JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
10


__ADS_3

Amina sampai dirumah pukul 6 petang, Ia sudah mengirim pesan pada Ibunya jika terlambat pulang karena ada acara perpisahan dengan guru setelah pengumuman kelulusan.


"Tuan dan Nyonya makan malam diluar lagi jadi kita tidak perlu memasak." kata Surti saat Amina menyusul ke dapur bersiap untuk membantu Surti memasak.


"Bagaimana dengan Tuan Alka? apa dia tidak makan malam?" tanya Amina.


"Den Alka juga pergi, sepertinya ke paris lagi untuk menemui kekasihnya." balas Surti yang langsung membuat Amina terdiam.


Amina ingat saat pertama kali tinggal dirumah ini Ia tidak bertemu dengan Alka karena Alka masih di paris. Ibunya sudah menceritakan segalanya tentang Alka dan Ia pun tahu jika Alka sudah memiliki kekasih.


"Kenapa perasaan ku jadi seperti ini? Bukankah tidak masalah jika Tuan Alka memiliki kekasih? Aku bahkan sudah mengetahui ini sejak lama." Batin Amina merasa heran dengan dirinya sendiri.


Dan malam ini, Amina tidak bisa tidur. Pikirannya melayang memikirkan apa yang Alka lakukan dengan kekasihnya disana.


"Apa mereka bercinta? Ah tentu saja jika dilihat pria itu sangat nakal." gumam Amina.


Amina bangun dari ranjang, Ia masih belum bisa memejamkan matanya.


Amina memilih memainkan ponselnya hingga Ia mendapat pesan jika sudah diterima bekerja diperusahaan yang Ia lamar.


"Apa ini benar? Aku tidak bermimpi kan?" ucap Amina dengan senyum mengembang.


Amina segera berlari ke kamar Ibunya, Ia ingin memberitahu kabar bahagia ini pada Ibunya.


"Aku sudah diterima Bu, kita bisa segera pindah dari sini." kata Amina terlihat sangat senang memperlihatkan pesan yang baru saja Ia baca.


Surti pun ikut tersenyum, "Ibu juga senang mendengarnya, tapi sepertinya tidak perlu buru buru untuk pergi dari sini. Cukup kamu saja yang berangkat, biarkan ibu disini. Bukankah itu diluar kota?"


Amina mengangguk, "Aku memang sudah berencana ingin mengajak Ibu pindah keluar kota, lagipula tidak ada yang bisa membuat kita harus disini Bu."


"Tapi ini pekerjaan pertama mu, Ibu tidak mau menjadi beban untukmu nanti disana." ungkap Surti.


Amina tersenyum, Ia lalu mengenggam tangan Ibunya, "Bagaimana bisa Ibu bicara seperti itu, Ibu sudah merawatku sejak kecil hingga aku lulus sekolah, sekarang waktunya Amina merawat Ibu. Jangan pikirkan apapun Bu, Amina hanya ingin Ibu sehat." ungkap Amina membuat Surti tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.


"Amina sudah memiliki tabungan, Amina juga sudah mendapatkan rumah kontrakan yang murah disana dan gaji Amina cukup untuk kita hidup Bu, jadi jangan pikirkan apapun lagi. Sudah cukup untuk Ibu bekerja keras dan sekarang giliran Amina."


Surti pun memeluk Amina, "Terima kasih ya nduk, terima kasih."


Sementara itu diparis, Sarah terlihat sangat bahagia melihat Alka datang dan mengkhawatirkannya.


"Berapa lama kau akan disini?" tanya Sarah sedari tadi mengenggam tangan Alka, tidak melepaskannya.

__ADS_1


"Sampai kau keluar dari rumah sakit."


"Benar? Kau tidak bohong?"


Alka mengangguk dan Sarah semakin tersenyum lebar.


Alka memang sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Sarah namun setidaknya jika Ia disini pikirannya tidak melayang memikirkan Amina.


"Ck, sial gadis itu. Aku bahkan baru saja memikirkannya." batin Alka kesal dengan dirinya sendiri.


Dokter memasuki kamar rawat Sarah untuk mengontrol keadaan Sarah.


"Sudah membaik, sudah bisa pulang tapi harus tetap bedrest sampai 3 hari." ucap Dokter itu.


