
.
.
.
.
Dion mengemudikan mobil Rosa dengan kecepatan tinggi
Tring...
Pesan berisi nomer telepon Ardhan dari Aditya masuk
Dion menekan nomer itu dan menghubunginya
(Panggilan terhubung)
________
^^^"Senior"^^^
"Siapa?"
^^^"Dion, teman Aditya"^^^
"Ada apa menelepon saya?"
^^^"Aku mau minta bantuan senior, Reyna^^^
^^^diculik dan sekarang Aditya tidak bisa ikut^^^
^^^mencarinya. Dia menyuruhku meminta^^^
^^^bantuan senior"^^^
"Reyna? Ada masalah apa?"
^^^"Ceritanya panjang, kami benar-benar^^^
^^^butuh bantuan senior"^^^
(*Apa sudah terjadi sesuatu dengan Reyna? Aku harus menelepon Aditya* batin Ardhan)
"Oke temui aku di jalan cempaka"
^^^"Baik"^^^
________
(Panggilan terputus)
"Gimana Yon? Apa dia mau membantu kita?" Tanya Rosa
"Iya, kita langsung menemuinya sekarang" Jawab Dion
***
Aditya merasa ponselnya bergetar, diraihnya ponsel itu dalam saku
Terlihat nama Ardhan di layar ponselnya, tanpa menunggu lama Aditya langsung mengangkatnya panggilan itu
(Panggilan terhubung)
______
"Dit, lo dimana?"
^^^"Saya masih di acara pertunangan, saya^^^
^^^minta tolong bantu Dion^^^
^^^menemukan Reyna"^^^
"Lo tunangan?"
^^^"Iya, saya tidak dapat izin pergi dari sini.^^^
^^^Tolong bantu Dion"^^^
"Apa yang sudah terjadi sebenarnya?"
^^^"Ceritanya panjang, saya sudah gagal^^^
^^^menjaga Reyna"^^^
"Ok, gini saja gue jemput lo kirim
alamat tempat lo. Biar nanti Dion
bersama anak buah gue mencari
Reyna dulu"
^^^"Iya"^^^
_______
(Panggilan terputus)
"Siapa?" Tanya Keysa
"Ardhan"
Acara sudah selesai Keysa berjalan menuju kamar untuk mengganti gaunnya
Aditya yang duduk termenung dihampiri pak Gunawan
Pak Gunawan memandang ke arah Aditya dengan tatapan tajam, rasa kecewa menyelimutinya melihat apa yang sudah Aditya lakukan tadi.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan?" Tanya pak Gunawan
Aditya menoleh ke arah pak Gunawan karena terkejut mendengar ucapannya
"Saya mohon maaf pak, hanya saja teman saja dalam bahaya. Saya harus menolongnya"
"Kamu mau meninggalkan Keysa begitu saja?"
"Saya tidak bermaksud meninggalkan Keysa, setelah ini saya akan langsung pamit undur diri pak. Teman saya menunggu saya"
Pak Gunawan tersenyum sinis ke arah Aditya, pak Gunawan merasa Aditya sudah mulai berani padanya dan tidak ingat hutang budinya
"Ok, terserah kamu mau bagaimana. Tapi ingat, jika kamu melanggar surat perjanjian kamu akan saya laporkan"
Aditya mengangguk pelan dan melihat ke arah pak Gunawan yang berjalan meninggalkannya
Tring...
