Janji M

Janji M
Kejadian Lagi


__ADS_3

.


.


.


.


"Saya sempat melihat Ivan bersama wanita tadi di cafe, saat saya membeli roti untuk teman saya." Kata Aditya sambil menatap Reyna


"Kenapa kamu tidak bilang padaku Di?"


"Saya tidak pernah berpikir untuk ikut campur urusanmu, dan saya kira Ivan selalu bilang padamu."


"Tidak..." Sahut Reyna


"Bahkan aku tidak tahu kalau sebelum bersamaku kak Ivan punya kekasih."


"Apa?" Respon Rosa dan Dion bersamaan


"Apa ada hubungannya dengan Ardhan?" Tanya Aditya


"Kenapa kamu lebih tahu dari pada kita Dit?" Tanya Dion


"Mikir lah pakai otak" Jawab Aditya


Rosa memandang ke arah Reyna yang terlihat dari sorot matanya menahan tangis, Keysa mendekati Reyna dan mengelus pelan pundak Reyna...


"Menangis lah jika lo ingin menangis" Kata Keysa


"Kalau kamu mau cerita kami akan mendengarkan mu Reyn, cerita lah." Sahut Rosa


Reyna menceritakan masalah Ivan dengan Ardhan, dan alasan Ardhan menculik Reyna. Ait mata Reyna tidak bisa ditahan, dia menceritakan apa yang telah terjadi dengan pelan-pelan dan terisak.


*Apa hubungan wanita tadi dengan Ivan? Jika dia bukan adik kak Ardhan?* batin Rosa


*Wanita tadi siapa?* batin Aditya


*Wanita tadi siapa jika bukan adik senior? Kasihan Reyna* batin Keysa


(Baru saja mereka berbicara dalam hati, dan sibuk memikirkan siapa wanita tadi. Dion langsung menanyakan apa yang mereka pikir dan batin)


"Terus wanita tadi siapa jika dia bukan adik kak Ardhan?" Celetuk Dion


Rosa, Aditya, dan Keysa melihat ke arah Dion. Rosa secara spontan menginjak kaki Dion, bagaimana bisa dia menanyakan pertanyaan sensitif itu.


"Aku tidak tahu Yon" Jawab Reyna dengan lemah.


***


Ivan mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, amarah menyelimuti dirinya dan dia tidak tahu lagi harus mencari Reyna kemana.


"Van, tolong jangan ngebut. Kamu ingin kita mati?"


"Diam lah"


"Aku mohon Van jangan ngebut."


Ivan menghentikan mobilnya dan menepi dipinggir jalan, Ivan menatap wanita yang ada disebelahnya.


"Maafin aku, aku membahayakan mu dan dia." Kata Ivan (Pandangannya mengarah pada perut rata wanita itu)


"Aku mau kita pulang, aku lelah Van."


"Iya kita pulang, kamu istirahat di rumah dan jangan memikirkan apapun"


Ivan menjalankan lagi mobilnya dengan hati-hati, sesampainya di rumah Ivan menuntun wanita itu untuk masuk ke kamar.


"Maaf tuan muda, tuan besar mencari anda." Kata salah satu pelayan


"Dimana papa?"


"Di ruang kerjanya tuan."


Ivan berjalan menuju ruang kerja papanya, dan mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan.


Tok...tokk...tokkk...


"Masuk" Sahut papa Ivan


"Ada apa papa mencari ku?"


"Sampai kapan kamu mau seperti ini? Bertanggung jawablah atas semua kesalahan ini, dan jangan macam-macam. Apa kamu tidak kasihan dengan Laura?" Kata papa Ivan


"Iya pa aku berusaha"


Ivan membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan papanya dengan wajah frustasi, Ivan berjalan menuju kamar.


Ivan menjatuhkan badan ke kasur dan melirik ke arah ponselnya.


*Reyna tidak menghubungi ku, dia dimana sekarang? Aku harap kamu mau memaafkan ku sayang* batin Ivan


***


"Kamu temui Ivan dan minta penjelasannya, jangan menghindar terus." Kata Dion


"Apa yang mau dijelasin, semua sudah jelas Yon. Aku saja yang terlalu bodoh." Sahut Reyna


"Temui saja dia." Kata Aditya


"Iya Reyn tidak ada salahnya kamu berusaha menyelesaikan masalah." Sahut Rosa


"Saya berangkat kerja duluan, kalau kalian masih mau di sini silahkan." Kata Aditya sambil masuk ke dalam untuk bersiap-siap


"Bawa saja motorku Dit, biar cepat." Teriak Dion


"Kalian belum makan siang kan tadi, kita pesan saja ya? Gue yang traktir, sekalian nemenin Reyna biar dia tenang dulu." Kata Keysa sambil membuka layar ponselnya


Saat mereka sibuk menenangkan Reyna, tiba-tiba...


