
.
.
.
.
-2 tahun kemudian-
Tik...Tik...Tik...
Air jatuh sedikit demi sedikit dari langit yang hitam, Aditya berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman kantor.
"Sudah masuk musim hujan ya" Gumam Aditya dengan tangan yang sibuk melepas jasnya.
Mata Aditya melihat kaca mobil yang diguyur oleh hujan, tetesan air hujan mengalir jernih membasahi setiap bagian luar mobilnya.
"Sudah 2 tahun ya? Bagaimana kabar anda, nona?"
Aditya menarik sabuk pengaman mobil dan melekatkan pada tubuhnya, matanya masih sibuk melamun melihat tetesan air hujan.
Kakinya menginjak gas mobil dengan pelan, dalam perjalan Aditya hanya diam tatapan matanya terlihat hampa namun tetap fokus melihat ke arah jalan raya.
Dia menghentikan mobilnya didepan toko bunga, mata Aditya tertuju pada bunga berwarna merah yang indah dengan kelopak segar yang dibasahi beberapa tetes air.
"Saya ambil ini"
Pelayan toko memberikan sebuket bunga mawar pada Aditya.
Aditya kembali menjalankan mobilnya, beberapa menit dalam perjalanan terlihat mobilnya memasuki area pemakaman.
Aditya turun dari mobil dengan menggunakan payung berwarna putih bening, langkahnya menyusuri pemakaman itu hingga dia berhenti tepat di salah satu makam yang sangat terawat, rumput hias yang rapi menutupi tanah makam itu serta terlihat jelas rumput yang basah karena guyuran hujan.
Aditya duduk jongkok ditepi makam, tangannya mengusap pelan batu nisan berwarna putih yang basah dengan senyum tipis di bibirnya.
"Bu, Aditya datang"
Aditya meletakkan bunga mawar yang dipegangnya di atas makam ibunya.
"Aditya harus bagaimana bu? Sudah 2 tahun tapi masih seperti ini? Aditya sakit bu, tidak tahu harus berbuat apa"
Drt...Drt...Drt...
Tangan Aditya merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang berdering. Dari layar ponsel terlihat nama Dion.
Aditya membalikkan badannya dan mengangkat panggilan telepon Dion.
(Panggilan terhubung)
______
^^^"Ada apa?"^^^
"Dimana? Aku dan Rosa sudah
menunggumu"
^^^"20 menit lagi saya pulang"^^^
"Ok, cepat jangan kebanyakan mikir"
_______
(Panggilan terputus)
Aditya memasukan ponselnya kedalam saku nya, dan kembali melihat ke arah makam ibunya.
"Bu, Aditya pulang dulu. Doakan Aditya bu" Dengan tangan mengusap batu nisan.
__ADS_1
Aditya melangkahkan kakinya menjauhi makam ibunya, hujan semakin lebat langkah Aditya sedikit berlari hingga dia masuk kedalam mobil.
Tangan Aditya meraih sebuah kotak berwarna warna hitam, terdapat dua buah cincin didalam kotak itu.
*Apa aku akan siap melihatnya nanti?* batin Aditya
Kotak berisi cincin itu disimpan kembali oleh Aditya.
Perlahan mobil Aditya meninggalkan halaman parkir area pemakaman.
15 menit perjalanan Aditya sampai di halaman rumahnya, terlihat dari dalam mobil Rosa dan Dion sudah menunggunya di teras rumah.
Aditya menghela nafas pelan lalu turun dari mobilnya.
"Kamu dari mana Dit? Pergi gak bilang-bilang" Kata Rosa sambil memukul pundak Aditya
"Ros?"
"Ada apa?"
Dion melirik ke arah Aditya yang duduk termenung di kursi, tangan bertumpu pada lutut dengan badan sedikit condong ke depan.
Mata Dion terlihat memberi isyarat pada Rosa, bahkan bagi mereka tidak aneh jika Aditya seperti itu. Mengingat selama 2 tahun dia memendam perasaannya pada Keysa, dan hari ini merupakan hari kehancuran Aditya.
"Dit, jika kamu tidak yakin untuk ikut bersamaku dan Dion. Tetaplah di rumah, kami tidak memaksamu untuk ikut. Hanya saja tolong sekali buka matamu, Keysa akan menikah dengan kekasihnya. Berhentilah mengharapkannya kembali" Ucap Rosa berusaha memberi solusi pada Aditya
"Kami juga tidak mau kamu terluka melihatnya bahagia dengan orang lain, jadi jangan paksakan dirimu"
"Apa sekarang saya terlihat begitu lemah dimata kalian?" Tanya Aditya dengan mendongakkan kepalanya, membuat Rosa dan Dion tercengang membulatkan mata.
Rosa dan Dion tidak berniat menyinggung Aditya, namun diluar dugaan perasaan Aditya lebih pemarah dari biasanya.
Dion duduk disebelah Aditya, tangannya merangkul pundak Aditya dan menepuknya pelan.
