Janji M

Janji M
Salah Paham


__ADS_3

.


.


.


.


Aditya segera mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rosa.


(Chatting)


_______


^^^"Hadiah Reyna, kebawa saya"^^^


"Bawa saja Dit, besok berikan padanya."


"Maaf, besok mama mengajakku ke rumah nenek di kota B mungkin lusa baru pulang. Aku gak bisa ikut kalian bertemu Reyna."


^^^"Iya"^^^


"Titip salam buat Reyna"


_______


Aditya hanya membaca pesan dari Rosa dan membersihkan diri untuk siap-siap sholat lalu belajar.


Belum lama dia membaca buku, ponselnya berbunyi ada panggilan masuk dari Dion.


(Panggilan masuk)


_________


"Dit, belum tidur kan?"


"Besok aku tidak bisa ikut denganmu dan Rosa menemui Reyna, ayahku meminta bantuan ku untuk antar pesanan barang di luar kota mungkin sore aku baru balik."


^^^"Apa-apaan kalian ini?"^^^


"Kenapa? Ada masalah?"


^^^"Rosa tidak bisa datang besok."^^^


"Yasudah kamu saja yang berikan, aku titip salam buat Reyna. Minta tolong ya bang Adit, daa sampai jumpa."


__________


Panggilan terputus.


Aditya hanya memijat pangkal kepalanya melihat kedua temannya yang sering dadakan membatalkan janji.


Aditya melanjutkan belajarnya, jam menunjukan pukul 23.03. Aditya merasa sudah lelah, dan siap untuk tidur. Baru sebentar dia merebahkan punggungnya, sudah terlihat dia tertidur pulas.


(Aditya masih tidak sadar dengan beberapa bungkusan di atas meja ruang tamunya)


-Keesokan harinya pukul 04.00-


Aditya terlihat menaiki sepeda menuju masjid kampungnya, setalah melakukan ibadah. Aditya pulang ke rumah untuk ganti baju, pukul 06.00 dia berencana untuk ke pasar membeli beberapa bahan makanan.


Saat Aditya sedang membersihkan ruang tamu, dia melihat beberapa bungkus makanan yang tergeletak di mejanya.


*Siapa yang menaruh makanan ini disini? Dan sejak kapan ini disini* batin Aditya


Aditya berusaha mengingat satu hari kemarin, Aditya pikir makanan itu dari Rosa dan Dion. Aditya mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan beberapa kata, belum sempat pesan itu dia kirim.


Mata Aditya tertuju pada selembaran kertas yang tergeletak di kaki meja, Aditya mengambil selembar kertas itu dan dibaliknya ada tulisan...


_________


...Dit, gue kesini atas perintah papa untuk mengantarkan beberapa bahan makanan dan buah. Maaf sebelumnya kalau gue lancang masuk rumah lo, tadi gue panggil-panggil lo tidak keluar dan gue lihat pintu rumah lo terbuka....


...Keysa...


___________


*Kapan dia ke rumahku, perasaan kemarin waktu aku keluar dengan Dion dan Rosa aku mengunci rumahku* pikir Aditya


Aditya melihat kertas itu dan diletakkannya di atas meja, Aditya mengambil beberapa kantong plastik tersebut dan membawanya ke dapur.


Aditya memasak beberapa makanan, dan bersiap untuk sarapan.


*Menunggu hasil ujian universitas keluar, sebaiknya aku mencari kerja sambilan sebelum sore untuk ke restoran pak Gunawan* batin Aditya


Saat Aditya hendak menaiki sepedanya ponselnya berbunyi, Nama Rosa yang muncul di layar ponsel Aditya.


(Chatting)


___________


"Dit, jangan lupa berikan hadiahnya ke Reyna ya."


"Reyna sekarang ada di rumah, nanti ku kirim alamat rumah barunya Reyna."


^^^"Iya."^^^


"Yasudah kalau gitu makasih abang Aditya, daa."


___________


Sambungan telfon terputus.


Beberapa saat pesan dari Rosa masuk, "Perum Mutiara Indah, jln. Bambu no. 45."


Aditya menghela nafas, Aditya masuk lagi ke dalam rumah dan mengambil bungkusan hadiah untuk Reyna. Aditya mengayuh sepedanya menuju alamat rumah Reyna.


