
.
.
.
.
-Di kantor-
"Permisi pak, saya mau mengingatkan jika 5 menit lagi tes wawancara untuk calon pegawai baru akan dimulai"
"Baik, kamu bisa kembali" Jawab Aditya yang berdiri dari duduknya sambil memakai kembali jasnya yang tersampir di kursinya.
Aditya berjalan keluar dari kantornya dan memasuki ruang interview, dimatanya terlihat 3 orang yang duduk dengan sikap gelisah kecuali 1 orang yang menarik perhatian Aditya.
*Dia sangat tenang sekali* batin Aditya
"Selamat pagi pak" Sapa sekertaris pak Gunawan
"Pagi"
-Setelah menikah dengan Keysa, pak Gunawan telah mengangkat pangkat Aditya yang dulunya manajer menjadi direktur menggantikannya. Serta hampir keseluruhan pekerjaan pak Gunawan diserahkan pada Aditya. Mengingat kondisi kesehatannya yang sering menurun.-
"Pak CEO tidak kemari?"
"Tidak pak, dalam interview kali ini beliau menyerahkan semuanya pada anda"
Aditya mengangguk dan duduk di kursi sambil mengecek beberapa berkas calon pegawai baru.
Setelah hampir 2 jam berada di ruang interview, satu persatu calon pegawai baru keluar dari ruangan.
"Saya akan memberi keputusan setelah 10 menit, sebelum itu jangan masuk ke ruangan ini terlebih dahulu" Kata Aditya pada sekertaris pak Gunawan tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang ada didepannya.
"Baik pak"
-Setelah 10 kemudian-
3 calon pegawai yang telah menunggu tadi, dipersilahkan untuk masuk kedalam ruangan.
"Saya sudah membaca berkas yang kalian masukkan ke dalam perusahaan, dan saya juga sudah melihat hasil tes selama ini serta hasil dari wawancara kalian tadi. Sebelumnya saya mau mengingatkan jika hanya 1 orang yang akan lolos diantara kalian bertiga." Kata Aditya sambil menutup berkas didepannya.
Kini mata Aditya menatap tajam kearah ketiga calon pegawai didepannya, tangan kanan Aditya memberikan 1 berkas pada sekertaris pak Gunawan. Dan memintanya untuk membacakan nama calon pegawai yang lolos.
"Felix Rahman" Kata sekertaris pak Gunawan
"Selamat anda lolos" Lanjutnya
Wajah tenangnya tidak menyiratkan kebahagiaan, namun terlihat dari matanya rasa syukur yang sangat tinggi.
"Selamat bergabung dengan kami" Kata Aditya mengulurkan tangannya dan diraih oleh Felix.
"Terima kasih pak" Jawab Felix
Aditya keluar dari ruangan itu meninggalkan sekertaris pak Gunawan bersama Felix dan 2 calon pegawai yang tidak lolos.
"Anda bisa bekerja besok, pak Aditya meminta anda menjadi sekertaris nya sekaligus asisten pribadinya" Kata sekertaris pak Gunawan
"Terima kasih" Jawab Felix
......................
Aditya melepas jasnya dan menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya, matanya melihat ke arah ponsel yang tidak terdapat notifikasi apapun kecuali dari pak Gunawan dan Dion.
"Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali?" Gumam Aditya
Aditya menekan nomer pak Gunawan dan menghubungi beliau.
(Panggilan terhubung)
__________
^^^"Selamat pagi pa, apa yang membuat^^^
^^^anda menghubungi saya?"^^^
"Apa kamu sudah memilih calon sekertaris
__ADS_1
dan asisten pribadimu?"
^^^"Sudah pa, saya baru kembali dari ruang interview"^^^
"Syukurlah, saya yakin dengan pilihanmu
dia pasti bukan orang yang biasa"
^^^"Iya pa terima kasih sudah mau^^^
^^^percaya dengan saya, anda tidak^^^
^^^perlu khawatir. Saya akan terus berusaha^^^
^^^untuk perusahaan ini."^^^
"Bagus"
^^^"Pa, Keysa dimana?"^^^
"Dia keluar tadi sekitar jam 8, apa dia
tidak menghubungimu?"
^^^"Tidak pa"^^^
"Coba kamu hubungi dia, dia tidak
bilang apapun pada papa"
^^^"Iya pa, nanti saya hubungi dia"^^^
^^^"Kalau begitu, anda istirahatlah. Terima^^^
^^^kasih atas waktunya"^^^
"Iya segera hubungi dia"
________
(Panggilan terputus)
(Dalam panggilan)
________
^^^"Ada apa Yon?"^^^
"Kamu sibuk? Bisa ke rumah sebentar?"
^^^"Apa ada masalah?"^^^
"Tidak, hanya saja ada hal yang perlu
kamu tahu"
^^^"Saya akan ke sana"^^^
"Oke aku tunggu"
________
(Panggilan terputus)
*Aku coba hubungi Keysa sambil kembali ke rumah saja, sebenarnya dia kemana?* batin Aditya
Aditya meraih jasnya dan mengenakannya, lalu berjalan menuju pintu ruangannya. Saat hendak melangkah keluar dari ruangannya langkah Aditya terhenti melihat sekertaris pak Gunawan yang hendak mengetuk pintu ruangannya.
