
.
.
.
.
"Kita bertemu papa hari ini!" Ucap Laura sambil berdiri dan menghapus air matanya.
"Tidak kak, sekarang belum saatnya saya bertemu ayah." Tolak Aditya dengan lembut.
"Kita berangkat sekarang."
"Kak, tolong tenang dulu."
"Keysa, tolong ambilkan kakak minum ya." Sambung Aditya dengan tangan masih menggenggam tangan Laura.
"Iya Dit." Sahut Keysa sambil berjalan menuju dapur.
"Kak tolong jangan hari ini, saya tidak mau jika ayah..."
"Kenapa?! Papa perlu tahu jika anak laki-lakinya dan almarhum mantan istrinya sudah menderita."
Belum sampai Aditya menjawab, Laura kembali melanjutkan ucapannya.
"Jika papa tidak percaya, tidak masalah kita bisa membuktikannya. Bahkan kamu masih punya kakak."
"Kak, saya ingin bertanya pada kakak. Alasan ayah pisah dengan ibu dulu apa?"
Raut wajah Laura sekilas terlihat terkejut, dia hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kak, jawab pertanyaan saya."
Terlihat Keysa tengah membawa dua gelas minuman ditangannya, pandangan Aditya teralihkan pada Keysa. Dia terdiam dan menahan kakaknya untuk menjawab pertanyaannya dengan memegang tangan sang kakak.
Laura yang paham akan isyarat Aditya, mengalihkan dirinya untuk menerima minuman dari Keysa.
"Makasih ya Keysa, maaf kakak merepotkan mu." Kata Laura sambil menerima minuman dari Keysa.
"Tidak merepotkan kak, maaf ya aku hanya bisa membuat minuman ini untuk kakak."
"Ini sudah lebih dari cukup, kamu duduklah dan istirahat."
Keysa menjawab ucapan Laura dengan senyuman.
*Aku masih belum bisa percaya, seakan mimpi jika Aditya adalah anak kandung tuan Rai. Apa tante Jovita tahu tentang ini?* batin Keysa.
Aditya masuk ke kamarnya untuk ganti baju sekalian membersihkan diri, hampir setengah jam akhirnya dia keluar dari kamarnya.
"Ervin, mau ikut om pergi ke mini market depan?" Tanya Aditya pada Ervin yang sedari tadi sibuk dengan mainannya.
"Mau om!" Jawab Ervin antusias.
"Hati-hati ya." Kata Laura yang sedang duduk bersebelahan dengan Aditya.
"Kamu mau apa?" Tanya Aditya pada Keysa.
"Tidak ada, aku tidak ingin apa-apa." Jawab Keysa.
Aditya hanya menganggu lalu pergi keluar rumah bersama Ervin, mereka berdua berjalan menuju mini market depan gang rumah Aditya, hingga sibuk memilih snack dan minuman yang diinginkan Ervin.
......................
Di rumah Aditya hanya tertinggal Keysa dan Laura, Keysa merasa canggung karena sebelumnya belum pernah seakrab itu dengan Laura.
"Apa kamu mau istirahat? Biar kakak antar ke kamar."
"Boleh kak, terima kasih. Maaf tidak bisa menemani kakak, tubuhku akhir-akhir ini terasa mudah sekali letih."
"Itu hal wajar bagi seorang ibu hamil, yang sabar ya. O iya setelah ini kakak ingin mengajak Aditya keluar sebentar, ada urusan yang harus kakak selesaikan bersama Aditya. Kamu mau ikut?"
"Tidak perlu kak, aku di rumah saja. Sepertinya badanku sudah tidak kuat lagi jika harus berjalan dan berdiri." Jawab Keysa sambil terkekeh.
"Yasudah kamu istirahat di rumah, jika menginginkan sesuatu hubungi kami. Dan ingat segera hubungi Aditya atau aku kalau kamu membutuhkan apapun."
"Baik kak."
......................
__ADS_1
Aditya kembali dari mini market dengan tangan kiri penuh dengan kantong plastik berisi belanjaannya bersama Ervin. Aditya hanya melihat kakaknya yang duduk sambil menonton tv tidak dengan istrinya. Matanya mulai mencari-cari kemana istrinya berada.
