
.
.
.
.
-Pukul 19.00-
"Kakak"
Ivan melihat ke arah Reyna yang melambaikan tangannya
Ivan tersenyum dan menghampiri Reyna
"Sudah menunggu lama?"
"Wajah kakak kenapa?" Berdiri dari duduknya dan memegang wajah Ivan yang memar
"Sakit, tidak apa-apa hanya ada masalah sedikit tadi"
Ivan memegang pundak Reyna dengan kedua tangannya dan menyuruhnya duduk kembali
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir ya"
"Baiklah, urusan kakak sudah selesai?"
"Sudah, maaf ya membuatmu menunggu" Sambil mengelus rambut Reyna
Reyna dan Ivan menikmati keindahan malam di lantai atas restoran sambil berpegangan tangan
Selang beberapa menit makanan mereka dan datang, Reyna terlihat lahap menyantap makanannya
Ivan tersenyum ke arah Reyna
"Auu kakak" Teriak Reyna
Ivan tertawa melihat pipi Reyna yang penuh makanan
"Kenapa kakak mencubit pipiku?"
"Pipimu menggemaskan, habiskan makanan yang ada di mulutmu baru ambil sesuap lagi. Jangan masih penuh kamu suapi terus" Kata Ivan sambil tertawa
Reyna hanya memanyunkan bibir dan melanjutkan makannya
Setelah makan Reyna dan Ivan berjalan santai menikmati angin malam di taman kota
Dan duduk di salah satu kursi di tengah taman
"Sayang tunggu disini, aku mau ke toilet sebentar"
"Iya kak, hati-hati"
Ivan berjalan meninggalkan Reyna, Ivan menuju ke mobilnya dan mengambil sebotol air mineral
Ivan mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan memasukkannya pada minuman itu, dia menengok ke segala arah dan menutup kembali pintu mobilnya
*Sebentar lagi kamu milikku seutuhnya* batin Ivan
Ivan berjalan menghampiri Reyna yang sedang memainkan ponselnya
"Sayang kita ke tempat lain yuk" Kata Ivan meraih tangan Reyna
"Kemana kak?
"Ayo ikut saja"
Ivan mengajak Reyna masuk ke dalam mobil, dan meraih botol air mineral di bangku belakang
"Minum dulu siapa tau kamu haus"
"Makasih kak, kakak tahu saja"
Reyna meminum air mineral yang diberikan Ivan, wajah Ivan tersenyum penuh harap
Setelah meminum air itu, sesaat badan Reyna merasa panas dan gelisah.
Kesadarannya mulai sedikit pudar, tangannya sibuk menggosok kaki dan tangannya bergantian bahkan dia berusaha melepas outer yang dikenakannya
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Ivan sambil tersenyum puas
"Kak badanku panas sekali..."
"Sabar ya sayang, sebentar lagi aku akan menenangkan mu"
Ivan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menghentikannya didepan villa yang letaknya dipinggiran kota
Ivan membopong badan Reyna dan menjatuhkannya di atas kasur
Ivan melepas kemejanya dan mendekati Reyna
*Akhirnya malam yang aku nantikan selama ini datang Reyna sayang* batin Ivan
Ivan menaruh ponselnya ke sisi lain meja dengan keadaan kamera menyala dan melangkahkan kakinya mendekati tubuh Reyna dan...
***
"Yon makan dulu"
"Dit, aku tidur disini ya? Aku malas di rumah, bapak ku masih di luar kota"
"Bilang saja kamu takut" Kata Aditya sambil mengunyah makanannya
Dion tau Aditya sedang ingin bercanda padanya namun tidak tahu cara bercanda yang benar, belum lama mereka menyantap makanan pintu rumah Aditya digedor dengan keras.
Aditya dan Dion saling tatap dan berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang
"Aditya"
"Bu Melati? Ada apa bu?" Tanya Aditya
"Reyna ada disini?"
"Reyna?" Aditya menatap Dion karena dari sore dia yang ada di rumah Aditya, sedangkan Aditya baru saja pulang dari restoran
"Reyna tidak kemari tante, dari tadi saya disini" Jawab Dion
"Saya baru pulang dari kerja bu"
"Dimana dia tidak biasanya dia keluar pulang semalam ini tanpa bilang, tante tidak tahu harus mencarinya kemana. Dia hanya pamit akan keluar bersama Ivan namun sampai sekarang belum juga pulang, bahkan ponselnya tidak dapat dihubungi, tante juga sudah berusaha menghubungi Ivan tapi tidak ada jawaban juga."
Drt...Drt...Drt...
