
Setelah seharian berada diluar untuk fitting baju dan mempersiapkan hal lainnya, kini Alka dan Amina pulang kerumah.
Amina terlihat kelelahan hingga tak sadar Ia terlelap saat perjalanan pulang kerumah.
"Sudah sampai, ayo kita kelu-" ucapan Alka terhenti kala melihat mata Amina yang terpejam.
Alka tersenyum, "Pantas saja tidak bersuara, ternyata kau tidur."
Alka keluar dari mobil, niatnya ingin mengendong Amina, membawa masuk Amina namun baru ingin diangkat, Amina sudah bangun lebih dulu.
"Eh sudah sampai Mas?" Amina terkejut.
"Apa kau lelah sayang sampai tertidur seperti itu?"
Amina tersenyum malu, "Maaf mas."
Alka menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, mau ku gendong?"
Amina langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku jalan sendiri saja."
"Baiklah." Alka memberi jalan agar Amina bisa lewat.
Keduanya memasuki rumah, melihat Wina dan Karsa duduk diruang tamu, seperti sedang menunggu keduanya.
"Mama sama Papa belum tidur?" tanya Alka mengajak Amina ikut duduk disana.
"Belum, bagaimana tadi?" tanya Karsa.
"Sudah cocok semua tinggal nunggu hari H nya." Alka terlihat sangat senang berbeda dengan Karsa dan Wina.
"Ada apa Ma, Pa?" tanya Alka curiga melihat kedua orangtuanya hanya diam.
"Ada yang ingin kami tanyakan."
"Tanya Apa?" Alka sudah penasaran.
Wina memandang Karsa meminta Karsa menanyakan namun Karsa terlihat enggan dan meminta Wina saja yang menanyakan.
"Sebenarnya ada apa?'"
"Begini, tadi Rania kesini dan bilang..." Wina menghentikan ucapannya, Ia memandang Amina dan terlihat tak tega ingin menanyakannya.
"Bilang apa dia?" Alka sudah terlihat kesal, seolah Ia sudah tahu apa yang Rania katakan pada orangtuanya.
"Katanya Amina suka jual diri? Apa benar?" tanya Wina akhirnya.
Amina hanya diam, masih diam sementara raut Alka terlihat sangat marah, Ia bahkan mengepalkan tangannya,
"Mama sama Papa tanya seperti ini karena tidak ingin salah paham dan percaya sama satu pihak jadi kami tanya langsung sama Amina." jelas Wina tak ingin Alka dan Amina salah paham.
"Rania benar benar kurang ajar, bagaimana bisa dia-"
"Apa yang Rania katakan benar kok Ma." potong Amina membuat Alka, Wina dan Karsa terkejut menatap ke arahnya.
"Apa maksudmu Amina?"
__ADS_1
"Amina memang pernah menjual diri."
Baik Karsa maupun Wina menatap Amian dengan tatapan kecewa.
"Tapi hanya sekali dan itu pun karena terpaksa." tambah Amina.
"Apa maksudmu karena terpaksa?" Wina ingin penjelasan lebih.
"Waktu itu Amina nggak sengaja nabrak Rania hingga ponsel Rania jatuh. Rania minta ganti ponsel yang harganya 26 juta. Amina nggak mungkin minta uang sama Ibu sebanyak itu dan tabungan Amina pun nggak cukup untuk membeli ponsel semahal itu jadi Amina..." Amina menghentikan ucapannya, suaranya serak menahan tangis.
"Jadi Amina menawarkan diri pada Mas Alka."
Karsa dan Wina langsung memandang ke arah Alka,
"Ehem... bener cuma sekali kok Ma, Pa... orang waktu itu Alka iming imingi rumah nggak mau lagi nglakuin itu."
Plak plak...
Wina memukul lengan Alka, "Dasar kamu anak nakal, bisa bisanya..."
"Ampun Ma... Ampun. Alka khilaf waktu itu."
Wina dan Karsa memandang Amina yang kini tertunduk,
"Sekarang Papa lega karena kamu hanya melakukan bersama Alka." ucap Karsa mulai percaya lagi dengan Amina sementara Wina terlihat masih ragu.
"Amina sudah mengatakan jujur meskipun harus membuka Aib yang seharusnya Amina simpan rapat rapat. Maafkan Amina kalau mungkin Amina mengecewakan tapi Amina merasa beruntung karena menawarkan diri pada Mas Alka waktu itu jika bukan bersama Mas Alka mungkin Amina..."