Aditya melihat ponselnya dan membaca pesan Ardhan jika dia sudah ada di depan rumah pak Gunawan
Saat Keysa menuruni tangga, dia melihat Aditya yang terlihat buru-buru berjalan keluar rumahnya
Keysa berlari untuk mengejar Aditya
"Dit mau kemana?" Tanya Keysa sambil menahan tangan Aditya
Aditya menengok ke arah Keysa yang memegangi tangannya
"Saya harus pergi"
Keysa mendekap tubuh Aditya dari belakang membuat Aditya tercengang dan berusaha melepaskan tangan Keysa yang melingkar di pinggangnya
"Tolong lepaskan, saya harus pergi"
"Gue tidak akan melepaskan lo, gue mau lo disini nemenin gue. Ini hari bahagia kita Dit, kenapa lo mau ninggalin gue"
Aditya menghela nafas dan melepaskan tangan Keysa, kini Aditya menghadap ke arah Keysa
"Saya harus pergi, maaf sudah membuat hari ini kacau" Kata Aditya berbalik badan dan berlari meninggalkan Keysa
Keysa hanya bisa menatap kepergian tunangannya tanpa tahu alasannya buru-buru pergi
*Gue tidak bisa diam, Aditya sudah menjadi tunangan gue. Gue harus tau dia mau kemana* batin Keysa
Keysa berlari menyusul Aditya dan melihatnya hendak keluar dari pintu gerbang
__ADS_1
"Aditya"
Aditya menoleh ke arah suara yang memanggilnya
Namun Aditya tidak menghiraukan Keysa dan melanjutkan langkahnya
Bruk...
"Non Keysa!" Teriak pak Asep (Satpam keluarga Gunawan)
Aditya membalikkan badan dan melihat Keysa terjatuh
"Dit, lo urus dulu tunangan lo" Kata Ardhan yang berada tepat dibelakang Aditya
Aditya berlari menghampiri Keysa, dan membantunya berdiri
Aditya membopong Keysa dan mendudukkannya di kursi taman dekat pos satpam
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Aditya sambil melihat luka ditangan dan lutut Keysa
Keysa hanya diam meringis, ingin sekali dia tersenyum karena sikap hangat dan perhatian Aditya namun lukanya terasa perih
Pak Asep membawakan kotak P3K dan diberikan pada Aditya untuk mengobati luka Keysa
Aditya membersihkan luka Keysa dengan alkohol
Keysa meringis kesakitan, Aditya meniup pelan luka Keysa sambil terus membersihkannya
*Gue harap lo terus seperti ini Dit* batin Keysa
Setelah Aditya memberi obat merah dan membalut luka Keysa dengan perban, mata Aditya memandang ke arah Keysa. Membuat Keysa salah tingkah, bahkan bukan tatapan tajam namun tatapan yang terlihat hangat.
"Kembalilah ke dalam, ada masalah yang harus saya urus terlebih dahulu" Kata Aditya masih dengan posisi jongkok dihadapan Keysa
"Lo mau kemana? Bisakah gue ikut lo?" Tanya Keysa
Aditya berdiri dari posisi jongkoknya dan memalingkan wajahnya ke arah luar gerbang
"Tidak, bahaya. Saya pergi dulu"
Aditya meninggalkan Keysa dan masuk ke mobil bersama Ardhan
Selama diperjalanan Aditya menceritakan apa yang terjadi pada Reyna, serta memberi tahu nomor plat mobil yang terlah membawa Reyna pergi
Drt...Drt...Drt....
Ponsel Ardhan berdering, terlihat di layarnya nama Raka
(Panggilan terhubung)
______
^^^"Gimana Ka?"^^^
"Hanya ada sedikit perkembangan, polisi
sudah menemukan siapa pemilik
mobil itu. Mobil itu disewa seseorang
dari rental mobil dan kini pemilik rental
masih diselidiki"
^^^"Terus cari, dan jangan sampai Ivan^^^
^^^lolos dari pengawasan kalian"^^^
"Baik"
_________
(Panggilan terputus)
Ardhan hanya memijat kepalanya, dia tidak tahu harus bagaimana
"Jika Ivan yang sudah menculik Reyna. Apa kita cari ke luar kota? Karena waktu saya menemukan Reyna dia ada di villa pinggir kota" Kata Aditya
"Saya rasa Ivan tidak akan berani melakukan apapun pada Reyna di dalam kota" Sambung Aditya
Saat Aditya dan Ardhan sampai dipinggiran kota tempatnya tidak jauh dari villa yang dipakai Ivan kemarin malam
Ada beberapa orang bergerombol didekat jurang sebelah kanan jalan raya
Ardhan menghentikan mobilnya, dan turun dari mobil diikuti dengan Aditya
"Permisi pak bu, ada apa ya?" Tanya Ardhan
"Ada mobil masuk jurang mas, tapi kami tidak tahu orang didalamnya selamat apa tidak"
