
.
.
.
.
-Pukul 3.12-
"Dokter... Dokter..." Teriak salah satu perawat di ruang ICU.
Mendengar suara teriakan yang cukup menganggu tidurnya, Aditya bangun dan melihat kearah perawat itu.
Aditya beranjak dari tempat duduknya, untuk memastikan keadaan ibunya melalui jendela kaca yang langsung berhadapan dengan ruang rawat ibu Inara.
Badan serta kakinya tidak dapat bergerak, bahkan seketika pikiran dan jantungnya terasa berhenti sejenak. Matanya mulai memanas menahan agar air matanya tidak jatuh, pandangan Aditya masih mengarah lurus ke arah ibunya yang bertaruh nyawa di dalam ICU.
Beberapa perawat dan dua dokter masuk ke dalam ruangan ibu Inara, melihat keadaan ibunya yang terlihat tidak baik-baik saja. Aditya mendekat ke arah jendela untuk melihat ibunya lebih dekat. Namun, salah satu perawat menutup tirai yang ada di jendela kaca itu hingga Aditya tidak dapat melihat keadaan ibunya dari luar ruangan.
"Ibu!!!" Teriak Aditya yang sudah menangis tersedu-sedu.
Mendengar teriakan cucunya, nenek Sekar segera bangun dari tidurnya dan menghampiri Aditya yang sudah terduduk dihadapan jendela ruang ICU.
"Aditya? Ada apa? Kenapa kamu tidak tidur?" Tanya nenek Sekar sambil berusaha membangunkan Aditya dari posisi duduknya.
"Nenek, ibu nek. Ibu sakit..." Kata Aditya dengan terus terisak.
"Inara?" Gumam nenek Sekar dengan pandangan melihat ke arah ruangan ibu Inara.
Hampir sejam mereka menunggu dokter keluar dari ruangan ibu Inara, Aditya masih terus menangis memanggil nama ibunya.
Salah satu perawat keluar dari ruangan itu dan meminta nenek Sekar untuk menyelesaikan tagihan perawatan ibu Inara terlebih dahulu, kini Aditya merasa tenang karena perawat memberi kabar jika ibunya sudah melewati masa kritis, walaupun sebelumnya sempat drop sesaat.
"Keluarga ibu Inara?" Panggil seorang dokter.
"Saya dok." Sahut Aditya mendekati dokter itu.
"Ibu adik ingin bertemu dengan adik."
"Sus, tolong temani putra ibu Inara untuk masuk ke ruangan." Sambung dokter.
"Baik dok."
__ADS_1
Aditya menemui ibunya yang telah membuka matanya dengan wajah pucat dan senyum tipis.
"Ibu!" Panggil Aditya dengan sedikit berlari dan memeluk ibunya.
"Jangan sedih sayang, ibu tidak apa-apa." Sahut ibu Inara sambil membelai lembut rambut Aditya.
"Aditya tidak mau ibu sakit, Aditya mau ibu sembuh."
"Ibu akan sembuh, Aditya jangan sedih ya?"
Aditya mengangguk mengiyakan ucapan ibunya, selang beberapa menit nenek Sekar masuk bersama dengan salah satu perawat yang mengantarkannya. Setelah cukup melihat keadaan ibu Inara, nenek Sekar dan Aditya berniat untuk keluar agar ibu Inara bisa istirahat kembali.
Saat ingin berpamitan pada ibunya, lengan Aditya tertahan saat tangan ibu Inara memegangnya dengan lemah tanpa tenaga.
"Aditya, jadilah anak yang baik. Jangan pernah melakukan hal yang dapat merugikan orang lain. Ibu ingin sekali melihat Aditya tumbuh jadi seseorang yang memiliki hati yang tulus, dan yang paling penting dapat bertanggung jawab atas keputusan Aditya. Jaga nenek baik-baik, jangan biarkan nenek sedih ya?"
"Aditya akan jadi anak yang baik, seperti ibu."
"Cepat sembuh, Aditya membutuhkanmu Inara." Sahut nenek Sekar.
"Ibu, bagaimana dengan biaya rumah sakit ini?"
"Kamu tenang saja, tabungan ibu selama ini sangat cukup untuk biaya pengobatan mu sampai sembuh. Jadi kamu harus sembuh."
"Maafin aku ya bu, kalau selama ini Inara hanya bisa menyusahkan ibu dan Aditya."
"Ibu tidak pernah menyusahkan Aditya, Aditya yang selalu menyusahkan ibu. Sering rewel dan minta macam-macam. Maafin Aditya ibu, ibu harus cepat sembuh."
Setelah mengucapkan hal yang ingin mereka ucapkan, Aditya segera mungkin memeluk ibunya dan disusul nenek Sekar. Entar mengapa hati dan pikiran Aditya serta nenek Sekar tidak tenang meskipun ibu Inara sudah sadar dari masa kritisnya.
-Sekitar pukul 4.46, setelah adzan subuh-
Aditya terbangun dari tidurnya, dan berlari menuju jendela ruang ICU untuk melihat keadaan ibunya dari luar jendela.