Ponsel Dion berbunyi, Dion melihat ke arah layar ponselnya terlihat nama Rosa yang meneleponnya
(Panggilan terhubung)
__ADS_1
_______
"Dimana Yon?"
^^^"Di rumah Aditya, kamu tahu Reyna^^^
^^^dimana?"^^^
"Aku juga ingin menanyakannya
padamu"
^^^"Kamu dimana? Aku jemput ayo cari^^^
^^^Reyna bersama"^^^
"Di rumah, aku tunggu"
_______
(Panggilan terputus)
"Siapa Yon?" Tanya Aditya
"Rosa, Dit kita cari Reyna sekarang. Kamu tolong coba hubungi Ivan"
Aditya mengangguk dan masuk untuk mengambil jaketnya
"Ibu disini saja, biar saya dan Dion yang mencari Reyna. Jika ada informasi sekecil apapun saya akan menghubungi anda" kata Aditya dan berjalan meninggalkan mama Reyna duduk di ruang tamu sambil menangis
*Apa aku gunakan dulu sementara mobil pak Gunawan?* batin Aditya
Aditya berlari ke kamar dan mengambil kunci mobil di atas meja
"Yon" Aditya melempar kunci mobilnya pada Dion
Dion mengangguk dan membuka kunci mobil, mereka menuju rumah Rosa untuk menjemputnya.
Terlihat dari jauh Rosa sudah menunggu di depan rumah
"Ros kamu sudah mencoba menghubungi teman Reyna?" Tanya Aditya
"Sudah, bahkan aku sudah menghubungi Ivan tapi tidak diangkat"
*Aneh kenapa Ivan tidak bisa dihubungi saat ini* batin Aditya
Dion menjalankan mobil Aditya untuk menyusuri jalanan kota dan mengecek beberapa cafe yang masih buka.
"Ros?" Tanya Aditya
Dion dan rosa menoleh ke arah Aditya
"Apa kamu menyimpan alamat email Reyna?"
"Iya Dit, kebetulan Reyna kemarin login melalui ponselku"
"Boleh saya pinjam?"
Rosa memberikan ponselnya pada Aditya, beberapa menit Aditya diam dan terlihat mengotak-atik ponsel Rosa hingga dia menyuruh Dion menjalankan mobil menuju daerah pinggir kota
"Dit, apa kamu yakin Reyna ada di sana?" Tanya Dion
"Iya saya yakin, tadi sore Ardhan ke restoran menemui saya dan mengatakan sesuatu"
"Apa yang Ardhan katakan padamu?" Tanya Dion
Mereka sudah sampai dipinggiran kota, terlihat bentangan perkebunan dengan rumah yang terletak sangat berjauhan
*Titik GPS berhenti disini harusnya Reyna tidak jauh dari sini* batin Aditya
"Kita turun"
Mereka menuruni mobil dan melihat ke segala arah
"Kamu yakin Reyna disini Dit?" Tanya Rosa
"Hmm, hanya ini jalan satu-satunya untuk menemukan Reyna. Kita cari dulu"
Aditya berjalan ke arah depan dan melihat sebuah villa yang megah namun sepi
"Yon" Panggil Aditya sambil menunjuk ke arah villa itu
"Daerah ini hanya dikeliling i perkebunan dan villa itu satu-satunya bangunan disini, selain itu bangunan ada di ujung jalan besar sana" Kata Dion
"Kita masuk ke sana, tapi tetap hati-hati"
Mereka bertiga memasuki halaman villa dengan keadaan pintu gerbang tidak terkunci, Aditya berjalan mendekati pintu utama villa dan berusaha membukanya namun terkunci dari dalam
"Dit, Yon" Panggil Rosa
Rosa tampak mematung dengan tangan menunjuk ke arah samping villa
*Apa yang Ivan lakukan dengan Reyna di tempat sepi seperti ini?* batin Rosa
Aditya dan Dion mendekati Rosa dan melihat apa yang Rosa lihat
"Itu mobil Ivan" Kata Rosa
"Berarti mereka ada didalam, sedang apa mereka disini malam-malam?" Kata Dion
Aditya hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan Dion, dia tampak berpikir. Pandanganya mengarah ke pintu villa itu
*Tidak mungkin jika Reyna mau diajak Ivan ke tempat sepi seperti ini, kecuali jika...* batin Aditya
Seketika Aditya ingat dengan pesan Ardhan sore tadi, dan berlari menuju pintu utama. Aditya menendang pintu itu dengan keras hingga terbuka
"Dit, apa yang kamu lakukan?" Tanya Dion dengan nada terkejut melihat sikap Aditya
Rosa tidak mengucapkan apapun yang ada dipikirannya hanya bagaimana keadaan Reyna
Rosa dan Dion menghampiri Aditya yang langsung masuk ke dalam villa itu tanpa permisi
Aditya melihat sekeliling villa itu dari ruang utama, ada salah satu kamar dengan lampu yang menyala walaupun tidak terang.
