JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
66


__ADS_3

Malam ini rasanya sangat berbeda untuk Lily. Jika Malam sebelumnya selalu ada Juan yang menganggu makan malamnya namun malam ini berbeda karena Juan tak datang.


Lily menikmati makan malamnya sendiri, seharian tadi Lily juga tidak melihat Juan datang ke kantor.


"Pria itu benar benar marah." gumam Lily langsung menghentikan kunyahannya karena mendadak nafsu makannya hilang.


Lily memandang ke arah pintu, "Untuk apa pula aku memikirkan pria itu, apa aku jatuh cinta padanya? Tidak mungkin, gila saja aku jatuh cinta pada pria yang hanya ingin menumpang makan malam!" omel Lily pada dirinya sendiri.


Lily beranjak, Ia berniat membuang makanannya karena Ia benar benar sudah tidak ingin makan lagi.


Ceklek... Ceklek... Pintu kosan Lily dibuka membuat Lily menghentikan langkah kakinya. Lily menatap ke arah pintu yang kini terbuka dan ternyata... Juan yang datang.


Raut wajah Juan terlihat biasa, tidak tersenyum, tidak juga cuek.


"Mana makan malam ku?" pinta Juan langsung duduk diranjang Lily.


"Ka kamu datang?"


Juan mengangguk, "Apa aku tidak boleh datang juga?"


Lily langsung menggelengkan kepalanya, "Ak aku ambilkan dulu." ucap Lily terlihat gugup.


Lily pergi ke dapur untuk mengambilkan lauk yang tersisa dan Ia segera ke depan karena Juan sudah menunggu.


"Ini kau yang masak?" tanya Juan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.


Lily mengangguk, "Ya hanya ini yang ku masak."


"Setelah ini bersiaplah, bawalah beberapa pakaian."


Lily terkejut, "Apa maksudnya? Kita mau kemana?"


Juan menunjukan kartu kredit pemberian dari Alka sambil mengatakan, "Jalan jalan keluar kota."


"Ta tapi bagaimana dengan pekerjaan?"


"Tenang saja, kita sudah mengambil cuti jadi cuma menghabiskan masa cuti saja."


"Ta tapi-"


"Sudah jangan banyak protes, kemasi barangmu!" potong Juan.


Lily akhirnya tidak menolak lagi, Ia bergegas mengemasi barangnya.


Selesai mengemasi barang, Juan mengajak Lily berangkat malam ini juga.


"Kita akan ke bandara."


"Tapi aku belum punya pasport." ungkap Lily.


"Aku sudah membuat pasport untukmu."


Lagi lagi Lily terkejut, "Bagaimana bisa?"


"Tentu saja bisa, apapun bisa ku lakukan dengan mudah." ucap Juan dengan sombongnya.


"Baiklah, aku percaya itu!"


Juan tersenyum, Ia tak menyangka akan mengajak Lily pergi liburan bersamanya. Entah mengapa siang tadi Ia berpikiran untuk mengajak Lily padahal sebelumnya Ia sudah berencana untuk menjauhi Lily mengingat ajakan menikahnya ditolak oleh Ayah Lily.


"Aku pikir kamu marah," gumam Lily dengan suara pelan.


"Lebih tepatnya, aku kecewa."

__ADS_1


Lily menunduk, mendengar kata kecewa ikut menyakiti dirinya.


"Aku benar benar minta maaf."


Juan tersenyum, "Bukan salahmu, lagipula aku mungkin terlalu cepat."


"Apa kau akan menunggu?" tanya Lily memastikan.


"Kau ingin aku apa? Menunggu atau tidak?" Juan malah balik bertanya.


"Menunggu."


Juan tersenyum mendengar jawaban Lily. Gadis galak yang suka protes padanya itu kini akhirnya luluh juga.


"Baiklah, aku akan menunggumu baby."


Lily tersenyum, Juan melihat Lily tersenyum.


Sementara itu ditempat lain, Alka tersenyum memandangi Amina yang terlelap karena kelelahan. Sejak sore tadi tak terhitung mereka sudah melakukan berapa kali. Alka benar benar sudah puas sekarang. Setelah sekian lama menunggu akhirnya Ia kembali bisa menikmati legitnya milik Amina.


Alka beranjak, Ia mandi dan turun untuk makan malam karena perutnya lapar sejak siang tadi belum makan.


"Amina mana?"


"Udah tidur Ma.." balas Alka saat Wina yang masih didapur bertanya padanya.


"Belum makan malam kok udah tidur?"


"Kecapekan mungkin Ma."


Mata Wina langsung saja melotot, "Pasti kerjaan kamu nih!"


Alka tersenyum, "Amina juga mau kok Ma, dia malah minta nambah terus."


Wina memukul lengan Alka.


"Jangan dipaksa terus, kasihan."