Ardhan melewati gerombolan beberapa orang itu dan melihat ke arah jurang, wajah Ardhan nampak pucat dan badannya hanya mematung
"Nomer plat mobil itu L 23xx WX, sama seperti yang dikatakan Dion" Gumam Ardhan
Aditya menghampiri Ardhan yang mematung melihat ke arah jurang itu, Aditya tidak melihat ke arah bawah jurang dan menepuk pelan pundak Ardhan yang melamun
"Ada apa?" Tanya Aditya
Ardhan hanya menoleh ke arah Aditya sebentar dan kembali melihat ke arah jurang, melihat Ardhan yang seperti itu Aditya menolehkan kepalanya ke arah jurang
"Nomer plat itu?" Tanya Aditya tertegun
Kini mereka berdua hanya mematung melihat hal diluar dugaan mereka
Ardhan membalikkan badannya dan menghubungi polisi berserta Dion untuk ketempat nya dan Aditya berada
Hampir setengah jam mereka sampai, Ardhan meminta polisi untuk segara menyelidiki kasus ini dan mengecek keadaan seseorang didalam mobil itu
Evakuasi dilakukan hampir memakan waktu 2 jam hingga mobil itu bisa diangkat dari jurang
"Maaf pak, sepertinya mobil ini jatuh dengan keadaan tanpa penumpang. Terlihat mesin mobil dalam keadaan mati dan tidak ada korban sama sekali. Mobil ini sengaja di jatuhkan bukan karena kecelakaan" Jelas polisi
"Baik pak, terima kasih atas bantuan anda"
"Kami juga mau menyampaikan jika penyewa mobil rental ini, sudah ada di kantor polisi dan menjalani masa penyelidikkan. Dia seorang supir taksi online yang menyewa mobil ini untuk bekerja. Dia memberikan keterangan jika memang dia membawa penumpang laki-laki yang menghentikannya ditepi jalan. Laki-laki itu naik dengan paksa tanpa menggunakan aplikasi, dan meminta supir taksi untuk membawanya ke perumahan Bukit Indah jalan Mawar no.34 tempat korban dibawa lari. Ditengah jalan tersangka meminta supir taksi turun dari mobil dan membawa kabur mobil ini" Jelas polisi
"Apa supir taksi itu tahu ciri-ciri laki-laki itu?" Tanya Ardhan
"Laki-laki itu menggunakan masker" Sahut Aditya
"Saya melihatnya saat acara pertunangan saya berlangsung, tapi dari jauh dan dari cara jalan orang tersebut dia bukan Ivan" Sambung Aditya
"Benar pak, orang tersebut memakai masker dan jas berwarna hitam" Kata Polisi
Mereka semua hanya diam dan nampak berpikir keras, bahkan tidak ada yang bisa dilakukan lagi mengingat Reyna tidak membawa ponselnya seperti sebelumnya yang memudahkan mereka menemukannya.
Polisi meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota untuk terus menelusuri kasus ini dengan membawa mobil rental tersebut sebagai barang bukti
"Kita haru bagaimana?" Tanya Rosa
Aditya, Ardhan, dan Dion hanya menggelengkan kepala, selang beberapa detik ponsel Ardhan berbunyi menerima panggilan masuk dari Raka
Anak buah Ardhan mengatakan jika Ivan keluar dari rumah mengendarai mobil menuju luar kota
"Sepertinya kita akan menemukan Reyna" Kata Ardhan berjalan menuju mobilnya
***
"Aku harus segera menemui Reyna dan membawanya kabur dari sini" Kata Ivan yang terus menjalankan mobilnya
Ivan tidak menyadari jika dibelakang mobilnya diikuti beberapa anak buah Ardhan hingga saat berada di luar kota dan jalanan sepi dia menyadari jika 3 motor mengikutinya
"Siapa mereka?" Gumam Ivan panik
Ivan menambah kecepatan mobilnya dan menghindari anak buah Ardhan
"Kita dekati mobilnya, sepertinya dia sudah dasar jika kita mengikutinya. Gue akan menempelkan GPS ini di badan mobilnya" Kata Raka
Salah satu motor itu melaju kencang mendekati mobil Ivan dan menempelkan GPS tepat disebelah kanan badan mobil Ivan
Raka menghentikan motornya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Ardhan
Ivan yang merasa dirinya tidak diikuti sedikit menurunkan kecepatannya
"Untunglah mereka berhenti mengikuti ku" Kata Ivan
__ADS_1
***
Ardhan menerima pesan dari Raka yang memberi tahunya untuk mengikuti Ivan melalui GPS
Ardhan menyalakan monitor mobilnya dan memasukan beberapa password untuk masuk ke GPS yang sudah dipasang Raka di mobil Ivan
"Akhirnya..." Kata Ardhan
"Ada apa?"
