
Amina bangun lebih awal dari biasanya, Ia segera turun, membuat sarapan untuk Calon mertuanya itu.
"Kenapa harus bangun sepagi ini? Santai saja tidak apa apa." Suara Wina terdengar mengejutkan Amina.
"Sudah terbiasa bangun jam segini Ma..."
Wina diam, Ia memperhatikan Amina yang sedang membuat nasi goreng.
"Kalau Alka sukanya nasi goreng nggak dikasih kecap, dulu Ibu kamu setiap pagi masak nasi goreng tanpa kecap untuk Alka." celetuk Wina mengenang Surti, mantan Art yang sudah lama bekerja dengannya.
"Nyari Art kayak Ibu kamu sudah susah jaman sekarang." ungkap Wina membuat Amina tersenyum.
Benar kata Alka jika Wina itu baik hanya saja mungkin Amina belum terlalu mengenal Wina.
"Oh ya gimana kabar Ibu kamu sekarang?"
Amina terdiam cukup lama sebelum akhirnya Ia menjawab, "Ibu sudah tidak ada Ma..."
Wina terkejut, menatap Amina tak percaya, "Jangan bercanda!"
Amina memaksakan senyumnya, "Benar Ma, Ibu sudah tidak ada beberapa minggu yang lalu."
Tak disangka, Wina langsung memeluk Amina.
"Mama turut berduka cita atas meninggalnya Ibu kamu."
Amina mengangguk, jujur Ia ingin menangis saat ini juga namun Ia tahan karena tak ingin membasahi baju Wina yang kini masih memeluknya.
"Duh romantisnya, Mama mertua dan menantu udah pelukan aja pagi pagi gini." celetuk Karsa yang baru saja turun membuat Wina melepaskan pelukannya.
"Pa... Mbok Surti ternyata sudah nggak ada."
Karsa mengerutkan keningnya tak mengerti, "Apa maksud Mama?"
"Mbok Surti sudah meninggal."
Karsa ikut terkejut dengan pengakuan istrinya itu "Innalilahi,"
"Kalau begitu nanti kita sama sama ke makam Bik Surti." ajak Karsa yang langsung diangguki setuju oleh Wina.
Setelah sarapan bersama, Amina dan Wina bersiap untuk pergi menemui pihak WO yang sudah dihubungi oleh Wina sebelumnya.
Rencananya, setelah menemui pihak WO, mereka akan pergi ke makam Bik Surti.
"Budhe..." Sapa Rania saat Wina dan Amina hendak memasuki mobil.
"Eh Rania sayang, ada apa?"
"Mama minta Rania buat nganter ini." Rania memperlihatkan rantang yang berisi sayur lodeh kesukaan Wina.
"Ya sudah sana bawa masuk aja, ada Pakde kamu didalam." pinta Wina.
"Budhe mau kemana, kok sama..." Rania menatap Amina dengan tatapan mengejek.
"Mau ketemu sama pihak WO, oh ya bilangin sama Mama kamu kalau Alka bentar lagi mau nikah."
Rania terkejut, "Menikah sama dia Budhe?" Rania menunjuk ke arah Amina.
__ADS_1
"Iya, cantik kan mantu Budhe." puji Wina terlihat bangga.
Rania hanya tersenyum sinis lalu meninggalkan Wina dan Amina.
"Kita berangkat sekarang."
Wina dan Amina sudah berada dimobil, mereka diantar oleh sopir pribadi keluarga Karsa.
"Kamu kenal ya sama Rania?"
"Hanya tahu saja Ma, dia dulu satu sekolahan sama aku."
"Nggak akrab sama dia?"
Amina mengangguk,
"Pantas saja."
"Pantas kenapa Ma?" tanya Amina.
"Nggak kok."
Amina diam tak bertanya lagi meskipun Ia masih penasaran dengan maksud Wina.
Sementara itu dirumah, Rania baru saja selesai memindahkan sayur lodeh dari rantang ke mangkuk.
"Bilang sama Mama mu makasih buat sayurnya." ucap Karsa pada Rania.
"Siap pakde. Oh ya mas Alka mau nikah ya Pakde?"
Karsa mengangguk, "Sama Amina, kenal kan sama Amina?"
"Terkenal karena pintar kan? Pakde sudah tahu." balas Karsa yang memang mengetahui jika Amina anak yang pintar.
