JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
80


__ADS_3

Amina mengunci pintu dengan tangan gemetar, tanpa Ia sadari Wina berada dibelakangnya dan keheranan melihat Amina memasuki rumah dengan wajah pucat.


"Amina... Ada apa?" tanya Wina mengejutkan Amina hingga menjatuhkan kunci pintunya.


"Mama... Eng enggak ada apa apa kok." balas Amina dengan bibir bergetar membuat Wina paham telah terjadi sesuatu dengan menantunya itu.


Wina merangkul Amina dan mengajaknya duduk disofa, Ia kemudian berteriak memanggil Bik Narti, "Bibik, ambilin minum!"


Tak menunggu lama, Bik Narti datang membawa segelas air putih untuk Amina.


"Non Mina sakit?" tanya Bik Narti melihat wajah Amina pucat.


Amina menggelengkan kepalanya, "Mina baik baik aja kok Bik."


Wina memberi kode mata pada Bik Narti agar meninggalkan mereka berdua.


Setelah tidak ada Bik Narti, Wina meminta Amina untuk minum lebih dulu.


"Tarik nafas trus dikeluarin, gitu terus sampai kamu merasa tenang dan nggak takut lagi." pinta Wina yang langsung dituruti oleh Amina.


Dan cara Wina benar benar ampuh karena Amina sedikit lebih tenang sekarang.


"Cerita ke Mama, ada apa?" tanya Wina saat Amina mulai tenang.


Amina akhirnya memceritakan tentang Brian pada Mama mertuanya itu.


"Gila, dia pasti terobsesi sama kamu." ucap Wina setelah mendengar cerita dari menantunya itu. Wina sendiri pun tak heran jika Amina digilai banyak pria karena Amina memang sangat cantik.


"Amina takut Ma... Takut kalau sampai ketemu lagi." ucap Amina dengan tatapan pucat, seolah masih ada ketakutan disana.


"Sudah tenang, Nanti biar Mama cerita sama Alka biar kamu dikasih bodyguard atau sopir gitu, Mama juga khawatir."


Amina menggelengkan kepalanya, "Biar Amina saja yang bilang sama Mas Alka sendiri Ma."


Wina mengangguk setuju, "Kalau dikota ini nggak aman buat kalian sebaiknya pindah saja, kembali kerumah Mama dan Papa." pinta Wina.


"Kalau masalah itu Amina ngikut Mas Alka saja Ma."


Wina kembali mengangguk, "Ya sudah sekarang kamu istirahat diatas biar nanti makan siangnya dianter ke atas sama Bik Narti."


"Nggak perlu Ma, tadi udah makan siang sama Mas Alka, Mina masih kenyang." tolak Amina.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang istirahat, jangan pikirkan apapun lagi karena Alka pasti punya cara buat ngelindungin kamu."


Amina tersenyum lalu mengangguk, "Iya Ma.."


Amina memasuki kamarnya, kini perasaannya sudah lebih tenang, tidak sepanik tadi.

__ADS_1


"Coba Ibu masih ada, pasti Ibu juga bakal nenangin aku kayak Mama, aku beruntung dapat ibu pengganti kayak Mama." gumam Amina tersenyum dan sangat bersyukur.


...****************...


Alka baru saja sampai dirumah, Ia segera keluar dan berharap Amina yang membuka pintu namun ternyata bukan Amina yang membuka pintu melainkan Wina, Mamanya.


"Kok bukan Amina yang bukain pintu?" heran Alka.


"Nggak suka kalau yang bukain pintu Mama?" sinis Wina.


"Enggak gitu Ma, aneh aja rasanya soalnya yang sering bukain pintu kan Amina." balas Alka dengan nada bercanda.


"Amina lagi sakit tadi pas pulang-"


"Pasti sakit gara gara makan soto tadi." potong Alka tanpa mendengar Mamanya selesai berbicara, Alka pergi begitu saja.


"Anak itu bener bener deh!" Wina terlihat kesal.


