
.
.
.
.
Aditya melirik ke arah Keysa yang tertidur pulas.
*Sepertinya dia sudah tertidur, lebih baik aku bersiap untuk kerja lagi* batin Aditya
Aditya bersiap untuk kembali ke restoran, namun belum sampai dia pergi dari ruang rawat Keysa. Keysa terbangun dari tidurnya dan memanggil Aditya.
"Dit..."
"Kamu kenapa bangun?"
"Ada yang ingin gue tanyakan sama lo"
"Apa?"
"Saya mau kerja habis ini, katakan cepat." Sambung Aditya
"Lo kenal dengan Zery?"
"Zery?? Ada apa?"
"Apa hubungan lo dengannya?"
"Teman dekat"
*Teman dekat tapi bisa sehangat itu, gue mohon jujurlah Dit. Jangan permainkan perasaan gue* batin Keysa
"Dia anak kecil yang sempat saya tolong waktu di taman kota dulu" Sambung Aditya
"Anak kecil?"
"Iya"
"Anak kecil bisa nelpon lo? Jangan bohongi gue Dit, gue tahu lo gak bisa bales perasaan gue tapi bukan gini caranya." Kata Keysa sambil nangis
"Zery nelpon saya pakai nomer papanya."
"Lo pikir gue akan percaya dengan ucapan lo!"
"Kalau anda tidak percaya dengan saya tidak apa-apa, saya tidak memaksa." Kata Aditya sambil keluar dari ruang rawat Keysa
Keysa menangis sejadi-jadinya melihat sikap Aditya. Aditya yang berjalan keluar dengan amarah, dia tidak tahu maksud Keysa bertanya seperti itu padanya.
Aditya menghentikan langkahnya, dan berbalik menuju kamar rawat Keysa. Dia melihat Keysa yang meringkuk sambil memaki-maki Aditya.
"Berhentilah menangis."
"Buat apa lo kembali ke sini? Lo seneng kan gue terlihat lemah didepan lo."
"Saya harus bagaimana?"
"Gue cuma minta lo jujur Dit, tapi kenapa lo gak mau jujur?"
"Saya sudah jujur pada nona."
"Lo pikir gue percaya?"
"Itu urusan anda"
Aditya berjalan mendekati Keysa, Keysa yang sadar akan hal itu berusaha mendorong Aditya untuk jauh darinya.
Aditya tidak bisa membiarkan Keysa begitu saja, darah mulai naik ke selang infus Keysa membuat Aditya semakin bingung harus berbuat apa.
"Cukup!" Kata Aditya sambil teriak
Keysa yang mendengar bentak kan Aditya terdiam dan tidak berkata apapun.
Aditya berjalan keluar dan memanggil suster, selang beberapa menit suster datang dan mengecek infus Keysa. Setelah suster keluar dari ruang rawat Keysa, Aditya masuk dengan membawa kursi roda.
Aditya membopong Keysa dan membawanya ke kursi roda.
"Kita mau kemana?" Tanya Keysa sambil merapikan selang infusnya
Aditya tidak menjawab ucapan Keysa dan mendorongnya ke ruang bugenvil nomer 34.
"Kita mau kemana Dit?"
"Diam lah."
Aditya mengetuk pintu ruangan Zery, mama Zery membuka dan melihat Aditya dan Keysa didepan pintu.
"Mas Aditya, silahkan masuk."
"Maaf ya bu saya mengganggu."
"Tidak mengganggu mas, Zery juga pasti seneng mas Aditya datang."
"Mbak yang cantik ini, kekasih mas Aditya?" Sambung mama Zery
"Iya bu" Jawab Aditya singkat
Zery melihat Aditya yang datang terlihat sangat senang.
"Kak Aditya.." Teriak Zery
"Halo Zery, bagaimana kabarmu?" Tanya Aditya
"Kak... kakak punya kekasih ya?" Tanya Zery melihat ke arah Keysa
Aditya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Halo gadis manis, perkenalkan saya Keysa."
"Saya Zery, kekasih kakak baik cantik ya."
*Aditya tidak berbohong pada gue, gue bodoh sudah cemburu dan melukai diri sendiri karena anak kecil* batin Keysa
Setelah hampir 20 menit Aditya dan Keysa menjenguk Zery, Aditya mengantarkan Keysa dan berangkat bekerja sebelum telat.
"Maaf gue sudah salah sangka dengan lo."
"Cepatlah sembuh dan jangan merepotkan." Jawab Aditya sambil meraih jaketnya
"Lo mau berangkat sekarang?"
"Iya"
"Kamu baik-baik disini, setelah selesai kerja saya akan kemari. Tidak usah merepotkan bu Inah. Kalau butuh apa-apa bilang saya."