Rania malah tertawa, "Enggak karena itu Pakde, aduh gimana nih di omongin apa nggak ya?"
"Memangnya apa? Kalau dilihat dia anak baik baik kok." Karsa membela Amina.
"Pakde belum tahu sih, dia itu... Ah nggak usah di omongin lah takut fitnah." kata Rania "Ya sudah, Rania pulang ya pakde." Pamit Rania lalu pergi meninggalkan Karsa yang masih penasaran dengan maksud Rania.
"Sebenarnya apa maksud Rania." gumam Karsa menatap punggung Rania yang berjalan menjauh.
...****************...
Alka baru saja selesai meeting bersama Juan. Keduanya segera memasuki ruangan Alka.
"Tuan saya-"
"Aku-"
Juan dan Alka berbicara bersamaan hingga membuat keduanya langsung diam.
"Tuan saja dulu." Juan akhirnya mengalah.
"Tidak, kau saja. Apa yang ingin kau katakan?"
"Saya akan menikah seminggu lagi jadi-"
__ADS_1
"Apa apaan kau ini!" potong Alka terlihat kesal.
"Kenapa Tuan marah?" heran Juan.
"Aku juga akan menikah seminggu lagi, bagaimana bisa tiba tiba kau mengatakan akan menikah jika calon saja tidak punya!"
Juan tersenyum, "Sekarang saya sudah punya calonnya Tuan."
"Menyebalkan, apa kau sengaja mengikutiku?" tuduh Alka.
"Tidak Tuan, saya benar benar akan menikah karena memang sudah mantap dengan gadis pilihan saya."
Alka berdecak, "Ya sudah, menikahlah. Aku juga akan menikah. Kita menikah bersama sama." kata Alka yang langsung membuat Juan tersenyum lebar.
Rencananya saya ingin mengambil cuti mulai besok Tuan."
Alka kembali berdecak, "Aku juga harus mulai cuti besok, siapa yang mengurus perusahaan jika kita sama sama cuti!"
Juan diam sejenak sebelum akhirnya Ia menjawab, "Tenang saja Tuan, saya akan pantau dari sana."
Alka menatap Juan sebal, "Jika memang kau benar akan menikah, cepat bawa gadis itu kemari, aku ingin melihatnya."
"Baiklah Tuan, 5 menit lagi saya akan kembali."
Juan keluar dari ruangan Alka membuat Alka keheranan, "Apa gadis itu berada dikantor ini?" tebak Alka.
Tak berapa lama, Juan membawa seorang gadis masuk. Gadis yang masih berseragam hitam putih memperlihatkan jika dia masih anak baru disini.
"Apa kau benar calon istrinya Juan?" tanya Alka pada Lily.
Lily menghela nafas panjang, "Sebenarnya saya masih belum siap menikah Tuan tapi pria ini memaksa saya harus menerima lamarannya." akui Lily dengan santai.
Mata Juan langsung saja melotot semetara Alka tertawa.
"Apa kau ini pedofil, kenapa memaksa gadis muda yang tidak mau menikah denganmu?" ejek Alka pada Juan.
Juan menatap Lily, "Bukankah kita sudah membicarakan ini semalam?"
"Tapi kau memaksaku!" Lily berani melawan.
"Aku akan menghukum mu nanti." bisik Juan akhirnya.
"Jangan takut Nona kecil, aku pastikan Juan tidak akan pernah menyakitimu, jika itu sampai terjadi, aku yang akan menghajarnya." kata Alka pada Lily.
"Baiklah Tuan, lagi pula aku tidak memiliki pilihan lain selain menerima pria tua ini." kata Lily dan Alka semakin tertawa dibuatnya.
"Kau benar benar mempermalukan aku sayang." kata Juan melotot tajam ke arah Lily.
Lily terlihat tak takut dan tak peduli, Ia merasa saat ini sedang mendapatkan perlindungan dari Alka.
Setelah Lily keluar dari ruangan Alka, kini tinggalah Alka dan Juan.
"Jika dia tidak mau menikah denganmu, kenapa kau memaksanya?"
Juan tersenyum, "Karena saya sudah mendapatkan kriteria yang saya inginkan jadi saya tidak akan melepaskannya Tuan dan menikah adalah salah satu cara agar dia menjadi milik saya sepenuhnya."
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komenn