanita menghampiri Dion
Dion mengangguk dan mengantarkannya ke ruang donor darah
"Kita masih membutuhkan 1 kantong darah lagi, bagaimana ini?" Kata Rosa
"Kita tunggu sebentar lagi semoga saja ada yang mau membantu Aditya"
Seorang laki-laki bersama seorang wanita yang tidak asing dimata Rosa mendekati mereka
"Permisi..."
Mama Reyna menoleh ke arah suara itu
"Mas Rai?"
"Melati"
"Saya menemani putri saya check up dan tidak sengaja dengar informasi jika ada pasien yang membutuhkan darah AB+ di ruang operasi, apa itu kerabat mu?"
"Iya mas, terima kasih sudah mau membantu"
Melati mempersilahkan tuan Rai untuk mengikutinya ke ruang donor darah
"Bukankah itu Wanita yang bersama Ivan dulu" Gumam Dion
Keysa memalingkan pandangannya dan melihat ke arah Laura
"Bu Laura?"
"Keysa, kamu disini?"
"Iya bu, tunangan saya berjuang didalam"
Laura yang mendengar hal itu terkejut, hatinya terasa sakit. Entah perasaan apa yang menyelimutinya hati dan dirinya
*Ada apa lagi ini, kenapa aku merasakan perasaan sakit ini* batin Laura
2 jam lamanya Aditya berada di ruang operasi
"Kenapa belum selesai?" Kata Keysa mondar-mandir depan pintu ruang operasi
"Dion kamu ajak temanmu kembali terlebih dahulu, bersihkan diri kalian. Nanti jika Aditya sudah keluar dari ruang operasi saya kabari kamu" Kata Melati
Dion mengangguk dan mengajak Ardhan meninggalkan rumah sakit untuk membersihkan diri karena bekas cairan merah di bajunya
"Sayang ayo kita pulang" Kata tuan Rai
"Pa, aku ingin disini terlebih dahulu. Aku ingin menjenguk tunangan anak pak Gunawan"
__ADS_1
Tuan Rai menganggukkan kepalanya dan mengelus pelan rambut putrinya
-Di ruang ICU-
"Dit, sadarlah" Kata Keysa sambil memegangi tangan Aditya
"Tolong buka mata lo, gue disini"
Keysa hanya bisa menangis melihat laki-laki yang dicintainya terbujur lemas tak berdaya, bahkan Aditya masih enggan membuka matanya sedikitpun
Rosa, Reyna, dan mama Reyna, hanya dapat melihat keadaan Aditya dibalik kaca ruang ICU dikarenakan batas pengunjung yang diperbolehkan masuk
"Ma..."
Rosa dan mama Reyna menoleh ke arah Reyna yang berbicara setelah 3 hari hanya diam
"Kenapa sayang?"
"Adi seperti ini, semua salahku"
"Tidak, ini bukan salahmu. Kita doakan saja semoga Aditya cepat sadarkan diri dan melewati masa kritisnya" Jawab Melati sambil memeluk putrinya
"Siapa dia? Sepertinya kamu sangat mengenalnya" Tanya tuan Rai pada Melati
Melati membulatkan matanya, entah apa yang harus dia jawab
"Dia sabahat putriku, dan dia yang menyelamatkan putriku" Kata Melati
Tuan Rai hanya mengangguk pelan dan tetap melihat ke arah Aditya
***
Sudah hampir seminggu Aditya masih memejamkan matanya di ruang ICU, beberapa kali dia mengalami masa kritis dan hampir kehilangan nyawanya
"Dit, aku dan Reyna datang menjenguk mu" Kata Dion sambil memberikan kursi untuk duduk kepada Reyna
Reyna hanya memandang ke arah Aditya dengan tatapan kosong, sampai saat ini dia masih enggan membuka suara setelah beberapa hari yang lalu bertanya pada mamanya
Kriet...
Pintu ruangan Aditya dibuka, Keysa masuk ke ruangan itu dengan membawa tas paper bag ditangannya
"Ngapain lo kesini?" Tanya Keysa kepada Reyna
"Cukup Key, ini bukan salah Reyna. Berhenti menyalahkannya" Kata Dion
"Jika bukan karena dia, Aditya gak akan pergi ninggalin gue dan terluka seperti ini!"
Dion menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya, tangan Keysa ditarik Dion keluar dari ruang rawat Aditya
"Kamu tidak tahu masalah ini dan berhentilah menyalahkan Reyna, dia korban disini Key sama seperti Aditya" Kata Dion dengan sedikit meninggikan suaranya
"Terus lo nyuruh gue diem saja? Melihat tunangan gue terbaring di sana hampir seminggu?!"
