JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
32


__ADS_3

Amina baru saja kembali ke UGD setelah selesai buang air kecil di toilet.


Parmi tampak menghampiri dan langsung memberikan selembar kertas pada Amina.


"Dari bos kamu, katanya suruh dikasih ke suster biar Surti bisa segera dipindahkan ke ICU."


Amina mengangguk paham, Ia membaca isi dari kertas yang ternyata Bill awal rumah sakit yang sudah dibayar lunas agar pasien bisa segera ditangani ke tahap berikutnya.


Mata Amina melotot tak percaya melihat nominal yang harus dibayar oleh Alka.


15juta, itupun baru awal dan akan ada bill berikutnya saat Ibunya sudah sembuh dan di izinkan keluar dari rumah sakit.


"Se sebanyak ini..." gumam Amina dengan tangan bergetar.


Amina segera memberikan kertas itu pada suster, pikirannya menjadi kacau setelah melihat nomilal hutangnya pada Alka.


"Ibunya sudah di pindah ke ICU, boleh masuk tapi hanya satu orang dan itupun harus ganti baju steril." jelas Suster yang baru saja memindahkan ibu Amina.


"Sus kalau boleh tahu, kira kira Ibu saya di ICU berapa hari?"


"Mungkin bisa satu minggu atau bahkan lebih."


"Kira kira berapa biayanya sampai Ibu saya keluar dari sini sus?" tanya Amina lagi.


"Kurang lebih 40juta."


Amina merasa tercekik mendengar nomilal uang yang harus Ia siapkan untuk ibunya.


Amina duduk disalah satu bangku yang ada didepan ruang ICU. Ia merasa sangat shock dan bingung saat ini.


"Jika semua dibayar Pak Alka, dan aku memiliki hutang sebanyak itu, aku hanya perlu mencicil setiap bulannya tapi apa Pak Alka akan sabar menunggu?"


Amina terdiam, pikirannya melayang mengingat ucapan Alka waktu itu, "Aku bisa membelikanmu rumah jika kau mau melakukannya lagi."


Amina menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak ingin melakukannya lagi, rasanya sangat menyakitkan."


"Tapi bagaimana lagi, aku benar benar membutuhkan uang yang banyak saat ini."


Amina terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia beranjak dari duduknya untuk mencari Alka.


Amina berjalan menuju tempat parkir mobil, Ia hanya ingin memastikan mobil Alka masih berada disana.


Dan disinilah Amina sekarang, berdiri didepan Alka yang menatap heran ke arahnya.


"Apa yang kau katakan itu?" entah Alka tak tahu atau memang pura pura tak tahu, Alka malah bertanya seperti itu.


"Kemarin bapak sempat ingin membelikan saya rumah jika saya mau melakukannya lagi dengan Bapak, waktu itu saya menolak namun sekarang saya berubah pikiran, saya ingin mengambil tawaran itu jika masih ada asal hutang saya bisa lunas." ungkap Amina.


Alka menghela nafas panjang, Jika Ia boleh jujur Ia sangat senang saat ini karena Amina kembali menawarkan diri padanya tanpa Ia harus bersusah payah meminta pada Amina namun entah mengapa Alka justru tidak menginginkan itu sekarang.


Saat ini Alka hanya ingin mendapatkan hati Amina agar Ia bisa lebih mudah menguasai Amina untuk menjadi miliknya ya hanya miliknya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak menginginkan itu, lebih baik sekarang kita pikirkan kesembuhan Ibumu lebih dulu."


"Ta tapi pak-"


"Jangan membantah, aku tidak suka jika kau terus membantahku!"


Amina menundukan kepalanya, jika sudah seperti ini Ia hanya bisa pasrah menuruti semua ucapan Alka.


Keduanya kembali memasuki rumah sakit. Amina diperbolehkan memasuki ruang ICU namun hanya 15 menit saja.


Amina yang sudah mengenakan pakaian steril berjalan mendekati ranjang ibunya.


Banyak peralatan medis yang terpasang ditubuh Ibunya membuat Amina merasa sedih apalagi Ibunya masih belum sadar sampai sekarang.