Bruk...


Mereka berempat terkejut mendengar suara benda jatuh dari dalam, Dion dan Keysa terburu-buru berlari kedalam untuk mengecek apa yang jatuh.


Saat hendak memasuki dapur Dion dan Keysa melihat Aditya sudah terjatuh tertimpa beberapa kardus dengan posisi kaki berasa di atas kursi yang terbalik dan badannya dibawah.


"Aditya?" Teriak Keysa sambil membantu memindahkan beberapa kardus


"Kamu ngapain Dit? Tanya Dion (Tertawa terbahak-bahak)


Rosa dan Reyna yang mendengar teriakan Keysa langsung menyusul mereka, tanpa berbicara apapun mereka tertawa termasuk Keysa yang sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.


"Puas kalian menertawakan ku" (Berdiri dan merapikan pakaiannya)


"Apa yang sedang lo lakukan?" Tanya Keysa


"Saya sedang mengambil sesuatu."


Aditya membuka satu persatu kardus itu, dan diambilnya sebuah buku terlihat seperti novel namun terlihat seperti buku lama namun masih tersimpan dengan baik.


Aditya berjalan ke arah Reyna dan memberikan buku itu pada Reyna.


"Ambilah"


*Janji M* batin Rosa


"Apa ini Di?" Tanya Reyna

__ADS_1


Aditya membereskan kembali kardus-kardus yang terjatuh dan meletakkannya kembali di atas almari, dengan kursi yang dipegangi Dion


Reyna membuka buku yang diberikan Aditya, Rosa dan Keysa yang penasaran juga ikut melihat isi buku itu.


Aditya kembali ke ruang tamu sambil membawa jaketnya dan bersiap untuk berangkat kerja.


-Flashback on-


Aditya berjalan ke kamarnya dan mengambil beberapa pakaian gantinya, saat hendak menutup almarinya. Dia mengingat sesuatu, disaat almarhumah ibunya sering sekali menangis seperti Reyna dulu saat sedih.


Dan disaat seperti itu Aditya mengingat kebiasaan ibunya saat menangis lebih memilih untuk membaca buku motivasi yang membuatnya sedikit Lega dan tenang dari pada bercerita pada Aditya dan neneknya.


Aditya berjalan ke kamar ibunya dan mencari dimana buku itu berada, namun tidak juga ketemu.


"Sudahlah aku cari nanti saja, sudah jam segini aku harus mandi." Kata Aditya pada dirinya sendiri


Saat keluar dari kamar mandi, mata Aditya tertuju pada tumpukan kardus yang ada di atas almari.


"Coba aku lihat di sana, siapa tau nenek dulu menyimpannya di sana."


Aditya mengambil kursi di meja makan, dan meraih salah satu kotak kardus dengan satu tangannya. Tanpa dia sadari kakinya masih licin selesai keluar kamar mandi.


Bruk...


Beberapa kotak menimpa tubuh Aditya yang terjatuh.


-Flashback off-


Aditya duduk di kursi ruang tamu dan membuka ponselnya, ada 1 pesan masuk dilayar ponselnya.


(Chatting)


_ _ _ _ _ _


"Halo Aditya, ada waktu? Saya mau ngomong


sesuatu sama kamu"


^^^(Aditya merasa bingung siapa yang mengirimkan pesan padanya)^^^


^^^"Siapa?"^^^


"Saya Putri, kakak panitia yang


bertanggung jawab kelas kamu saat


ospek."


^^^(Bahkan langsung dibalas)^^^


^^^"Saya sibuk, maaf"^^^


"Hanya 5 menit saja, saya mohon"


^^^(Read)^^^


_ _ _ _ _ _


"Badan lo ada yang sakit?" Tanya Keysa


"Tidak" Jawab Aditya (Menyimpan ponselnya dalam saku)


"Di ini buku buat apa?" Tanya Reyna


"Itu buku almarhumah ibu, beliau sering membaca itu saat sedang sedih. Saya harap kamu bisa lebih lega setelah membacanya."