"Katanya biar cepet punya cucu Ma."


"Eh iya udah." Akhirnya Wina ikut setuju.


Selesai makan malam, Alka membawa sepiring nasi beserta lauknya untuk Amina.


Sejujurnya Alka tidak tega harus menganggu lelap tidur Amina namun mengingat Amina belum makan akhirnya Alka membangunkan Amina.


"Sayang, bangun bentar makan dulu yuk." ucap Alka sambil mengelus pipi Amina.


Amina membuka matanya, melihat Alka tersenyum Ia pun ikut tersenyum.


Amina bangun, menutupi tubuh polosnya dengan selimut "Aku mandi dulu mas."


"Eits, nggak usah. Ini udah aku ambilin makan malamnya." Alka memperlihatkan piring nasi yang Ia bawa.


"Lho, mas udah makan?"


Alka mengangguk, "Aku suapin ya."


"Eh nggak usah." Amina merasa sungkan karena tak terbiasa.


"Nggak ada penolakan!"


Amina akhirnya mengangguk, menuruti Alka.

__ADS_1


Setelah makan malam habis, Amina beranjak untuk mandi. meskipun tubuhnya terasa remuk setidaknya jika Ia mandi akan jadi lebih segar.


Setelah membawa piring ke dapur, Alka kembali ke kamarnya. Ia mencium aroma sampo milik Amina yang wanginya terasa khas dan segar. Alka melihat istrinya berdiri didepan meja rias, menyisir rambutnya yang masih basah. Lekuk tubuh Amina terlihat karena saat ini Amina mengenakan dress satin yang melekat ditubuhnya.


Alka mendekat, memeluk Amina dari belakang. Bau harum Amina terasa sangat menenangkan.


"Kirain balik tidur, eee ternyata malah udah cantik begini."


Amina tersenyum, "Nggak enak mas tidur badannya lengket semua."


"Padahal nanti dibikin lengket lagi." celetuk Alka membuat Amina terkejut, "Lagi mas?"


"Mau nggak?"


Pipi Amina langsung saja merona, memerah malu. Meskipun dibawah sana miliknya terasa sakit karena hampir seharian mereka bermain namun entah mengapa Amina tak mampu menolak. Permainan Alka sangat menyenangkan untuknya membuat Amina dimabuk kepayang.


"Mau lagi sayang?" rayu Alka yang saat ini sudah membawa Amina duduk dipangkuannya.


"Tapi pelan pelan ya mas."


Alka tersenyum, "Siap nyonya,"


Tak menunggu lama, Alka kini sudah berada diatas Amina.


Ia memulai permainannya yang membuat Istrinya merasa candu dan tidak akan mampu menolak jika Ia menginginkan.


Suara leguhan juga mata Amina yang terpejam menikmati setiap sentuhan membuat Alka semakin semangat hingga entah berapa kali lagi mereka melakukan, Alka meminta lagi lagi dan lagi sementara Amina hanya pasrah tidak mampu menolak.


Alka mengecup kening Amina setelah itu keduanya terlelap bersama.


...****************...


Tepat pukul 4 dini hari, Juan dan Lily sampai divilla tempat mereka akan menghabiskan waktu liburan setelah menempuh perjalanan udara dan darat beberapa jam.


"Ini kamarmu dan itu kamarku." ucap Juan memberikan kunci untuk Lily.


Lily sedikit terkejut, Ia tak menyangka kamar mereka terpisah. Bukan Lily berharap bisa sekamar dengan Juan namun mengingat betapa mesumnya Juan, Lily pikir Juan mengajaknya berlibur karena ingin mengajaknya bercinta.


"Kenapa malah bengong? Kita istirahat dulu dan besok pagi kita jalan jalan ke pantai."


Lily mengangguk, baru ingin menyeret kopernya, penjaga Villa terlihat menghampiri keduanya.


"Nona yakin ingin tidur dikamar itu?"


Lily tentu saja mengangguk karena Juan menyuruhnya tidur disana.


"Bukan masalah apa apa Nona tapi kemarin ada gadis bunuh diri dikamar itu jadi rencana saya ingin menutup sementara kamar itu."


Sontak Lily terkejut hingga membuat matanya melotot tak percaya,


"Apa ada kamar lain?" tanya Juan yang langsung digelengi oleh penjaga Villa.


"Hari ini penuh, hanya tinggal dua kamar ini."


Juan berdecak, "Bagaimana ini, terpaksa kamu harus sekamar denganku."


Lily ingin menolak namun sepertinya Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengangguk setuju.


Tanpa Lily sadari, Juan tersenyum licik, Ia bahkan memberikan jempol untuk penjaga villa tanpa Lily sadari.


Bersambung...


Bau bau penipuan nih gaisss hehe

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komen yaaa


__ADS_2