"Kita ikuti kemana Ivan pergi, aku yakin dia akan menemui Reyna"
Aditya hanya mengangguk mendengar ucapan Ardhan, Aditya mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Rosa yang sedang bersama Dion
(Chatting)
_ _ _ _ _ _
^^^"Ikuti mobil Ardhan, dan jangan jauh-jauh^^^
^^^dari mobilnya"^^^
_ _ _ _ _ _
Ardhan menjalankan mobilnya mengikuti ara GPS, dan berhenti didekat rumah tua yang jauh dari kota
"Itu Ivan" Kata Ardhan
Tanpa menunggu lama Aditya turun dari mobil Ardhan
"Dit, lo mau kemana?"
*Anak ini benar-benar* batin Ardhan dengan menggelengkan kepala
Aditya berlari mendekati rumah tua itu dan memasukinya dengan hati-hati
Dion yang melihat Aditya yang berlari menuju ke rumah itu dengan Ardhan yang mengikutinya, membuat Dion bingung
*Sepertinya ini luar rencana* batin Dion
"Yon, Aditya dan senior kenapa mereka lari ke sana?"
"Sepertinya Aditya sudah tidak bisa menahan diri. Ros, tetaplah di sampingku dan pegang lenganku, jangan pernah lepaskan. Aku rasa didalam Ivan tidak sendiri." Kata Dion
Dion dan Rosa menyusul Aditya dan Ardhan yang sudah memasuki rumah itu
***
Kriet...
Aditya membuka pintu rumah tua itu dan masuk, saat beberapa langkah dari pintu pundaknya dipegang oleh seseorang
Aditya reflek ingin memukul orang itu, namun orang itu dapat menghindar dari pukulan Aditya dan menahan tangan Aditya
"Ardhan?" Gumam Aditya
"Lo mau menghancurkan teman lo sendiri?" Kata Ardhan sambil melepaskan tangan Aditya dari genggamannya
Aditya tidak menghiraukan ucapan Ardhan dan kembali berjalan, kaki Ardhan tidak sengaja menginjak sesuatu hingga menimbulkan suara
Aditya menoleh ke arah Ardhan yang hanya tersenyum menunjukan giginya
"Maaf tidak sengaja" Kata Ardhan
Belum sampai Aditya mengucapkan apapun, beberapa orang datang mengelilingi mereka
"M*mp*s, kita dikepung" Kata Ardhan sambil ketawa
Aditya tidak menghiraukan ucapan Ardhan dan hanya fokus ke beberapa orang yang mengepungnya
Pandangan Aditya terarah pada Ivan diujung tangga dengan Reyna di pelukannya
"Reyna?" Gumam Aditya
"Aditya, Ardhan kalian sangat kompak ya?" Kata Ivan sambil mengelus pipi Reyna, Reyna hanya diam dan melamun namun terlihat jelas air mata mengalir dari mata indahnya
"Br*ngs*k, lepaskan Reyna!" Teriak Ardhan
Ivan tersenyum dan menyuruh anak buahnya menghabisi Ardhan dan Aditya
Aditya dan Ardhan melawan anak buah Ivan, dalam waktu sebentar beberapa dari anak buah Ivan sudah tersungkur dan tidak kuat berdiri
"Lo urus Ivan dan bawa lari Reyna, biar gue urus mereka" Kata Ardhan tanpa memalingkan pandangannya
Aditya berjalan ke arah Ivan, Ivan meletakkan Reyna di atas sofa dekat tangga
Terlihat Ivan sedang mengeluarkan benda tajam dari sakunya dan berlari ke arah Aditya, Aditya segera menghindar dan menendang badan Ivan saat tepat didepannya
Dion dan Rosa masuk ke rumah tua itu dan melihat keadaan sudah mulai runyam.