"Siap laksanakan bos."
Aditya pergi meninggalkan Keysa. Melihat sikap Aditya, Keysa tersenyum lebar. Bahkan tidak pernah dia bayangkan bahkan Aditya akan perhatian padanya walaupun dengan cara yang kaku.
***
"Nek aku mau ke rumah Rosa ya."
"Iya sayang, jangan pulang malam-malam ya."
"Baik nek."
Reyna mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online, beberapa saat saja taksi yang dia pesan sampai.
"Sore, dengan mbak Reyna?"
"Sore pak"
"Alamat sesuai aplikasi ya mbak?"
"Iya pak"
*Kak Ivan sedang apa ya sekarang? Apa yang aku lakukan ini apakah benar?* batin Reyna
Selama perjalanan Reyna hanya memandang keluar jendela sambil melamun...
"Mbak sudah sampai..."
"Mbak..."
"O iya pak maaf, ini ya pak." (Sambil memberi uang pada supir taksi)
"Terima kasih mbak"
"Sama-sama pak"
Tet...Tett...Tettt....
"Iya tunggu..."
Rosa keluar dari rumah dengan tergesa-gesa...
"Reyna..."
"Aduh Ros, jangan gini..." (Sambil berusaha melepas pelukan Rosa)
"Kamu baik-baik saja kan? Kenapa tidak jawab pesan atau nelpon aku"
"Aku butuh nenangin diri kemarin Ros."
"Yasudah ayo masuk."
Reyna menjelaskan pada Rosa tentang hubungannya dengan Ivan, melihat kesedihan di wajah Reyna. Rosa tidak berani bertanya tentang alasannya sampai diculik oleh senior.
Drt...Drtt...Drttt....
Ponsel Rosa berdering, terlihat dari layar ponselnya ada nama Dion.
__ADS_1
"Dion nelpon Reyn."
"Angkat Ros."
(Panggilan Terubung)
_________
"Ros..."
^^^"Iya, ada apa?"^^^
"Ketemuan yuk.."
^^^"Dion diam-diam deketin Rosa nih."^^^
^^^(Suara Reyna)^^^
"Kamu ngapain?"
^^^"Main sama Rosa, emang kenapa?"^^^
"Okelah, kalau ada waktu ayo keluar
malam ini sekarang malam minggu
kita main puas-puas."
^^^"Oke aku dan Reyna tunggu di rumah."^^^
"O iya kalian tahu kalau Keysa masuk
rumah sakit?"
^^^"Apa?!"^^^
^^^(Jawab Reyna dan Rosa bersamaan)^^^
"Aku baru tahu saat mengantarkan
pakaian Aditya tadi pagi"
^^^"Apa kita jenguk dia dulu saja ya?"^^^
^^^(Kata Rosa)^^^
"Boleh"
^^^"Kita tunggu di rumah Rosa, cepat^^^
^^^datang kemari."^^^
^^^(Kata Reyna)^^^
"Aku mandi dulu."
^^^"Oke kami tunggu"^^^
____________
(Panggilan terputus)
"Aku juga siap-siap dulu sebelum Dion kemari."
"Oke aku tunggu."
-45 menit-
"Ros..."
Di kamar Rosa-
"Sepertinya itu Dion"
"Ayo cepat ambil tasmu, kita berangkat." Sahut Reyna
Reyna dan Rosa berjalan menemui Dion di depan rumah...
"Masukkan motormu ke dalam saja, kita naik mobil" Kata Rosa
"Siap."
Dion, Rosa, dan Reyna menuju ke rumah sakit sejahtera untuk menjenguk Keysa.
-Rumah sakit sejahtera-
Dok...Dokkk...Dokkk....
"Iya masuk" Sahut Keysa
"Hai Key." Sapa Rosa dan Reyna
"Kalian kemari?" Tanya Keysa
"Aditya kerja, duduk dulu."
Ponsel Keysa berbunyi tanda pesan masuk...
*Aditya* batin Keysa
(Chatting)
_ _ _ _ _ _
"Jangan lupa makan, istirahatlah."
^^^"Iya, disini ada Dion, Reyna, dan Rosa."^^^
(Read)
_ _ _ _ _ _
Selang beberapa detik saja ponsel Dion berbunyi...
(Panggilan terhubung)
_________
^^^"Iya Dit kenapa?"^^^
^^^(*Keysa, Rosa, dan Reyna menengok^^^
^^^ke arah Dion*)^^^
"Tolong jaga Keysa sampai saya kembali
dari kerja"
^^^"Wah benar-benar kamu ini"^^^
^^^"Kamu kira penjaga kekasihmu, hah?"^^^
_________
(Panggilan terputus)
"Dasar singa beku."