"Sudah sudah Mama bisa mengerti, Asal kamu jujur Mama mengerti.
Yang bikin Mama heran kenapa Rania minta ponsel semahal itu sama kamu padahal Mama tahu harga ponselnya jauh lebih murah dari yang Ia minta." kata Wina merasa heran.
"Sekarang masalahnya sudah selesai, kita istirahat." ajak Karsa.
Karsa beranjak pergi ke kamar disusul oleh Wina.
"Pa..."
"Ada apa lagi Ma?"
"Papa percaya sama Amina?"
Karsa menghela nafas panjang, "Papa percaya."
Wina terdiam, sedikit melamun seperti memikirkan sesuatu.
"Sini Ma..." Karsa menepuk nepuk ranjang disampingnya yang kosong.
Wina menurut, ikut berbaring disamping Karsa.
"Apa Mama masih ragu?" tanya Karsa yang langsung diangguki Wina.
"Coba deh Ma pikirin, Kalau Amina niat berbohong pasti dia nggak akan bilang gitu sama kita, dia pasti akan menyembunyikan kenakalannya dimasa lalu agar terlihat baik didepan kita, tapi dia tidak melakukan itu, dia malah menceritakan aibnya yang seharusnya sudah dia lupakan." jelas Karsa dan Wina hanya diam meresapi setiap perkataan Karsa.
"Apa Mama masih ragu lagi sekarang? Perlu kita tes ke dokter?"
__ADS_1
"Eh janganlah Pah." Tolak Wina.
"Kenapa jangan?"
"Kalau kita minta periksa kan keliatan kalau kita nggak percaya, kasihan lah anaknya." ungkap Wina membuat Karsa tersenyum.
Karsa mengelus kepala Wina, "Nah sebenarnya Mama udah keliatan sayang dan peduli tapi emang ketutup sama fitnahan Rania aja."
Wina berdecak setelah mendengar nama Rania, "Anak itu bener bener, gimana bisa dia senakal itu sekarang padahal waktu kecil dia pendiam dan baik hati."
Karsa tersenyum, "Sama kayak Mama dong, dulu Mama juga baik hati dan tidak sombong, sekarang abis kumpul sama temen temen arisannya jadi suka meremehkan orang."
Wina tersenyum malu lalu memukul pelan lengan suaminya, "Papa ih, sukannya buka aib gitu bikin malu."
"Harusnya nggak malu Ma tapi sadar."
"Iya iya, ini udah sadar!" ucap Wina sambil mendengus sebal.
Keduanya terdiam sejenak sebelum akhirnya Wina kembali bicara, "Mama mau nebak, mungkin Si Alka bisa jatuh cinta sama Amina gara gara udah pernah main bareng ya Pa?"
Karsa tertawa geli, "Bisa jadi Ma... Dulu abis kita nikah trus main sama Mama juga tambah sayang sama cinta."
Wina memukul lengan Karsa lebih keras, "Dasar perayu."
Karsa masih tertawa, "Eh beneran sayang, yuk kita coba lagi biar rasa sayang sama cintanya semakin banyak."
"Pa... Mama nggak bisa!" tolak Wina saat Karsa ingin naik ke atasnya.
"Kenapa?"
"Lagi datang bulan."
Karsa berdecak kesal, "Puasa nih ceritanya."
Wina tertawa, "Sabar ya Pa..."
Sementara itu ditempat lain, Rania terlihat senang karena akhirnya Ia bisa membuat Wina dan Karsa percaya padanya.
Dengan begitu Wina dan Karsa tidak akan membiarkan Alka menikahi Amina.
"Dasar gadis kampung miskin, rasain Lo!" ucap Rania yang saat ini tengah berada dikamarnya.
Pintu kamar terbuka, terlihat Mama Rania memasuki kamar dengan tatapan aneh.
Rania beranjak dan mendekati Mamanya, "Ada apa Ma?"
Bukannya menjawab, Mama Rania malah menampar pipi Rania,
"Mama kok nampar Rania?" sentak Rania tak terima.
"Kamu lihat apa ini!"
Mama Rania memperlihatkan ponselnya yang membuat Rania sangat terkejut,
"Da darimana Mama mendapatkan ini?" Suara Rania terdengar bergetar.
__ADS_1
Bersambung...
Jan lupa like vote dan komen yaaa