
Alka melajukan mobilnya meninggalkan kampus juga Brian yang terlihat jatuh tersungkur karena Alka memukulnya sangat keras.
Amina sendiri hanya diam, masih belum mengatakan apapun hanya melihat kearah tangan Alka yang berdarah.
"Tangan mas..." Amina tak melanjutkan ucapannya, melihat Alka sangat emosi saat ini.
Amina kembali diam dan memilih melihat ke luar kaca mobil. Sesekali Amina mendengar umpatan kasar Alka jika ada mobil yang mendahului mereka.
Alka tidak membawa Amina ke kantor melainkan kerumah Alka.
"Turun dan masuklah lebih dulu." perintah Alka sebelum Amina sempat bertanya.
Amina mengangguk, Ia menuruti ucapan Alka. Melihat Amina sudah keluar, Alka mengambil ponselnya, Ia ingin menghubungi anak buahnya yang tidak becus menjaga Amina.
"Sial, nomernya tidak aktif, kemana dia!" Alka terlihat emosi.
Hingga Alka mereda setelah ada nomer anak buahnya yang lain, menghubunginya.
"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian tidak-" ucapan Alka terhenti kala mendengar penjelasan dari anak buahnya.
Alka mengangguk mengerti dan segera melajukan mobilnya keluar dari rumahnya.
Amina melihat mobil Alka pergi hanya bisa menghela nafas panjang.
"Apa yang harus ku lakukan disini?"
Amina memasuki rumah Alka yang tak dikunci, setelah membersihkan diri, Ia pergi ke dapur untuk memasak.
"Lebih baik aku memasak agar nanti saat Mas Alka pulang sudah tidak marah lagi padaku." gumam Amina mulai membuka isi kulkas Alka yang penuh dengan bahan makanan.
Sementara Alka menghentikan mobilnya disebuah gudang kosong yang tak terpakai.
Salah satu pria berbadan kekar tampak keluar untuk menyambut kedatangan Alka.
"Bagaimana bisa terjadi?"
"Lebih baik Tuan masuk saja dulu, biarkan Toni yang menjelaskan sendiri." kata Pria berbadan kekar yang langsung diangguki oleh Alka.
Alka memasuki gudang kosong itu, melihat seorang pria yang tubuhnya babak belur, sedang diobati oleh rekannya yang lain.
"Tuan, maafkan saya." ucap Pria itu terlihat menunduk."
"Apa yang terjadi?" tanya Alka pada pria bernama Toni yang Alka tugaskan menjaga Amina.
"Tadi saya mengikuti Brian karena dia terlihat mencurigakan, Dia membawa seorang gadis memasuki gudang kampus. Mereka ternyata melakukan hal yang tidak senonoh, saya berniat merekam namun ada 3 orang yang menghampiri saja, membawa saya keluar lalu mengeroyok saya sampai seperti ini Tuan, maafkan saya." jelas Toni pada Alka.
"Apa kau tahu siapa ketiga pria itu?"
"Saya sudah menyelidikinya ternyata mereka anak buah dari Brian Tuan. Brian anak pemilik kampus jadi ada banyak yang melindunginya."
Alka mengepalkan tangannya, "Sial!"
__ADS_1
"Nona dalam bahaya Tuan karena Brian mengincarnya, saran saya lebih baik Nona pindah kampus saja." ucap Toni lagi.
Alka terdiam cukup lama hingga akhirnya, "Aku sudah mentransfer uang untukmu, pergilah kerumah sakit agar bisa segera ditangani. Masalah ini biar aku sendiri yang urus." ucap Alka lalu pergi keluar dari gudang, mengacuhkan Toni yang mengucap terima kasih sedari tadi.
Alka kembali ke mobilnya, Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Juan, "Carikan kampus yang baru untuk Amina." pinta Alka lalu mengakhiri panggilan tanpa sempat mendengar Juan yang ingin protes.
Alka memijat kepalanya, Ia merasakan pusing saat ini. Sebelumnya Ia belum pernah memiliki masalah seperti ini apalagi saat bersama Sarah, semua baik baik saja meskipun mereka berjauhan.
Alka kembali kerumah, melihat Amina sibuk didapur. Alka menghampiri Amina dan langsung memeluk Amina dari belakang, mengejutkan Amina.
"Mas... Sebentar aku sedang masak nanti gosong." alasan Amina padahal sejujurnya Amina sangat gugup jika Alka seperti ini.