"Maksud kamu, ini buku yang mendengarkan curahan hati ibumu?"


"Hmm, Ibu tidak pernah cerita tentang kesedihannya pada saya dan nenek dulu. Dan lebih memilih untuk membaca buku itu." (Terlihat wajah Aditya yang awalnya datar memperlihatkan kesedihan)


"Makasih ya Di, aku harap aku bisa lega setelah ini."


Ucapan Reyna hanya mendapat anggukan dari Aditya.


"Yasudah saya kerja dulu."


"Kenapa kamu tidak menunggu makanan datang? Keysa sudah memesan makanan." Kata Dion


"Kalian makan saja."


"Makanlah dulu Dit, lo belum makan siang." Kata Keysa


Aditya hanya menggelengkan kepala, dan memakai jaketnya.


"Pakai saja motorku biar cepat sampai restoran." Kata Dion (Memberikan kunci motornya pada Aditya)


Aditya menerima kunci motor Dion dan berangkat bekerja.


"Kalian pernah lihat Aditya sesedih itu?" Tanya Rosa


Reyna, Keysa, dan Dion menggelengkan kepala mereka bersamaan.


"Permisi"


"Iya?" Jawab Dion dan Keysa


Keysa keluar dan mengecek siapa yang datang...


"Makanan kita sudah sampai makan dulu ya." Kata Keysa (Meletakkan beberapa kantong makanan)


"Kita makan dulu ya Reyn." Kata Rosa membujuk Reyna


"Kalian makan dulu, aku mau baca isi buku yang diberi Aditya."


"Makanlah dulu, selesai makan baru baca." Sahut Dion


Reyna menyetujui permintaan teman-tema nya, dan makan bersama meraka.


-Selesai makan-


Reyna membaca buku pemberian Aditya dengan tenang, sedangkan Rosa, Dion, dan Keysa hanya memandang ke arah Reyna yang sibuk membaca buku tanpa mengatakan apapun.


*Aku mengerti mengapa ibu Aditya memilih membaca buku dari pada menceritakan masalahnya pada siapapun* batin Reyna


"Kenapa kalian diam menatapku?" Tanya Reyna


"Mm? kami memperhatikanmu membaca." Jawab Dion


"Buat apa?" Tanya Reyna lagi


"Untuk memastikan mu tidak menangis lagi." Jawab Rosa


"Kalian pikir mataku tidak akan lelah menangis?" Reyna bertanya lagi


"Tidak gue pikir yang menangis bukan cuma mata lo tapi hati lo juga" Sahut Keysa


"Kalian tenang saja, aku tidak apa-apa."


Mereka saling berpandangan dan tersenyum lega melihat Reyna yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.


***


Drtt...Drtt..Drtt..


Aditya mengerutkan dahinya saat melihat nomer yang tidak dikenal menelponnya.


*Siapa ini?* batin Aditya

__ADS_1


Aditya mematikan panggilan itu dan melanjutkan pekerjaannya, selang beberapa detik panggilan itu masuk kembali.


Aditya yang merasa terganggu mematikan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya.


"Mas..."


"Iya bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Aditya


"Minuman anak saya tumpah, bisa tolong bersihkan."


"Baik bu, akan saya bersihkan"


Jam sudah menunjukan pukul 21.05, Aditya bersiap untuk pulang. Namun pikirannya mengingat jika Keysa tadi siang masih di rumahnya, Aditya langsung menyalakan lagi ponselnya sambil berjalan menuju parkiran.


Belum juga ada 5 menit banyak notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya, Aditya mengecek ponselnya dan terlihat puluhan panggilan tidak terjawab dari nomer tadi bahkan ada beberapa pesan."


(Chatting)


_ _ _ _ _ _


"Aditya"


"Tolong balas pesanku, atau angkat


panggilan teleponku"


"Saya menunggumu di taman anggrek


jam 18.30" (Pukul 16.23)


(Pukul 19.00)


"Dit, kenapa kamu tidak kemari?"


"Saya menunggumu Dit"


(Mengirimkan sebuah foto yang menunjukan dirinya yang duduk di taman)


"Dit kenapa kamu masih belum kemari?"


"Kamu masih sibuk ya?"


"Yasudah saya tunggu kamu"


(Pukul 20.59)


"Dit ada yang memperhatikanku"


"Dit orang itu terus memperhatikanku"


"Tolong saya"


"Saya takut Dit"


"Saya mohon, tolong saya"


"Aditya"


_ _ _ _ _ _


"Apa yang sedang dia lakukan?"


