
.
.
.
.
Secara tiba-tiba Aditya berdiri dari duduknya membuat Putri berhenti berbicara, bahkan Aditya tidak memandang ke arah Putri dan berbicara...
"Jika yang akan anda katakan tidak penting, kita pulang sekarang."
"Tapi Dit, bagi saya ini sangat penting dan kamu harus dengarkan saya."
Belum juga Aditya menjawab ucapan Putri ponsel Aditya berdering, terlihat nama Keysa dilayar ponsel Aditya. Aditya berjalan sedikit menjauh dari seniornya untuk mengangkat panggilan Keysa.
(Dalam panggilan)
_________
"Aditya, kenapa lo belum pulang juga?"
"Gue, masih di rumah lo. Reyna, Rosa,
dan Dion juga masih disini. Mereka
berniat mau menginap di rumah lo, cepat pulang"
^^^"Sebentar lagi saya pulang"^^^
"Hati-hati."
^^^"Iya"^^^
"Jangan lama-lama"
^^^"Iya saya akan pulang"^^^
^^^"Tolong bilang pada Dion untuk mengambil karpet dibelakang almari, dua bantal, dan^^^
^^^satu selimut di kamar saya. Suruh Dion^^^
^^^menunggu di teras saja."^^^
"Lo mau tidur luar? Jangan udara dingin."
^^^"Tidak masalah"^^^
"Yasudah cepat pulang"
^^^"Iya."^^^
"Ok, gue tunggu."
__________
(Panggilan terputus)
*Siapa yang menelepon Aditya? Bukannya di catatan pendaftarannya dia anak yatim piatu, dan hidup sendiri. Apa dia kekasih Aditya?* batin Putri
"Saya harus pulang, anda kesini naik apa?"
"Dengerin omongan saya Dit"
"Sudah malam, anda harus pulang"
Aditya berjalan meninggalkan Putri, Putri bergegas menyusul Aditya dengan langkah sempoyongan akibat kakinya yang keseleo.
Keseimbangan Putri hilang dan terjatuh tepat dibelakang Aditya, Aditya yang secara tidak sengaja menengok ke arah belakang dan melihat Putri yang hampir jatuh langsung menangkapnya.
Kini Putri berada di pelukan Aditya, Aditya langsung tersadar saat matanya bertemu dengan mata Putri, dan melepaskan Putri.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Aditya
"Saya baik-baik saja, terima masih."
"Anda kesini naik apa?"
"Saya naik taksi."
Aditya melanjutkan langkahnya dan berhenti didepan pintu gerbang taman, dari kejauhan terlihat taksi hendak melintas didepannya.
Aditya lambaikan tangannya, dan taksi itu berhenti tepat didepannya.
Aditya membuka pintu taksi itu, dan menyuruh Putri untuk naik.
"Terima kasih" Kata Putri
*Mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk saya berbicara pada Aditya, yang terpenting dia mau datang saya sudah senang.*batin Putri
Putri masuk ke dalam taksi, dan ditutupnya pintu taksi itu oleh Aditya. Tanpa menunggu taksi itu berjalan Aditya sudah berjalan menuju tempat parkir dan mengambil motor Dion.
-Selama diperjalanan pulang-
*Apa yang terjadi dengan hari ini? Semakin lama banyak sekali kejutan dalam hidupku* batin Aditya
Ponsel Aditya terus saja berbunyi, merasa terganggu dengan bunyi ponselnya. Aditya berhenti ditepi jalan dan melihat layar ponselnya, ada beberapa panggilan dari Dion dan pesan masuk dari nomer seniornya tadi.
Aditya menarik nafas dalam-dalam, dan menyimpan kembali ponselnya.
Sampai didepan rumah Aditya melihat Dion yang tertidur di teras dengan alas karpet dan sibuk mengusir nyamuk, Aditya mematikan mesin motor dan berjalan ke arah Dion.
*Ini sebabnya dia menelpon ku berkali-kali* batin Aditya (Melihat Dion sibuk dengan para nyamuk-nyamuk)
"Yon" Kata Aditya sambil menepuk punggung Dion
"Mm? Dit sudah pulang, kemana saja kamu jam segini baru balik?"
"Ada urusan sebentar tadi" Jawab Aditya (Duduk disebelah Dion dengan posisi kaki di luruskan)
"Kamu tahu tidak, kalau Ivan tadi sempat menelpon Reyna dan memaksa Reyna memberi tahu keberadaannya."
"Terus?"