Sesampainya di rumah Reyna, Aditya memencet bel yang ada didepan gerbang. Hanya selang beberapa menit saja, Reyna keluar dari balik gerbang.


"Kakak sudah sam...." Kata Reyna


Ucapan Reyna terputus saat melihat yang ada dihadapannya bukan Ivan melainkan Aditya.


"Adi? Ada apa?" Tanya Reyna bingung


"Kamu kok bisa tau rumahku? Dan apa yang kamu bawa itu? Untukku?" Bom pertanyaan yang diberikan Reyna.


Bahkan Aditya belum sempat menjawab satupun pertanyaannya.


"Ini ucapan terima kasih dari saya, Rosa, dan Dion untuk ide mu kemarin." Kata Aditya sambil memberikan bingkisan hadiah.


"Untukku? Makasih Adi!!!" Kata Reyna sambil memeluk hadiah yang diberikan Aditya.


"Mereka titip salam untuk mu." Sahut Aditya


(Dari kejauhan terlihat seseorang didalam mobil mercedes benz berwarna silver melihat mereka)


"Saya balik dulu." Kata Aditya sambil menjalankan pelan sepedanya


"Daa Adi, terima kasih banyak." Kata Reyna dengan melambaikan tangan.


Selang beberapa detik, mobil Ivan sampai di depan rumah Reyna. Reyna senang kekasihnya telah datang.


"Kak masuk dulu yuk, aku mau ambil tas dulu." Kata Reyna sambil menengok ke arah kaca mobil Ivan


"Ivan hanya diam dan mengangguk, bahkan dia tidak keluar dari mobilnya."


Emosi Ivan terpendam melihat, Aditya yang memberikan bingkisan pada Reyna. Bahkan melihat ekspresi Reyna yang senang membuatnya semakin jengkel.


"Ayo jalan kak." Kata Reyna saat memasuki mobil Ivan.


Ivan hanya diam dan melamun, hingga tidak mendengarkan ucapan Reyna. Reyna berusaha memanggil Ivan, tapi masih tidak ada jawaban. Hingga panggilan yang kesekian kalinya...

__ADS_1


"Kak..." Ucap Reyna sambil memegang tangan Ivan.


Ivan terkejut dan memandang Reyna dengan tatapan yang sulit Reyna artikan.


"Kakak kenapa? Dari tadi aku panggil tapi tidak merespon." Kata Reyna dengan raut wajah sedih.


"Aku tidak apa-apa." Jawab singkat Ivan sambil melajukan mobilnya.


Reyna yang tidak peka dengan sikap Ivan yang diam, terus sibuk berbicara. Bahkan dia menceritakan hadiah yang diantar Aditya tadi, membuat Ivan secara tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Kak! Ada apa? Bahaya ya." Ucap Reyna dengan nada sedikit tinggi karena terkejut.


"Sebahagia itu kamu menceritakan Aditya?" Tanya Ivan


Pertanyaan Ivan membuat Reyna kebingungan, dan entah harus berkata apa.


"Apa maksud kakak? Aditya? Aditya temanku, apa yang salah dengannya?" Tanya Reyna dengan wajah polosnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Reyna, Ivan turun dari mobil dan membuka pintu dimana Reyna duduk.


"Turun." Kata Ivan dengan tatapan tajam


Membuat Reyna yang tidak pernah mendapat perilaku kasar, menjadi takut. Bahkan baru pertama kali dia melihat Ivan bersikap seperti itu padanya.


"Kenapa kak? Kenapa aku harus turus?" Tanya Reyna.


"Aku minta kamu turun sekarang!" Minta Ivan dengan nada sedikit meninggi


Reyna yang takut, segera turun dari mobil Ivan. Ivan segera menutup kembali, pintu mobilnya dan berjalan kearah tempat kemudi mobilnya. Tanpa berkata apa-apa, Ivan meninggalkan Reyna dipinggir jalan.


Reyna berteriak memanggil namanya tak mengetuk kaca mobil tapi tidak dihiraukan oleh Ivan, hingga mobilnya melaju sedikit cepat.