Aditya mengendari motor Dion dengan kecepatan di atas normal untuk menuju taman Anggrek.


Sesampainya di taman Anggrek dia tidak melihat seniornya, bahkan taman sudah mulai sepi. Aditya berkeliling dan mencari senior yang meminta tolong padanya.


"Mohon maaf mengganggu, pak, ibu tahu wanita ini?" (Sambil memperlihatkan foto Putri yang sempat dia kirim ke Aditya tadi)


"Iya mas beberapa menit yang lalu, mbak itu duduk di sana sendirian. Dan selang beberapa menit saja sebelum mas kemari, ada laki-laki yang menyeretnya, saat kami samperin dia bilang kalau dia pacar wanita itu. Tapi ekspresi wanita itu ketakutan sambil mulutnya dibungkam sama laki-lakinya." Jelas bapak yang Aditya tanyai


"Mereka pergi ke arah mana ya pak?"


"Kearah sana mas" (Menunjuk ke arah selatan)


"Terima kasih banyak pak, bu. Saya permisi."


"Iya mas sama-sama."


Aditya berjalan sedikit berlari menuju arah yang ditunjukan seseorang yang dia tanyai tadi, saat di cabang jalan Aditya celingak-celinguk mencari kemana seniornya pergi.


Mata Aditya tertuju pada toilet yang ada didepannya, bahkan jika melewati jalan bercabang yang ada disebelah kanannya, akan mengarah ke bagian pembuangan sampah taman itu.


Aditya memutuskan untuk pergi ke toilet itu, karena takut terjadi sesuatu dengan seniornya.


"Disini sepi apa mungkin dia ke toilet."


Aditya berjalan menuju bangunan toilet itu, saat sudah mendekati pintu depan toilet. Aditya mendengar suara tangisan dan mohon ampun.


Dengan cepat Aditya masuk toilet itu dan mencari dimana suara itu berasal, saat dia berjalan sedikit masuk ke dalam suara itu terdengar sangat jelas.


Aditya mendobrak pintu dan melihat seniornya dilecehkan oleh seseorang laki-laki. Aditya menendang punggung laki-laki itu hingga tersungkur.


"Siapa lo?!" Kata laki-laki itu


*Jelas sekali jika laki-laki ini mabuk, aku harus hati-hati* batin Aditya


Saat Aditya berpikir sebentar tangan laki-laki itu hampir mengenai wajahnya, Aditya menarik laki-laki itu keluar dari kamar mandi dan memukulinya hingga babak belur.


Laki-laki itu memohon maaf pada Aditya dan lari meninggalkan Aditya, Aditya menghampiri seniornya yang terduduk sambil menangis.


Terlihat lengan baju sebelah kanannya robek, dan bajunya sudah acak-acakan. Aditya memalingkan pandangannya dan melepas jaketnya.


"Pakailah" Kata Aditya (Dengan memberikan jaketnya pada seniornya)


Senior itu menerima jaket dari Aditya dan mengenakannya, Aditya hanya diam memunggungi Putri. Dia tidak tahu harus berbuat apa, Aditya berjalan keluar dari bangunan kamar mandi dan selang beberapa menit Putri juga keluar.


"Apa yang anda lakukan disini?" Tanya Aditya


"Saya menunggumu."


"Kenapa anda menunggu saya?"


"Ada yang mau saya katakan sama kamu, saya tidak bisa menahannya lagi."


Aditya berjalan meninggalkan seniornya, dan duduk di tempat yang dapat dilihat banyak orang.


"Apa yang mau anda katakan?"


Putri yang awalnya berdiri, duduk disebelah Aditya sambil menatap Aditya yang pandangannya mengarah jauh ke depan tanpa menatapnya sedikitpun


"Sebelumnya makasih kamu sudah mau menolong saya, seandainya tadi kamu tidak datang lebih cepat. Saya sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi sama saya."


Aditya masih diam dan tidak menjawab ucapan Putri. Putri yang melihat hal itu hanya menghela nafas, bahkan dia sudah semakin ragu untuk mengatakan keinginannya menemui Aditya.


"Saya..."


(Ucapan Putri terputus saat tiba-tiba Aditya berdiri dari duduknya)


.


.


.


.


Jangan lupa vote, like, dan komen. Dukungan Readers sangat berarti untuk Author xoxo :)

__ADS_1


__ADS_2