*Hanya ruangan itu yang terang, apa mereka di sana?* batin Aditya
Aditya berjalan dengan hati-hati ke arah kamar itu dan mendengar suara yang asing ditelinga nya, wajahnya berubah ketika mendengar jelas suara Reyna
Dion dan Rosa menyusul ke arah Aditya pergi, dan melihat Aditya berdiri didepan pintu dengan wajah memandang ke arah lain
"Apa ini? Tapi mereka didalam, dan Reyna..." Gumam Aditya (Mendengar rintihan Reyna yang kesakitan)
Rosa memandang ke arah Aditya yang menunjukan ekspresi kebingungan
*Kalian sedang apa didalam? Reyn, apa yang sudah kamu perbuat?* batin Rosa dengan mata sudah memerah dan siap mengeluarkan air mata
**Kenapa bisa seperti ini? A*pa yang mereka lakukan* batin Dion
__ADS_1
"Dit? Kamu dengar?" Tanya Dion
"Hmm, saya dengar"
Dion menghadap ke arah lain dan menjauhi ruangan itu, Aditya melangkahkan kakinya mundur dan menggelengkan kepala
"Kita harus bagaimana? Ini bukan urusan kita" Kata Rosa menahan kecewa
Au sakit, a aku mohon janga an kak...
Suara Reyna terdengar jelas ditelinga mereka bertiga, bukan hanya Aditya yang mendengarnya saat di depan pintu tadi namun Rosa dan Dion juga mendengarkan suara itu
"Reyna?" Kata Rosa sambil melihat ke arah pintu ruangan yang tertutup
Rosa melihat ke arah Aditya dan Dion yang hanya diam tanpa melakukan apapun
"Dit, Yon. Tolong selamatkan Reyna, aku tahu persis ketika dia menangis, dan tadi suara dia ketika menangis. Dia pasti dalam bahaya." Kata Rosa memegang dan menggoyangkan tangan Aditya dengan memohon
Aditya dan Dion tampak berpikir keras
"Kita harus bagaimana ini? Tidak mungkin kita langsung masuk, kamu paham maksudku kan Dit?" Kata Dion menggaruk kepalanya frustasi
"Saya akan mendobrak pintu ruangan itu, saya dan Dion akan menutup mata sampai Reyna aman bersamamu Ros, Rosa tolong kamu segera lindungi Reyna jaga dia. Sebelum Reyna aman, jangan membuka mata terlebih dahulu Yon. Biar masalah Ivan saya yang urus bersama Dion diluar ruangan" Kata Aditya
"Yon, jangan melihat ke arah lain saat membuka mata cukup fokus ke Ivan" Sambung Aditya dengan menatap Dion
Dion dan Rosa mengangguk mendengar ucapan Aditya
Aditya menarik nafas dalam-dalam, di dalam dirinya ada rasa ragu dan takut namun dia harus segera menyelamatkan Reyna, dia berharap apa yang dia dengar bersama kedua temannya salah
Brak...
Rosa masuk ke dalam ruangan itu dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat Ivan dan menghampiri Reyna, Ivan terkejut melihat Aditya berdiri di depan pintu dengan mata tertutup, dia melompat dari ranjang tempatnya terbaring dan berlari keluar dari ruangan
Aditya yang sadar jika Ivan berlari melewatinya yang sedang menutup mata, kemudian membalikkan badan dan menarik paksa Ivan saat hendak berlari menuruni tangga dan memberinya beberapa kali bogem diwajahnya.
"Reyn, kamu aman bersamaku. Tolong sadarlah!" Teriak Rosa sambil membaluti tubuh Reyna dengan selimut
Diluar ruangan terlihat Aditya memukuli Ivan habis-habisan, Dion tidak bisa berbuat apa-apa bahkan yang dilakukan Aditya sudah benar.
"Apa yang anda lakukan pada Reyna?!" Teriak Aditya marah
"Hahaha, kamu tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang ini dia milikku seutuhnya" Sahut Ivan dengan menahan sakit
"Dasar laki-laki gila!!"
