JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
78


__ADS_3

Alka bangun setelah wajahnya terkena sinar matahari dari gorden kamar yang sudah dibuka. Alka menatap ke arah jam dinding ternyata sudah pukul 9 pagi.


Alka pikir Amina ikut tidur disampingnya namun ternyata kosong tidak ada Amina disana.


"Dia pasti sudah bangun lebih dulu." pikir Alka mengingat istrinya memang selalu bangun lebih awal dari dirinya.


Alka beranjak dari ranjang, kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap ke kantor. Sebelum tidur pagi tadi Alka sempat menghubungi Juan, mengatakan jika Ia berangkat siang.


Alka turun ke bawah, hanya ada Mama, papa dan Bik Narti di bawah.


"Amina mana?" tanya Alka.


"Ke kampus dari jam 7 tadi, emang nggak pamit sama kamu?"


Alka yang baru mengunyah roti bakar pun menghentikan kunyahannya, "ke kampus? Alka pikir..."


"Ck, kamu ini bener bener deh Alka, jangan jangan kamu dari dini hari tadi nggak ngasih istrimu istirahat?" tebak Wina yang memang benar tebakan Wina.


Alka mengajak Amina bermain hingga pagi tanpa tahu jika istrinya ternyata tidak kembali tidur sama sepertinya.


Wina yang gemas akhirnya memukuli lengan Alka "Kebangetan banget sih kamu, masa nggak ngasih Amina istirahat!"


"Aduh Ma... Ampun! Lagian Amina juga mau kok!" Alka membela diri.


"Tetap aja Ka, kamu juga harus pikirin kesehatan istri kamu." tambah Karsa.


"Iya deh Pa... iyaa!"


Alka menghabiskan rotinya lalu pamit pergi ke kantor.


Sampai dikantor Alka sudah disambut dengan senyuman nakal dari Juan.


"Abis ngapain Tuan kok telat?"


"Udah mulai kepo sama urusan orang? Mau dipecat?" Alka menatap kesal ke arah Juan.


"Ampun Tuan, cuma pengen tahu saja." balas Juan sambil terkikik.


Alka menghela nafas panjang, "Hari ini pertemuan jam berapa?"


"Masih nanti pukul 3 sore Tuan."


Alka mengangguk, jika pertemuan pukul 3 sore dirinya masih memiliki banyak waktu untuk menemui Amina, sekedar mengajak Amina makan siang.


"Ya sudah nanti jam 12 mau ngajakin bini makan siang."


"Siap Tuan, saya akan menghandle kantor seperti biasa Tuan." kata Juan meyakinkan Alka.


Alka segera menghubungi Amina dan tak butuh waktu lama Amina menjawab panggilan teleponnya.


"Ada apa mas?" Alka mendengar suara Amina beserta suara anak anak kampus yang ramai.


"Nanti jam 12 makan siang bareng."


"Dimana mas? Dirumah?"


"Nggak, diluar lah mau quality time sama istriku, makan siang bareng diluar." kata Alka.

__ADS_1


"Serius mas? Tumben?" Amina terdengar tak percaya.


Alka berdecak, "Nanti aku share lokasinya, oke sayang." ucap Alka lalu mengakhiri panggilannya.


Amina mengerutkan keningnya setelah panggilan dimatikan sepihak oleh Alka, "Tumben nih mas Alka ngajak makan siang bareng. Apa karena lagi ulang tahun ya?" tebak Amina.


"Ya udahlah, lagian jam 12 kelasku juga udah habis."


Amina kembali memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran berikutnya.


Saat ini Amina sedang mendengarkan penjelasan dari dosen yang ada dikelasnya dan tiba tiba Ia merasakan pusing luar biasa disertai mual.


Karena tak tahan dengan apa yang Ia rasakan, Amina izin pada dosen untuk pergi ke toilet.


Ditoilet Amina mencoba memuntahkan isi perutnya namun yang keluar hanya cairan bening dan itupun tidak banyak.


"Apa karena semalam kurang tidur ya jadi masuk angin?" batin Amina.


Amina keluar dari toilet, Ia merasa sedikit lega, sudah tidak mual lagi.


"Kamu kenapa Na?" Vera teman Amina terlihat menyusul ke toilet.


"Nggak apa apa kok cuma mual."


"Mual? Jangan jangan kamu hamil."


