
Sore ini rumah kontrakan Amina terlihat ramai orang berdatangan untuk melayat. Amina masih menangis sesenggukan melihat jenazah Ibunya yang akan segera dimakamkan sore ini juga.
Juan yang berada disana ikut membantu segala keperluan pemakaman. Ia juga sudah menghubungi Alka sejak siang tadi saat Ia mengetahui jika Ibu Amina meninggal.
"Sudah Nduk, tenang. Ikhlaskan saja kepergian Ibumu." ucap Budhe Parmi yang sedari tadi menemani Amina.
Amina masih menangis, tidak memperdulikan siapapun yang berbicara untuk mencoba menghiburnya.
Acara pemakamana segera dilaksanakan sebelum hari gelap.
Amina memandangi nisan yang bertuliskan nama Ibunya.
"Sekarang apa yang harus kulakukan tanpa Ibu?" suara lirih Amina terdengar.
Amina kembali terdiam dan masih memandangi batu nisan milik Ibunya.
"Nona, hari mulai gelap. sebaiknya kita segera kembali." suara Juan terdengar dan ternyata masib berdiri dibelakang Amina, menemani Amina.
Amina menggelengkan kepalanya, "Aku masih ingin berada disini."
"Tapi Nona, mungkin dirumah masih banyak orang berdatangan jadi sebaiknya-" ucapan Juan terpotong saat melihat Amina berdiri.
"Ya sudah, ayo kita pulang."
Amina berjalan lebih dulu sementara Juan berada dibelakang Amina, mengikuti langkah kaki Amina.
Dan benar saja, sampai dirumah kontrakan semua teman teman cleaning service dikantor datang untuk mengucap bela sungkawa pada Amina.
"Yang sabar, yang kuat ya Mina..." ucap salah seorang yang menjadi perwakilan untuk berbicara pada Amina.
"Terima kasih buat temen temen karena udah nyempetin datang kesini." lirih Amina.
"Mana Amina?" suara bariton seorang pria yang sangat khas terdengar dari luar rumah. Sepertinya sedang bertanya pada Juan yang saat ini berjaga di pintu.
"Ada didalam, tapi Tuan-" belum sempat Juan menyelesaikan ucapannya, pria yang tak lain adalah Alka itu terlihat memasuki rumah, melihat Amina langsung berlari memeluk Amina tanpa memperdulikan orang orang disekitar yang melihat ke arahnya.
"Kan bener mereka ada sesuatu." bisik Siska terdengar julid pada teman sebelahnya.
Semua teman kerja Amina seolah tak mempercayai apa yang mereka lihat. Bos tampan mereka yang super galak dan menyebalkan terlihat begitu mengkwatirkam Amina.
"Pak, jangan begini." pinta Amina ingin melepaskan pelukan Alka namun Alka masih tetap memeluknya bahkan semakin erat.
"Jangan menangis lagi, aku tahu kau sedang sedih. Biarkan seperti ini. Biarkan aku memelukmu seperti ini." balas Alka.
"Ta tapi pak, disini banyak teman teman cleaning service." ucap Amina yang langsung membuat Alka melotot dan melepaskan pelukanny.
Alka berbalik dan terkejut, memang benar ada banyak teman kerja Amina disini.
__ADS_1
"Ehemm, saya memang biasa seperti ini jika ada yang berduka." Alka kembali sok cool didepan para bawahannya.
"Tidak apa apa pak, lanjutkan saja. kami juga sudah mau pergi kok."
"Tidak, aku yang akan pergi sekarang." Alka segera berdiri dan keluar dari rumah Amina.
Plakk... Alka memukul bahu Juan yang masih berdiri diluar rumah.
"Bodoh, kenapa kau tidak bilang jika didalam ada anak anak kantor!" Alka menatap Juan kesal.
"Saya baru mau bilang tapi Bapak udah nyelonong masuk aja, ya bukan salah saya!"
Alka berdecak, berjalan memasuki mobilnya. Ia menunggu teman teman Amina pulang dan berniat masuk lagi.
"Eh ada mas ganteng lagi." Budhe Parmi, tetangga baik Amina menyapa Alka yang baru akan memasuki mobil.
"Iya Budhe, baru aja datang."
"Amina sedih dan terpukil banget, apa mau pulang sekarang? nggak mau nemenin Amina dulu?" tanya Parmi.
"Amina juga belum makan seharian, tadi ditawarin makan aja nggak mau." tambah Parmi dengan raut wajah sedih.
