Janji M

Janji M
Awal


__ADS_3

.


.


.


.


Aditya memukul setir mobilnya, tangannya menggenggam erat menahan emosi yang ada dalam dirinya.


"Aku tidak bisa diam"


Aditya meraih ponsel di dalam sakunya, dan menghubungi Felix.


(Dalam panggilan)


_______


"Selamat siang pak, ada yang


bisa saya ba...?"


...(Ucapan Felix terpotong)...


^^^"Saya mau kamu cari tahu informasi^^^


^^^tentang keluarga tuan Rai dengan sangat^^^


^^^jelas jangan berikan informasi tidak^^^


^^^bernilai pada saya! Apa kamu paham?!"^^^


"Baik pak"


^^^"Dengarkan saya Felix, istri kedua tuan Rai bukan wanita biasa. Dia wanita licik,^^^


^^^jangan sampai dia tahu gerak-gerik^^^


^^^mu yang mencari informasi tentang keluarganya."^^^


"Apa anda bertemu dengan beliau


pak?"


^^^"Barusan"^^^


"Dari informasi yang saya dapatkan


sementara ini, beliau adalah


saudara tiri dari tuan Gunawan, pak."


^^^"Maksudmu papa mertuaku?"^^^


"Iya benar pak, beliau berbeda ayah


dengan tuan Gunawan."


^^^"Kamu cari lagi lebih dalam, kali ini aku^^^


^^^tidak mau 1 informasi terlewatkan."^^^


"Baik pak, saya mendapatkan sebuah


foto dan dokumen yang harus saya


tunjukkan pada anda pak."


^^^"Foto apa?"^^^


"Foto istri kedua tuan Rai yang bersama seorang wanita, saya tidak yakin ini


sebuah informasi atau tidak. Tapi


dokumen dan foto itu tersimpan sangat


baik di dalam komputer kantor milik istri


kedua tuan Rai yang berhasil saya bobol "


^^^"Kamu hacker?"^^^


"Tidak juga pak, saya hanya kebetulan

__ADS_1


bisa sejak masih duduk di bangku


SMA."


^^^"Bagus Felix, informasi tentang mereka^^^


^^^saya serahkan ke kamu."^^^


"Sebagian informasi sudah saya kirim


melalui email anda, pak."


^^^"Iya biar nanti saya lihat."^^^


^^^"Untuk urusan kantor, apa ada^^^


^^^masalah?"^^^


"Tidak ada pak."


^^^"30 menit lagi saya akan kembali^^^


^^^ke kantor."^^^


"Baik, hati-hati di jalan pak."


________


(Panggilan terputus)


Aditya menghela nafas dengan sedikit memejamkan matanya, sebelum pergi meninggalkan halaman cafe.


Disisi lain, Freya terus menatap kepergiaan Aditya dari balik jendela cafe.


*Kamu lumayan juga ya Aditya* batin Freya sambil tersenyum.


......................


Setelah hampir 25 menit perjalanan Aditya sampai di kantor, saat memasuki lobi secara tidak sengaja dia berpapasan dengan seorang laki-laki yang tidak asing baginya.


Dengan melihat ke arah laki-laki itu, pikiran Aditya mencoba mengingat siapa laki-laki yang tidak asing baginya itu.


"Selamat sore pak." Sapa karyawan kantor yang membuat Aditya tersadar dari lamunannya.


"Oh beliau tuan Rai, dari perusahaan Candra's Company pak. Beliau kemari ada keperluan dengan pak Gunawan."


*Ayah? Kenapa anda tidak mengenaliku sedikitpun?*


"Pak Gunawan ada di kantor?" Tanya Aditya setelah beberapa detik melamun.


"Siang tadi pak Gunawan kemari pak."


Tanpa menjawab ucapan karyawan kantor, Aditya dengan tergesa-gesa menuju ruangan direktur utama untuk menemui papa mertuanya.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk"


"Selamat sore pa."


"Sore" Jawab pak Gunawan sambil menurunkan kaca matanya untuk melihat ke arah Aditya.


"Ada apa nak? Apa ada masalah?" Tanya pak Gunawan sambil berdiri dari duduknya.


"Saya dengar dari karyawan anda kemari, jadi saya berniat untuk menemui anda."


"Iya papa kesini untuk membahas kerja sama dengan tuan Rai, lusa asistennya akan kemari untuk menjalankan meeting bersamamu."


"Kerja sama? Apa papa ingin membuat proyek baru?"


"Rencananya papa dan tuan Rai akan membuat proyek baru di kota M, mengingat di kota itu semakin tahun perkembangan bisnisnya semakin meningkat. Jadi peluang kita untuk unggul semakin besar di sana."


Aditya hanya diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, pak Gunawan yang melihat menantunya hanya diam dan melamun. Menepuk pundak Aditya hingga membuat Aditya terkejut.


"Sepertinya kamu kurang istirahat, jangan terlalu dipaksa. Proyek ini masih lama sekitar 4 bulan lagi, tuan Rai akan sering kesini untuk membicarakan proyek ini denganmu. Papa sudah bilang pada beliau jika kamu yang akan menggantikan papa menjalankan proyek itu."


"Baik pak, apa papa sudah makan?"


"Sudah sebelum kemari, setelah ini papa mau ke rumahmu untuk mengajak Keysa keluar. Dia menelepon papa katanya dia bosen di rumah."


