
Alka mengajak Amina kembali ke mobil setelah hotel ketiga yang mereka datangi lagi lagi menolak, karena peraturan baru disemua hotel yang ada dikotanya.
"Bagus juga sih mas kalau peraturan hotelnya kayak gitu, bisa mengurangi perzinahan." celetuk Amina yang malah menambah kesal Alka.
Sepanjang perjalanan kerumah, Alka hanya diam. Meskipun Amina mengalihkan berbicara tentang apapun Alka masih tetap diam.
"Langsung masuk kamar!" perintah Alka lalu memberikan paper bag pada Amina, "Pakai ini, mau ngerokok dulu sebentar. Pokoknya aku ke kamar harus sudah siap."
Amina menghela nafas panjang, Ia menerima paper bagnya dan segera keluar dari mobil.
Amina hendak masuk kerumah namun Ia dikejutkan oleh kedatangan Rania yang sedang berdiri didepan pintu rumah.
"Amina..." sapa Rania lalu berjalan mendekati Amina.
"Ada apa Ran? Kamu datang lagi? Apa kamu mau nyalahin aku lagi?"
Rania menggelengkan kepalanya, "Soal itu aku mau minta maaf dan juga... Aku mau minta maaf atas segala hal jahat yang pernah aku lakuin sama kamu." kata Rania dengan raut wajah menyesal.
Amina tersenyum, Ia merasa lega karena akhirnya Rania sudah menyadari kesalahannya.
"Aku udah maafin kamu kok bahkan sebelum kamu minta maaf."
Rania tersenyum mengembang, "Makasih ya, kamu memang baik hati, pantas saja Mas Alka suka sama kamu."
Amina hanya tersenyum menanggapi ucapan Rania.
"Amina, kamu bisa bantuin aku nggak?"
Perasaan Amina sudah tidak enak mendengar ucapan Rania,
"Bantuan apa Ran?"
"Tolong kamu bilang sama Budhe Wina kalau aku sudah minta maaf, aku bener bener bingung harus tinggal dimana lagi, aku juga abis kena jambret, tas sama ponsel aku di ambil orang." curhat Rania dengan wajah sedih membuat Amina merasa kasihan.
"Aku sih bisa bantuin kamu tapi-"
"Kenapa masih disana?" suara Alka terdengar mendekat.
"Masuk ke kamar!" perintah Alka.
"Ta tapi mas..."
"Jangan membantah Amina!"
Amina akhinya mengangguk, "Maaf ya Ran.." ucap Amina lalu melewati Rania begitu saja.
Kini tinggalah Alka dan Rania.
"Aku tahu aku udah salah, udah nipu Amina bahkan udah fitnah Amina tapi aku sudah minta maaf mas."
"Nggak butuh, telat!"
"Mas... Emang kamu nggak kasihan sama aku, tinggal dijalanan?"
"Nggak, emang itu tujuan aku biar kamu ngerasain jadi orang miskin yang sebenarnya." balas Alka santai.
__ADS_1
"Mas Alka bener bener jahat!"
"Jahat mana sama kamu?" Alka membalikan ucapan Rania.
"Aku udah minta maaf mas."
"Tapi permintaan maaf kamu itu nggak tulus, kamu minta maaf tapi kamu mau minta Amina bantuin kamu biar bisa tinggal disini kan?"
Rania menundukan kepalanya karena ucapan Alka benar.
"Udah pergi sana, jangan datang kesini lagi!" usir Alka muak melihat Rania.
"Mas... bantuin aku sedikit saja." Rania masih memohon.
"Nggak, dengan gini kamu bisa belajar lebih dewasa biar nggak gampang ngremehin orang!" ucap Alka lalu meninggalkan Rania.
Alka mengunci pintu agar Rania tidak bisa masuk kerumahnya.
Rania menghentakan kakinya ke lantai, Ia merasa kesal dan kecewa karena usahanya merayu Alka gagal.
"Gimana gue balik ke hotel, masa iya jalan kaki lagi. Astaga!" keluh Rania yang akhirnya keluar dari rumah Alka.
Rania melewati rumahnya, mendadak Ia ingat akan sesuatu.
"Nggak ada pilihan lain, gue harus nglakuin itu." Gumam Rania lalu memasuki rumahnya.