*Baru kali ini aku melihat Aditya marah sampai seperti ini* batin Dion
"Kalian tidak bisa berbuat apa-apa, Reyna adalah milikku seutuhnya, hahaha"
Aditya memukuli wajah dan badan Ivan berkali-kali, hingga Ivan jatuh pingsan
Dion yang melihat Ivan sudah tidak berdaya lagi menarik Aditya menjauh dari Ivan
"Dit, cukup Dit. Dia sudah pingsan"
Aditya memandang ke arah Dion tajam, Dion memalingkan wajahnya melihat tatapan mata Aditya yang siap menerkamnya. Dion menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha sedikit tenang
"Tolong, dengarkan ucapan ku. Kalau kamu memukulinya terus, dia bisa mati Dit" Kata Dion
Aditya melepaskan bahunya dari pegangan Dion dengan kasar dan memandang ke arah Ivan yang masih belum sadarkan diri
*Aku kira kamu laki-laki baik, tapi kamu jauh dari perkiraan ku. Kamu berani menghancurkan hidup wanita yang menyayangimu sepenuh hati* batin Aditya
"Dit, Yon, gawat. Reyna tidak sadarkan diri, sepertinya tubuhnya dipengaruhi obat"
Aditya dan Dion menoleh ke arah ruangan depan mereka mendengar Rosa berteriak memanggil mereka
"Setelah ini kita bawa ke rumah sakit dekat sini, pakaiannya sudah terpakai?" Kata Aditya
"Sudah Dit" Kata Rosa
"Yon buka pintu mobil. Ros bantu saya membawanya"
Dion berlari untuk mengambil mobil, Aditya dan Rosa membopong Reyna dan membawanya keluar dari villa meninggalkan Ivan sendirian
Sesampainya di rumah sakit Rosa, Aditya, dan Dion hanya duduk putus asa. Mereka telat menolong Reyna, perasaan bersalah muncul di hati mereka bertiga
Saat dokter memberitahu obat yang mempengaruhi kesadaran Reyna, tiba-tiba Reyna tersadar dan melihat ke arah ketiga temannya
"Reyn, kamu tidak apa-apa?" Tanya Rosa
Reyna hanya diam dan menangis, Reyna masih mengingat saat Ivan melakukan itu padanya. Bahkan saat itu setengah kesadarannya masih ada, namun badannya terasa panas dan gelisah tidak beraturan.
Rosa memeluk Reyna, Aditya hanya memalingkan pandanganya ke arah lain karena tidak tega melihat Reyna. Dion hanya diam dan tidak mengucapkan apapun
Saat perjalanan pun mereka hanya diam, terlihat Reyna sangat terpukul menerima kenyataan
Mobil berhenti didepan rumah Aditya, dan mama Reyna sudah berjalan keluar menghampiri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang keluar dari mobil
Hingga Aditya memberanikan diri untuk keluar lebih dulu
"Bu, maafin saya. Saya tidak bisa menjaga Reyna, saya telat menyelamatkannya. Maafin saya" Kata Aditya dengan menundukkan kepala
Mama Reyna yang mendengar ucapan Aditya langsung membuka pintu mobil dan melihat Reyna dalam pelukan Rosa duduk dengan pandangan kosong
"Reyn, kamu kenapa sayang? Ini mama lihatlah kemari ini mama" Kata Melati menggoyang-goyangkan badan Reyna
Rosa membantu Reyna masuk ke dalam rumah Aditya dengan air mata yang tidak hentinya keluar
Mama Reyna hanya duduk terpukul melihat putrinya seperti itu, hingga Rosa keluar dari kamar Aditya dan menghampiri mama Reyna
"Kami minta maaf tante, kami telat menolong Reyna" Kata Rosa duduk dilantai dan menghadap mama Reyna
Mama Reyna menanyakan apa yang terjadi dan Rosa menceritakan semua yang Reyna alami, terlihat jelas di wajah mama Reyna kesedihan, kemarahan, kecewa, perasaan menyesal bercampur jadi satu
Mama Reyna menghampiri Reyna di kamar Aditya yang tengah tertidur, dipeluknya putri semata wayangnya itu. Rosa menangis melihat sahabatnya merasakan hal pedih itu
Di rumah tamu Aditya hanya duduk terdiam dan menundukkan kepala, Dion menghampiri Aditya dan duduk disebelahnya
"Dit.."
"Ini semua salah saya Yon, Ardhan sudah memperingatkan saya tadi sore. Tapi saya hanya diam dan tidak memberitahu Reyna, saya tidak tahu akan terjadi hal seperti ini" Ucap Aditya dengan nada lemah
"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi Dit, kita sudah berusaha. Tapi takdir sudah menentukan, kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain semakin hati-hati kedepannya"
Aditya hanya diam, Dion merangkul pundak Aditya dan hanya membuang nafas berat.
.
.
.
.
Terus support author ya, berkat dukungan kalian author jadi tetap semangat🤗❤
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