
Baik Wina maupun Karsa menatap ke arah Rania tak percaya.
"Jangan fitnah kamu!" sentak Karsa terdengar tak suka dengan apa yang Rania katakan.
Wajah Rania mulai pucat, Ia pikir akan mudah mengelabui Pakde dan Budhenya namun ternyata...
Pakdenya terlihat tak percaya sementara Budhenya mulai terpengaruh.
"Rania nggak fitnah kok, waktu itu dia jatuhin ponsel Rania sampai rusak trus Rania minta ganti ponselnya sama Amina langsung diganti padahal harganya 26juta." ungkap Rania.
"Memang ponsel kamu harganya segitu?" selidik Karsa.
"Bodoh!" umpat Rania dalam hati.
"Ra rania minta ponsel yang biasa tapi dia malah kasih ponsel itu pakde."
"Tapi Pakde tidak percaya!"
"Mas..." Wina memperingatkan suaminya.
Rania tersenyum lega melihat Wina mulai terpengaruh dengan ucapannya.
"Sekarang coba bayangin aja Budhe, dimana Amina dapat uang sebanyak itu padahal gaji Ibunya aja hanya cukup untuk biaya hidup mereka." Rania masih mencoba meyakinkan.
"Ya siapa tahu dia punya tabungan." Karsa masih membela Amina.
Rania akhirnya menyerah, melihat Karsa begitu mempercayai Amina, "Terserah Pakde sam Budhe sih kalau nggak percaya sama Rania nggak apa apa, Rania bilang gini karena Rania nggak mau Budhe punya menantu mantan kupu kupu malam." ucap Rania lalu beranjak dari ruang makan dirumah Wina.
"Anak itu semakin lama kelakuannya semakin menjadi!" omel Karsa masih tak terima sementara Wina hanya diam saja.
"Apa Mama percaya?" Karsa menatap istrinya.
"Percaya nggak percaya."
Karsa berdecak, "Lebih baik nanti tanya sama anaknya langsung aja Ma, biar kita juga nggak salah paham."
"Mana mau ngaku kalau ditanya."
Karsa menghela nafas panjang, Ia melihat istrinya mulai terpengaruh dengan ucapan Rania.
"Ma...
Dengerin Papa, kita hidup sama Bik Surti udah lama, udah beberapa puluh tahun dan selama ini kita lihat Bik Surti orang yang baik dan jujur. Biasanya anak itu dilihat dari Ibunya, kalau Ibunya baik anaknya pun ikut baik.
Bik Surti orang jujur dan kemungkinan Amina juga begitu jadi kalau saran Papa sih mendingan kita tanya sama Amina, biar nggak ada salah paham dan fitnah lagi."
Wina mengangguk setuju, "Iya deh iya, nanti tanya sama Amina aja."
Karsa tersenyum lega, Ia langsung merangkul istrinya, "Nah gitu dong baru istri kesayangan Papa."
Wina melepaskan rangkulan Karsa, "Apa sih Pa, udah tuwir juga!"
__ADS_1
"Justru kalau udah tua harus sering sering gini biar tetep romantis."
Wina hanya tersenyum menatap suaminya, Ia bersyukur memiliki suami yang sabar dan bisa membimbingnya menjadi orang yang lebih baik.
...****************...
Setelah mendapatkan cuti beberapa hari dari Alka, saat ini Juan bersama Lily sedang perjalanan menuju kampung halaman Lily untuk meminta restu pada keluarga Lily.
Dikarenakan Juan sebatang kara, tidak memiliki siapapun jadi Ia datang sendirian untuk meminang Lily.
Wajah Lily terlihat gelisah berbeda dengan Juan yang terlihat sumringah.
"Jika bisa kita ajukan saja pernikahan, 3 hari lebih cepat karena jika menunggu seminggu akan bersamaan dengan pernikahan Tuan Alka, aku ingin datang ke pernikahan Tuan Alka." ungkap Juan.
Lily berdecak, "Untuk masalah itu, sebaiknya kita bertemu dengan Ayahku lebih dulu. Aku saja tidak tahu kita akan mendapat restu atau tidak!"
Juan mengerutkan keningnya heran, "Apa Ayahmu begitu sulit untuk dirayu?"
Lily mengangguk, "jangan berharap lebih."
Juan berdecak, "Aku akan berusaha bagaimana pun caranya." kata Juan penuh keyakinan.
Lily hanya memutar bola matanya malas.