"Reyna tidak mengatakannya, dan tadi mama Reyna sempat kemari menjenguk kondisi Reyna disini."
"Yon, saya baru ingat belum melapor ke pak RT jika kalian menginap disini."
"Tenang tadi pak RT mu sempat lewat sini dan melihat aku berbicara dengan mama Reyna, mama Reyna sudah meminta izin pada pak RT. Namun, besok kau disuruh menemuinya."
"Oke"
"Dilihat dari wajahmu sepertinya kamu sedang ada masalah, ada apa?"
"Tidak apa-apa."
"Cerita lah jangan pendam sendiri."
"Mereka kemana semua?"
"Siapa? Para wanita? Didalam sedang istirahat, kami menunggumu pulang dan belum sempat makan."
__ADS_1
"Kita cari makan sekarang" Kata Aditya (Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju motor Dion)
Dion mengikuti langkah Aditya dan menyusuri jalanan malam kota yang sudah semakin sepi, mereka berhenti disalah satu warung sate ayam.
"Pak bungkus 5 porsi sate+lontong" Kata Aditya
"Baik mas ditunggu ya"
Setelah pesanan mereka siap, Aditya mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan kembali ke rumah bersama Dion yang terlihat sudah sangat kelaparan.
-Di rumah Aditya-
"Makan" Kata Aditya (Sambil memberikan sebungkus sate ayam untuk Dion)
"Akhirnya makan"
Aditya mengetuk pintu rumahnya dan dibuka oleh Keysa, Keysa menatap Aditya dan tidak berbicara apapun.
"Makan dulu sebelum tidur."
"Kenapa baru pulang, habis dari mana saja lo?"
"Saya ada sedikit urusan"
Keysa menatap Aditya dengan tatapan mencurigai, membuat Aditya memalingkan pandangannya dan memberikan kantong plastik isi makanan ke tangan Keysa.
"Tidak perlu mikir macam-macam." Kata Aditya (Berjalan kembali ketempat Dion)
***
Keysa menutup pintu rumah Aditya dan membangunkan Reyna serta Rosa untuk makan terlebih dahulu.
"Ros, Reyn. Bangun ayo makan dulu." Kata Keysa
"Aditya sudah pulang?" Tanya Rosa
"Sudah, ayo makan dulu."
"Key, apa akan baik-baik saja aku bersembunyi disini dari kak Ivan?"
"Lo aman disini Reyn, tenang saja."
"Sekarang kamu makan dan istirahat lagi jangan mikir macam-macam." Sahut Rosa
Mereka makan dengan lahap.
***
Sementara di teras rumah Aditya dan Dion hanya saling pandang dan menghentikan makannya.
"Apa senior sebodoh itu?" Kata Dion
"Saya tidak tahu, dan kejadian itu diluar kendali saya."
"Ampun Dit, masalahmu begitu rumit."
"Jika tadi kamu datang telat apa yang akan terjadi pada senior itu, memikirkannya saja membuatku pusing." Sambung Dion
"Hmm"
"Tapi tumben kamu peka dan cepat menyadari kalau dia mau mengungkapkan perasaanya."
"Saya mikir pakai otak" (Menyuapi mulutnya dengan sate)
"Kamu kira aku mikir pakai tulang?"
Dion geram dengan jawaban Aditya, namun dia takjub dengan sikap dewasa Aditya. Dion melihat badan Aditya dan bertanya padanya...
"Aku berikan ke senior untuk menutupi badannya."
-Disisi lain-
"Aku tidak percaya kalau kamu akan perhatian seperti ini Dit" Kata Putri (Mengelus pelan jaket Aditya)
Putri senang Aditya mau datang dan bahkan menolongnya, dia sempat ragu sebelumnya takut jika Aditya tidak datang menemuinya. Namun diluar dugaan, Aditya malah datang dan menyelamatkannya.
"Apa yang membuat putri mami senyum-senyum sendiri? Dan ini jaket siapa?"
"Apa sih mami, ganggu saja."
"Dari bau parfumnya sepertinya ini jaket laki-laki ya?"
"Aaa mami, keluarlah jangan ganggu aku."
Mami Putri keluar dari kamarnya, dan putri tersenyum lebar mendengar godaan maminya.
***
"Yon bangun, ayo sholat subuh."
"Aku masih mengantuk Dit"
Tanpa menjawab ucapan Dion Aditya memukul kepala Dion dengan bantal, Dion terkejut dan bangun dari tidurnya.
"Ok ok ayo."
