JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
61


__ADS_3

Tubuh Rania bergetar hebat, rasanya Ia ingin marah, menangis bersamaan saat ini juga. Alka benar benar sudah menguliti dirinya saat ini. Ia malu sangat malu apalagi melihat tatapan sinis Pakde, Budhe dan juga Alka sementara Amina menatapnya dengan tatapan kasihan.


Sial... hari ini benar benar sial untuknya.


Rania memegang kopernya, bersiap untuk pergi dari rumah Alka karena Ia tak mampu membela diri lagi.


"Mau kemana kamu? Selesaikan dulu urusan kamu dengan kami!" ucap Pakde Karsa.


"Selesaikan apa lagi? Bukankah semua orang sudah tahu seperti apa aku ini!"


"Kau belum minta maaf pada Amina, kau ini sudah menfitnah Amina menjual diri tapi ternyata malah kau sendiri yang menjual diri, sekarang minta maaf!" perintah Alka dengan tatapan geram.


"Aku? Meminta maaf pada gadis miskin itu? Tidak mau!" balas Rania dengan penuh percaya diri.


"Jika kau tidak mau meminta maaf, aku yang akan membuatmu menjadi gadis miskin agar kau tahu bagaimana rasanya menjadi gadis miskin yang selalu dihina oleh orang." ancam Alka.


Bukannya takut, Rania malah tersenyum sinis, "Aku sudah tidak peduli lagi dengan ancamanmu, kau sudah merusak hidupku, jika kau masih belum puas silahkan saja lakukan sesukamu!"


Rania membawa koper bersamanya, Ia pergi dari rumah Alka dengan perasaan campur aduk.


Tidak ada yang menahan Rania, semua orang acuh dan membiarkan Rania pergi, kecuali Amina yang sedari tadi menatap Rania dengan kasihan.


"Kita kembali tidur," ajak Karsa yang langsung diangguki semua orang.


Rania yang sudah berharap Budhe Wina menahannya, membiarkan dirinya menginap dirumahnya harus merasa kecewa karena saat Ia pergi, Wina hanya diam saja. "Sial, kemana aku harus pergi sekarang, aku juga tidak membawa uang sama sekali!" umpat Rania baru saja melewati pagar rumah Alka.


Suara pagar rumah terbuka membuat Rania berbalik, Ia pikir Budhe Wina namun ternyata Amina.


"Ran, ini aku ada sedikit uang setidaknya bisa buat menyewa kamar." Kata Amina mengulurkan uang ratusan 5 lembar.


Bukannya menerima, Rania malah membuang uang yanh diberikan oleh Amina, "Kau pikir aku pengemis? Kau merasa orang kaya karena sebentar lagi menikah dengan mas Alka?" sinis Rania.


Amina menggelengkan kepalanya tak setuju, "Bukan Ran, bukan seperti itu. Jangan salah paham. Aku kasih uang ini karena tahu kamu pasti nggak punya uang." jelas Amina tak ingin Rania salah paham.


"Lo hina gue miskin, hah!" Rania melotot tak terima membuat Amina hanya bisa menghela nafas panjang.


Niatnya sudah baik namun Rania malah berpikir lain.


Amina mengambil uang yang bercecer lalu Ia kembali masuk. Ia tak ingin memaksa Rania karena percuma, Rania memang tidak menyukainya.


Amina menutup pintu dan terkejut melihat Alka menunggunya disebelah tangga.


"Kau ini sudah disakiti oleh Rania, kenapa masih baik padanya? Seharusnya biarkan saja dia!" ucap Alka dengan nada tak suka.


"Aku hanya kasihan mas, dia pasti bingung harus kemana dan juga..." Amina tak melanjutkan ucapannya melihat Alka jengah menatapnya.


"Sudahlah, kita kembali tidur saja." ajak Amina melewati Alka, tak ingin berdebat dengan Alka.

__ADS_1


Alka mengikuti langkah kaki Amina dan saat Amina ingin menutup pintu kamarnya, Alka malah menahan pintunya.


"Mas mau apa?"


Alka memasuki kamar Amina dan menutup pintu kamarnya, "Mau ngasih kamu hukuman karena kamu masih baik sama Rania."


Amina melotot tak percaya, baru kali ini ada orang baik malah diberi hukuman.


"Hukuman apa sih mas? Mendingan Mas keluar aja deh nanti kalau Mama sama papa tahu gimana?"


Alka tak mengubris, Ia malah berbaring di ranjang Amina dan menepuk nepuk sampingnya yang kosong.