"Jangan berbicara seperti itu, kalau kamu beneran sayang sama Keysa biarkan dia bahagia. Bukankah bukti sayang tidak hanya dengan saling memiliki? Kamu juga harus bahagia Dit, jika Keysa bisa bahagia tanpamu harusnya kamu juga bisa"
"Kita berangkat"
Tangannya sibuk merapikan kerah kemeja setelah mengikatkan dasi berwarna abu-abu tua dengan pola garis.
Aditya menarik nafas dalam-dalam serta memantapkan niatnya untuk datang ke pernikahan Keysa.
Kriet...
"Sudah siap?" Tanya Dion yang berdiri didepan pintu kamar Aditya
Aditya terkejut melihat Dion didepan pintunya dengan tatapan tajam.
"Sedang apa kamu didepan pintu?"
"Aku kira kamu sedang menangis jadi untuk mengantisipasi aku berniat masuk tadi"
Tanpa menjawab ejekan Dion, Aditya memukul kepalanya hingga dia meringis.
Dalam perjalan menuju lokasi pernikahan Aditya hanya diam di kursi belakang, sedangkan Rosa dan Dion sesekali masih meliriknya dari kaca spion dalam mobil.
Tangan Rosa mencubit pelan lengan Dion, matanya memberi isyarat pada Dion untuk mengajak bicara Aditya yang tengah diam melamun ke arah luar kaca mobil.
"Dit? Jangan melamun terus, tadi habis dari mana? Kenapa tidak bilang kalau keluar"
Aditya menolehkan pandangannya ke arah Dion, selang beberapa detik dia diam akhirnya menjawab ucapan Dion.
"Dari makam ibu saya"
"Kenapa tidak mengajakku dan Rosa?"
"Tidak perlu, saya hanya ingin mengunjungi makam ibu saya. Saya mau tidur kalau sudah sampai bangunkan saya"
"Iya Dit"
__ADS_1
***
Hampir 3 jam perjalan mereka sampai sebuah resort mewah ditepi pantai.
"Capeknya" Keluh Rosa
Dion melepas sabuk pengamannya, dan menoleh ke arah belakang untuk membangunkan Aditya.
"Dit?"
"Hmm?"
"Sudah bangun, ayo turun"
Dion dan Rosa sudah turun dari mobil tidak dengan Aditya yang masih duduk tenang ditempatnya.
Tok...Tok...
Dion mengetuk kaca pintu mobil dekat dengan Aditya, Aditya hanya diam dan melihat kearahnya.
Tangan Dion memberi isyarat pada Aditya untuk segera keluar, Aditya mengatur nafasnya dan keluar dari mobil.
Tanpa mengatakan apapun Aditya berjalan meninggalkan Rosa dan Dion yang masih berdiri menatapnya bingung.
"Dia tidak apa-apa kan Yon?"
"Entah Ros, semoga saja dia tidak apa-apa. Ayo hampiri dia"
Rosa dan Dion berjalan sedikit berlari mengikuti langkah Aditya memasuki resort.
Seorang pegawai resort menyambut mereka bertiga dan mengantar mereka menuju bagian belakang resort yang menyuguhkan hamparan pantai yang sangat indah dengan hiasan sinar sunset.
Disepanjang jalan menuju pantai tertata rapi bunga berwarna putih serta deretan foto prewedding Keysa dan Adam.
Aditya terdiam sejenak melihat hal itu, Dion memeluk pundak Aditya berusaha memberinya kekuatan.
"Ayo" Kata Dion mengajak Aditya
Dion dan Rosa memperhatikan Aditya yang hanya diam tanpa memperdulikan suasana disekitarnya.
"Aditya?"
Aditya menolehkan kepalanya mendengar namanya dipanggil, melihat pak Gunawan yang berdiri tepat di sebelah kursinya. Membuat Aditya reflek berdiri, dan menjabat tangan pak Gunawan.
"Selamat pak"
"Saya kira kamu tidak datang. Bagaimana dengan pekerjaan di kantor? Setelah menjelang hari pernikahan Keysa saya tidak bisa langsung turun tangan di kantor, terima kasih sudah selalu membantu saya"
"Ini sudah menjadi tanggung jawab saya pak, semua pekerjaan berjalan dengan baik dan proyek di kota B beroperasi dengan lancar setelah hari peresmian 5 bulan yang lalu"
"Bagus, saya selalu percaya dengan kerja kamu. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya pak"
Aditya memandang ke arah pak Gunawan yang pergi meninggalkannya, beberapa menit kemudian acara akad nikah Keysa dan Adam dimulai. Terlihat dari jauh Keysa berjalan didampingi pak Gunawan dengan kebaya berwarna putih yang indah.
Mata Aditya terpana melihat Keysa, namun kesadarannya lebih dulu menepisnya. Aditya menggelengkan kepala dan memalingkan wajahnya.
Keysa duduk disebelah Adam, terlihat Adam sudah bersiap mengucapkan ijab kabul. Tapi tiba-tiba...
.
.
.
.
Terus support author ya, dukungan kalian sangat berarti untuk author🤗❤
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