"Nanti biar saya bawain makan buat Amina Budhe."
"Nah begitu kalau perlu suapin sekalian."
"Dan lagi, kalau perlu tidur disini aja temenin Amina, budhe takut kalau Amina ditinggal sendirian." pinta Parmi yang membuat Alka terkejut.
Tadinya Alka memang berniat ingin menginap disini namun mengingat peraturan komplek sangat ketat membuat Alka mengurungkan niatnya.
"Memang boleh Budhe? Saya takut digrebek."
"Enggak bakal deh, lagian kamu kan calon suaminya jadi ya nggak apa apa nanti biar Budhe bilang sama pak Rt." ucap Parmi yang langsung membuat Alka tersenyum lebar.
"Ya sudah Budhe kalau begitu terima kasih banyak dan ini..." Alka mengambil dompetnya lalu mengeluarkan 5lembar uang ratusan dan diberikan pada Budhe Parmi.
"Buat jajan Budhe."
"Waduh, nggak usah Mas ganteng."
"Nggak apa apa Budhe." Alka memaksa membuat Budhe Parmi memgambil uangnya.
"Ya udah deh kalau maksa, makasih ya mas ganteng." Budhe Parmi tersenyum lebar, "Kalau tidur, Amina jangan di apa apain ya, kan belum sah." Budhe Parmi mengingatkan.
"Siap Budhe."
Parmi segera pergi sementara Alka terlihat girang memasuki mobilnya.
__ADS_1
Alka menunggu didalam mobil berharap anak anak kantornya segera pulang agar Ia bisa segera masuk dan mengibur Amina.
Alka terdiam, menatap rumah kontrakan Amina yang begitu sederhana. Mendadak Ia kembali teringat obrolannya dengan Bik Surti semalam.
"*Gimana keadaan Bik Surti?" tanya Alka saat memasuki ruang ICU semalam.
"Sudah lebih baik, terima kasih sudah membantu saya Den." balas Bik Surti dengan suara lemah.
Alka tersenyum, "Jangan pikirkan apapun lagi Bik, sekarang yang terpenting Bik Surti harus cepet sembuh biar Amina nggak sedih lagi."
Surti mengangguk, kini keduanya sama sama diam, seolah bingung harus membicarakan apa.
"Amina ingin sekali kuliah dan menjadi guru." cerita Bik Surti "Tapi karena tersandung biaya dan dia harus mengurus ibunya yang penyakitan ini, Ia jadi gagal kuliah." ungkap Surti dengan wajah sedihnya.
"Mungkin tahun ini belum bisa kuliah , tapi saya yakin tahun depan pasti dia bisa mendaftar kuliah." kata Alka.
"jika saya mati, Ia tak harus mengurus Ibunya yang renta dan penyakitan ini."
"Jangan bilang seperti itu Bik, Bik Surti harus kuat dan sembuh agar bisa menemani Amina menggapai cita citanya." ucap Alka.
Surti tersenyum, "Apa aden menyukai putriku?"
Alka terkejut namun sedetik kemudian Ia malah tertawa, "Apa terlihat jelas,"
"Waktunya sudah habis!" seorang suster terlihat datang untuk mengusir Alka.
"Tapi aku masih ingin berbicara dengan Ibuku."..
"Tidak bisa Tuan, kau harus-" Suster yang mengusir Alka menghentikan ucapannya kala Alka mengeluarkan uang 300ribu.
"Baiklah Tuan, jangan lama lama karena saya tidak mau kena omel dokter."
Alka mengangguk dan segera mengusir suster itu.
"Aku ingin menikahi Amina," ucap Alka yang membuat Surti terkejut.
"Aku ingin meminta restu padamu Bu, sebelum aku meminta restu pada Mama."
Surti tersenyum, "Akhirnya, aku bisa pergi dengan tenang sekarang." gumam Surti dengan suara sangat pelan hingga Alka tak mendengar.
"Aku merestui kalian, saya mohon bahagiakan Amina, dia sudah cukup lama hidup menderita*."
Alka menghela nafas panjang mengingat obrolan dengan Bik Surti semalam, Ia meraup wajahnya, masih tak menyangka jika semalam adalah obrolan terakhirnya bersama Bik Surti.
"Aku akan menjaganya Bu, aku akan menjaga Amina."
Bersambung...
__ADS_1
Komen yukkk komeennn