
Alka membuka pintu kamarnya, melihat Amina sudah terlelap diranjang, Ia ikut berbaring disamping istrinya dan memeluknya.
"Maaf sayang." bisik Alka yang mengusik lelap Amina.
Amina membuka matanya, Amina tidak membalas pelukan Alka namun malah mengendus bau tubuh Alka.
"Mas bau ngapain deket deket!" ucap Amina sambil meronta agar Alka melepaskan dirinya.
Lagi lagi Alka dibuat terkejut oleh perkataan Amina yang mengatai dirinya bau.
"Kamu kenapa yank, dari tadi siang ngatain aku bau mulu padahal aku tu nggak bau!" omel Alka akhirnya tak tahan sedari tadi hanya diam.
"Apa kau sengaja bikin aku marah?"
Amina menunduk, menatap melas Alka, "Aku nggak mau bikin kamu marah kok mas tapi emang bener kamu bau mas, aku beneran mau mual." akui Amina.
"Ya udah coba muntah aja kalau memang aku bau."
Alka memaksa tetap memeluk Amina dan tak berapa lama Alka melihat wajah Amina berubah, Amina benar benar tak tahan, Ia melepaskan diri dari pelukan Alka dan berlari ke kamar mandi.
Hoekk.... hoekkk....
Alka benar benar shock melihat istrinya muntah. Alka kembali menciumi badannya sendiri, Ia merasa tidak bau sama sekali tidak bau.
"Oke aku akan mandi lagi biar nggak bau." kata Alka yang langsung diangguki Amina.
Setelah perutnya merasa lega, Amina kembali berbaring diranjang menunggu Alka yang masih mandi didalam.
Tak berapa lama, Alka keluar. Masih mengenakan handuk Ia mendekati istrinya.
"Aku udah pakai sabun 5x, dijamin udah nggak bau lagi." ucap Alka meminta Amina mengendus tubuhnya.
Dan lagi lagi, Amina berlari ke arah kamar mandi untuk muntah lagi membuat pikiran Alka buntu, tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan.
"Oke, aku akan tidur disini, biar kamu tidur diranjang." ucap Alka yang kini duduk disofa, Alka menahan diri untuk tidak emosi meskipun Ia merasa sangat kesal dan ingin marah pada Amina.
"Maaf mas, aku nggak tahu ini kenapa tapi kamu memang beneran bau." ucap Amina merasa tak enak.
"Iya iya aku tahu, aku nggak akan deket deket kamu lagi."
Amina kembali berbaring diranjang sambil menatap Alka duduk disofa dengan raut wajah kesal.
"Tadi kamu ketemu Brian lagi?" tanya Alka.
"Mas dikasih tahu sama mama?"
Alka mengangguk, "Nggak usah takut lagi, aku sama Juan udah punya rencana buat jebak dia!"
Amina mengangguk, "Tapi tadi dia nggak ngikutin aku sampai rumah kok mas."
"Kamu yakin?"
Amina kembali mengangguk, "Aku lihat nggak ada mobil yang ngikutin."
__ADS_1
Alka tersenyum, Ia melemparkan ponselnya ke ranjang, "Kamu lihat rekaman cctv didepan rumah kita."
Amina membuka ponsel Alka dan melihat rekaman cctv, Amina terkejut karena ternyata Brian mengikutinya namun mengendarai motor.
"Ini..."
"Dia ngikutin kamu pakai motor."
Wajah Amina berubah pucat dan takut.
"Kamu nggak perlu takut sayang, dia memang sedikit berbahaya tapi aku punya cara buat nangkap dia."
"Tapi mas, dia anak pemilik kampus, dia juga banyak bodyguardnya, kayaknya bakal susah buat laporin dia ke polisi."
Alka tersenyum sinis, "Kita lihat saja siapa yang menang. Yang penting ponsel kamu selalu aktif, jangan sampai mati."
Amina mengangguk, "Iya mas iya."
Amina bersiap untuk tidur dan Ia merasa tak tega jika membiarkan Alka tidur disofa.
"Mas, tidur disini tapi jangan deketan." pinta Amina.
Alka menggelengkan kepalanya, "Enggak, biar aku disini aja!"
