
.
.
.
.
.
Keysa hanya terdiam dan melamun di balkon kamar, selama satu minggu ini dia dibuat jengkel dengan Aditya. Angin malam yang menerpa piyamanya terasa menusuk kedalam tulang, dia enggan untuk masuk ke kamar. Entah apa yang membuat hatinya dalam dilema besar.
"Aku harus berbicara dengan papa besok"
Keysa merasa tidak kuat lagi karena kedinginan masuk ke kamar, untuk bersiap tidur. Di tempat lain Aditya terlihat sibuk dengan beberapa bukunya, tanpa merasa ada seseorang yang sedang memikirkannya.
-Keesokan harinya-
Tet...tett...tettt....
"Ayo masuk, keburu telat." Kata Keysa kepada Zahwa dan Tia
"Tumben mau masuk tepat waktu Key." Jawab Tia
"Gue lagi males ngapa-ngapain." Terang Keysa sambil berjalan meninggalkan Kedua temannya
"Hah? Kenapa tuh si Keysa, baru kali ini dia begitu." Kata Zahwa ke Tia yang dibalas dengan mengangkat bahu oleh Tia
-Jam sekolah selesai-
"Dit, mau pulang bareng?" Tanya Dion yang melihat Aditya celingak-celinguk mencari angkot.
"Tidak usah." Jawab singkat Aditya
"Udahlah ayo pulang bareng." Ajak Dion sambil menarik tangan Aditya
Aditya yang pasrah dengan perlakuan temannya pun ikut, digayuh sepeda itu dengan kencang oleh Dion. Aditya hanya diam mendengarkan setiap ocehan Dion yang terasa tidak penting ditelinga Aditya. Dion yang menghentikan sepedanya di depan gerobak siomay, Aditya menurunkan satu alisnya.
"Yon saya sudah telat kerja." Jelas Aditya yang melihat Dion turun dari sepeda.
"Tenang dit, kita makan bentar habis ini ku antar kau ke tempat kerjamu. Bagaimana kamu mau bekerja kalau perutmu bunyi?" Jawab Dion sambil menunjuk perut Aditya dan terkekeh.
Dion menyadari perut Aditya bunyi selama perjalanan tadi, dia hanya diam tanpa memberitahu Aditya. Aditya yang tahu bahwa Dion mendengar suara perutnya merasa malu. Dion memesan dua porsi siomay, untuknya dan Aditya. Setelah selesai makan, Dion membayar siomay itu dan melanjutkan perjalannya untuk mengantar Aditya kerja. Walaupun Aditya seseorang yang diam, dia sering curhat dengan kata singkat ke Dion. Dion mengerti bahwa temannya ini memang tidak terbiasa berbicara panjang, bahkan baru pertama kali Dion merasa nyaman berteman dengan Aditya yang bisa memahami dirinya walaupun cuek.
"Nah dah sampai." Kata Dion
"Makasih Yon." Sahut Aditya sambil turun dari sepeda
"Santai bro, mulai besok berangkatlah denganku rumah kita searah. Aku juga bisa mengantarkan mu bekerja." Jelas Dion.
Dion sering menarik paksa Aditya pulang bersamanya. Bahkan dia tau rumah Aditya setelah kerja kelompok di rumah Rosa.
"Terima kasih, besok aku tunggu didepan gang rumahku." Jawab Aditya
"Sudah masuklah, sebelum bos mu datang." Perintah Dion yang mendorong Aditya supaya masuk.
*Beruntung Dit aku punya teman sepertimu, aku belajar banyak darimu* batin Dion
*Dion memang teman yang baik, tidak salah aku bergaul dengannya* batin Aditya
-Di dalam restoran-
Aditya yang terlihat membereskan meja dan mengepel lantai restoran, tidak merasakan bahwa dirinya diperhatikan oleh seseorang disudut restoran.
"Aku harus berbicara padanya." Kata seseorang itu.
Dia pun menghampiri Aditya yang tengah bekerja, Aditya yang menyadari ada seseorang yang menghampirinya. Berbicara sopan agar tidak melewati lantai yang basar. Tetapi....
Aaaaa.... Teriak seseorang yang menghampiri Aditya.