Dion memijat kepalanya pelan lalu memegang pundak Keysa dengan kedua tangannya
"Dengerin aku, tidak ada yang mau hal ini terjadi semua sudah diluar kehendak kita. Aku, Ardhan, dan anak buahnya sudah berusaha, siapa sangka jika Aditya akan terluka seperti ini? Jika kamu tidak bisa membantu apa-apa, cukup diam dan jangan membuat masalah baru"
Keysa hanya diam dan membuang pandangannya ke arah lain
"Di, bangun..." Ucap Reyna pelan sambil menundukkan kepalanya
Tangan Reyna merasakan ada gerakan lemah yang menyentuh kepalanya, seketika Reyna mendongakkan kepalanya
"Adi..." Gumam Reyna
Air matanya terus mengalir seiring dengan perasaan senang melihat sahabatnya sudah membuka matanya
"Kamu tidak apa-apa?" Kata Aditya dengan nada lemah dan pelan
Reyna mengangguk semangat dan menghapus air matanya, segera Reyna memanggil Dion dan Keysa yang sedang sibuk berbicara di luar
Keysa dan Dion berlari masuk ke ruang ICU dan melihat Aditya sudah membuka matanya dengan tatapan yang masih lemah
"Aditya, kamu sudah bangun syukurlah" Kata Keysa, air mata bahagianya mengalir keluar karena melihat tunangan dan kekasih hatinya membuka matanya kembali. Aditya memandangi wajah tunangannya yang sedang menangis, tanpa mengucapkan sesuatu tangannya menghapus air mata Keysa. Membuat Keysa terkejut
"Dit, aku senang kamu sudah sadar" Kata Dion berdiri di samping kanan Aditya
Melihat kebahagiaan yang menyelimuti ruang rawat Aditya, Reyna tersenyum lega. Kini dia hanya melihat sahabatnya dari luar kaca ruang ICU
Pundaknya ditepuk seseorang dari belakang membuat Reyna gemetar ketakutan
"Tenang ini gue, kenapa tidak masuk?" Kata Ardhan yang sudah dari tadi memperhatikan Reyna dan melihat Aditya dari luar
Reyna hanya menggelengkan kepalanya pelan tanpa memalingkan pandangannya
*Kasihan dia, harus jadi korban Ivan* batin Ardhan
Mata Ardhan mengarah ke pak Gunawan yang tergesa-gesa masuk ke ruang ICU dan menghampiri Aditya dengan tatapan tajam
"Siapa dia? Papa Aditya?" Tanya Ardhan penasaran
Reyna yang mendengar pertanyaan Ardhan hanya menggelengkan kepala
***
"Pak Gunawan..." Gumam Aditya
Pak Gunawan melihat ke arah Aditya dengan pandangan tajam, Dion hanya berjalan mundur sedikit menjauhi Aditya melihat tatapan pak Gunawan yang tidak biasa
"Apa yang sudah kamu perbuat?" Tanya pak Gunawan
"Pa, Aditya baru sadar. Kenapa papa bertanya seperti itu padanya?" Kata Keysa menahan tangan papanya untuk tidak mendekati Aditya
"Saya hanya menolong teman saya pak" Kata Aditya pelan
"Kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan? Sekarang perusahaan Nicholas memutuskan kontrak dengan perusahaan saya, itu semua akibat ulah mu dan teman-temanmu. Dan terlebih lagi sekarang keadaanmu seperti ini saya sudah bilang jangan pergi, tapi kamu memaksa pergi"
"Papa cukup"
"Saya minta maaf pak"
Pak Gunawan duduk didekat ranjang Aditya dan menatap Aditya, tangannya sibuk memijat kepalanya yang pusing akibat masalah ini
"Saya tidak masalah jika perusahaan itu memutuskan kontrak dengan perusahaan saya, yang saya permasalahkan adalah keselamatanmu. Hampir seminggu kamu tidak sadarkan diri, saya tidak tahu harus berbuat apa" Kata pak Gunawan pelan
"Saya minta maaf pak, ini semua karena saya tidak hati-hati" Jawab Aditya
__ADS_1
Dion berjalan keluar ruangan Aditya, menghampiri Ardhan dan Reyna yang hanya berdiri melihat ke arah ruangan Aditya
"Senior sudah datang" Kata Dion
"Jangan mengejekku seperti itu, ngomong-ngomong laki-laki itu calon mertua Aditya?" Kata Ardhan dengan tangan disilangkan di bagian dada dan pandangan memberi isyarat ke arah pak Gunawan
"Iya, dia calon mertua Aditya"
Ardhan mengangguk pelan, dan duduk di kursi tunggu depan ruang ICU
Dion melihatnya dan menghampirinya sambil menyandarkan kepalanya dipundak Ardhan
Ardhan melihat ke arah Dion karena merasa risih, Dion yang mengetahui itu hanya tersenyum
"Aku lelah ingin istirahat sebentar" Kata Dion
Ardhan menggelengkan kepalanya dan memandang ke arah Reyna yang masih berdiri ditempatnya tadi
"Reyn, kemari lah duduk disini jangan berdiri disitu terus" Kata Ardhan
Reyna hanya melihat Ardhan sekilas dan kembali melihat ke arah ruangan Aditya, hingga beberapa menit dia menghampiri Ardhan dan Dion