Aditya dan Dion menuju ke masjid dan melakukan ibadah, setelah sholat Aditya dan Dion keluar dari masjid secara tidak sengaja melihat pak RT. Aditya menghampiri pak RT dan diikuti Dion.
"Permisi, pak Salam."
"Aditya, kebetulan kita bertemu disini." Sahut pak RT
"Mohon maaf pak, kemarin saya belum sempat izin langsung ke bapak dan melalui orang tua teman saya. Kebetulan kemarin saya pulang malam dari kerja, mau mendatangi pak Salam takut menganggu."
"Iya tidak apa-apa, lain kali izin terlebih dahulu ya. Saya juga tahu kalau kamu dan teman kamu tidur di teras rumah saat ronda bersama pak Ucup, saya percaya sama kamu Dit."
"Terima kasih pak, saya permisi."
"Iya hati-hati"
Aditya dan Dion tidak kembali ke rumah dan langsung menuju pasar untuk membeli beberapa bahan makanan.
Saat tiba di rumah mereka terkejut melihat, Ivan yang menggedor-gedor pintu rumah Aditya.
Aditya langsung turun dari motor Dion dan menarik baju Ivan.
"Apa yang anda lakukan?"
"Ternyata kamu disini, dimana kamu menyembunyikan Reyna?"
Aditya hanya tersenyum sinis dan mendorong Ivan untuk menjauh dari pintu rumahnya. Dion memegang lengan Ivan bermaksud untuk menyuruh Ivan pergi, namun tangan Dion ditepis oleh Ivan.
"Jawab saya, dimana kamu menyembunyikan kekasih saya? Saya yakin dia ada didalam rumahmu!" Teriak Ivan
"Apa tujuan anda kemari untuk membuat kegaduhan?" Tanya Aditya
"Aku kesini ingin menemui Reyna, dan jangan ikut campur tentang urusanku."
"Kalau anda mau berbicara baik-baik dengannya, saya akan mengizinkan Reyna bertemu dengan anda."
"Hahaha, siapa kamu beraninya kamu memintaku izin terlebih dahulu untuk menemui kekasihku."
__ADS_1
"Ini rumah saya, saya tidak mau ada keributan disini."
Ivan diam dan menatap tajam ke arah Dion dan Aditya, dia mengalah karena ucapan Aditya. Bahkan hati Ivan hancur melihat kekasihnya menginap di rumah laki-laki lain.
Aditya mengetuk pintu rumahnya yang terkunci dari dalam sejak semalam.
"Ini saya jangan takut, dan buka pintunya." Kata Aditya
Rosa membuka pintu rumah Aditya, dan keluar diikuti dengan Keysa. Terlihat jika Reyna tidak ikut keluar dengan mereka, hati Ivan sedikit lega karena Reyna di rumah Aditya tidak seorang diri melainkan dengan teman-temannya.
"Anda pikir saya akan macam-macam dengan kekasih anda?" Tanya Aditya dengan tatapan tajam
"Bahkan aku dan Aditya tidur di teras kak semalam, dan keadaan pintu dikunci dari dalam. Mau bagaimanapun kami bukan laki-laki Bej*t, kami tahu cara menghargai perempuan." Sambung Dion
Ivan mendengar penjelasan Dion, dan hanya dia melihat kearah Aditya dan Dion bergantian.
"Kalau Anda ingin bertemu Reyna dan tidak membuat keributan disini, masuklah dia ada didalam." Kata Aditya
Ivan memasuki rumah Aditya dan melihat Reyna yang duduk dengan merapatkan kakinya sedang menangis, hati Ivan teriris melihat keadaan Reyna yang kacau karena ulahnya.
Rosa, Dion, dan Keysa hanya diam dan melihat ke arah Ivan dan Reyna. Sedangkan Aditya masuk dengan membawa belanjaannya dari pasar tadi.
"Sayang..." Kata Ivan
"Maafin aku sayang, aku benar-benar minta maaf. Aku bisa jelasin semuanya, tolong dengarkan penjelasan ku."
Reyna hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Wanita yang kamu temui kemarin adalah kekasih kakakku, dan meminta tolong untuk menemui kakakku. Aku sudah mencari kemana kakakku berada, namun aku belum bisa menemuinya."
"Apa kakak pikir aku akan percaya?" Jawab Reyna
"Percayalah padaku, aku tidak berbohong Reyn."
"Masalah kak Ariana saja kakak tidak mau cerita padaku, apalagi masalah ini. Bisa saja kakak hanya berbohong padaku."
"Aku harus jelasin apa lagi padamu, aku tidak berbohong sayang."
