
.
.
.
.
"Mas Aditya, makan dulu. Bibi sudah selesai makan." Kata bi Inah (Sambil menepuk pelan bahu Aditya)
"Iya bi, setelah ini saya makan."
Aditya melihat ke arah ponselnya dan melihat pengumuman yang masuk dalam email-nya.
(Isi pesan email secara singkat)
_ _ _ _ _ _ _
Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa baru Universitas Bina Bangsa.
Kegiatan OSPEK Kampus akan dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 20xx, diharapkan para mahasiswa baru memakai seragam dan membawa perlengkapan sesuai pembagian setiap jurusan.
Atas perhatiannya, terima kasih.
_ _ _ _ _ _
"Dua minggu lagi ya.." Kata Aditya
"Ada apa mas?" Tanya bi Inah (Melihat ke arah Aditya)
"Masuk kuliah bi."
"Semoga nona cepat sembuh sebelum hari pertama masuk kuliah mas"
Aditya menjawab perkataan bi Inah dengan anggukan, bahkan dia khawatir jika Keysa masih belum mau membuka matanya.
"Bi Inah pulang saja, biar saya yang menjaga nona disini."
"Kalau saya pulang mas Aditya tidak bisa istirahat."
"Tidak perlu bingung masalah saya, bibi pulanglah dan istirahat. Besok pagi tolong kesini buat gantiin saya, karena jam 09.00 saya harus kerja. Mungkin sampai malam, saat istirahat makan siang saya akan kemari.
"Baik mas, bibi pulang dulu ya."
"Saya panggilan pak Iwan, bibi pulang bersama pak Iwan saja. Ini sudah malam bahaya kalau bibi pulang sendiri."
Aditya mencari nomer pak Iwan untuk menghubunginya...
(Panggilan terhubung)
__________
^^^"Selama malam pak Iwan"^^^
"Malam mas, ada yang bisa saya bantu?"
^^^"Saya mau minta tolong bapak, untuk menjemput bi Inah."^^^
"Baik mas, saya segera ke IGD."
^^^"Terima kasih pak"^^^
"Sama-sama mas"
__________
(Panggilan Terputus)
Selang beberapa menit pak Iwan sampai di IGD, bi Inah dan pak Iwan meninggalkan IGD dan berjalan menuju tempat parkir.
Aditya masih terus memandangi Keysa berharap dia mau membuka matanya.
"Bangunlah..." Kata Aditya
Aditya menguap dan mengusap matanya...
*Mengapa aku mengantuk? Badanku rasanya sangat lelah* batin Aditya
Aditya meletakkan kepalanya ditepi ranjang Keysa dengan melingkarkan tangannya sebagai tumpuan kepala.
"Aditya..."
Aditya mendengar suara lemah yang memanggil namanya, Aditya berusaha membuka matanya dan melihat siapa yang memanggilnya.
Saat Aditya mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya dia melihat Keysa yang telah sadar dan menatap wajahnya.
"Nona sudah sadar?" Tanya Aditya (Berdiri sambil menatap Keysa)
"Lo disini?" Tanya Keysa lemas
"Iya saya disini, apa yang nona rasakan?" (Sambil merapikan selimut Keysa)
"Tubuhku lemas, dan tidak bertenaga."
"Apa nona ingin makan atau minum?"
"Gue tidak ingin sesuatu, kenapa lo bisa disini Dit?"
"Iya saya dan bi Inah melihat nona tidak sadarkan diri di kamar."
Keysa hanya menatap Aditya, dalam hatinya masih ada rasa sakit hati dan kesal. Namun, Keysa yakin jika Aditya masih belum menyadari kesalahannya. Bahkan Aditya terlihat tidak ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Masih pukul 23.42, tidurlah nona. Biar cepat sembuh."
Keysa mengiyakan perkataan Aditya dan tidur dengan tangan yang digenggam oleh Aditya.
*Gue gak paham dengan sikap lo Dit, gue sakit hati dengan apa yang lo lakuin." batin Keysa
__ADS_1
Aditya melihat Keysa yang sudah tertidur pulas, dan berjalan keluar ruangan IGD. Aditya duduk di kursi depan ruang IGD, pandangannya terarah ke lorong rumah sakit yang sepi.