"Ada apa dengan kak Ivan? Kenapa dia meninggalkanku disini." Kata Reyna sambil menangis di pinggir jalan.


-Ivan POV-


"Aditya br*ngs*k, karena dia aku dan Reyna jadi berantem seperti ini!" Marahku dengan memukul setir mobilku


Emosiku naik saat Reyna menceritakan ulang, apa yang aku lihat tadi. Aku tidak bisa menahan amarahku lagi, bahkan untuk berfikir jernih aku tidak bisa.


Aku mengambil ponselku dan menelfon Rosa, hitungan detik Rosa mengangkat telfon ku.


___________


"Halo, siapa?"


^^^"Aku Ivan, aku minta nomer Aditya.^^^


^^^Penting."^^^


"Hah? Buat apa?"


^^^"Kirim saja, aku ada perlu dengannya."^^^


___________


Aku matikan sambungan telfon ku dengan Rosa, hitungan menit Rosa memberiku nomer Aditya.


(Ivan menelfon Aditya)


__________


"Siapa?"


^^^"Aku kekasih Reyna, ada yang perlu aku^^^


^^^bicarakan padamu. Temui aku di cafe^^^


^^^" Coffee town" Pukul 16.00"^^^


"Maaf saya tidak bisa."


^^^"Mau macam-macam dengan ku?"^^^


_____________


(Panggilan terputus)


"Sial, awas saja kamu Aditya."


-Ivan POV and-


Aditya yang barusan menerima telfon dari Ivan, tidak memikirkannya dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari kerja sambilan.


Disisi lain Reyna masih menangis di pinggir jalan tepat dia turun dari mobil Ivan. Diambil ponsel dari tas nya dan menghubungi Rosa.


__________


^^^"Ros.."^^^


"Hai Reyn, gimana hadiahnya kamu suka?"


^^^"Ros... Aku suka sama hadiah yang kalian^^^


^^^beri makasih banyak tapi..."^^^


"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?"


^^^"Kak Ivan marah sama aku Ros, dia menurunkan ku ditepi jalan. Entah apa yang membuat dia marah, aku takut Ros."^^^


"Ha? Beraninya si Ivan, sebenarnya kalian


ada masalah apa?"


^^^"Aku tidak tau, kita baik-baik saja. Waktu dia datang dan diperjalanan dia lebih banyak diam, setelah aku menceritakan bahwa Adi mengantarkan hadiah dari kalian untukku. Kak Ivan langsung menurunkan ku dari mobilnya"^^^


"Kamu bilang apa saat itu?"


^^^"Aku bilang kalau Adi mengantarkan^^^


^^^hadiah untukku."^^^


"Pantas saja."


"Sekarang kamu dimana? Apa perlu aku


suruh Aditya menjemputmu?"


^^^"Tidak perlu Ros, aku pulang naik taksi^^^


^^^saja lagian pasti Adi sedang sibuk."^^^


"Saran ku sekarang kamu telfon Ivan, dan jelaskan secara mendetail tentang Aditya yang ke rumahmu mengantarkan hadiah."


^^^"Iya Ros makasih ya."^^^


"Kamu hati-hati pulangnya, kabari aku kalau sudah sampai rumah."


^^^"Siap Ros."^^^


___________


(Panggilan terputus)


Reyna mencari taksi dan segera pulang, diperjalanan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di layar ponselnya tertulis "Kak Ivan".


Reyna segera mengangkat panggilan itu.


___________


" Kamu dimana?"

__ADS_1


^^^"Aku di taksi, perjalanan pulang kak."^^^


^^^"Kak, aku mau jelasin sesuatu sama kakak. Tolong dengerin aku."^^^


"Apa?"


^^^"Aditya tadi ke rumah tadi memberikanku hadiah..."^^^


(Sebelum sampai Reyna menyelesaikan ucapannya sudah dipotong dengan Ivan)


"Iya aku hadiah kasih sayang untukmu, segitu bahagianya kamu mendapat hadiah dari Aditya. Atau jangan-jangan kalian ada hubungan sesuatu ya?"