"Apa aku tidak bisa tinggal lebih lama disini dok?" tanya Sarah membuat Dokter itu mengerutkan keningnya heran, biasanya pasien ingin cepat pulang namun kenapa Sarah malah masih ingin dirumah sakit?


"Aku hanya ingin kekasihku menemani disini, jika aku pulang dan dia pun juga akan kembali ke indonesia." ungkap Sarah membuat dokter itu tertawa.


"Aku akan menemani bedrest mu." kata Alka.


"Baiklah jika begitu aku mau pulang sekarang." kata Sarah.


Setelah berkemas dan keluar dari rumah sakit, kini keduanya sudah sampai di apartemen Sarah.


Sarah menahan tangan Alka, "Kenapa tidak disini saja menemaniku?" pinta Sarah dengan suara manja.


"Tidak, lebih baik aku duduk disana."


Sarah berdecak, "Kau pasti takut jika tidak tahan berada didekatku kan? Lakukan apapun yang kau inginkan, aku tidak masalah." kata Sarah.


Alka tersenyum lalu mengelus rambut Sarah, "Istirahatlah, aku tidak ingin menganggumu." kata Alka lalu berjalan dan duduk di sofa.


Sarah terlihat memanyunkan bibirnya, kesal karena Alka tidak menuruti keinginannya.


Alka membuka laptopnya, meskipun Alka tidak ke kantor namun Alka masih bisa bekerja. Sesekali Alka melihat ke arah Sarah yang kini sudah terlelap.


Alka melihat ke arah jam tangannya, pukul 4 sore di paris dan jika di indonesia mungkin saat ini pukul 10 malam.


"Apa gadis itu sudah tidur? Apa dia mencariku?" batin Alka.


"Ck, untuk apa aku memikirkan gadis menyebalkan itu. dia sudah menolak keinginanku sudah pasti dia tidak akan mencariku!" umpat Alka terdengar sangat kesal.

__ADS_1


"Siapa yang sudah membuatmu mengomel seperti itu?" tanya Sarah menatap ke arah Alka membuat Alka terkejut.


"Kau sudah bangun?"


Sarah tersenyum, "Aku tidak tidur hanya memejamkan mata saja. Aku mendengar kau menyebut tentang gadis menyebalkan, siapa dia? Apa itu aku?"


Alka diam sejenak sebelum akhirnya Ia menjawab, "Bukan siapa siapa, lagipula tidak penting tidak usah dibahas." kata Alka.


Sarah pun bangun, berjalan menghampiri Alka lalu duduk di pangkuan Alka.


Sarah mengalungkan kedua tangannya dipundak Alka, "Apa kau sudah mencintai seseorang disana?" tanya Sarah.


"Apa yang kau katakan? mustahil, aku sangat sulit menyukai seseorang, kau tahu itu."


Sarah mengangguk, Ia cukup paham segalanya tentang Alka.


"Menyingkirlah, jangan seperti ini." pinta Alka yang merasa takut jika Ia tak tahan dengan Sarah dan harus melakukannya.


"Kenapa? Kita bisa melakukannya." bisik Sarah menggoda Alka.


Alka terdiam, menatap mata nakal Sarah yang seolah menginginkan dirinya.


"Kau yakin ingin melakukannya denganku? kau tidak menyesal jika nanti kita tidak menikah?"


"Apa yang kau katakan, tentu saja kita akan menikah setelah ini." kata Sarah membuat Alka tersenyum kecut.


"Aku tidak yakin." gumam Alka lalu membawa Sarah ke ranjang.


Selama ini Alka menahan diri dari godaan Sarah karena ingin menjaga Sarah dan menikmati itu setelah Ia menikahi Sarah namun sekarang Ia benar benar sudah tak tahan lagi dengan godaan Sarah.


Alka ingin melakukannya, ya Alka ingin melakukannya sekarang.


Alka memulai permainannya, sentuhan tangan dan bibirnya membuat Sarah mengeliat bak cacing kepanasan.


Hingga setengah permainan, Alka menghentikan gerakannya.


"Kenapa kau berhenti? Kita baru akan mulai?" tanya Sarah merasa kesal.


"Kau sudah tidak perawan?"


Alka menatap Sarah dengan tatapan kecewa.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2