"Mama, om memberikanku makanan yang banyak." Kata Ervin dengan penuh semangat sambil tangan terus sibuk membongkar isi kantor plastik itu.
"Iya sayang, sudah bilang makasih sama om?"
"Sudah mama."
"Anak baik." Jawab Laura dengan mengelus rambut putranya.
"Kak, dimana Keysa?"
"Dia sedang istirahat, tadi kakak juga sudah bilang padanya jika akan mengajakmu keluar. Saat kakak menawarinya dia tidak mau, dia bilang jika badannya terasa letih. Kamu samperin dulu dia, tapi jangan ganggu istirahatnya."
Aditya mengangguk, dan berjalan menuju kamar untuk melihat keadaan Keysa. Saat pintu terbuka, terlihat wanita yang dia sayangi tengah tertidur dengan pulas. Aditya tersenyum tipis dan meraih selimut yang berada di dekat kaki Keysa, lalu diselimuti nya tubuh Keysa dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan Keysa.
Aditya duduk ditepi ranjang, dan mengelus lembut rambut Keysa.
"Kenapa Aditya?" Tanya Keysa yang merasa jika Aditya ada disebelahnya.
Aditya tertegun mendengar pertanyaan Keysa, dia diam sementara lalu melepaskan rambut Keysa dan sedikit membelakangi Keysa yang masih terbaring.
"Tidak apa-apa, apa kamu baik-baik saja?"
"Iya aku baik-baik saja, kamu tidak jadi berangkat?"
"Jadi, setelah memastikan keadaanmu baik-baik saja."
"Pergilah, aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin tidur saja, kamu kunci saja pintu rumah saat pergi nanti."
"Kamu bisa tidur kembali, maaf sudah menganggu. Aku pergi dulu."
Saat Aditya hendak melangkahkan kakinya, tangannya tertahan karena pegangan Keysa.
"Apa kamu bisa memelukku? Aku ingin merasakan pelukanmu." Kata Keysa sambil menundukkan kepala karena malu.
Bukan tanpa sebab Keysa meminta hal itu, entah mengapa anak yang ada diperutnya menginginkan hal itu.
Aditya sedikit terkejut, namun tidak menunggu lama. Aditya mendekatkan dirinya pada Keysa yang sudah terduduk ketika menahan langkah Aditya untuk pergi.
"Sini." Kata Aditya meraih tubuh istrinya dan mendekap tubuh Keysa dalam pelukannya.
*Nyaman, hanya itu yang aku rasakan sekarang.* batin Keysa dengan tangan yang semakin mempererat pelukannya pada Aditya.
"Sama-sama, sekarang istirahatlah. Jika membutuhkan sesuatu segera hubungi saya. Saya pergi dulu, selamat tidur." Kata Aditya sambil mencium bagian atas kepala Keysa.
Hal itu sontak membuat Keysa membulatkan matanya, karena tidak percaya Aditya akan bersikap manis padanya seperti ini secara terus menerus.
......................
Aditya menutup pintu kamarnya dengan tatapan melamun, sedari tadi dia hanya memikirkan respon ayahnya nanti saat mengetahui kebenaran yang dia sampaikan bersama kakaknya.
*Aku tidak yakin, aku harus bagaimana?* Batin Aditya.
Setelah tersadar dari lamunannya Aditya dengan segera menghampiri Laura yang sudah mulai bersiap untuk pergi.
"Kak?"
"Ada apa Dit?
"Apa kita tidak terlalu tergesa-gesa? Ayah mungkin saja tidak akan semudah itu percaya."
"Kita harus mencobanya, tenang aku bersamamu."
Setelah sedikit yakin dengan keputusan kakaknya, Aditya bersama Laura pergi ke kediaman keluarga Candra.
Saat didepan rumah, mereka disambut hangat oleh kedua satpam yang tengah bertugas di rumah tuan Rai.
"Selamat malam nona."
"Malam pak, tolong bukakan pintu."
"Baik nona."