"Saya titip Keysa dulu ya pa, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Sebelum jam 18.00, saya akan menyusul."


"Kalau begitu papa pulang dulu ya." Kata pak Gunawan sambil menepuk pundak Aditya dan berjalan meninggalkan Aditya.

__ADS_1


Aditya mengikuti langkah pak Gunawan tepat dibelakangnya hingga di depan lobi, dan melihat pak Iwan yang tengah menunggu.


"Selamat sore tuan Aditya." Kata pak Iwan sambil membuka pintu untuk pak Gunawan.


"Selamat sore, pelan-pelan saja ya pak. Hati-hati."


"Baik tuan."


"Papa hati-hati." Kata Aditya dengan tubuh sedikit membungkuk agar bisa melihat pak Gunawan dari luar jendela.


Setelah mobil pak Gunawan berjalan sedikit menjauh dari pintu utama kantor, Aditya langsung membalikkan badannya dan kembali ke ruangannya.


"Anda sudah sampai pak?"


"Iya, satu jam lagi kamu masuk ke ruangan saya dan bawa beberapa informasi yang saya minta."


"Baik pak."


Aditya membuka beberapa berkas yang tertumpuk di atas mejanya, hingga 1 jam kemudian terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangannya.


"Masuk"


Aditya mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.


"Duduk dulu, 10 menit lagi saya selesai."


"Baik pak."


-10 menit kemudian-


Aditya membereskan berkas yang sudah dia baca den cek, lalu menghampiri Felix yang sudah duduk di sofa ruangannya.


"Apa yang kamu dapatkan?"


"Begini pak, istri kedua tuan Rai bernama Jovita Arshinta Mega, beliau anak kedua dari ibu tuan Gunawan seperti yang sudah saya katakan tadi. Jovita memiliki anak saat 1 tahun setelah pernikahannya dengan tuan Rai. Namun, anak itu selalu disembunyikan dari media oleh tuan Rai. Oleh sebab itu kenapa diawal saya mendapatkan informasi jika pernikahan tuan Rai dengan Jovita tidak memiliki keturunan. Sebab anak itu disembunyikan dari media saya tidak mendapatkan informasinya pak, dan untuk foto tadi anda bisa lihat pak." Jelas Felix dengan mengarahkan layar laptopnya pada Aditya.


"Ibu?" Gumam Aditya yang dengan jelas didengar oleh Felix yang ada disebelahnya.


"Anda mengenal wanita yang bersama Jovita pak?"


"Bisa kamu lihat kapan dan dimana foto ini diambil?"


"Bisa pak"


"Foto ini diambil 26 tahun yang lalu pada tanggal 13 Maret, tempatnya di kota S, daerah perum Indah."


*26 tahun lalu tanggal 13 Maret, tepat dengan 7 hari setelah hari kelahiran ku. Perum Indah, aku tidak pernah mengetahui tempat itu sebelumnya, bahkan ibu tidak pernah berbicara mengenai tempat itu. Dan kenapa ibu bertemu dengan Jovita saat itu?* batin Aditya.


"Apa ada lagi?"


"Tuan Rai menggugat cerai istri pertamanya 1 minggu sebelum hari pernikahannya dengan Jovita, dan setelah 1 tahun pernikahan serta Jovita sudah melahirkan anaknya. Tuan Rai beserta istri dan anak perempuannya yang merupakan anak dari istri pertamanya, pindah ke luar negeri tempatnya di negara A. Tanpa membawa anak yang dilahirkan Jovita, setelah berumur 5 tahun anak itu baru diambil dan dibawa ke negara A. Dan baru kembali kemari hampir 5 tahun ini, karena alasan pekerjaan."


"Selidiki latar belakang tentang anak dari Jovita."


"Jangan ada cacat sedikitpun."


"Baik pak."


"Kamu bisa pulang sekarang."


"O iya pak sebelumnya saya ingin mengatakan jika hampir 3 hari ini ada seorang laki-laki misterius yang tertangkap CCTV bagian pos security, dia sedang berdiri di seberang jalan depan kantor dengan pandangan terus melihat ke arah kantor. Semulanya saya tidak sengaja bertemu dengan laki-laki itu saat hendak masuk ke kantor, dan hari selanjutnya saya bertemu dia lagi di jam yang sama saat saya masuk ke kantor. Hingga hari ini saya meminta rekaman CCTV dari pos security untuk melihat apakah laki-laki itu masih diseberang jalan seperti kemarin atau tidak. Dan benar laki-laki itu kembali lagi pada saat jam 06.02, lalu sekitar jam 11.12, saat anda keluar dari kantor laki-laki itu pergi."


"Terus pantau apa kedepannya laki-laki itu masih berada disitu atau tidak, jika iya minta security untuk segera menangkapnya dan bawa kehadapan saya."


"Baik pak, kalau begitu saya permisi."


"Iya"


Aditya termenung memikirkan informasi yang diberikan Felix, bahkan kenyataan yang harus dia dapat tidak semudah itu untuk dia terima.


"Apa yang saat itu ibu bicarakan dengan Jovita? Semua ini membuatku pusing." Gumam Aditya dengan kedua tangan memegang kepala.


.


.


.


.


Yuk terus support author, author harap cerita ini dapat menghibur kalian. Tetap jaga kesehatan dan semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa🤗❤


Satu dukungan dari kalian sangat berarti untuk author🙏🏻🤗

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, dan komen xoxo❤❤❤


__ADS_2