Amina menahan diri untuk tidak menangis didepan ibunya, Ia harus lebih kuat mulai sekarang dan tidak boleh cenggeng lagi.


"Ibu sembuh ya, jangan tinggalin Amina sendirian. Amina masih ingin bersama Ibu." Gumam Amina sambil mengenggam salah satu tangan Ibunya.


Amina merasa bersalah karena terlambat mengetahui penyakit yang selama ini disembunyikan oleh Ibunya.


Jika saja Ibunya jujur padanya sejak awal mungkin ibunya tidak akan sampai masuk ICU seperti ini.


"Waktunya sudah habis." ucap suster yang berjaga di ICU.


Amina mengangguk paham dan segera keluar dari ruang ICU.


Amina melihat Alka duduk disalah satu bangku yang ada didepan ICU, segera Amina ikut duduk bersamanya.


"Tidak, aku libur hari ini."


"Libur? Bukannya semua karyawan masuk hari ini pak?" Amina semakin heran.


"Aku ini bosnya, terserah mau libur kapanpun tidak akan ada yang melarang!"


Amina memutar bola matanya malas, "Saya tahu pak tapi sebaiknya Bapak pulang saja, terima kasih sudah mengantar saya."


"Kau mengusirku?"


"Tidak pak, saya tidak mengusir hanya saja biarkan saya menunggu sendiri tidak apa apa."


"Tidak! Aku masih ingin tetap disini!" tegas Alka.


"Terserah bapak saja kalau begitu." Amina kembali dibuat pasrah oleh Alka.


Seharian Amina hanya duduk didepan ICU, bahkan saat Alka mengajaknya ke kantin untuk makan siang Amina menolak.


Alka membeli makanan juga beberapa camilan ringan dan langsung Ia berikan pada Amina.


"Makanlah dulu, ini bahkan sudah sore, apa kau masih tetap tidak ingin makan?" tanya Alka saat Amina hanya menatap makanan yang Ia belikan.


"Saya benar benar tidak ingin makan pak."

__ADS_1


"Apa aku harus menyuapimu agar kau mau makan?" paksa Alka.


"Tidak perlu pak, biarkan saya makan sendiri." ucap Amina membawa makanan ke taman dan Ia makan disana.


"Nanti malam tidurlah dimobil, biarkan aku yang berjaga didepan ICU."


Amina menggeleng tak setuju, "Tidak pak, biarkan saya saja yang menunggu."


"Ya sudah kalau begitu kita jaga bersama!"


"Tidak, sebaiknya Bapak pulang."


Alka berdecak, "Apa kau berani disini sendirian? kau belum tahu ya betapa menyeramkannya rumah sakit saat malam hari."


Mendadak Amina bergindik ngeri mendengar ucapan Alka.


"Bagaimana? Masih ingin sendiri?"


Amina menggelengkan kepalanya, "Saya hanya tidak mau merepotkan Bapak."


"Aku sama sekali tidak direpotkan, aku justru senang bisa menemanimu."


"Se senang pak?" Amina benar benar tak mengerti apa maksud Alka.


"Ya senang, apa kau tidak senang ku temani disini?"


Amina mengangguk, Ia memalingkan wajahnya, menyembunyikan raut merah malu karena ucapan Alka.


Dan memang benar ucapan Alka, saat malam hari berada dirumah sakit memang sangat menyeramkan.


Dibeberapa sudut terlihat sangat gelap dan Amina merasa diperhatikan sedari tadi padahal tidak ada siapapun disana selain dirinya dan Alka.


"Sudah waktunya masuk mobil untuk tidur." ajak Alka.


Amina mengangguk setuju karena Ia mulai tak nyaman duduk didepan ruang ICU.


"Apa pak Alka ikut istirahat disini?" tanya Amina saat keduanya sudah sampai ditempat parkir mobil.


"Jika membuatmu tak nyaman, aku akan kembali ke ruang ICU lagi."


Amina terdiam membuat Alka membalikan badan berniat pergi meninggalkan Amina.


"Pak..." panggil Amina dengan suara pelan.


Alka berbalik menatap Amina,


"Temani saya disini saja pak."


Bersambung ..


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2