"Ros, kamu tetaplah di belakangku dan jangan kemana-mana"
Dion membantu Ardhan melawan beberapa anak buah Ivan, Rosa memandang ke arah Reyna terduduk melamun dengan Ivan dan Aditya didepannya yang sibuk berkelahi
Hanya berjarak beberapa menit anak buah Ardhan datang dan membereskan anak buah Ivan
Ardhan berlari menaiki tangga dan hendak membantu Aditya namun langkahnya terhenti saat Aditya berada di dekapan Ivan dengan senjata tajam diarahkan ke leher Aditya
"Apa yang lo lakukan?!" Teriak Ardhan
Dion dan Rosa melihat ke arah Ardhan, melihat Aditya yang dalam bahaya
Aditya hanya diam dengan nafas ngos-ngosan, dan menendang kaki Ivan. Hingga Ivan tersungkur, Ardhan yang melihat itu langsung mendekap Ivan dan mengunci semua gerakan kaki dan tangannya
Kaki Ardhan diinjak dengan keras oleh Ivan sehingga dia reflek melepaskan badan Ivan, Ivan menendang perut Ardhan hingga tersungkur menahan sakit
Ivan terkekeh melihat Ardhan, pandanganya mengarah pada Aditya yang berlari ke arah Reyna
"Reyn, sadarlah ini saya. Kamu tidak perlu takut" Kata Aditya
Saat Aditya hendak membawa Reyna menuruni tangga, Aditya melihat ke arah Ivan yang berlari kearahnya dengan senjata tajam ditangan kanannya
"Aditya... Reyna..." Teriak Dion, Rosa, dan Ardhan bersamaan
Jrep...
Ivan tertawa puas dan melepaskan tangannya dari senjata tajam itu
Aditya hanya diam, kaki dan tangannya lemas. Tubuh Reyna terjatuh ke bawah lantai karena lepas dari genggaman Aditya
Tangan Aditya penuh dengan cairan merah segar yang keluar dari bagian perutnya
Dion, Rosa, dan Ardhan berlari ke arahnya, Reyna yang melihat hal itu meneteskan mata semakin deras mengetahui Aditya terluka
"Dit, dasar b*d*h kenapa lo tidak menghindar?" Teriak Ardhan sambil meletakkan kepala Aditya di pangkuannya
Ivan yang melihat Aditya terluka berlari keluar rumah hingga dia ditangkap oleh beberapa polisi yang sudah berada didepan rumah tua itu
"Apa yang kamu lakukan Dit?" Tanya Dion
"Saya tidak apa-ap.. apa yang pe...ting Reyna se...lamat" Kata Aditya dan mulai tidak sadarkan diri
"Hei Dit bangun!" Teriak Ardhan menepuk pipi Aditya
Dion mengecek denyut nadi Aditya yang semakin melemah
"Gawat, denyut nadinya melemah. Kita harus segera membawanya" Kata Dion
Ardhan bersama Dion membopong Aditya keluar dari rumah tua itu, Rosa berusaha menangkan Reyna yang masih menangis karena syok melihat Aditya
"Kita keluar ya Reyn, Aditya akan baik-baik saja. Kamu tenang saja"
Rosa membawa Reyna keluar dan menuju mobilnya, mobil Ardhan berjalan lebih dulu meninggalkan Rosa, Reyna, dan beberapa anak buahnya untuk menjaga Reyna dan Rosa hingga sampai rumah
*Adi, untuk kedua kalinya kamu menyelamatkanku* batin Reyna
.
.
.
.
Terus support author ya, berkat dukungan kalian author jadi tetap semangat🤗❤
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen. Author tunggu komen dari kalian xoxo❤❤❤