Sementara, Alka sudah memasuki kamar Rania namun tak melihat Rania disana. Alka semakin kesal saja hingga Ia mendengar gemericik air yang menandakan jika Amina sedang mandi.
Alka ingin ikut masuk ke kamar mandi namun pintunya dikunci.
Alka akhirnya mengetuk pintu yang langsung mendapat jawaban dari Amina,
"Bentar mas."
Tak berapa lama pintu terbuka, Alka melihat Amina mengenakan jubah mandi bukan lingerie yang Ia belikan.
"Kok pake ini?" Alka melihat rambut Amina yang digulung tinggi memperlihatkan leher jenjang yang masih basah.
"Malu mas, masa kamu beliin aku baju kurang bahan gitu."
Alka tersenyum, "Ya kan itu dipake kalau pas dikamar aja sayang."
"Tetep aja mas, aku ma-"ucapan Amina terhenti kala Alka memotong ucapannya.
"Jangan banyak protes, cepet pakai dulu."
"Udah kok mas." kata Amina dengan suara pelan.
"Udah?"
Amina melepaskan jubah mandinya dan...
Alka tidak bisa menahan diri lebih lama lagi, Ia segera membawa Amina ke ranjang.
"Sakit nggak mas?" Amina masih terlihat takut. Amina bahkan masih mengingat rasa sakitnya waktu pertama kali melakukan dulu.
__ADS_1
"Aku akan melakukan dengan lembut agar kau tidak merasakan sakit."
Alka memulai dengan mencium kening Amina, setelah itu Alka mulai menjelajahi tubuh Amina yang lain.
Amina masih belum merasakan sakit, yang Ia rasakan hanyalah geli geli kenikmatan yang membuatnya mengeluarkan suara yang aneh.
Alka semakin bersemangat hingga permainan sebenarnya dimulai.
Awalnya Amina masih meringgis kesakitan namun semakin lama rasa sakit itu berubah menjadi rasa nikmat yang luar biasa.
Satu ronde permainan selesai, keduanya terlihat mengatur nafas setelah permainan yang cukup keras dan menyenangkan.
"Bagaimana? Apa masih sakit?" tanya Alka.
Amina menggelengkan kepalanya lalu tersenyum malu, Alka benar benar luar biasa.
"Mau lagi?" bisik Alka.
Amina mengangguk malu yang menbuat Alka semakin bersemangat.
Keduanya kembali melakukan lagi dengan gaya yang berbeda.
...****************...
Rania berhasil memasuki rumah lewat pintu belakang.
Diam diam Rania menyelinap ke kamar Mamanya, karena di jam seperti ini Mamanya tidak berada dirumah, masih dikantor.
Rania berhasil memasuki kamar Asih. Ia segera mendekati brangkas yang ada disamping ranjang.
"Ini yang gue cari." Rania tersenyum senang.
Rania mencoba membuka brangkas itu dengan tanggal lahir Mamanya dan siapa sangka brangkas itu terbuka.
Mata Rania membulat saat melihat ada tumpukan uang cash juga berlian milik Asih.
Tak menunggu waktu lama, Rania mengambil ransel milik Asih lalu memasukan semua isi brangkas ke dalam ransel itu.
"Dengan begini gue nggak perlu tinggal di gudang hotel apalagi harus bersih bersih." ucap Rania segera pergi dari sana.
Beruntung Rania bisa keluar tanpa diketahui oleh Asisten rumah tangga yang bekerja disana.
Rania naik taksi, kembali ke hotel untuk mengambil barang barangnya. Niatnya ingin menggunakan uang hasil curian untuk membeli apartemen sementara berliannya akan Ia jual sedikit demi sedikit untuk biaya hidupnya sehari hari.
"Heh kemana aja Lo, bukannya gue udah bilang buat bersih bersih kamar!" sentak pemilik hotel saat Rania kembali.
"Gue mau cabut, makasih udah kasih tumpangan digudang kumuh Lo!" balas Rania dengan sombongnya.
"Songgong amat Lu, abis dapet duit?"
Rania tak menjawab, Ia tersenyum sinis melewati Pria itu begitu saja.
"Emang nggak tau diri tuh anak!"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komeen