Janji M

Janji M
Hal Tak Terduga 2


__ADS_3

.


.


.


.


"Makasih ya Rosa." Kata Reyna sambil memeluk Rosa.


Rosa pamit dan meninggalkan rumah sakit.


"Tante, Reyna. Pasti belum makan, saya belikan makan ya?" Tanya Ivan


"Tidak perlu Van, tante tadi sudah makan. Lagian saat seperti ini tante tidak punya selera untuk makan."


"Tapi tante juga harus jaga kesehatan tante, saya belikan habis ini tante makan ya." Jawab Ivan


"Tidak perlu, kamu ajak saja Reyna untuk makan. Dia belum makan dari tadi sore, sepulang dari ujian dia langsung main ke rumah Rosa."


"Aku tidak selera makan ma, aku mau disini nungguin nenek saja."


"Kamu harus makan Reyn, kita beli makan sekalian sama beli buat mama Melati." Bujuk Ivan pada Reyna


Melihat pemandangan didepannya Melati merasa lega, karena putri satu-satunya memilih laki-laki yang benar untuk berada disampingnya.


Setelah beberapa lama Ivan membujuk Reyna, akhirnya Reyna mau ikut Ivan untuk makan terlebih dahulu.


-Di alun-alun tengah kota-


*Aku harus apa, ya Tuhan. Aku sungguh lelah dengan semua ini." batin Aditya


Setelah dari rumah pak Gunawan, Aditya enggan pulang ke rumah dan memutuskan untuk duduk sendiri ditengah alun-alun kota yang dipenuhi banyak orang disaat hari sabtu malam begini. Aditya hanya melamun dan terduduk lemah di bangku taman.


-Flashback on-


Aditya menuju rumah pak Gunawan dengan menggunakan sepedanya, entah apa yang membuatnya resah disepanjang jalan. Perasaan tidak nyaman mengisi dirinya sejak sore tadi, setelah 30 menit akhirnya Aditya sampai di kediaman pak Gunawan.


Kedatangan Aditya disambut hangat oleh pak satpam, Aditya masuk ke dalam rumah dan melewati pintu utama rumah pak Gunawan. Aditya disambut pelayan, yang menunjukan arah menuju ruang makan. Yang mana di sana sudah ada pak Gunawan dan Keysa.


"Selamat malam pak." Sapa Aditya


"Duduklah." Sahut pak Gunawan


Aditya yang mengangguk dan segera duduk, dalam batinnya sudah mulai berperang entah apa lagi yang akan terjadi padanya.


"Dit, saya ingin membicarakan hal serius kepadamu. Kita bicara pelan-pelan sambil makan."


Pak Gunawan mempersilahkan Aditya makan, dengan tatapan yang serius pak Gunawan memandang Aditya. Yang membuat hati Aditya merasa tidak nyaman.


*Apa yang akan pak Gunawan katakan* Batin Aditya


"Tahun depan saya ingin kamu dan Keysa melangsungkan pertunangan."


Kata pak Gunawan membuat Aditya tersedak, entah ada angin dari mana arah pembicaraan ini semakin tidak main-main.


Aditya hanya diam dan memandang ke arah pak Gunawan dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Saya tau ini terlalu terburu-buru buat kamu, umur saya semakin bertambah. Saya ingin kamu mendampingi dan menjaga Keysa, saya yakin kamu bisa membuat Keysa jadi lebih baik." Sambung pak Gunawan


"Mohon maaf pak, saya memiliki banyak kekurangan yang belum tentu bisa membuat nona Keysa bahagia." Jawab Aditya


Pak Gunawan yang tersenyum mendengarkan jawaban Aditya, kembali meneruskan ucapannya.


"Saya yakin kamu bisa membuat putri saya bahagia, kamu orang baik."


Aditya tidak bisa berbicara apapun lagi, dia ingin sekali menolak hal ini tapi mengingat hutang budinya pada pak Gunawan begitu banyak. Membuatnya tidak mampu untuk berbicara lagi dan hanya diam mematung, Aditya frustasi dengan keadaan yang semakin rumit ini.