*Syukurlah kamu sudah sadar, aku harap kamu cepat sembuh* batin Aditya
"Besok hari jumat, lusa aku harus balik ke rumah. Semoga keadaan nona cepat membaik."
Hampir sejam Aditya duduk tanpa melakukan apapun, dan memutuskan untuk masuk ke ruang IGD lagi.
***
"Apa yang telah kamu lakukan kak, aku kecewa denganmu" Kata Reyna (Sambil terisak dan memeluk bonekanya)
-Flashback on-
"Lepasin aku, aku mohon." Teriak Reyna sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman senior
"Lo tenang saja gue gak akan melukai lo, gue hanya ingin menunjukan sesuatu tentang Ivan." Jawab Ardhan
"Apa maksudmu?"
Ardhan kembali memandang lurus ke depan tanpa memperdulikan pertanyaan Reyna.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, Reyna dibawa turun dari mobil oleh Ardhan di halaman rumah yang cukup besar.
Bahkan Reyna tidak tahu itu rumah siapa, yang pasti dia merasa tidak asing dengan rumah itu.
"Masuklah, gue akan melepaskan lo." Kata Ardhan sambil melepaskan tangan Reyna
Reyna masih bertanya-tanya dengan apa yang telah dia alami, dia dengan terpaksa mengikuti kemana arah senior itu melangkah karena rasa penasarannya dengan ucapan senior.
"Masuklah..." Kata Ardhan (Dengan membuka pintu rumah itu)
Reyna memasuki rumah itu dengan ragu-ragu, dia penasaran dengan ucapan Ardhan namun merasa takut juga.
*Sebenarnya apa yang kakak sembunyikan dari aku, dan senior ini tau* batin Reyna
Ardhan mengajak Reyna ke salah satu ruangan, membuat hati Reyna semakin khawatir dan takut.
"Masuk, dan lihatlah ke dalam." Pinta Ardhan (Dengan membuka pintu ruangan itu dan mempersilahkan Reyna masuk)
Reyna masuk ke dalam ruangan itu, dan terlihat didepan matanya ada gadis manis yang tertidur dengan wajah pucat nya.
"Siapa dia?"
"Dan mengapa kamu menunjukan dia kepadaku?" Tanya Reyna
"Dia adikku..." Ucapan Ardhan terputus
"Mantan kekasih Ivan." Lanjutannya
Reyna yang mendengar hal itu terkejut dan tidak mampu berkata apa-apa, bahkan dia tidak tahu jika Ivan memiliki mantan kekasih. Yang Reyna tahu Ivan pertama kali pacaran dengannya.
"Melihat ekspresi lo yang terkejut, sepertinya lo belum tahu. Apa Ivan tidak pernah menceritakannya padamu?" Sambung Ardhan sambil duduk ditepi ranjang adiknya.
"Jangan bohong padaku, cinta pertama dan kekasih pertama kak Ivan adalah aku." Jawab Reyna dengan sedikit meninggikan suaranya
Reyna melihat foto yang ada di album foto itu satu persatu, terlihat jelas dari foto mesra mereka jika Ivan dan adik Ardhan menjalin hubungan dulunya.
"Sejak kapan mereka memiliki hubungan? Tanya Reyna
"Sejak kelas pertama SMP, adik gue teman sekelas Ardhan. Gue sebenarnya lebih tua satu tahun dari adik gue, gue telat kuliah karena selama satu tahun fokus ngerawat adik gue. Dan untuk masalah tadi di sekolah sebenarnya gue sengaja melakukan itu, melihat Ivan yang masuk ke universitas bersama lo. Gue lihat dari sikap Ivan ke lo, gue yakin lo kekasihnya. Bahkan gue dan teman gue sudah memantau teman-teman lo. Saat Ivan masuk ke kelas, gue tahu jika dia akan meninggalkan lo sendirian bersama dengan teman-teman lo. Dan saat kekasih salah satu teman lo masuk ke kerumunan untuk melihat pengumuman tanpa didampingi teman lo, gue punya rencana untuk membuat masalah dan menarik Ivan keluar. Gue yakin jika salah satu teman kekasihnya terkena masalah dia tidak akan tinggal diam, gue ngelakuin itu hanya untuk memastikan jika lo benar-benar kekasih Ivan dan gue tidak salah sasaran. Gue sengaja menculik lo, bukan karena gue mau melukai lo tapi gue ingin lo tau kebusukan kekasih lo." Jelas Ardhan membuat Reyna terduduk lemas di lantai.