Amina terkejut menatap Vera, "Hamil? Kayaknya enggak soalnya bulan kemarin masih menstruasi."


"Ya siapa tahu kan, coba besok pagi tespack duli." pinta Vera.


Amina mengangguk, "Ya udah nanti aku beli tespack."


"Doain aja ya Ver, Mertua aku juga udah nunggu banget, aku nggak mau ngecewain mereka."


"Pasti deh pasti."


Amina kembali ke kelas untuk melanjutkan belajarnya.


Pukul 12 tepat, Amina keluar dari kampus menuju lokasi yang baru saja dikirim oleh Alka.


Amina menghentikan mobilnya tepat didepan restoran bintang 5.


Amina segera masuk ke restoran karena tak ingin Alka menunggu lama.


"Selamat datang Nona, sudah memesan tempat?" sapa salah satu pelayan restoran yang membukakan pintu masuk untuk Amina.


"Atas nama Pak Alka."


"Oh Tuan Alka, silahkah ikuti saya Nona." kata pelayan itu.


Amina menurut, mengikuti langkah kaki pelayan itu dilantai paling atas dengan privasi terjaga karena berada disebuah ruangan.


"Silahkan masuk Nona, sudah ditunggu." kata Pelayan itu mempersilahkan Amina masuk dimana sudah ada Alka disana.


"Haloo baby." sambut Alka yang langsung berdiri dan memeluk istrinya.


Amina mengendus Alka, Ia merasa bau Alka aneh dan membuatnya ingin muntah.

__ADS_1


"Mas... Kamu pake parfum apa sih?" Amina melepaskan pelukan Alka dan menutup hidungnya.


"Parfum? Parfum yang biasa kan." Alka terheran menatap Amina.


"Baunya nggak enak, bikin mual."


Alka melongo tak percaya, baru kali ini ada yang mengatakan bau parfum mahalnya tidak enak.


Padahal Alka membeli parfum itu diluar negeri agar tidak ada yang bisa menyamai bau harumnya.


"Nggak usah ngelantur deh sayang, ini aku beli diparis dan biasa pake ini juga." ungkap Alka sedikit kesal.


"Tapi nggak enak mas, kalau besok masih dipakai, aku nggak mau deket deket sama mas lagi!" ancam Amina.


"Its okay, its okay aku bakal buang parfumnya!"


Amina tersenyum lega, Ia kini sudah duduk didepan Alka, sedikit menjauh agar Ia tidak kembali mual.


"Enak?" tanya Alka saat Amina mulai mencicipi laksa singapura, menu terbaik direstoran ini.


"Asin, nggak suka."


Alka menatap Amina tak percaya, Ia mengambil sedikit kuah dimangkuk Amina lalu mencicipi rasanya.


"Enggak asin kok."


"Asin mas, asin gini!" Amina menatap kesal ke arah Alka.


"Kamu kenapa jadi sensitif gini sih?" heran Alka.


"Aku nggak sensitif mas, emang asin rasanya!"


"Its okay its okay, makan yang manis aja kalau gitu." Alka mengalah, menyodorkan puding pada Amina.


"Kalau ini kemanisan mas."


"Astaga Amina, kamu kenapa sih?"


"Aku nggak mau makan ini, aku mau makan pecel lele aja!"


Lagi lagi Alka hanya bisa melongo, "Pecel lele? Mana ada disini."


"Ya udah kalau nggak ada kita pulang aja." ajak Amina.


"Pulang? Ini makanan belum dimakan sama sekali sayang." kesabaran Alka mulai habis.


"Pokoknya pulang!"


"Oke oke ayo kita pulang!" Alka beranjak keluar lebih dulu membayar bill dan mengajak Amina keluar restoran.


"Udah kelaparan, bayar makanan mahal dan dibuang gitu aja? Ngeselin emang!" omel Alka dengan suara sepelan mungkin agar tak didengar oleh Amina.


"Mas mau makan disitu aja." pinta Amina menunjuk ke arah gerobak soto yang ada didepan restoran.


"Yank, aku rapi pake baju kantoran gini dan kamu malah ngajak makan disana?" Alka benar benar terheran dengan permintaan istrinya.


"Tapi aku maunya disitu mas..."

__ADS_1


"Oke kita kesana sekarang!" ucap Alka dengan wajah kesal.


Bersambung...


__ADS_2