"Kenapa Yon?" Tanya Keysa
"Dia menyuruhku untuk menemanimu sampai dia pulang dari kerja."
"Mulai luluh ternyata hatinya" Sambung Rosa
"Bahkan dia bisa merepotkan kita untuk menjaga kekasihnya." Celetuk Reyna sambil ketawa
Mereka memaki dan mengobrol tentang Aditya dengan seru.
***
Aditya mematikan panggilan Dion, dan mengirimkan pesan pada pak Ucup.
(Chatting)
_ _ _ _ _ _
^^^"Pak, nanti saya agak telat karena harus^^^
^^^ke rumah sakit melihat keadaan putri^^^
^^^tuan saya."^^^
_ _ _ _ _ _
***
-Pukul 21.23-
"Kenapa Aditya belum juga kembali?" Kata Dion
"Tunggu saja sebentar lagi" Sahut Rosa
Belum juga sampai 1 menit, Aditya datang dengan raut wajah yang kelelahan.
"Akhirnya datang." Kata Dion
Aditya meletakkan beberapa kantong bungkus makanan di meja, dan melepas jaketnya.
"Makanlah sebelum kembali." Ucap Aditya
"Singa beku tahu cara berterima kasih dengan benar." Ucap Dion
Rosa dan Reyna memukul kepala Dion yang berbicara asal-asalan, yang diikuti dengan ketawa dari Dion. Aditya mengerti jika Dion hanya bercanda, dan tidak memasukkannya dalam hati.
__ADS_1
Aditya berjalan ke arah ranjang Keysa dengan membawa satu bungkus makanan di tangannya.
"Makan dulu." Kata Aditya
"Gue mau ke kamar mandi, tolong bantu sampai di depan pintu."
Aditya membantu Keysa untuk turun dan membantu Keysa berjalan ke kamar mandi, karena badan dan kaki Keysa masih terasa lemas.
Setelah dari kamar mandi Aditya membantu Keysa kembali dari ranjang dan menyuapi Keysa makanan, yang membuat ketiga temannya tercengang tidak percaya.
"Yon ada yang salah dengan otak Aditya?" Tanya Rosa sambil berbisik
"Sepertinya dia bukan Adi yang kita kenal." Sahut Reyna
"Entahlah, sejak kapan dia perhatian seperti itu. Tapi ini bagus, karena dia mau menghargai kekasihnya."
Ucapan Dion dijawab dengan anggukan oleh Reyna dan Rosa.
Setelah mereka makan, Aditya meraih ponselnya dan menelpon bi Inah untuk menemani Keysa di rumah sakit. Karena Aditya ada jadwal ronda malam ini dengan pak Ucup di kampungnya.
"Dit kami pamit balik dulu ya sudah malem nih." Kata Rosa
"Makasih sudah bantu saya."
"Aku tidak masalah sih, walaupun jadwal keluar ku dengan Rosa dan Reyna batal. Tapi aku seneng sebagai teman bisa bantu kamu." Sahur Dion
"Iya Di, lagian kita disini juga senang karena bisa bercanda dan membicarakan tentang mu dengan Keysa." Celetuk Reyna (Membuat Rosa, Keysa, dan Dion melotot ke arahnya yang kelepasan)
Aditya hanya menurunkan salah satunya dengan melihat ke arah Dion, Aditya tahu pasti pembicaraan itu bermula karena mulut Dion yang tidak bisa diam memaki dan membicarakannya. Dion sadar dengan tatapan Aditya dan bergegas mengambil tasnya.
"Kami pamit ya Dit, makasih untuk makanannya." Pamit Dion (Sambil mendorong tubuh Reyna dan Rosa untuk mengajaknya pulang)
Aditya hanya memandang ke arah Dion, ingin sekali rasanya dia memukul kepala Dion. Dalam hati Aditya senang memiliki teman seperti mereka, dengan sikap yang kaku dan dingin yang dia miliki. Perasaan senang itu tidak terungkapkan.
"Makasih ya kalian sudah mau nemenin gue." Kata Keysa
"Sama-sama kami pulang ya Key." Sahut Reyna
Mereka keluar dari ruangan Keysa dan suasana menjadi sepi, Aditya berjalan ke arah ranjang Keysa.
"Bi Inah akan kemari dan menjaga nona."
"Lo mau kemana?"
"Saya harus ronda malam, jadi malam ini saya pulang."
"Besok kemari lagi?"
"Iya."
Tidak lama bi Inah datang, Aditya pergi meninggalkan rumah sakit dan mengayuh sepedanya untuk pulang.
Dipertengahan jalan dia melihat seseorang yang tidak asing baginya, Aditya mendekati sosok wanita itu yang sibuk mengecek mesin mobilnya.