"Dit, gue janji tidak akan merepotkan lo selama kita bersama." Kata Keysa


Yang membuat Aditya semakin tidak tahu harus bagaimana, belum juga Aditya menjawab. Pak Gunawan memegang erat tangan Aditya sambil berkata...


"Saya mohon sama kamu, jaga anak saya. Hanya kamu yang saya percaya."


Melihat pak Gunawan yang sudah berkali-kali memohon padanya membuat dia tidak tega, dan terpaksa mengiyakan permintaan pak Gunawan. Saat ini Aditya hanya bisa pasrah pada keadaan.


"Pa, aku pengen bicara berdua dengan Aditya papa lanjut makan dulu ya." Kata Keysa sambil mengelus tangan papanya


Keysa mengajak Aditya keluar, dengan keadaan ini Aditya bisa berbicara pada Keysa atas keputusan yang diambil pak Gunawan.


-Di teras rumah keluarga Gunawan-

__ADS_1


"Dit, gue faham kalau lo tidak suka dengan keadaan ini. Gue tidak menyangka jika papa keras kepala ingin kita bersama, kalau boleh jujur..."


Belum juga Keysa menyelesaikan ucapannya, Aditya yang berada dibelakang Keysa bersuara...


"Saya melakukan ini karena apa yang telah pak Gunawan berikan pada saya, saya tidak perduli dengan perasaan atau isi hati nona. Mau sampai kapanpun saya tidak akan menaruh hati saya pada nona."


Ucapan Aditya seakan petir yang menyambar didalam hati Keysa, Keysa hanya bisa diam dan menahan tangis bahkan Aditya tau perasaannya sebelum dia sempat mengatakan.


"Gue juga tidak mau suka sama lo, siapa sangka hati gue luluh dengan lo. Padahal gue tau dan sadar diri selama ini lo benci sama gue." Bantah Keysa dengan mata yang sudah memanas menahan air matanya.


Aditya yang mendengar ucapan Keysa hanya diam, bahkan hatinya tidak bergetar sedikitpun. Aditya bukan membenci Keysa, hanya saja Aditya tidak suka dengan sikapnya selama ini.


Keysa membalikan badan, dan kini saling berhadapan dengan Aditya. Mata mereka saling bertemu beberapa detik, hingga Aditya membuang muka dan tidak melihat kearah Keysa lagi.


Hati Keysa semakin sakit melihat apa yang dilakukan Aditya didepannya.


*Bahkan sekarang lo tau perasaan gue, lo tetap benci sama gue. Bahkan untuk melihat kearah gue, lo gak sudi. Gak bisakah lo pura-pura baik sama gue dan menghargai perasaan gue, gue juga tidak mau Dit suka sama lo. Tapi hati gue nyaman dan tenang saat melihat lo, walaupun tatapan lo bukan untuk gue* Batin Keysa sambil meneteskan air matanya karena tidak sanggup lagi menahan perlakuan Aditya.


"Anda tidak perlu menangis demi laki-laki seperti saya, hati saya tidak akan berubah walaupun nona seperti ini."


Kata Aditya yang sadar bahwa Keysa menangis didepannya walaupun tatapannya mengarah kearah lain.


Kita mereka hanya saling mematung dan tidak berbicara apapun, Keysa tidak tahu lagi harus berbicara apa pada Aditya. Bahkan sekarang hatinya seperti diiris, dengan semua perkataan Aditya.


"Saya akan masuk jika tidak ada yang nona katakan lagi." Kata Aditya sambil membalikan badan berjalan masuk ke rumah.


Keysa yang melihat Aditya dengan teganya meninggalkannya reflek berlari dan memeluk Aditya dari belakang. Sontak membuat Aditya terkejut dengan apa yang dilakukan Keysa.


"Lo boleh benci gue, tapi lo harus tau gue sayang banget sama lo." kata Keysa sambil menangis yang semakin menjadi-jadi.


"Tolong lepaskan tangan anda." Jawab Aditya sambil berusaha melepas tangan Keysa.


"Anda tidak perlu sampai seperti ini, lebih baik anda menyimpan perasaan itu untuk orang lain." Sambung Aditya yang kini saling berhadapan dengan Keysa.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Aditya berjalan masuk dan menuju ruang makan untuk menemui pak Gunawan.