"Biarpun gosong pasti rasanya tetap enak karena kau yang membuatnya."
Amina berdecak, "Mas sudah tidak marah?"
Alka mengerutkan keningnya, Ia melepaskan pelukannya lalu berdiri disamping Amina agar bisa menatap Amina.
"Aku tidak marah, memang siapa yang marah?" heran Alka.
"Ku pikir tadi mas marah padaku."
Alka tersenyum, "Aku memang kesal tapi bukan denganmu." jelas Alka membuat Amina merasa lega.
Amina sudah menyelesaikan masakannya, Ia segera menyiapkan dimeja makan.
"Pasti enak." puji Alka melihat hasil karya Amina siang ini.
Keduanya segera duduk dan menikmati makan siang.
"Besok tidak perlu pergi ke kampus karena aku ingin mengajakmu ke rumah Mama dan Papa."
Amina menghentikan gerakannya saat mendengar ucapan Alka, "Kerumah Tuan dan Nyonya?"
Alka berdecak, "Jangan memanggil mereka seperti itu lagi karena sekarang mereka bukan majikanmu!"
Amina malah diam tak menjawab,
"Kenapa? Apa kau takut?"
Amina menganggukan kepalanya,
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku hanya takut mereka... Emmm tidak setuju jika Mas bersama dengan aku." ungkap Amina.
"Bukankah kemarin kita sudah membahas ini?"
Amina menundukan kepalanya, "Kita lihat besok saja bagaimana tanggapan mereka, jangan merasa takut jika mencoba saja belum." ucap Alka yang akhirnya diangguki Amina.
Setelah selesai makan siang, keduanya duduk dipinggir kolam renang sambil melihat kampus terbaik dikota itu dilaptop Alka.
__ADS_1
"Pilihlah salah satu kampus yang kau sukai." kata Alka.
"Kenapa harus pindah?"
Alka menghela nafas panjang, "Apa kau masih ingin bertemu dengan Brian?"
Amina menggelengkan kepalanya, "Tidak mau!"
"Ya sudah pindah saja, cari kampus yang hanya ada mahasiswinya saja, aku tidak ingin kau didekati pria lain lagi." kata Alka membuat Amina tersenyum geli karena nada bicara Alka terdengar sangat cemburu.
Amina fokus menatap layar laptop, Ia memilih fakultas yang tepat untuknya hingga akhirnya Ia mendapatkannya.
"Mungkin ini saja mas." Amina memperlihatkan pilihannya pada Alka.
"Hmm, bagus juga dan tidak ada mahasiswanya, hanya mahasiswi." Alka terlihat setuju.
"Aku akan memberitahu Juan." kata Alka mengambil ponselnya dan segera menghubungi Juan.
"Aku sudah mendapatkan fakultas yang tepat untuk Amina."
"Saya juga sudah mendapatkan fakultas untuk-"
"Urus perpindahaannya, nanti aku kirimkan nama fakultas itu." ucap Alka lalu mengakhiri panggilannya.
"Sial, dasar orang gila!" umpat Juan yang kini berada diruangannya.
"Aku susah payah mencarikan kampus tapi mereka malah sudah mendapatkannya. Kenapa meminta jika bisa mencari sendiri!" umpat Juan membanting salah satu berkas yang ada dimejanya. Juan terlihat sangat kesal.
Pintu ruangan Juan terbuka, tampak Siska memasuki ruangan Juan dengan membawa secangkir kopi untuknya.
"Kopinya pak..." ucap Siska dengan suara genit dibuat buat.
"Aku sedang tidak ingin minum kopi."
"Lalu Bapak ingin minum apa?"
Juan berdiri, berjalan mendekati Siska lalu membisikan sesuatu, "Susu."
Bukannya malu, Siska malah tersenyum dan melihat ke arah gunung kembarnya, mencoba menggoda Juan.
"Tapi aku tidak mau jika susunya bekas orang banyak." ucap Juan tertawa sinis lalu melewati Siska keluar dari ruangan membuat Siska kesal dan merasa malu.
"Dasar murahan." ucap Juan berjalan pergi ke kamar mandi dan tak sengaja menabrak seseorang.
Brukk...
Juan jatuh dan seorang gadis juga ikut jatuh bersamanya. Gunung kembar gadis itu tak sengaja menempel di bibir Juan.
Aaaaaa... Teriak Gadis itu.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen yaaa