
Cukup lama Amina terisak dimeja makan, Ia menghentikan tangisnya. Melangkahkan kakinya menyusul Alka yang saat ini sedang duduk di balkon kamar mereka sambil menghisap rokoknya.
Amina berdiri disamping suaminya yang terlihat acuh, tak membalas tatapan Amina.
Amina kembali turun ke dapur, mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
Ia bawa kembali ke atas dan duduk disamping suaminya.
"Makan dulu mas," ucap Amina dengan suara serak.
Alka yang tadinya kesal akhirnya luluh juga setelah mendengar suara lembut Amina apalagi Amina berniat untuk menyuapinya makan.
Alka mengerus rokoknya, bersiap menerima suapan dari Amina.
"Enak... Masakan istriku selalu enak." puji Alka yang langsung membuat Amina tersenyum.
"Cuma tumis kangkung sama udang goreng." balas Amina.
"Tapi beneran enak sayang." Alka kembali memuji Amina.
Amina tersenyum, "Terima kasih mas."
"Untuk?" tanya Alka dengan mulut penuh.
"Untuk segalanya, terima kasih Mas udah mau menjaga aku."
Alka tersenyum, "Sudah tanggung jawab aku."
Keduanya terdiam sebelum akhirnya Alka mengatakan sesuatu pada Amina, "Kamu tahu sayang ada satu pondasi penting yang bisa membuat pernikahan kita semakin kokoh."
"Apa itu mas?"
"Kejujuran."
Amina terdiam, sadar jika Ia belum sepenuhnya bisa jujur dengan Alka mengenai apapun.
"Maafkan aku mas, terkadang aku hanya ingin-"
"Ingin melindungi seseorang yang tidak tahu diri?" cibir Alka.
Amina menundukan kepalanya, "Aku hanya kasihan mas, mbak Yani itu janda 2 anak yang ditinggal mati oleh suaminya, dia itu tulang punggung keluarga, aku harap mas kasih kesempatan buat dia biar bisa bekerja lagi." pinta Amina.
Alka menghela nafas panjang, "Aku sudah memberikan kesempatan padanya siang tadi tapi dia malah berulah lagi jadi bukan salahku jika aku memecatnya seperti ini!"
Amina menatap Alka dengan tatapan kecewa.
"Tapi aku akan meminta Juan untuk memberikan kompensasi padanya agar dia bisa membuat usaha kecil kecilan dirumah." kata Alka yang langsung membuat Amina tersenyum lega.
"Love you mas." Amina memeluk suaminya.
"Kayak gini aja Love you!" cibir Alka membuat Amina tertawa.
__ADS_1
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan.
Amina sudah memiliki rutinitas harianya, Ia pergi ke kampus mengendarai mobilnya sendiri seperti yang di inginkan oleh Alka.
"Mina ke mall yuk." ajak Vera salah satu teman kampus Amina.
Setelah menikah dengan Alka dan kehidupan ekonominya berubah, Amina memiliki banyak teman, tidak seperti saat Ia masih sekolah yang tak memiliki teman karena dia hanya anak dari pembantu.
"Nggak dulu deh Ver, mau cepet pulang nih."
Vera terlihat kecewa, "Padahal lagi banyak diskon hari ini."
"Tapi aku harus cepet pulang, nggak enak sama suami gara gara kemarin pulang telat jadi nggak bisa masak makan malam." ungkap Amina mengingat Ia kemarin ada tugas kelompok yang membuatnya pulang terlambat.
"Suami kamu pasti ngerti deh, lagian nyenengin istri kan salah satu tanggung jawab suami." kata Vera lagi.
Amina tersenyum, "Mas Alka sudah banyak nyenengin aku kok, kapan kapan aja ya Ver." tolak Amina yang akhirnya diangguki oleh Vera.
Amina segera melajukan mobilnya keluar dari kampus.
Sampai dirumah, Amina dibuat terkejut kala ada mobil mertuanya didepan rumah.
"Apa Papa sama Mama kesini?" gumam Amina segera keluar dan masuk kerumah.
"Ada Tuan sama Nyonya Non." ucap Bik Narti, asisten rumah tangga yang membantu Amina dirumah, "Lagi istirahat diatas."
Amina mengangguk paham, Ia segera membersihkan diri dan bersiap untuk memasak karena mungkin malam ini akan ada dinner keluarga.