"Kenapa kakak bisa disini? Kakak tahu dari mana?"
"Maaf aku mencari mu ke rumah dan tidak menemukanmu, aku ingat kalau aku memasang GPS di ponselmu untuk memudahkan ku mencari mu. Dan setelah aku lihat kamu disini, dan pagi-pagi aku langsung kemari."
"Sekarang kakak pulang lah, jangan ganggu aku dulu."
"Maafin aku sayang, jangan pergi dariku"
"Aku tetap disini kak, tapi aku tidak ingin berbicara dengan kakak terlebih dahulu."
Reyna berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam dan meninggalkan ruang tamu diikuti dengan Rosa dan keysa.
Dion menghampiri Ivan yang mematung mendengar keputusan Reyna.
"Sebaiknya kakak kembali sekarang, Reyna akan baik-baik saja disini. Mungkin dia masih ingin menenangkan diri, yakinlah dia hanya kecewa dan masih sayang dengan kakak." Kata Dion (Menepuk pundak Ivan)
Ivan menoleh ke arah Dion dan menatap Dion, sangat terlihat jika dia juga terpukul dan sedih. Ivan berjalan meninggalkan rumah Aditya dengan perasaan hancur melihat kekasihnya berusaha menghindarinya hingga bersembunyi di rumah Aditya.
***
Reyna terduduk dan melamun di meja makan dapur tanpa memperdulikan Aditya yang sibuk memasak, Keysa dan Rosa yang melihat itu hanya mendekatinya dan duduk di sebelah Reyna.
"Bau harum apa ini?" Kata Rosa sambil mendekati
"Ternyata lo jago masak juga ya" Sahut Keysa
Dion menyusul mereka di dapur, dan mendekati Aditya yang tengah sibuk memasak.
"Potong sayur itu!" Perintah Aditya pada Dion
"Giliran aku yang kesini kamu suruh, sedangkan di belakangmu ada tiga calon ibu rumah tangga tidak kamu hiraukan." Protes Dion (Mengambil pisau untuk memotong sayur)
Rosa dan Keysa hanya tertawa kecil melihat Dion yang sibuk mengomeli Aditya sambil memotong sayur.
Keysa melirik ke arah Reyna yang hanya diam tanpa ekspresi, Keysa merasa dirinya lebih beruntung memiliki Aditya yang mau menjaganya walaupun tidak karena cinta.
"Reyn, jangan melamun. Setelah ini kita jalan-jalan cari hiburan lo mau?" Kata Keysa
"Benar Reyn kata Keysa, kita cari kesenangan di luar sana." Sahut Rosa
"Tidak perlu, aku hanya ingin menenangkan diri, makasih kalian sudah mau menemaniku."
Ucapan Reyna dijawab anggukan dan senyum oleh mereka kecuali Aditya yang seakan-akan tidak mendengar apapun.
Reyna yang melihat Aditya yang tidak merasa kasihan sedikitpun padanya, melempar kepala Aditya dengan wortel yang ada dihadapannya.
"Aduh.." Kata Aditya sambil meringis
Rosa, Keysa, dan Dion hanya ketawa melihat Aditya yang mengelus-elus kepalanya yang sakit akibat wortel yang Reyna lempar.
Saat Aditya hendak membalikkan badan dan memarahi Reyna, ponselnya berbunyi.
Aditya melihat layar ponselnya yang terdapat nama nomer seniornya kemarin yang tidak dia simpan dalam kontaknya.
*Ada apa lagi? Kenapa dia terus menggangguku* batin Aditya
Aditya berjalan keluar dari dapur dan mengangkat panggilan itu, membuat semua orang yang ada di dapur merasa bingung.
Aditya menerima panggilan itu dengan harapan Senior tidak lagi menghubunginya.
(Dalam panggilan)
_________
"Dit"
^^^"Ada apa anda menelepon saya"^^^
"Saya mau ngasih tahu kamu, kalau mamiku mengundangmu makan malam di rumah
untuk ucapan terima kasih kemarin kamu sudah menolong saya"
^^^"Saya tidak bisa"^^^
"Saya akan menunggumu datang, saya
akan mengirimkan alamat rumah saya"
_________
(Panggilan terputus)
Aditya mematikan panggilan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian dia pergi masuk ke dalam dapur untuk memasak lagi.
*Apa yang sebenarnya dia mau, membuatku semakin pusing saja* batin Aditya
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen. Dukungan Readers sangat berarti untuk Author xoxo :)