"Permisi..." Kata Aditya
"Iya?" Jawab wanita itu sambil menengok ke arah Aditya
"Mamanya Reyna?" Tanya Aditya
"Iya betul, kamu Aditya teman Reyna kan?"
"Iya bu, ada apa dengan mobil ibu?
"Mobil saya tiba-tiba mogok, dan saya berusaha menelfon montir tapi mereka sudah pada tutup."
"Boleh saya cek bu? Kebetulan dulu saya pernah ikut kerja di bengkel."
(Aditya pernah bekerja di bengkel sewaktu neneknya meninggal dan hidup sendirian)
"Boleh, kamu habis dari mana?"
"Saya baru pulang dari kerja bu, kebetulan saat saya melihat ibu di sini kebingungan." (Sambil mengecek mesin mobil mama Melati)
"Kamu kerja dimana? Hebat ya kamu sudah bisa mandiri"
"Di restoran daerah dekat taman bu"
"Hebat sekali kamu."
Aditya memperbaiki mesin mobil mama Melati dengan sambil mengobrol.
*Dia anak yang ramah, hanya saja sedikit kaku. Benar Reyna jika dia anak yang baik, tapi aku perhatikan wajahnya mirip sekali dengan almh. Inara* batin mama Melati
"Aditya?"
"Iya bu?"
"Kalau boleh tahu kamu tinggal dimana?"
"Di kampung depan komplek perumahan Indah bu."
"Kamu kenal dengan Inara?" Tanya mama Melati dengan sedikit ragu
Tangan Aditya berhenti dan terkejut terlihat jelas diwajahnya. Mama Melati tertegun menelan ludahnya bahkan dia tidak membayangkan jika reaksi Aditya akan terkejut sampai seperti itu.
Aditya membalikan badannya dan melihat ke arah mama Melati...
"Bagaimana anda bisa mengenal...?"
Ucapan Aditya terputus saat ada seseorang yang memanggil mama Melati.
"Tante?"
"Ivan? Kamu dari mana?"
Aditya yang melihat Ivan berjalan ke arah mereka, kembali melanjutkan mengecek mesin mobil mama Melati.
"Aku habis keluar sama teman-teman tante, mobil tante kenapa?"
"Mobil tante mogok, untung saja ada Aditya yang menolong tante."
"Bu silahkan nyalakan mobilnya" Kata Aditya
"Syukurlah sudah bisa."
"Terima kasih ya Aditya."
"Baru pulang kerja Dit?" Tanya Ivan
"Iya, kebetulan ngelihat mama Reyna disini."
"Makasih ya"
"Sama-sama"
"Kalau begitu saya permisi."
"Tunggu..."
Mama Melati mengambil sesuatu didalam tasnya, dan diberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada Aditya.
"Ambilah, terima kasih sudah membantu saya."
"Tidak perlu bu, saya ikhlas."
"Ambilah tolong, anggap saja ini hadiah dari saya."
"Saya tidak bisa menerimanya bu."
"Baiklah saya tidak bisa memaksa."
"Saya pamit dulu."
"Iya makasih banyak ya Aditya." Sahut mama Melati.
Aditya pergi mengayuh sepedanya meninggalkan Aditya dan Ivan.
Ivan menemani mama Melati pulang ke rumah karena hari sudah mulai larut. Dan khawatir jika terjadi sesuatu pada mobil mama Melati.
"Saya antar tante sampai rumah."
"Terima kasih Van."
Dalam perjalanan mama Melati memikirkan tentang respon dari Aditya yang membuatnya semakin penasaran dengan siapa sebenarnya Aditya.
*Aku yakin sekali dia mirip sekali dengan Inara, melihat tanggapannya tadi sepertinya dia mengenal Inara. Aku harus coba mencari tahu tentang Aditya, dari pertama kali bertemu dan melihat wajahnya aku langsung teringat dengan Inara* batin mama Melati
***
"Aditya kemana ya? Kenapa belum kesini, mana kampung sudah sepi sekali." Kata pak Ucup (Sambil celingak-celinguk)
Terlihat dari jauh Aditya datang dengan menaiki sepedanya, pak Ucup merasa lega karena Aditya datang.
"Bapak sudah tunggu-tunggu Dit kamu."
"Maaf pak tadi saya bantu ibu teman saya terlebih dahulu, mobilnya mogok."
"Tidak apa-apa, nih ada gorengan tadi dikasih sama pak RT." (Memberikan sepiring gorengan pada Aditya)
"Makasih pak"
Aditya memakan gorengan yang diberikan pak Ucup dan mengobrol sebelum keliling kampung untuk menjaga keamanan.
.
.
.
.
Jangan lupa vote, like, dan komen. Dukungan Readers sangat penting untuk Author xoxo :)
__ADS_1