Dengan langkah cepat, Alka sudah sampai didepan pintu kamarnya, saat ini Ia ingin memarahi Amina karena Amina makan dipinggir jalan hingga membuatnya sakit seperti ini.


Alka membuka pintu, memasuki kamar dan langsung mendekati istrinya yang kini berbaring diranjang.


Baru ingin membuka mulut, Alka menghentikan niatnya saat melihat wajah pucat Amina yang kini menatap ke arahnya.


"Mas sudah pulang?" tanya Amina dengan suara lemah membuat Alka semakin tak tega jika harus marah pada Amina saat ini.


"Enggak karena itu mas, ini karena masalah lain." kata Amina.


"Masalah apa?"


Amina tersenyum, "Mas mandi dulu trus sekalian makan malam nanti aku ceritain semua sama Mas."


"Sekarang aja!" Alka sudah tak sabar mendengar apa yang terjadi pada Amina.


"Nanti mas... maaf ya mas aku nggak tahan sama bau mas jadi mas mandi dulu ya?" pinta Amina membuat Alka menciumi tubuhnya sendiri.


Seumur umur baru kali ini ada yang mengatai Alka bau padahal Alka sendiri pun tak merasa jika Ia bau.


"Jangan bikin kesel deh, masa dari tadi siang kamu bilang aku bau?" protes Alka tak terima.


"Memang mas bau kok, sana lah mas. Aku nggak tahan mau mual!" ucap Amina.


Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Alka beranjak dari duduknya, mengambil handuk lalu memasuki kamar mandi.


"Makin lama kok makin rese ya, makin berani pula ngatain macem macem." omel Alka didalam kamar mandi.


Selesai mandi, Alka keluar bersamaan dengan Amina yang baru saja masuk ke kamar membawa segelas susu hangat.

__ADS_1


"Lagi sakit ngapain bikin susu segala!" omel Alka pada Amina.


"Kewajiban seorang istri mas." balas Amina segera memberikan gelas susu pada Alka.


Amina mengambil satu stel piyama dan Ia berikan pada Alka.


"Pakein lah, udah wangi nih." pinta Alka dengan suara manja.


Amina menurut, segera memakaikan baju Alka namun saat mengancingkan baju Alka, "Ih mas kok masih bau sih." Amina menyingkir, menjauh dari Alka.


Alka melongo menatap Amina tak percaya, "Aku baru aja selesai mandi, tadi juga pakai sabun dobel dan sekarang kamu masih ngatain aku bau?" Alka mulai emosi.


"Emang mas bau kok, udah sana jauh jauh jangan deket deket!" Amina berjalan mundur menjauhi Alka.


"Nggak usah bercanda, nggak lucu!"


"Aku nggak bercanda mas, emang mas bau."


"Terserah lah, kalau memang kamu masih mau bercanda terserah!" omel Alka lalu keluar dari kamar.


Amina menatap ke arah pintu yang tertutup dimana baru saja Alka keluar dalam keadaan marah.


"Salahku apa? Aku cuma jujur kalau mas Alka bau, tapi mas Alka malah marah, gimana aku mau cerita masalah Brian kalau mas Alka marah gitu." sedih Amina.


Sementara Alka yang kini berada dimeja makan terlihat emosi.


"Lagi marahan?" tanya Wina.


"Ma... Coba deh cium badan Alka bau nggak?" Alka mendekat ke arah Mamanya agar Wina bisa mengendus bau badan Alka.


"Wangi kok, nggak bau."


"Lha iya, Alka juga ngerasa gitu tapi dari siang tadi Amina ngatain bau terus!" curhat Alka.


"Trus sekarang kamu marah sama Amina?"


"Ya jelas aku marah Ma, siapa yang nggak kesel kalau digituin!" balas Alka terdengar mengebu.


"Astaga Alka, kamu nggak tahu apa yang terjadi sama istrimu siang tadi."


Alka mengerutkan keningnya, "Emang ada apa Ma?"


Wina akhirnya menceritakan apa yang terjadi pada Amina siang tadi.


Tidak ada respon apapun dari Alka.


Alka hanya diam seolah sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2