Setelah menempuh perjalanan berjam jam akhirnya keduanya sampai dirumah Lily. Rumah Lily terlihat sangat sederhana membuat Juan menebak jika Lily bukan anak dari orang kaya.
"Lily..." wanita paruh baya terkejut melihat kepulangan Lily apalagi Lily menaiki mobil bersama seorang pria.
Lily mencium punggung tangan Ibunya diikuti oleh Juan yang melakukan hal yang sama.
"Ada didalam." Ibu Lily menarik lengan putrinya lalu membisikan sesuatu, "Dia siapa?"
"Nanti Ibu juga bakal tahu."
Lily mengajak Juan masuk, bersama Ibunya pun ikut masuk.
Kali pertama Juan bertemu dengan calon mertunya, rasanya tak karuan karena sebelumnnya Juan memang belum pernah bertamu dirumah kekasihnya.
"Lily..." suara besar khas bapak bapak terdengar saat Lily memasuki rumah.
Lily mencium punggung tangan Ayahnya lalu duduk disamping Ayahnya dan saat Juan hendak mencium tangan Ayah Lily dengan cepat Ayah Lily menolak uluran tangan Juan.
"Siapa kau?" sentak Karno Ayah Lily, terdengar galak.
"Saya Bos dikantornya Lily, kedatangan saya kesini untuk melamar Lily Pak." ucap Juan dengan mantap.
Karno bukannya senang malah tersenyum sinis, "Saya kuliahkan Lily agar dia mendapatkan pekerjaan yang baik dengan gaji besar dan baru seminggu dia bekerja sudah ada yang melamarnya? Kamu pikir saya akan terima?"
Juan terkejut sangat terkejut, Akhirnya Ia paham maksud Lily jika Ayahnya sangat keras. Sepertinya semua tidak berjalan mulus seperti yang Juan pikirkan.
"Kalau masalah uang, saya bisa mencukup-"
__ADS_1
Brakkk.... Karno mengebrak meja memotong ucapan Juan.
"Saya tidak mau uangmu, saya hanya ingin putri saya bekerja!"
"Tapi pak, saya berniat serius dengan putri Bapak." juan masih memohon.
"Pulang kamu!" usir Karno.
"Ayah..." Lily mencoba menenangkan Ayahnya sementara Yani istri Karno hanya diam seolah tak berani melakukan apapun.
"Jika kamu memang mau menikahi putriku, tunggu 5 tahun lagi."
Juan melonggo tak percaya, 5 tahun, Ia harus menunggu 5 tahun lagi? Tidak Juan tentu tidak akan bisa menunggu selama itu.
Juan terdiam, sepertinya merayu Karno sangat sulit bahkan meskipun Juan kaya tidak membuat Karno tertarik.
"Baiklah pak, kalau memang saya ditolak. Saya permisi." pamit Juan dengan raut wajah kecewa.
Lily menatap Juan tak tega, selama ini Ia sering dekat dengan beberapa Pria namun tidak ada yang berniat melamarnya seperti Juan.
Juan beranjak dari duduknya, Ia kembali mengulurkan tangan namun lagi lagi ditolak hingga akhirnya hanya Yani yang menerima uluran tangannya.
"Sana kamu balik ke kota, kerja lagi. Ingat jangan pulang sebelum membawa kesuksesan!" ucap Karno pada Lily yang didengar oleh Juan.
Juan berjalan sampai didepan rumah,
"Nak..." suara Yani terdengar memanggilnya membuat Juan menghentikan langkahnya.
"Maafkan Ayahnya Lily ya ..." ucap Yani dengan raut wajah bersalahnya.
Juan tersenyum, "Tidak apa apa Bu, saya bisa mengerti kok."
Lily menyusul keluar dan langsung mendekat, "Pak, saya ikut ke kota lagi."
Juan mengangguk, "Masuklah ke mobil."
Lily mencium tangan Ibunya lebih dulu sebelum memasuki mobil diikuti oleh Juan.
"Hati hati ya nak..."
Juan mengangguk lalu memasuki mobil.
Juan mulai melajukan mobilnya, masih terlihat jelas raut kecewa diwajah Juan.
"Pak... Maafkan Ayah saya ya?"
Juan mengangguk, "Tidak masalah jika memang masih tidak bisa namun jika harus menunggu 5 tahun lagi, aku tidak yakin apa bisa."
Deg... Entah mengapa Lily merasa sesak mendengar ucapan Juan.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
Kasihan ya Juan hehe
Jangan lupa like vote dan komenn yaa