"Ada masalah apa dengan kak Ivan dan adikmu?" Tanya Reyna
"Jadi semua bermula saat adik gue masuk ke SMP yang dengan Ivan..."
-Flashback on-
Memasuki hari pertama masuk sekolah, Ariana bersiap dengan semangat untuk belajar di tempat baru setelah melepas masa Sekolah Dasar nya.
-Di sekolah-
"Aku tidak sabar melihat bagaimana teman-temanku" Kata Ariana sambil berjalan ke arah ruang kelas
Saat hendak memasuki ruang kelas Ariana tidak sengaja bertabrakan dengan siswa laki-laki yang hendak masuk ke dalam ruang kelas yang sama dengannya.
"Maaf-maaf aku tidak sengaja." Kata Ariana (Sambil mengambilkan buku milih anak laki-laki itu)
"Tidak apa-apa." Jawab anak laki-laki itu
Ariana dan anak laki-laki itu masuk kedalam ruang kelas bersama, mereka bingung harus duduk dimana hanya tersisa dua bangku di bagian tengah barisan bangku.
Ariana berjalan ke bangku itu dan duduk, sedangkan laki-laki itu hanya diam mematung dan masih berdiri didepan kelas.
"Kemari lah..." Teriak Ariana pada laki-laki itu
Laki-laki itu berjalan ke arah Ariana duduk, dan meletakkan tasnya di samping bangku Ariana.
"Halo, namaku Ariana Clara Liandra. Kamu bisa memanggilku Riana." Kata Ariana sambil mengulurkan tangan
"Aku Ivan Nicholas, panggil aku Ivan." Jawab Ivan sambil menerima tangan Ariana
Karena bangku mereka berdekatan membuat Ariana dan Ivan semakin dekat, hingga saat kelas pertama semester 2 Ariana merasa nyaman dengan sikap hangat Ivan padanya.
Hampir setiap minggu Ivan menghampiri Ariana ke rumah untuk mengajaknya bermain.
Hingga suatu hari Ivan mengatakan sisi perasaannya pada Ariana dan membuat Ariana lega mendengarnya sebab perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Rian, apakah kamu mau jadi kekasihku? Tanya Ivan (Membuat Ariana yang tengah makan es krim tersedak)
"Pelan-pelan, apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Ivan sambil memberikan sapu tangan
"Aku tidak apa-apa."
"Bagaimana jawabanmu soal tadi?"
"Mm, iya aku mau jadi... kekasihmu."
__ADS_1
Jawaban Ariana membuat Ivan senang, dia tidak menyangka bahkan Ariana mau menjadi kekasihnya.
Hubungan mereka bejalan dengan baik, dan saat hampir 2 tahun mereka menjalani hubungan hal tak terduga terjadi.
-12 Oktober 20xx-
"Sayang apa yang ingin kamu beli?" Tanya Ivan sambil mengandeng tangan Ariana
"Mmm, aku ingin beli beberapa aksesoris rambut."
"Oke kita beli yang banyak sesuai yang kamu mau."
Saat berjalan hendak memasuki gedung mall, di bagian kanan pintu dilakukan perbaikan yang mengharuskan pengunjung mall harus lewat pintu masuk lain dari sisi mall.
Saat hendak ingin mengambil jalan lain, Ivan dan Ariana mendengar suara keras dari atas mereka membuat mereka reflek menengok ke atas.
Material besi dari proyek perbaikan di sebelah kanan pintu masuk, tepatnya di atas Ariana dan Ivan berdiri runtuh ke bawah.
"Ivan... minggir" Teriak Ariana (Dengan mendorong badan Ivan untuk menjauh dari titik jatuhnya material)
Brak...
Para pegawai proyek melihat keadaan, untuk memastikan tidak ada korban akibat kecelakaan itu.
Ivan berusaha berdiri dan mencari dimana Ariana, betapa terkejutnya dia saat melihat kaki bagian kanan Ariana tertimpa sisi lain dari material besi yang terjatuh.