Ibunya terlihat tidur sangat nyenyak tanpa terlihat sedikitpun gerakan pada tubuhnya, Aditya yang masih kecil tidak tahu apapun hanya diam dan menganggap ibunya baik-baik saja. Hingga saat dirinya dan nenek Sekar kembali dari masjid rumah sakit, seusai menjalankan ibadah sholat subuh.
Terlihat dokter yang merawat ibu Inara masuk ke ruangan bersama dengan satu perawat dibelakangnya. Aditya dan nenek Sekar yang hendak melihat keadaan ibu Inara dari luar jendela tidak dapat melihat apapun karena terhalang tirai yang telah ditutup.
"Nenek? Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Aditya.
"Semoga ibu baik-baik saja ya, Aditya berdoa saja." Sahut nenek Sekar yang sedari tadi merasa tidak tenang.
Beberapa saat salah satu perawat keluar dari ruangan dengan posisi membelakangi pintu, terlihat brankar yang ditarik oleh perawat itu keluar, seseorang terbaring di atas brankar itu dengan seluruh tubuh ditutupi kain putih yang diikuti dengan perawat satunya beserta dokter yang merawat ibu Inara.
__ADS_1
Nenek Sekar yang melihat hal itu terduduk lemas dilantai, Aditya yang tidak paham dengan keadaan hanya diam sesaat. Lalu kemudian dia berjalan mendekati dokter untuk bertanya mengenai ibunya, namun dokter itu malah duduk dihadapan Aditya, dengan mengelus lembut rambut Aditya serta permintaan maaf yang keluar dari mulutnya.
Nenek Sekar menangis histeris, mendekati brankar yang dibawa dua perawat rumah sakit.
"Inara bangun, Inara bangun. Jangan tinggalkan Aditya, dia masih kecil dan membutuhkanmu. Bangun Inara!" Teriak nenek Sekar.
Aditya yang mendengar teriakan neneknya, langsung memalingkan pandangannya dan berlari menghampiri neneknya.
Tepat disebelah neneknya yang menangis sambil memegangi kain putih, Aditya hanya berdiri tanpa ekspresi. Hatinya hancur, bahkan orang yang berarti dalam hidupnya kini telah pergi meninggalkannya.
"Ibu, bangun ibu. Aditya sayang ibu, ibu sudah janji hari ini akan mengantar Aditya sekolah, tapi kenapa ibu tidur dan tidak bangun?".
Tangisan Aditya pecah, bahkan hari ini tidak pernah dia bayangkan akan kehilangan ibu sekaligus ayah baginya.
Setelah proses pemakaman selesai, Aditya masih enggan untuk meninggalkan makam ibunya. Bahkan nenek Sekar sudah memintanya untuk ikut pulang, tapi dia masih saja tidak mau pergi.
*Ibu, Aditya tidak bisa tanpa ibu. Kenapa ibu meninggalkan Aditya disini sendiri bersama nenek? Siapa yang akan menemani Aditya belajar dan bermain? Aditya harap ibu bahagia di sana, Aditya sayang ibu...* batin Aditya sambil tangan terus mengelus batu nisan ibunya.
Setelah kepergian ibunya, Aditya dan nenek Sekar memutuskan untuk tinggal dikampung halaman nenek Sekar dan almarhum ibu Inara sewaktu kecil. Setelah hampir 2 tahun tinggal di desa, nenek Sekar mulai sakit-sakit akibat faktor usia. Hingga menghembuskan nafas terakhir karena sakit paru-paru, Aditya yang mulai beranjak semakin besar memutuskan untuk kembali ke kota. Mengingat dirinya kini harus bekerja demi makan sehari-hari, rumah yang tadinya sempat dia tinggalkan bersama neneknya setelah ibu Inara meninggal kembali dia tempati.
-Flashback off-
Laura yang mendengar cerita itu langsung daei mulut adiknya merasa teriris, bagaimana mungkin mama, nenek, berserta adiknya merasakan hidup yang begitu pahit. Sedangkan dirinya hidup dengan enak dan serba terpenuhi.
"Kenapa? hiks... kenapa harus seperti ini? Mama? Maafin hiks... Laura ma." Gumam Laura yang menangis tersedu-sedu setelah mendengar cerita Aditya.
"Sudah kak, ibu akan tenang di sana. Kakak sudah bersama saya sekarang, tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi, saya janji." Kata Aditya sambil memeluk kakaknya dan berusaha menenangkannya.
*Ibu, anak-anak ibu sekarang bisa bersama. Apa ibu bahagia? Andai ibu masih disini bersama kami, betapa hangatnya pelukan ibu untuk kami.* batin Aditya.
.
.
.
.
..."Seorang ibu tidak pernah luput dari kata tulus, jika dibandingkan dengan cinta seluruh orang di dunia ini, cinta ibu jauh lebih besar berkali-kali lipat." ...
...-Bintang_M...
...Jangan lupa terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian🤗❤...
__ADS_1
...Dan author ingin meminta maaf karena keterlambatan update chapter baru dikarenakan beberapa sebab yang tidak bisa author katakan🙏🏻🙏🏻...
...Ditunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤...