
Amina melepaskan seatbeltnya, Ia segera turun setelah mengucapkan terimakasih pada Juan yang langsung kembali ke kantor.
Amina memasuki gerbang rumah mungil nan mewah milik Alka dan siapa sangka Alka sudah menunggunya didepan pintu.
Alka dan wajah pucatnya, tersenyum saat melihat Amina mendekat.
Entah dorongan dari mana, Amina langsung memeluk Alka dengan erat.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Alka terdengar curiga apalagi merasakan jantung Amina berdegup dengan kencang.
Amina menggelengkan kepalanya, "Aku hanya mengkhawatirkan mas."
Amina melepaskan pelukannya, "Wajah mas terlihat sangat pucat."
Alka tersenyum, tak menyangka jika Amina sangat perhatian seperti ini padanya.
"Aku baik baik saja, hanya demam dan pusing, tidak perlu cemas."
"Tentu saja aku harus cemas!"
Alka tersenyum, Ia mengelus rambut Amina "Aku belum makan." suara Alka terdengar manja membuat Amina tersenyum geli.
"Aku akan membuatkan Mas bubur."
Alka mengangguk setuju,
Alka mengantar Amina ke dapur rumahnya. Dapur mungil yang sangat cantik dan rapi.
"Bagus sekali." gumam Amina.
"Apa kau menyukainya sayang?" Alka memeluk Amina dari belakang, mengejutkan Amina dan membuat jantung Amina berdegup kencang.
Amina hanya mengangguk,
"Aku sengaja menyiapkan ini karena setelah menikah kita akan tinggal disini." ucap Alka lalu mencium pipi Amina.
Amina tersenyum, Ia tak menyangka Alka sudah menyiapkan segalanya untuknya.
"Baiklah, aku akan segera memasak jadi lepaskan tanganmu mas." pinta Amina tak tahan dengan sentuhan fisik dari Alka.
"Kau pasti gugup?" Alka terdengar menertawakannya.
"Ya, aku masih saja gugup jika terlalu dekat dengan mas." Akui Amina.
"Baiklah, aku akan mulai membuatmu terbiasa agar kau tidak gugup lagi." ucap Alka lalu kembali mencium Amina.
Amina menghela nafas panjang, mencoba bersikap biasa meskipun saat ini dirinya sangat gugup.
"Sebenarnya hari ini aku ingin mengajakmu pulang kerumah orangtuaku." ungkap Alka yang membuat Amina memghentikan aktifitasnya.
Entah mengapa mendadak Amina merasa takut setelah Alka mengatakan itu padanya.
Jujur Amina sudah merasa sangat nyaman bersama Alka saat ini. Yang Amina pikirkan saat nanti meminta restu pada orangtua Alka dan mereka tidak memberi restu, Ia takut Alka akan meninggalkannya karena saat ini Ia tak memiliki siapapun selain Alka.
"Kenapa wajah mu pucat?" heran Alka menatap Amina yang mendadak wajahnya sangat pucat.
"Ti tidak, aku hanya takut mas."
"Apa yang kau takutkan sayang?" Alka membawa Amina ke dalam pelukannya.
"Aku hanya takut orangtua Mas tidak memberi restu." Amina menundukan kepalanya.
__ADS_1
Alka malah tersenyum, "Mungkin memang akan seperti itu tapi kamu tenang saja, mereka pasti akan memberi restu."
"Kamu pasti takut pada Mama kan?" tebak Alka dan Amina pun langsung tersenyum.
"Tidak perlu takut, Jika nanti kau sudah dekat dengan Mama pasti kau tidak akan takut lagi karena sebenarnya Mama itu orang baik." ungkap Alka sambil mengelus punggung Amina.
Amina tersenyum, entah mengapa ucapan Alka membuatnya sedikit tenang.
"Baiklah mas kalau begitu aku akan segera memasak untukmu." ucap Amina yang membuat keduanya tertawa bersamaan.
Selesai memasak, Amina segera menyuapi makan Alka hingga habis satu mangkuk bubur.
"Rasanya enak, kau sangat pandai memasak sayang." puji Alka, Amina hanya tersenyum.
"Mas tidak ke dokter?" tanya Amina menarik selimut agar menutupi tubuh Alka.
"Aku tidak terbiasa ke dokter dan minum obat, cukup istirahat sehari dan pasti sembuh."