"Maaf pak"
"Ada apa?" Tanya Aditya ketus
"Saya ingin memberikan berkas yang harus anda tanda tangani"
"Letakkan di meja saya, nanti akan saya lihat. Jika ada yang mencari saya bilang saja saya tidak ada ditempat"
"Baik pak"
__ADS_1
Aditya berjalan meninggalkan sekertaris pak Gunawan dengan langkah sedikit cepat, tangan Aditya menekan tombol lift untuk turun ke lantai dasar.
Aditya bergegas menaiki mobilnya, didalam mobil dia sibuk menghubungi istri yang tidak juga menjawab panggilan darinya.
"Sebenarnya dia dimana?" Kata Aditya dengan geram.
Aditya menambah kecepatan mobilnya, dan sampai di depan rumahnya.
Dion yang sadar akan kedatangan Aditya membalikkan punggungnya dan melihat ke arah Aditya.
Mata Aditya tertuju pada kotak yang dipegang oleh tangan Dion.
"Akhirnya kamu sampai juga" Kata Dion mendekati Aditya
"Ada apa kamu meminta saya kemari?" Tanya Aditya
Tanpa menjawab Dion memberikan kotak yang ada ditangannya pada Aditya, Aditya melihat kotak itu dan melihat isi dari kotak itu.
"Pegawai ku tidak sengaja menemukan kotak itu saat merenovasi kamar nenekmu"
Aditya melihat isi kotak itu dengan diam tidak menghiraukan ucapan Dion.
-Sebuah bingkai foto, kotak merah kecil berisi 2 cincin, dan selembar surat-
Aditya membalikkan bingkai itu dan melihat foto ibu beserta neneknya beserta laki-laki dan anak perempuan yang tidak asing baginya.
"Siapa mereka berdua?" Gumam Aditya
Aditya meraih selembar surat yang ada didalam kotak itu, dan membacanya.
..._ _ _ _ _...
...Aditya,...
...Nenek yakin, suatu saat nanti kamu akan menemukan kotak ini. Nenek harap kamu tidak akan merasa kecewa dan sakit hati, mungkin saat kamu membaca surat ini umurmu sudah cukup untuk mengetahui siapa ayah dan saudaramu. Nenek dan ibumu sengaja tidak pernah memberitahumu kenyataan ini, jika kamu sudah mengetahuinya. Carilah mereka berdua, ayah dan saudaramu....
...Nenek,...
..._ _ _ _ _...
Dion melihat Aditya yang tambah lemas dan bingung, tangan Aditya meraih kotak cincin yang masih didalam kotak. Tangannya sibuk melihat kedua cincin itu, di satu cincin terdapat nama ibunya dan di cincin yang lain bertuliskan nama "Rai".
"Rai?" Kata Aditya
*Apa dia nama ayahku?* batin Aditya
"Dit, kamu tidak apa-apa?" Tanya Dion sambil menepuk pundak Aditya dengan pelan.
Aditya hanya menatap Dion sebentar, lalu berdiri dari duduknya dan masuk kedalam rumah tanpa mengatakan apapun.
Dion yang melihat hal itu langsung mengejar Aditya yang sudah memasuki kamar neneknya.
Tangan Aditya sibuk mencari-cari diarea kamar neneknya, bahkan sebagian barang yang sudah pegawai Dion bereskan juga ikut Aditya bongkar.
"Apa yang kamu cari?" Tanya Dion mendekati Aditya
"Bukti lain, saya ingin tahu apa benar ayah dan saudara saya masih hidup"
Dion yang mengerti ucapan Aditya langsung membantunya mencari sesuatu yang dapat menjadi bukti untuk Aditya.
Tangan Aditya berhenti saat mendapati sebuah amplop kertas berwarna coklat, Aditya membuka amplop itu dan melihat ada 2 lembar dokumen berupa akte kelahiran dengan nama "Laura Parveen Candra", nama yang tidak asing lagi bagi Aditya dan benar nama ibu dari anak itu adalah nama ibunya, bahkan nama ayah dari anak itu sama seperti nama yang ada di ukiran cincin. Belum puas dengan hal itu Aditya membaca dokumen satunya berupa kartu keluarga yang mencantumkan nama neneknya, ibunya, nama wanita di akte kelahiran, nama seorang laki-laki yang diyakini ayahnya, serta 1 nama seorang wanita yang merupakan ibu dari laki-laki itu.
"Saya harus mencari mereka kemana?" Gumam Aditya
.
.
.
.
Terus support author ya, author harap cerita ini dapat menghibur kalian🤗❤
Dan author ingin meminta maaf karena keterlambatan update chapter baru dikarenakan beberapa sebab yang tidak bisa author katakan🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤
__ADS_1