^^^"Kak! Dengerin aku dulu, aku dan Aditya^^^


^^^hanya teman. Aditya mengantar hadiah dari Rosa, Dion, dan Aditya untukku atas rasa terima kasih mereka karena aku memberi ide mereka tempat liburan yang seru."^^^


^^^"Kakak tidak percaya, aku tidak memaksa. Aku matikan telfonnya. Aku mau nenangin diri."^^^


"Reyn...."


Tut....Tuttt...Tuttttt


__________


(Panggilan terputus)


Reyna hanya diam dan menangis, dia tidak habis pikir dengan sikap Ivan. Bahkan selama ini Ivan tidak pernah seperti itu.


-Disisi lain-


*Kenapa aku harus emosi, sekarang Reyna marah padaku. Apa yang telah aku perbuat.* Batin Ivan


"HAH!!! SIAL kenapa harus seperti ini?!" Teriak Ivan dengan frustasi.


Ivan yang awalnya menghentikan mobilnya di tepi jalan, mulai menjalankan mobilnya lagi. Dengan kecepatan tinggi, Ivan menuju rumah Reyna untuk berbicara padanya.


Sesampainya di rumah Reyna, Ivan menekan bel rumah Reyna. Tidak lama Reyna keluar dengan mata yang bengkak akibat tangisannya.


"Reyn, aku mau ngomong sama kamu." Kata Ivan dengan memegang dua tangan Reyna


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kalau kakak tidak percaya padaku tidak apa-apa. Aku mau istirahat nanti malam aku harus ke rumah sakit." Ucap Reyna sambil melepaskan tangannya dari genggaman Ivan


Belum sampai Reyna menutup gerbang Rumahnya, Ivan menahan gerbang rumah Reyna berharap Reyna mau berbicara dengannya. Ivan akui apa yang dilakukannya sudah keterlaluan meninggalkan Reyna di tepi jalan, semua itu terjadi karena emosi semata.


"Tolong beri aku waktu sendiri kak." Kata Reyna sambil menutup kembali pintu gerbang rumahnya


Ivan memandangi Reyna yang masuk ke dalam rumah tanpa menengok ke arahnya.


Ivan semakin kesal dengan keadaan ini, Ivan pergi dari rumah Reyna dan melajukan mobilnya dengan kencang. Dia tidak tau harus kemana, bahkan dia tidak punya tujuan lagi.


-Di kediaman keluarga Gunawan-


"Kenapa Aditya tidak ada kabar? Bahkan dia tidak kemari untuk menemui papa." Kata Keysa sambil menatap keluar jendela kamarnya


Keysa berharap Aditya menghubunginya setelah kedatangannya kemarin ke rumah Aditya, bahkan setelah Aditya membeli ponsel tidak ada satupun pesan yang menunjukan jika itu Aditya.


"Apa dia tidak berusaha menghubungi gue?"


Keysa berencana ke restoran nanti sore untuk menemui Aditya, dia berharap Aditya mau sedikit terbuka dengannya.


-Pukul 15.00-


Aditya menuju restoran, setelah selama hampir satu hari mencari pekerjaan sambilan dan belum juga dia dapatkan. Sesampainya di Restoran dia bergegas menuju, ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan seragam restoran.


Diambilnya alat pembersih lantai, dan beberapa lap kain dan cairan pembersih meja. Dia melakukan pekerjaannya seperti biasa, hingga hal yang tak terduga terjadi.


Ivan menghampirinya, dan mendaratkan satu pukulan pada pipinya. Aditya terjatuh ke lantai dan terkejut melihat perlakuan Ivan padanya.


Seisi restoran terkejut dan memandangi mereka, bahkan salah satu karyawan berusaha menghentikan Ivan karena ingin memukul Aditya lagi.


"Minggir, jangan ikut campur urusanku dengan NYA!" Kata Ivan dengan emosi


"Mohon maaf pak, jangan membuat keributan disini." Jawab karyawan itu


"Saya bilang MINGGIR!" Ivan mendorong karyawan itu hingga jatuh tersungkur.


"Jika ada yang ingin anda bicarakan dengan saya, bicarakan diluar jangan buat masalah disini." Kata Aditya dengan tatapan tajam


Aditya membantu karyawan yang didorong Ivan tadi berdiri, dan meminta bantuannya untuk membawa alat kebersihannya kebelakang terlebih dahulu.