Amina berdecak, "Jika kedokter dan minum obat mungkin akan lebih cepat sembuhnya."
Alka menggelengkan kepalanya, "Biarkan saja seperti ini."
Amian menghela nafas panjang, "Baiklah."
Amina keluar dari kamar Alka untuk membawa mangkuk kotor ke dapur. Ia kembali ke kamar Alka dan melihat Alka menepuk nepuk ranjang kosong disampingnya.
"Temani aku disini." pinta Alka.
Amina terlihat ragu namun akhirnya Ia ikut berbaring diranjang bersama Alka.
Alka langsung memeluknya hingga Ia tak bisa bernafas, "Aku tidak bisa bernafas!" keluh Amina.
Amina memutar bola matanya malas, Alka selalu menganggapnya seperti anak kecil.
"Apa kau nakal hari ini hmm?"
Amina menunduk,
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Alka terlihat curiga.
"Pasti pria kemarin lagi kan?" tebak Alka.
"Aku tidak tahu, aku sudah mengatakan padanya tapi dia terlihat tak peduli dan masih mendekatiku, aku harus bagaimana?"
Alka berdecak, rasanya Ia kembali kesal namun sadar jika ini bukan kesalahan Amina.
"Jika aku tidak bertanya mungkin kau juga tidak akan cerita kan?"
Amina kembali menundukan kepalanya, "Bukan tidak mau cerita, aku hanya takut Mas marah." akui Amina.
Alka tersenyum, Ia memang sangat posesif. Alka membawa Amina ke pelukannya.
"Mulai sekarang ceritakan apapun padaku, aku tidak akan marah."
"Janji?" Amina dengan mata puppy eyesnya yang membuat Alka gemas.
"Ck, jangan melihatku seperti itu!"
Alka menghujani ciuman dikedua pipi Amina bergantian.
Amina tertawa geli, bulu bulu halus didagu Alka membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.
__ADS_1
"Apa kau suka? Rasanya enak kan?" tebak Alka.
"Geli."
"Coba disini." Alka mengesek pelan dagunya di leher Amina membuat Amina mengeluarkan suara aneh dan Alka semakin semangat melakukan itu.
"Berhenti mas, aku tidak tahan lagi." pinta Amina.
Nafas Alka pun mulai memburu, Ia ingin mencium bibir Amina namun Amina malah menutupi wajahnya dengan selimut.
Suara decakan Alka terdengar, "Sedikit saja."
"Tidak, jangan lakukan sekarang mas." pinta Amina dari dalam selimut.
Alka merasa kesal dan Ia pun kembali berbaring ditempatnya.
Merasa sudah tidak ada pergerakan dari Alka, Amina membuka selimutnya, Ia melihat Alka memanyunkan bibirnya.
Amina tersenyum, "Jangan marah mas, aku hanya masih takut melakukan itu."
"Padahal aku hanya ingin mencium saja!"
"Tapi aku takut terjadi hal lain lagi."
Alka menghela nafas panjang, Ia mencoba mengerti perasaan Amina.
"Baiklah maafkan aku. Sekarang temani aku tidur. Hanya tidur."
Alka membawa Amina ke dalam pelukannya dan keduanya pun terlelap.
Amina bangun setelah mendengar suara Alka. Amina melihat Alka sedang berdiri dan berbicara dengan ponselnya.
"Cari tahu kelemahannya, aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuknya."
Hanya itu yang Amina dengar dan setelah itu Alka mengakhiri panggilannya.
Alka berbalik dan terkejut melihat Amina sudah bangun, sedang menatapnya.
"Aku tidak sengaja mendengarnya." ucap Amina merasa tak enak karena mengetahui privasi Alka.
Alka menghampiri Amina, kembali berbaring disamping Amina, "Apa yang kau dengar?" tanya Alka sambil mengelus pipi Amina.
"Mas ingin memberi pelajaran siapa?"
"Seseorang yang sudah mengusik hidupku."
"Apa mas juga akan membunuhnya?"
Alka tertawa, "Kau terlalu banyak melihat drama!"
Amina tersenyum,
"Aku tidak akan membunuhnya, hanya memberinya sedikit pelajaran agar dia tidak mengusik kehidupan kita."
"Siapa mas?" Amina masih penasaran.
"Brian, temanmu."
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn
__ADS_1