"Saya sudah memberitahu anda, tapi anda tidak mendengarkan saya." Kata Aditya ketus
"Sebelum bicara tolonglah gue dulu, memang ya lo ini terbuat dari apa sih?" Jawab Keysa
(Iya seseorang yang memandangi Aditya adalah Keysa)
Jatuhnya Keysa membuat pekerja restoran kaget, meraka tau kalau itu putri pemilik restoran ini. Dan ingin rasanya mereka bilang ke Aditya yang bersikap ketus ke Keysa. Bahkan setelah menolong Keysa Aditya tidak memperhatikannya melainkan terus melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena Keysa. Semua pekerja menepuk dahi mereka, melihat sikap Aditya pada Keysa. Hal tersebut membuat Keysa kesal dan mengurungkan diri untuk berbicara pada Aditya.
"Mending gue balik saja, nyesel gue kesini." Gumam Keysa yang menahan malu.
Baru saja keluar dari pintu restoran, tubuh Keysa ditabrak oleh seseorang yang tidak dia kenal. Keysa hanya mengerutkan dahinya melihat seseorang itu, seseorang itu pun memandangi Keysa dengan perasaan bersalah.
"Aa... Maaf maaf saya tidak sengaja, apa anda baik-baik saja?" Tanya laki-laki itu
"It's okay." Jawab Keysa sambil merapikan pakaiannya.
"Ivan, nama anda siapa?" Tanya Ivan sambil mengulurkan tangannya
"Keysa." Jawab Keysa sambil menjabat tangan Ivan.
"Saya duluan, sekali lagi maaf." Sahut Ivan
Ivan meninggalkan Keysa yang masih sibuk merapikan rambutnya, masuk ke restoran. Ivan memesan beberapa makanan, dan seperti menunggu seseorang.
*Kenapa dia tidak menjawab pesanku, apa dia sudah dijalan?* batin Ivan
Dari sisi restoran Aditya sibuk merapikan piring-piring kotor, dan mengelap meja. Pandangannya terarah dari pintu yang dibuka seorang gadis yang dia kenal.
*Reyna???*
Aditya hanya memandangnya sambil bertanya sedang apa dia datang dengan buru-buru, Reyna menghampiri Ivan yang duduk disisi lain Restoran.
"Maaf kak aku telat, apa kakak sudah lama disini?" Tanya Reyna
"Tidak aku baru datang sekitar 10 menit yang lalu" Sambil melihat kearah jam tangan.
"Kakak sudah pesan makanan?"
"Sudah barusan, sesuai yang kamu suka."
Reyna yang memandang ke arah lain restoran tidak sengaja melihat kearah Aditya yang sedang membersihkan meja. Tanpa banyak berfikir Reyna menghampiri Aditya, dan membuat Ivan terkejut melihat Reyna tiba-tiba berdiri.
"Adi..." Panggil Reyna
Aditya yang kenal dengan suara itu langsung menoleh.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Aditya ketus
"Kamu kerja disini? Aditya yang dingin anak yang rajin ya ternyata."
"Seperti yang kamu lihat."
Dari kejauhan Ivan segera menghampiri Reyna yang terlihat akrab dengan Aditya, belum juga Reyna menjawab ucapan Aditya tangannya dipegang oleh Ivan.
"Apa yang kamu lakukan? Makanan kita sudah datang, ayo makan."
Reyna yang terkejut dengan kedatangan Ivan hanya bisa diam dan pasrah tanpa sempat menjawab Reyna sudah ditarik Ivan. Aditya yang melihat itu hanya acuh dan melanjutkan pekerjaannya.
"Dia teman ku kak, lagian kakak belum ku kenalkan dengannya sudah mengajakku pergi saja." Protes Reyna
"Keburu makanan mu dingin, ayo makanlah dulu." Jawab Ivan
Reyna memanyunkan bibirnya, membuat Ivan terkekeh. Tanpa menunggu Ivan merayunya, Reyna sudah melahap makanannya duluan.
-20 menit kemudian-
"Kenyang nya perutku, makasih ya kak untuk makanannya." Kata Reyna
"Sekarang giliran mu menjawab tawaranku kemarin." Pinta Ivan dengan penuh harap
"Kak, Reyna baru juga kelas 2 SMP. Bahkan Reyna tidak tahu apa itu pacaran." Jawab Reyna dengan polos
Ivan yang menahan kecewa tidak bisa mengontrol ekspresinya.
"Yasudah kalau begitu kita pulang sekarang, mau aku antar?"
"Tidak perlu kak, pak Asep sudah menunggu didepan. Sekali lagi makasih banyak untuk makanannya, maaf kalau belum bisa jadi pacar kakak...."
