
Amina mengantar teman temannya yang akan pulang sampai didepan rumah. Ia berbalik dan melihat Juan duduk dikursi lusuh yang ada didepan rumah.
"Nona pasti mencari Tuan kan?" goda Juan membuat Amina malu karena merasa ketahuan.
"Pak Alka sudah pulang?" tanya Amina akhirnya.
"Dia ada dibelakangmu Nona."
Tadinya Amina pikir Juan hanya bercanda namun saat Ia berbalik terkejut karena Alka memang berdiri dibelakangnya sambil membawa sepiring makanan, entah darimana Alka mendapatkan itu.
"Ayo makan dulu, kata Budhe Parmi kau belum makan sedari pagi." ajak Alka mengandeng tangan Amina dan membawanya masuk kerumah.
"Sepertinya sudah tidak ada tamu lagi." ucap Alka saat melihat rumah Amina mulai sepi karena orang orang sudah pulang satu persatu.
Amina mengangguk, "Saya tidak memiliki saudara dan siapapun jadi tidak akan ada lagi yang datang."
Alka tersenyum, "Tapi kamu memiliki aku jadi jangan cemaskan apapun lagi mulai sekarang."
Amina terkejut mendengar ucapan Alka, Ia menatap Alka tak percaya.
"Ayo makan aaa." Alka sudah bersiap menyuapkan sesedok nasi ke mulut Amina.
"Biar saya makan sendiri pak." Amina ingin meminta sendok dan piringnya namun Alka tidak memberikan.
"Tidak, aku ingin menyuapimu!"
"Tapi pak-"
Alka melotot tajam membuat Amina tak lagi membantah dan menerima suapan Alka.
"Bukankah kemarin tangan Bapak sakit?"
"Sudah sembuh."
"Cepat sekali." gerutu Amina membuat Alka tertawa.
"Apa kau ingin mendengar cerita lucu?" tanya Alka.
Amina mengangguk, "Sebenarnya tanganku tidak sakit, aku menipumu kemarin." Alka tertawa setelah mengatakan itu pada Amina.
Amina menatap Alka sebal, sejujurnya Ia juga sudah tahu tapi Ia tak mungkin berani membantah karena posisinya hanyalah bawahan "Kenapa Bapak melakukan itu?"
"Aku hanya ingin mencari perhatian mu." balas Alka jujur.
Jantung Amina berdegup kencang mendengar Alka mengatakan itu padanya.
"Kenapa kau malah menunduk? Aku tidak suka melihatmu menunduk." ungkap Alka.
Alka meletakan piringnya piringnya dimeja lalu menangkup wajah Amian agar menatap dirinya.
"Jangan seperti ini pak, saya malu."
Alka tersenyum, melihat kedua pipi Amina merona menandakan jika Amina malu.
Alka kembali mengambil piringnya dan mulai menyuapi Amina lagi.
Keduanya sama sama diam hingga selesai makan, Alka mengembalikan piring kerumah Budhe Parmi dan kembali kerumah Amina.
"Bapak tidak pulang?" tanya Amina.
"Kau mengusirku?"
__ADS_1
"Bu bukan begitu pak, ini sudah malam." Amina celinggukan melihat keluar dimana Juan juga masih berada didepan.
"Aku akan menginap disini menemanimu."
Kedua mata Amina langsung saja melotot tak percaya, "Menginap pak?"
"Ya, lagipula pak Rt sudah mengizinkan ku menginap disini." balas Alka santai.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, apapun bisa ku lakukan dengan mudah." sombong Alka.
Amina menghela nafas panjang, Ia ikut duduk disamping Alka,
"Kenapa menatapku seperti itu?" heran Alka.
"Bapak pasti baik dengan saya karena kasihan ya? Saya sudah ditipu dengan saudara bapak hingga harus menjual diri."
Alka tersenyum, "Aku tidak kasihan denganmu."
Amina menatap Alka tak percaya, "Lalu kenapa Bapak baik dengan saya?"
"Kamu nanya? Kamu bertanya tanya?"
Amina berdecak mendengar jawaban Alka yang sangat menyebalkan itu, "Saya serius pak."
Alka kembali tertawa, "Sejujurnya aku tidak ingin mengatakan ini, bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini."
"Apa itu pak?"
"Aku menyukaimu."
Amina tertegun, kembali menatap Alka dengan tatapan tak percaya.
Alka memutar bola matanya malas, "Berhenti memanggilku Bapak saat kita diluar kantor! aku tidak setua itu Amina!"
"Lalu saya harus memanggil apa?"
"Mas, panggil aku mas."
Amina malah tertawa, "Kayak penjual cilok dong."