*Apa salah gue sama lo Dit? Sampai lo tidak mau menghargai perasaan gue sedikitpun.* Batin Keysa sambil menangis, dan terduduk lemas di lantai.


-Di ruang makan-


"Pak, saya mau izin undur diri." Kata Aditya sambil membungkuk di hadapan pak Gunawan yang sedang makan.


"Kenapa terburu-buru? Duduk dan makanlah, dimana Keysa?" Tanya pak Gunawan.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan. Dan tolong pertimbangkan baik-baik permintaan saya, saya mohon."


Aditya yang mengangguk dan bersalaman pada pak Gunawan, meninggalkan ruang makan dan menuju ke luar untuk meninggalkan kediaman pak Gunawan.


Saat keluar dari pintu utama dan berjalan menuju teras, Aditya melihat Keysa yang masih duduk di deras dan melamun. Aditya yang melihat itu, merasa tidak tega. Ingin sekali Aditya menyuruh Keysa masuk, namun Aditya tidak mau melakukannya. Dia tidak mau memberi sedikit harapan pun pada Keysa.


Aditya melewati Keysa yang masih duduk melamun, Keysa yang melihat Aditya berjalan keluar hanya bisa memandangi punggung laki-laki yang disayanginya pergi menjauh dan tidak menghiraukannya.


-Flashback off-


Aditya yang masih terduduk frustasi di alun-alun kota, tidak berniat sedikitpun untuk pulang. Dia ingin rasanya pergi jauh dari sini, saat pandangannya terarah pada sisi lain alun-alun. Aditya melihat anak kecil yang membawa balon sambil menangis, melihat hal itu Aditya menghampirinya.


"Halo adik manis, kenapa kamu menangis?" Tanya Aditya sambil jongkok mengimbangi tinggi anak perempuan itu.


"Aku mencari... orang tua ku." Kata anak perempuan itu


"Namamu siapa? Kakak bantu cari orang tua adik ya, tapi janji adik berhenti menangis."


Anak perempuan itu merasa senang, hatinya tenang mendengar ucapan Aditya.


"Namaku Zery, nama kakak siapa?" Tanya gadis kecil itu antusias


Aditya tersenyum hangat melihat anak perempuan itu berhenti nangis, dan semangat menanyakan namanya.


"Nama kakak Aditya, ayo kakak bantu cari orang tua Zery." Sahut Aditya


Aditya menggandeng tangan mungil Zery dan mencari dimana orang tuanya. Hati dan diri Aditya yang sedikit es, menjadi hangat ketika berbicara pada anak kecil. Bahkan hal yang tak dapat diduga dan diketahui oleh siapapun.


Setelah sekitar 20 menit, Aditya mencari orang tau Zery. Pandangan daei jauh Aditya tertuju pada dua sepasang orang dewasa yang sibuk memanggil seseorang.


"Zery, apakah itu orang tuamu?" Tanya Aditya sambil menunjuk ke arah dua orang tersebut.


"Iya kakak baik, itu mama dan papa." Jawab Zery senang


Aditya membawa Zery untuk bertemu kedua orang tuanya, betapa leganya kedua orang tua Zery melihat putrinya dapat ditemukan.


"Sayang kamu dari mana? Papa dan mama mencari mu." Kata ibu Zery

__ADS_1


"Terima kasih ya, kamu sudah menolong anak kami. Maaf kami merepotkan mu nak." Kata Papa Zery sambil mengulurkan tangan pada Aditya


Sambil menerima tangan papa Zery, Aditya berkata...


"Sama-sama pak, secara kebetulan saya bertemu anak anda sedang menangis."


"Terima kasih banyak ya mas, kalau tidak ada mas kami tidak tahu harus bagaimana." Ucap mama Zery sambil tersenyum


"Mama papa, kakak baik membantu mencari mama dan papa. Zery sekarang dapat teman baru, namanya kakak baik Aditya." Ucap Zery


Yang membuat Aditya gemas dan tersenyum lebar mendengat ucapan Zery. Mama dan papa Zery senang melihat anak mereka yang semangat menceritakan Aditya.