Amina segera mencium punggung tangan Wina, "Mama sampai jam berapa tadi, maaf Amina nggak tahu kalau Mama datang, kalau Amina tahu mungkin Amina bisa minta izin dosen buat nggak masuk hari ini." ungkap Amina.
Wina tersenyum, "Mama sama Papa mau bikin surprise makanya nggak bilang kalau mau datang."
"Kamu nggak perlu capek capek masak, kan udah ada Bik Narti." kata Wina.
"Nggak apa apa Ma, Mina suka bingung kalau dirumah nggak ngapa ngapain." ungkap Amina.
"Tetep aja, kalau kamu kecapekan program hamil kalian bisa bisa nggak jalan."
Deg... Mendengar kata hamil membuat Amina terdiam karena Ia sudah menikah sebulan lebih namun masih belum ada tanda tanda kehamilan.
"Maaf ya Ma..."
"Maaf kenapa?" heran Wina.
"Amina masih saja belum hamil."
Wina tertawa, "Kalian baru menikah sebulan, mama bisa ngerti."
"Tapi Mama sama Papa sudah pengen cucu, Amina merasa nggak enak."
Wina berdecak, "Mama bilang gitu tadi cuma nggak mau kamu kecapekan, jadi jangan salah paham."
__ADS_1
Amina tersenyum lalu mengangguk.
Amina akhirnya meninggalkan dapur dan meminta Bik Narti untuk memasak, Ia kini menemani Wina dan Karsa mengobrol diruang tamu.
Tepat pukul 6, Alka pulang dari kantor. Ia terkejut melihat orangtuanya duduk diruang tamu rumahnya.
"Mama ... Papa... Kok nggak bilang kalau mau datang?" tanya Alka langsung menyalami kedua orangtuanya.
"Dasar anak nakal, kamu ini nggak bakal pulang kerumah kalau bukan kami yang datang kesini!" omel Wina.
Alka tersenyum memperlihatkan gigi rapinya , "Bukan nggak mau pulang kesana Ma, lagi nggak ada waktu. Aku sibuk kerja dan Amina juga sudah mulai kuliah, kalau libur pun kami juga masih lembur."
"Lembur apa?" tanya Karsa.
"Lembur bikin anak dong." Alka tertawa diikuti oleh Wina dan Karsa yang ikut tertawa sementara Amina menunduk malu.
"Ya sudah sana buruan mandi, Mama sama Papa udah laper mau makan malam nungguin kamu." perintah Wina.
"Siap Ma.."
"Mina siapin air sama baju dulu buat mas Alka ya Ma... Pa..." pamit Amina yang langsung diangguki Karsa dan Wina.
"Tuh lihat kan Ma... Punya Mantu nggak cuma perhatian sama suami tapi juga sama kita." kata Karsa saat Amina dan Alka sudah naik ke atas.
Wina mengangguk setuju, Ia menyesal karena sempat tak merestui hubungan Alka dan Amina.
"Coba yang jadi mantu kita salah satu anak temen Mama, belum tentu perhatian sama kita kayak Amina." cibir Karsa.
"Iya deh Pa, iya... Nggak perlu di ungkit lagi!" Wina mulai kesal membuat Karsa tertawa.
Sementara dikamar, Alka baru saja keluar dari kamar mandi, Ia melihat Amina sedang menyiapkan baju untuknya.
"Minum teh hangat dulu mas." Amina memberikan secangkir teh hangat untuk Alka.
Sudah menjadi kebiasaan Amian saat Alka selesai mandi, Amina membuatkan air hangat untuk Alka, entah itu teh hangat atau jahe terkadang juga susu hangat.
"Terima kasih istriku yang paling cantik sedunia." ucap Alka lalu mengecup kening Amina.
Alka ingin memeluk Amina namun langsung ditolak oleh Amina.
Entah mengapa Amina mendadak tidak menyukai bau tubuh Alka, padahal Alka baru saja mandi dan baunya pun sangat harum.
"Kenapa?"
"Nggak mau dipeluk!"
"Kenapa? Kamu marah sama aku?"
"Pokoknya nggak mau dipeluk!" ucap Amina judes lalu keluar dari kamar membuat Alka keheranan.
Apa salahnya?
__ADS_1
Bersambung...