***
"Kamu istirahatlah, dan jangan memikirkan macam-macam. Keysa akan menemanimu saat selesai kuliah, saya kembali ke kantor karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan"
"Baik pak, hati-hati di jalan"
Pak Gunawan meninggalkan Keysa dan Aditya di dalam ruangan dan berjalan keluar
Aditya melihat ke arah luar melalui jendela kaca disebelah kiri ranjangnya, dan melihat Dion, Ardhan tertidur kecuali Reyna yang masih memandang ke arahnya
"Nona, tolong panggil Reyna untuk kemari"
Keysa mengiyakan permintaan Aditya dan memanggil Reyna untuk masuk menemuinya
Reyna berdiri di ranjang Aditya diam tak bersuara hingga Aditya membuka suara
"Kamu tenang saja, disini banyak yang melindungi mu. Ivan tidak akan mengganggumu lagi"
Reyna melihat ke arah Aditya kemudian melihat ke arah Keysa yang terlihat kesal melihat sikap hangat Aditya padanya
Reyna meraih tangan Aditya dan berganti meraih tangan Keysa, Reyna menyatukan kedua tangan temannya itu dan tersenyum
"Bicaralah jangan takut" Kata Aditya pada Reyna karena terkejut melihat sikap Reyna
"Keysa, Aditya milikmu. Aku tidak akan mengambilnya darimu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Dia orang yang baik, aku yakin dia akan membuatmu bahagia" Kata Reyna
Aditya hanya diam dan mengalihkan pandangannya, Keysa tersenyum mendengar ucapan Reyna yang mendukung hubungannya dengan Aditya
"Permisi, saya mendengar jika tuan Aditya sudah sadarkan diri, jika kondisinya sudah stabil hari ini juga bisa dipindahkan ke ruang rawat inap" Kata Dokter yang dibelakangnya diikuti oleh satu perawat
Dokter memeriksa keadaan Aditya dan melihat perkembangan Aditya yang semakin membaik
"Suster siapkan ruangan untuk tuan Aditya, kita pindahkan sekarang juga melihat kondisi tuan Aditya yang cepat pulih."
Keysa dan Reyna tersenyum mendengar tentang keadaan Aditya, Reyna berjalan keluar dan menghampiri Ardhan serta Dion yang masih tidur
Badan Dion dan Ardhan digoyang-goyangkan oleh Reyna berharap mereka berdua bangun
"Hmm? Reyna? Ada apa?" Kata Ardhan
"Aku masih mengantuk Reyn" Sambung Dion
Reyna memukul kepala Dion hingga dia meringis kesakitan, Reyna menunjuk ke arah ruang ICU
"Kenapa Aditya?" Tanya Dion
"Dipindahkan ke ruang rawat inap" Jawab Reyna
Ardhan seketika langsung berdiri membuat Dion jatuh, karena dia bersandar pada tubuh Ardhan sebelumnya
Ardhan mengikuti arah perawat membawa Aditya bersama Keysa yang di samping Aditya, Reyna menarik lengan Dion dan membawanya mengikuti Ardhan
"Pelan-pelan Reyn, aku masih mengantuk" Kata Dion
Setelah sampai di ruang rawat inap, Ardhan berserta Dion dan Reyna masuk dan mendekati Aditya
"Gue yakin lo kuat" Goda Ardhan sambil menepuk kaki Aditya
"Dasar singa beku, berapa kali kamu membuatku repot dan tidak bisa istirahat dengan tenang?" Sambung Dion
Aditya memandang sinis ke arah Dion dengan tatapan siap memukul Dion, kaki Aditya melayang ke arah perut Dion
Membuat Dion meringis kesakitan, Ardhan hanya ketawa melihat hal itu 'bagaimana bisa orang yang sudah hampir seminggu koma, memiliki tenaga untuk menendang temannya' pikir Ardhan
"Nah, lihat ini Key calon suamimu benar-benar galak melebihi singa" Protes Dion sambil berjalan mundur menghindari tendangan Aditya yang kedua
Keysa hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, Aditya menutup matanya karena menahan sedikit sakit di bagian perutnya
"Dit, lo kenapa?" Tanya Keysa
Aditya hanya menggelengkan kepala pelan dan masih menutup matanya
Merasa khawatir melihat teman nya menutup mata dan tidak berbicara apapun setelah ditanya Keysa. Dion mendekati Aditya dan memengang lengan Aditya sambil dikit digoyang-goyangkan berharap Aditya membuka matanya kembali
Sedangkan aditya yang tahu jika Dion ada didekatnya, mengangkat sedikit tangannya dan...
Plak...
Kepala Dion dipukul oleh Aditya hingga membuatnya terduduk dilantai
"Apa-apaan kau ini!" Teriak Dion sambil mengelus kepalanya yang sakit
Ardhan hanya menggelengkan kepala sambil tertawa melihat tingkah Dion dan Aditya
.
.
.
.
Terus support author ya, berkat dukungan kalian author jadi tetap semangat🤗❤
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤
__ADS_1