Setelah beberapa saat Aditya dan orang tua Zery berbincang, mereka berpamitan pada Aditya karena hari semakin malam dan waktunya Zery untuk beristirahat.


"Terima kasih banyak ya Aditya, lain kali kita bertemu lagi. Ngomong-ngomong saya boleh meminta nomer kontak mu, agar suatu saat kami bisa mengajakmu makan. Sebagai ucapan terima kasih kami, sudah menjaga dan membantu Zery." Ucap papa Zery sambil memberikan ponselnya pada Aditya


"Iya pak, saya juga senang bisa bertemu dan kenal dengan Zery." Jawab Aditya sambil mengetikan nomer pada ponsel papa Zery.


Aditya memberikan kembali ponsel papa Zery. Papa Zery mengecek nomer Aditya dengan menelfon nomer itu, ponsel Aditya berdering dan dilihatnya nomer papa Zery tak menunggu lama Aditya menyimpan nomer itu.


"Lain kali kita bertemu lagi ya, kami pamit dulu karena Zery sudah waktunya istirahat." Kata mama Zery


"Iya bu, pak. Sampai bertemu kembali. Daa Zery lain kali kita bertemu dan main bareng ya." Kata Aditya hangat


Zery yang sudah setengah tertidur bangun,


"Baik kakak baik kita akan main bareng."


Membuat Aditya lagi-lagi tersenyum lebar, betapa gemasnya dengan Zery.


Zery dan kedua orangnya berpamitan dan berjalan meninggalkan Aditya, selang beberapa saat mereka menghilang dari pandangan Aditya.


Aditya merasa terhibur, selama ini dia hanya sendiri dan sangat merindukan kehadiran keluarga. Dengan beberapa menit saja berbincang dengan keluarga Zery dapat mengobati kerinduannya.


Aditya duduk di kursi taman yang mana tadi sempat dia gunakan untuk berbincang dengan kedua orang tua Zery.


*Nek, ibu, aku kangen banget sama kalian. Semoga kalian tenang di sana ya* Batin Aditya dengan memandang langit.


Dia melihat layar ponselnya yang menunjukan pukul 22.30 membuatnya terkejut.


*Sial aku lupa kalau harus jaga kampung sama pak Ucup*


Aditya berlari menuju parkir sepeda, dan mengayuh sepedanya dengan cepat.


-Di pos ronda kampung Resik-


"Adit ini kemana? Sampai jam segini dia belum kesini?" Tanya pak Ucup pada dirinya sendiri.


"Tunggu sambil ngopi dulu lah."


20 menit pak Ucup melihat seseorang dalam kegelapan tergesa-gesa mengayuh sepedanya datang mendekat.


"Aditya, bikin kaget saja. Saya pikir siapa." Kata pak Ucup yang masih setengah terkejut


"Maaf pak tadi saya ada urusan dan mampir di alun-alun sebentar untuk cari angin. Dan kelupaan waktu." Jelas Aditya menaruh sepedanya dan mengambil bungkusan yang ada di sepedanya.


"Wih sepeda baru ya?" Tanya pak Ucup


"Iya pak, dapet rezeki saya belikan lumayan kalau kemana-mana tidak perlu jalan kaki.


"Hebat kamu Dit, saya kira kamu kemana. Tumben telat, biasanya sudah disini sebelum saya datang."


"Dimakan dulu pak, tadi saya sempat beli dipinggir jalan sebelum kemari." Sambil menyodorkan sebungkus nasi goreng pada pak Ucup


"Wah terima kasih, kebetulan saya lapar hehehe." Ucap pak Ucup sambil membuka bungkus nasi


"Makan dulu pak, habis ini kita keliling." Sahut Aditya


Setelah selesai makan, mereka berkeliling kampung untuk patroli. Sekitar pukul 3.30 dini hari, mereka kembali ke pos dan beristirahat.


"Istirahat dulu Dit, habis ini kita kembali saat adzan subuh." Kata pak Ucup sambil merebahkan badannya


Aditya yang hanya mengangguk ucapan pak Ucup, ikut merebahkan badannya. Dan tanpa sadar dia tertidur hari ini terasa sangat melelahkan baginya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen :)


__ADS_2