Belum juga kalimat Reyna terselesaikan, Aditya muncul dari padangan Reyna. Yang membuat Reyna memanggil nama Aditya lagi didepan Ivan, Ivan yang melihat hal itu merasa kesal.
"Adi.... Sini cepat (Aditya yang mendengar panggilan Reyna hanya berjalan pasrah kearahnya), kenalkan ini Kak Ivan temanku dari kecil." Jelas Reyna
"Salam kenal, Ivan." Sahut Ivan dengan mengulurkan tangannya
Dengan terpaksa Aditya menerima tangan Ivan, dan berkata...
"Aditya."
Membuat Ivan penasaran, Aditya itu orang seperti apa yang membuat Reyna sangat antusias dengan dirinya.
"Aku lanjut kerja dulu." Sambung Aditya
"Okay, semangat Adi..." Teriak Reyna
Dan membuat Aditya menggelengkan kepala melihat perlakuan temannya itu.
*Sangat merepotkan*
Ivan mengajak Reyna keluar dari restoran untuk pulang, didepan restoran pak Asep supir pribadi Reyna sudah menunggu.
"Kak aku pulang dulu ya, makasih banyak." Kata Reyna sambil melambaikan tangan ke Ivan
"Hati-hati, chat kalau sudah di rumah."
Dijawab anggukan kepala oleh Reyna.
-Pukul 21.00-
Aditya yang bergegas pulang sebelum semakin malam, langkahnya terhenti karena dihadang oleh Ivan.
"Ada yang ingin saya tanyakan pada anda." Kata Ivan
"Silahkan"
Apa hubungan anda dengan Reyna?"
"Teman"
"Teman? Teman tapi sedekat itu?" Ivan mulai menghakimi Aditya
"Jika anda sudah selesai, saya permisi." Sahut Aditya
Aditya berjalan meninggalkan Ivan, tapi lagi-lagi langkahnya dihentikan untuk kedua kalinya oleh Ivan.
"Siapa sebenarnya anda? Sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya Ivan
"Bukan urusan anda saya siapa"
"Anda sombong sekali ya? Okay, kalau anda tidak mau menjawab. Kedepannya tolong jauhi Reyna!"
"Oh" Jawab Aditya singkat dengan terus berjalan meninggal Ivan
*ADITYA, aku yakin kalau pernah bertemu dengannya sebelumnya*
Ivan meninggal halaman restoran dengan perasaan kesal dan bertanya-tanya siapa Aditya itu sebarnya. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang, atau memang Ivan pernah bertemu dengan Aditya sebelumnya.
-Aditya POV-
"Apa yang harus aku lakukan? Hari ini benar-benar merepotkan."
Aku bejalan menyusuri jalan kota yang mulai sepi, menjelang larut.
"Aku mampir ke mini market dulu, sebelum pulang. Sepertinya aku harus memberi si Dion makanan besok."
Aku memilih beberapa bahan makanan untuk kebutuhanku selama seminggu, setelah selesai memilih belanjaan. Aku segera ke kasir sebelum semakin larut...
"Ingin menambah barang kak? Roti S nya kak ada diskon 70% untuk 1 ini, atau pulsanya sekalian kak?" Tanya mbak kasir
"Rotinya 5 mbak" Jawabku
*Besok bisa ku kasihkan teman-temanku, giliran biasanya mereka yang membelikan ku makanan*
"Total 53.000 kak." Kata mbak kasir
Setelah membayar aku berjalan sedikit lebih cepat karena sudah semakin larut, jalanan mulai sepi pejalan kaki bahkan kendaraan sudah tidak sepadat biasanya.
"Sepertinya aku harus lebih banyak menabung, untuk membeli sepeda."
"Aku harus bekerja sampingan untuk menghasilkan uang, melihat kebutuhanku sekarang bertambah harus membayar biaya sekolah juga. Aku tidak bisa bergantung pada pak Gunawan terus."
Setelah 30 menit berjalan aku sampai di rumah, aku simpan barang yang sempat aku beli tadi. Setelah membersihkan badan aku, membuka sebentar buku pelajaran ku sebelum tidur.
__ADS_1
Tok... tokk.... tokkk
Suara pintu rumahku diketuk seseorang.
*Tengah malam seperti ini siapa yang datang ya?* Tanyaku dalam hati
"Siapa?"