"Nggak mau!" tolak Amina.


"Nggak usah bikin kesel deh!"


Mendengar ucapan Alka membuat Amina takut dan akhirnya Ia berbaring disamping Alka.


Segera Alka memeluk tubuh rampingnya, "Nah gini hukumannya." celetuk Alka.


"Mas mau tidur disini?" tanya Amina yang langsung diangguki oleh Alka.


"Jangan mas, besok pagi kalau Mama lihat gimana?" Amina terlihat takut.


"Ya nggak gimana gimana, Mama pasti bisa ngerti." Alka terdengar santai.


Alka menghela nafas panjang, "Ya sudah, aku disini sampai kamu tidur."


"Bener ya mas?"


"Iya sayang."


Jantung Amina berdegup sangat kencang mendengar Alka memanggilnya sayang.


Semakin malam jalanan semakin sepi, Rania masih menyeret kopernya menyusuri jalanan. Ia tak tahu lagi kemana harus pergi karena semua teman temannya hampir tak bisa dihubungi. Rania kesal tentu saja kesal mengingat selama ini Ia sangat royal dengan teman temannya namun saat Rania membutuhkan mereka malah menghilang bak ditelan bumi, tak ada yang bisa menolongnya.


"Benar benar sial, seharusnya aku menerima uang Amina tadi." sesal Rania karena sekarang Ia benar benar tak tahu harus kemana lagi.


Rania terus berjalan hingga tak menyadari jalanan semakin sepi. Rania melihat ada beberapa truk yang berjejeran dipinggir jalan.


Suittt suittt... Suara siulan terdengar dari arah truk.


"Apa aku berbalik saja ya?" batin Rania merasa risih melihat sopir truk yang mulai melihat ke arahnya.


Saat Rania ingin berbalik, seorang pria sudah berdiri dibelakang Rania.


"Haloo nona..." sapa pria itu dengan senyuman nakal.

__ADS_1


ketiga pria yang ada didepan Rania pun ikut mendekat dan kini ada 4 pria yang mengerubungi Rania.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Rania dengan berani.


"Nona cantik, kemana kau akan pergi malam malam begini?" goda salah satu pria sambil menyentuh dagu Rania.


"Kemana pun aku pergi bukan urusan kalian!"


"Kami bisa membantu mengantarmu jika kau mau."


Rania diam, mendadak Ia terpikir sesuatu, "Apa kalian bisa memberiku uang?"


Keempat pria itu tersenyum, "Tentu saja Nona, tapi itu tidak gratis."


Rania menatap keempat pria itu dengan tatapan jengah, "Baiklah, aku tahu apa yang kalian pinta."


Keempat pria itu tersenyum kegirangan, tak menyangka jika akan mendapatkan gadis muda yang cantik malam ini.


"Jadi dimana kita akan melakukan?" tanya Rania.


"Didalam truk itu."


Rania mengangguk paham, Ia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini untuk mendapatkan uang. Tak peduli keempat pria itu sudah tua ataupun jelek asalkan Rania mendapatkan uang untuk sewa rumah.


Keempat pria itu bergilir menikmati tubuh Rania hingga mereka puas.


Setelah selesai, Rania merasakan tubuhnya lemas dan rasa nyeri dibawah sana karena permainan kasar keempat pria itu.


"Mana bayaranku?" pinta Rania.


Satu persatu mengumpulkan uang limapuluh ribuan lalu diberikan pada Rania.


"200 ribu? Apa kalian gila?" Rania terkejut, Ia melayani empat pria dan hanya mendapatkan uang yang sangat sedikit padahal jika Ia melayani satu pria kaya biasanya Ia bisa mendapatkan uang 10juta.


Keempat pria itu tertawa, "Lalu kau meminta berapa Nona? Kami hanya sopir truk tidak bisa memberikan uang yang banyak untukmu."


"Aku tidak peduli, berikan aku 40 juta sekarang, tarifku satu orang 10 juta!" ucap Rania memaksa.


Keempat sopir truk kembali tertawa, "Kau meminta sampai menangis darah pun tidak akan kami berikan Nona karena kami tidak punya uang sebanyak itu."


"Aku akan melaporkan kalian pada polisi!" ancam Rania.


"Laporkan saja Nona, mana ada polisi yang akan mengusut kasus ini jika kau yang menawarkan diri." balasnya lalu mereka kembali tertawa.


Rania mengepalkan tangannya, sungguh sial, hari ini benar benar sial.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komenn


__ADS_2