Alka malah gemas melihat senyum Amina sekaligus Ia juga lega karena Amina sudah bisa tersenyum kembali, "Aku rela kok jadi tukang cilok asal yang beli kamu terus." gombalan Alka kembali membuat pipi Amina memerah malu.
"Bapak eh Mas belum jawab tadi lho." Amina masih penasaran dengan kekasih Alka.
"Aku udah putus jadi jangan bahas lagi oke!"
Amina menatap Alka mencari kejujuran dimata Alka dan sepertinya Alka memang tidak bohong.
"Kamu pikir aku bohong?"
Amina hanya tersenyum namun sedetik kemudian Amina dikejutkan oleh wajah Alka yang mendekat, seperti mau mencium membuat Amina langsung menutup matanya.
"Ehemmmm... Misi pakeett." suara Juan terdengar didepan pintu mengejutkan Amina dan Alka.
"Sial." Alka menatap tajam ke arah Juan.
"Maaf Tuan, masih berduka masa udah mau disosor." ucap Juan sambil tertawa.
Seketila Alka langsung istigfar, hampir saja Ia khilaf mencium Amian disaat seperti ini, "Mau ngapain?" tanya Alka pada Juan.
__ADS_1
"Saya sudah boleh pulang kan pak?"
"Pulang sana, emang siapa suruh kamu disini sampai malam!"
"Emang Bapak nggak pulang?" tanya Juan kepo.
"Nggak!"
"Waduh, ingat ya pak, ingat selalu pesan saya. Nona masih berduka jang- aduhhh." Juan memegangi kepalanya setelah baru saja sendok melayang dan mengenai kepalanya.
"Gila, punya bos tega amat." umpat Juan lalu pergi meninggalkan rumah Amina.
"Kasihan kan pak, eh mas sakit itu." ucap Amina merasa tak tega melihat Juan terkena sendok.
"Salah sendiri sukanya cari masalah!" Alka terlihat cuek.
Amina kembali diam, Ia tak menyangka hubungan Alka dan Juan seperti tom and jerry. Alka yang pemarah dan Juan yang usil.
"Tidurlah, sudah malam." kata Alka penuh kelembutan.
"Oh ya,bukannya Nyonya masuk rumah sakit, kok Mas malah kesini?" tanya Amina ingat jika Alka baru kembali dari rumah orangtuanya.
Alka malah mendengus sebal, "Dibohongin Sama Mama!"
"Mungkin Nyonya kangen sama Mas."
"Enggak, biasa Mama mau jodohin aku sama anak temen arisannya." ungkap Alka.
Amina kembali terdiam, mendengar pengakuan Alka entah mengapa membuatnya tidak nyaman.
"Mas mau?"
Alka menggeleng, "Aku udah punya pilihan sendiri soalnya." balas Alka lalu tersenyum menatap Amina.
"Oh." Amina memalingkan wajahnya, Ia segera berdiri dari duduknya, "Aku mau tidur duluan ya mas, silahkan Mas mau tidur dimana saja boleh." ucap Amina dengan suara kesal lalu meninggalkan Alka dan memasuki kamarnya.
"Dasar cowok playboy, baru aja dia bilang kalau suka sama aku trus dengan santainya bilang udah punya pilihan sendiri, maksudnya apa? Ngeselin!" umpat Amina lalu berbaring diranjangnya. Ia ingin segera tidur agar bisa melupakan hari ini yang sangat menyedihkan untuknya.
Tengah malam Amina terbangun, merasa tubuhnya sangat berat untuk digerakan. Amina membuka matanya dan melihat ada tangan yang memeluk perutnya juga kaki yang menopang kakinya.
Amina terkejut, Ia mencoba berbalik untuk melihat siapa yang tidur disampingnya,
"Pak eh mas Alka..." Amina melepaskan diri hingga membuat Alka terkejut dan jatuh ke lantai.
"Gempa bumi, gempa bumi." Alka terlihat panik dan langsung bangkit hingga Ia melihat Amina menatap ke arahnya dengan tatapan kesal.
"Ternyata cuma jatuh kirain gempa bumi." Alka tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.
"Kok mas tidur disini?" protes Amina.
"Tadi kamu bilang boleh tidur dimana aja kan? Ya aku tidur disini lah!"
Amina menjitak kepalanya sendiri, memang Ia yang menyuruh Alka tidur dimana saja berarty bukan salah Alka jika Alka tidur dikamarnya.
"Tapi nggak disini mas."
Alka tak mengubris dan malah kembali berbaring diranjangnya,
"Udah ah ngantuk, kalau nggak mau tidur sama aku, terserah. Aku udah pewe disini!"
Bersambung...
__ADS_1
Komen yuukkk komeennn..
Nak apdate 5 bab nih, kurang 1 lagi kalau keburu hehe