Setelah pintu gerbang terbuka lebar mobil Aditya memasuki halaman rumah tuan Rai, sedari tadi dia hanya melamun dan banyak diam. Banyak hal yang Aditya pikirkan termasuk ketakutannya mengetahui respon sang ayah.
"Ayo masuk, ngapain bengong?"
"Iya kak."
__ADS_1
Dari jauh kedua satpam tadi tengah membicarakan Aditya yang bersama Laura, bahkan mereka berdua juga ikut membenarkan jika Aditya dan tuan Rai sangat mirip.
Laura mengajak Aditya masuk ke dalam rumah, di belakang pintu mereka disambut dengan asisten rumah tangga sekaligus baby sister Ervin.
"Selamat malam nona, tuan Ervin."
"Malam, mbak tolong ajak Ervin main ya."
"Baik bu, ayo sayang main sama mbak dulu." Sahut baby sister Ervin.
"Sayang main sama mbak Ayu dulu ya, mama dan om ada perlu sama kakek."
"Baik ma."
"Saya harus bertemu papa, dimana papa?" Tanya Laura pada asisten rumah tangganya.
"Tuan besar ada di ruang baca, nona."
Tanpa menjawab Laura langsung berjalan sambil menarik tangan Aditya untuk mengikutinya, asisten rumah tangganya bertanya-tanya dalam hati siapa laki-laki yang bersama nona nya.
"Siapa laki-laki itu? Dia terlihat lebih muda dari pada nona, wajahnya mirip sekali dengan tuan besar." Gumam asisten rumah tangga Laura.
Saat didepan ruang baca papanya, Laura menghela nafasnya dan mengumpulkan keberaniannya. Walaupun sebenarnya dia tidak yakin hal ini akan dengan mudah diterima papanya.
"Kak?"
"Tidak apa-apa, kita sudah sampai sini. Ayo masuk."
Tok...Tok...Tok...
"Masuk"
"Selamat malam pa, ini aku. Ada yang ingin aku sampaikan pada papa."
"Tumben mau ngobrol kamu bilang sayang? Duduklah."
Laura duduk dan melihat sebentar wajah papanya yang sudah mulai menua.
Pandangan Laura terarah pada pintu yang tidak melihat Aditya berada dibelakangnya.
*Dimana Aditya?* batin Laura.
"Masuklah Dit, kakak mohon." Teriak Laura dari dalam ruangan.
Tuan Rai merasa aneh dengan ucapan putrinya, raut wajah tuan Rai tidak terkejut saat melihat kehadiran Aditya. Dia tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan hendak melangkah menghampiri Aditya untuk menyapanya.
"Oh, pak Aditya..."
Ucapan tuan Rai terputus, saat Laura berdiri dan menghalangi langkah tuan Rai.
"Dia adikku pa, Aditya Alfahri Candra."
Deg!
Tuan Rai merasa terkejut dengan apa yang dibicarakan Laura, terlihat jelas raut wajahnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan bergurau dengan papa seperti ini."
"Aku tidak sedang bercanda, aku serius. Dia adik kandungku, putra papa dari mama Inara."
"Apa kamu tidak bisa serius?" Tanya tuan Rai yang semakin terkejut saat putrinya menyebut nama mantan istrinya.
"Tidak mungkin Inara punya putra bersamaku, saat itu dia tidak hamil. Jika itu benar pasti ayahnya bukan saya." Sambung tuan Rai.
"Dia benar Adik..." Ucapan Laura terputus saat tangan Aditya meraih lengannya, dengan niatan menahan Laura untuk berbicara.
"Cukup kak, tuan Rai tidak akan percaya dengan ucapan kakak. Saya sudah bilang jika tidak ada bukti, kita tidak bisa melakukan apapun." Kata Aditya sedikit mengecilkan suaranya.
"Apa kamu seorang penipu Aditya?!" Tanya tuan Rai dengan sedikit diselimuti amarah.
.
.
.
.
...Jangan lupa terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian🤗❤...
__ADS_1
...Dan author ingin meminta maaf karena keterlambatan update chapter baru dikarenakan beberapa sebab yang tidak bisa author katakan🙏🏻🙏🏻...
...Ditunggu vote, like, dan komen nya xoxo❤❤...