"Pak Ucup, ada apa pak?" Tanyaku lagi
(Pak Ucup, Hansip di kampung ku)
"Sebelumnya maaf dit, saya menganggu istirahatmu. Dari tadi sore saya datang ke rumahmu tapi masih sepi, tanpa sengaja saya melihat mu baru pulang jadi saya kesini. Saya mau menyampaikan pesan pak RT. Kalau kamu mau, kamu bisa menemani saya setiap hari sabtu malam untuk berjaga. Karena pak Mamat besok pindah rumah, dan tidak ada gantinya. Setiap 1 bulannya kamu akan dikasih uang bayaran 100ribu kamu mau?" Jelas pak Ucup.
"Boleh pak, saya mau."
"Baiklah besok saya sampaikan ke pak RT, kita mulai tugas bareng sabtu ini."
"Baik pak, terima kasih."
"Saya pamit dulu, kamu istirahatlah" Pamit pak Ucup
Setelah pak Ucup meninggalkan rumahku, aku menutup pintu dan melanjutkan belajarku. Setelah sekitar 45 menit aku menutup buku ku dan bersiap untuk tidur.
-Pukul 04.00-
Adzan subuh terdengar dari masjid dekat rumahku, aku bangun dan bergegas mandi untuk pergi ke masjid.
Setelah sholat subuh di masjid aku pulang untuk bersiap sekolah, sebelum kesiangan.
-Pukul 05.55-
Aku menunggu Dion didepan gang rumah, tidak lama dia muncul dari arah sebelah kananku. Raut wajahnya tidak semangat seperti biasanya, mood nya kurang bagus mungkin pikirku.
"Dit, sudah nunggu lama?" Tanya Dion saat tepat didepan ku
"Tidak"
"Hah, aku lapar bangunku kesiangan apa kamu tidak ada makanan?" Tanya nya padaku
Tanpa menjawabnya, aku keluarkan sebungkus roti untuknya.
"Turunlah, biar aku yang bawa sepeda mu. Makan dan duduk tenanglah." Pintaku
"Aduh Aditya memang yang terbaik, makasih ya. Btw kamu sendiri sudah makan?"
"Sudah"
"Benarkah?" Tanya Dion lagi
"Iya, aku makan nasi tadi di rumah"
Setelah aku menjawab, dia tidak lagi bersuara dan fokus dengan rotinya.
-Aditya POV and-
.
.
.
-Di sekolah-
"Itu Aditya dan Dion, Ros. Yuk samperin mereka." Ajak Reyna ke Rosa
"Yuk, enak tuh Dion sepertinya lagi makan. Aduh perutku ikut lapar." Sahut Rosa
"Dion... Aditya...!!!" Teriak Reyna dan Rosa bersamaan
Aditya dan Dion terkejut mendengar suara nyaring Rosa dan Reyna.
"Kalian ini kurang kerjaan ya?" Tanya Dion dengan terus memakan rotinya
"Enaknya aku mau Yon." Kata Rosa sambil berusaha meraih roti Dion
"Eit enak saja, ini roti kan pemberian dari bang Aditya." Canda Dion sambil merangkul tangan Aditya
Aditya yang risih dengan perlakuan Dion melepaskan tangan Dion darinya, Dion terkejut kemudian terkekeh.
"Kenapa kamu tidak adil Adi..." Protes Reyna
Aditya tanpa menjawab, dan berusaha menutup mulut mereka agar tidak berisi membuka tasnya dan mengeluarkan 2 bungkus roti. Diserahkan 2 bungkus roti itu pada Rosa dan Reyna.
Melihat sikap Aditya yang tiba-tiba perhatian membuat kedua cewek itu ingin menggoda Aditya, seperti yang dilakukan Dion.
"Balok es mulai agak cair nih." Goda Reyna
"Apa selanjutnya kita bikin dia semakin kasihan melihat kita?" Canda Rosa
Aditya yang tak menghiraukan teman-temannya, berjalan menuju kelas. Dan diikuti dengan ketiga temannya, yang senang melihat kemajuan Aditya.
Tet...tett...tettt
Tanda bel masuk kelas, pelajaran berjalan dengan baik. Hingga tiba waktu istirahat
-Di kantin-
"Key, lo kenapa? Akhir-akhir ini banyak diam?" Tanya Tia, yang melihat Keysa sedikit berubah
"Iya nih, lo kenapa sih key. Cerita dong sama kita." Sambung Zahwa
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa vote, like, dan komen :)
__ADS_1