"Ariana!!!" Teriak Ivan
Orang-orang yang melihat akan hal itu mendekat dan mengerubungi Ivan dan Ariana, mereka membantu agar besi itu dapat dipindahkan dan Ariana dapat dibantu.
Para pekerja Proyek dan beberapa orang di sana membantu memindahkan material besi itu, beberapa menit material itu dapat dipindahkan. Melihat kondisi kaki Ariana yang memprihatinkan, membuat banyak orang yang melihatnya tidak tega.
Selang waktu sebentar, ambulance datang dan membawa Ariana ke rumah sakit.
Satu minggu Ariana tidak sadarkan diri karena kehilangan banyak darah dan menjalani masa kritisnya.
Hampir 4 bulan hubungan Ivan dan Ariana masih berjalan baik, walaupun Ariana mengalami kelumpuhan total dan kehilangan salah satu kakinya.
Hingga akhirnya pada pertengahan bulan Maret, hubungan mereka semakin renggang dan Ivan sering hilang kabar. Membuat Ariana merasa terpukul dan keadaanya semakin memburuk hingga saat ini.
-Flashback off-
Reyna yang mendengar cerita masa lalu Ivan dari Ardhan membuatnya meneteskan air mata dan tidak bisa apa-apa.
Bahkan di bulan yang sama, Reyna dan Ivan menjalin hubungan kekasih.
*Selama ini kak Ivan berbohong padaku? Bahkan di bulan dia tidak ada kabar dan menghilang, di bulan itu juga aku dan kak Ivan jadian* batin Reyna
Terlihat jelas wajah Reyna sangat terpukul, Ardhan hanya bisa diam melihatnya. Hingga dia melanjutkan pembicaraannya...
"Sekarang lo sudah tahu, mengapa gue segitu bencinya dengan Ivan. Jika bukan karena Ariana, sudah habis Ivan ditangan gue. Bahkan saat kejadian itu terjadi gue dan orang tua gue tidak bisa berbuat apa-apa atas permintaan Ariana untuk tidak menyalahkan Ivan."
Ariana yang mendengar sedikit kebisingan bangun dari tidurnya dan memandang ke arah Ardhan dan Reyna yang sedang menangis.
"Kak...Ada apa? Dan dia siapa?" Tanya Ariana dengan nada lemas
"Dia teman kakak, dia kesini untuk menjenguk mu."
"Kenapa kamu menangis kak?" Tanya Ariana
Reyna berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar dan mengusap pipinya yang basah.
"Hai kak, aku Reyna junior kak Ardhan di kampus." Kata Reyna sambil mendekat ke arah Ariana
"Aku kira teman satu kelas kakak ku, salam kenal namaku Ariana. Kenapa kamu menangis? Apa yang dilakukan kakak ku padamu?"
"Tidak ada kak, hanya saja aku tidak tega melihat kakak. Kakak gadis yang sangat cantik."
"Kamu bisa saja, ini sudah takdirku dan aku ikhlas menerimanya."
Kata-kata Ariana membuat Reyna semakin sedih dan menyesal. Reyna paham betul jika Ariana seorang yang sangat baik dan tulus hatinya.
-Flashback off-
"Karena aku, kak Ariana menderita sendiri dan menanggung rasa sakit yang mendalam."
Reyna terus menyalahkan dirinya karena peristiwa itu, dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ivan. Reyna tahu Ivan menyayanginya namun bukan seperti ini yang dia mau, setelah melihat pengorbanan Ariana demi menyelamatkan Ivan.
***
-Pukul 03.44-
Aditya terbangun dari tidurnya dilihatnya Keysa masih tertidur nyenyak, Aditya mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Dion...
(Chatting)
_ _ _ _ _ _
^^^"Yon tolong nanti sekitar jam 7, ambilkan pakaianku di rumah dan bawa ke rumah^^^
^^^sakit sejahtera. Kunci cadangan rumahku^^^
^^^ada di bawah pot bunga depan garasi."^^^
_ _ _ _ _ _
Aditya menutup lagi layar ponselnya dan meletakkannya pada meja di samping ranjang Keysa. Aditya keluar dari IGD dan berjalan menuju mushola untuk bersiap sholat.
.
.
.
.
Jangan lupa vote, like, dan komen. Dukungan readers sangat penting untuk author xoxo :)
__ADS_1