"Maafin Mina ya mas."
Alka mengangguk, "Nggak masalah, tapi kesel aja harus puasa." ungkap Alka.
"Ya kan semalam udah sampai pagi mas." canda Amina.
Amina berdecak, "Capek tahu mas!"
Alka tersenyum, "Iya iya, istirahat saja."
Alka berbaring di sofa, Ia terlelap lebih dulu karena hari ini sangat melelahkan untuknya sementara Amina masih belum bisa tidur, Amina masih memainkan ponselnya, mencari cari sesuatu di mbah google.
Salah satu ciri orang hamil terkadang kita tidak bisa dekat dengan suami dikarenakan merasa tak tahan dengan bau suami, jangan khawatir moms, itu gejala yang biasa terjadi.
Amina terkejut membaca artikel itu, Ia langsung mengelus perutnya. "Apa benar aku hamil? Rasanya nggak sabar nunggu besok pagi mau tespack." gumam Amina.
Semalaman Amina tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan kehamilannya yang masih belum pasti.
Dan pagi ini Amina bangun lebih awal, Ia segera mengambil beberapa tespack dan mencoba menggunakannya.
Garis dua... Satu tespack yang Ia gunakan bergaris dua yang menandakan jika Ia hamil.
Amina tidak ingin senang dulu, Ia kembali mencoba tespack yang lainnya dan hasilnya garis dua semua.
"Mas Alka pasti seneng." ucap Amina membawa semua tespack itu.
Amina mengambil kotak kecil lalu Ia masukan semua tespack dikotak itu dan ditali menggunakan pita cantik.
Amina melihat jam dinding sudah pukul 5 pagi, Ia memberanikan diri untuk membangunkan Alka.
__ADS_1
"Mas ... bangun sebentar." pinta Amina.
Lelap Alka terusik, Alka segera bangun saat tahu Amina ada disampingnya.
"Ada apa? Apa kamu nggak ngerasain aku bau?" tanya Alka sedikit menjauh tak ingin Amina mual lagi.
Amina mengendus Alka, Ia merasa Alka sudah tidak bau.
Amina menggelngkan kepalanya membuat Alka tersenyum senang dan langsung memeluk Amina.
"Ngeselin amat cuma mau meluk aja harus nunggu pagi dulu." gerutu Alka.
Amina tersenyum, Ia melepaskan diri dari pelukan Alka, "Aku sekarang sudah punya kado buat kamu mas."
"Kado apa?"
Amina mengeluarkan kotak kecilnya lalu Ia berikan pada Alka.
"Ck, udah dibilang nggak perlu beli!"
"Buka dulu dong."
Alka membuka kotak itu dan Ia spechless melihat isi kotak yang baru saja diberikan oleh Amina.
"Ini beneran sayang?"
Amina tersenyum dan mengangguk.
Sontak Alka memeluk Amina, Alka bahkan meneteskan air matanya karena terlalu senang melihat Amina hamil.
"Terima kasih sayang, terima kasih." ucap Alka untuk Amina.
"Mas nangis sih?" heran Amina karena pertama kalinya Ia melihat Alka menangis.
"Nggak nyangka kamu bakal hamil secepet ini."
"Ya gimana nggak cepet mas orang tiap hari digenjot mulu!" celetuk Amina merubah tangis Alka menjadi tawa renyah.
"Digenjot mulu tapi enak kan?"
Amina mengangguk, "Enak mas."
Alka diam sejenak dan tiba tiba Ia teringat sesuatu, "Oh mungkin karena kamu hamil jadi ngerasa aku bau padahal aku nggak bau."
Amina mengangguk setuju, "Iya mas, semalam aku udah browsing dan emang gitu."
Alka berdecak, "Mulai sekarang puasa dulu deh nggak apa apa demi my baby." kata Alka.
"Tapi sekarang belum mandi gini nggak bau ya mas?" Amina mencoba mengendus Alka dan tidak merasa mual.
"Masa iya aku nggak mandi biar bisa deket sama kamu terus." heran Alka.
"Ya kalau babynya pengen gitu gimana dong mas?" kata Amian tertawa membuat Alka ikut tertawa.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen yaaa