Aditya keluar dari restoran diikuti dengan Ivan, tanpa mengatakan apapun Aditya ditendang oleh Ivan dari belakang hingga membuatnya terjatuh.


Belum sempat Aditya berdiri, Ivan menarik bajunya dan memberi bogem pada Aditya dengan keras membuat sudut bibir Aditya berdarah.


Aditya masih tidak mengerti mengapa Ivan berperilaku seperti ini, menerima pukulan yang bertubi-tubi dari Ivan membuat emosi Aditya terpancing. Karen dia tidak merasa melakukan kesalahan.


Satu pukulan keras menghantam pipi kanan Ivan, membuat Ivan sedikit kehilangan keseimbangan.


(Dari jauh Keysa melihat Aditya sedang berkelahi dengan seseorang, Keysa berusaha mendekat dan ingin melerai mereka. Belum sampai dia melerai Aditya dan lawannya, Keysa mendengar percakapan mereka.)


"Apa yang sedang anda lakukan? Ada masalah apa anda dengan saya?" Tanya Aditya sambil memberikan bogem pada Ivan


"Masih pura-pura tidak tahu? Atau memang sengaja tidak mau ngaku?" Jawab Ivan yang berusaha melawan


"Apa maksud anda?"


"Apa hubunganmu dengan kekasihku hah?!" Bentak Ivan dengan memberikan bogem pada Aditya.


Aditya berpikir keras, apa yang membuat Ivan marah padanya. Dan menuduhnya memiliki hubungan dengan Reyna, Aditya mengingat kejadian tadi pagi. Aditya merasa Ivan telah salah paham dengannya dan Reyna.


Tanpa berpikir lama Aditya menahan pukulan ivan, dan berusaha mengunci gerakannya agar Ivan mau mendengarkan penjelasnya.


Setelah dirasa gerakan Ivan terkunci oleh tangannya, Aditya berusaha berbicara pada Ivan yang masih berusaha lepas dari cengkraman Aditya.


"Tadi pagi saya memang ke rumah Reyna, untuk memberikan hadiah..."


Belum sampai kalimat Aditya selesai Ivan menendang kaki Aditya hingga terjatuh.


(Keysa yang mendengar ucapan itu dari Aditya, merasa perih di hatinya. Tanpa berkata apa-apa Keysa pergi meninggalkan restoran.)


*Kamu tega Dit, kamu menolak ku demi perasaanmu pada Reyna* Batin Keysa yang meneteskan air matanya.


Hampir saja Ivan menginjak Aditya, Aditya menghindar. Beberapa laki-laki yang melihat kejadian itu berusaha menahan Ivan agar tidak memukul Aditya yang sudah babak belur.


Aditya berusaha menjelaskan lagi ucapannya lagi pada Ivan.


"Hadiah itu bukan dari saya saja, tapi dari Rosa dan Dion juga. Anda salah faham, hadiah itu kami berikan pada Reyna atas idenya untuk kami pergi liburan kemarin minggu. Bahkan jika anda tidak percaya, anda bisa tanya langsung pada Rosa dan Dion." Kata Aditya sambil berdiri dan dibantu seseorang.


Ivan yang mendengar ucapan Aditya masih belum percaya, sekarang akal sehatnya tidak berjalan karena kemarahannya.


Ivan pergi meninggalkan Aditya tanpa berkata apapun, Aditya merasa wajar dengan sikap Ivan yang marah karena merasa kekasihnya diganggu. Aditya menahan sakit, dan berusaha untuk berdiri agar tidak terjatuh.


"Terima kasih mas, pak." Ucap Aditya dengan sopan pada orang-orang yang membantunya.


"Mas tidak apa-apa? Apa perlu saya panggil ambulans?" Tanya salah satu bapak


"Tidak perlu pak, terima kasih."


Aditya pamit undur diri, menahan sakitnya berjalan menuju restoran lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Salah satu karyawan membantunya duduk dan memberikannya obat pada luka di wajah dan tangan Aditya. Setelah selesai mengobati lukanya Aditya melanjutkan pekerjaannya dengan menahan sakit pada tubuhnya.


*Aku harus kuat, jangan sampai aku merepotkan banyak orang* Batin Aditya


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan Komen :)


__ADS_2