
Juan keluar dari kos Lily dan diantar Lily sampai depan gerbang.
"Jangan pernah kembali kesini lagi pak, aku tidak mau memiliki tamu yang hanya numpang makan malam."
"Lalu kau ingin tamu yang seperti apa?" tanya Juan mendekatkan wajahnya membuat Lily terkejut.
"Jangan seperti itu!" sentak Lily.
Juan tertawa membuat Lily semakin kesal dan berniat kembali masuk ke dalam.
Hap, Juan menahan tangan Lily.
"Apa lagi?"
"Aku akan datang kesini setiap malam untuk makan malam."
Lily kembali melotot, "Apa kau tidak punya malu? Kau pikir aku ini istrimu yang harus menyiapkan makanan untukmu setiap hari!"
"Ide bagus, jadilah istriku kalau begitu."
Lily menggelengkan kepalanya tak percaya, "Dasar gila."
Lily menyentak tangan Juan dan segera berlari masuk ke dalam sebelum Juan kembali menangkapnya.
"Gadis itu benar benar sudah membuatku jatuh cinta, aku tidak akan melepaskannya." gumam Juan lalu segera masuk ke mobilnya.
...****************...
Setelah semalaman tidak bisa tidur, Pagi ini Amina bangun kesiangan.
Alka keluar dari kamar mandi, Amina baru saja bangun.
"Kau sudah bangun?" Alka berjalan mendekat dan langsung mencium pipi Amina.
"Jangan begitu, aku masih bau." Amina merasa malu.
Alka tersenyum, "Tidak masalah, aku sangat menyukai bau tubuhmu."
Mendadak Amina merinding mendengar ucapan Alka,
"Aku mandi dulu." Pamit Amina segera beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Dia selalu bisa membuat jantungku berloncatan." gumam Amina didepan cermin.
Amina keluar dari kamar mandi, kini Ia sudah nampak segar dan wangi.
Alka yang sudah rapi dengan setelannya pun mendekat dan langsung memeluk Amina, menciumi pipi Amina.
"Mas..." keluh Amina merasa tak nyaman.
"Kenapa? Hanya seperti ini masa tidak boleh padahal dulu kita pernah melakukan lebih dari ini."
"Aku malu." ungkap Amina dengan pipi memerah.
Alka berdecak, "Jadi kau masih belum terbiasa juga hmm."
Alka kembali memberi ciuman bertubi tubi yang akhirnya membuat Amina pasrah.
Setelah puas, Alka baru melepaskan Amina.
Amina mengambil paper bag berisi baju yang kemarin dibelikan Alka untuknya.
"Mau kemana lagi?" tanya Alka saat Amina membawa paper bag masuk ke kamar mandi.
"Ganti baju."
__ADS_1
"Kenapa tidak ganti disini saja?" goda Alka dengan mata nakalnya.
"Tidak!" Amina segera menutup pintunya kasar membuat Alka tertawa.
Selesai mengganti bajunya, Amina merias wajahnya natural agar tak terlihat pucat.
"Cantik..." puji Alka lalu mencubit pipi Amina.
"Mas..." Amina kembali mengelus saat Alka menciumi pipinya.
"Nanti bedaknya luntur!"
"Gemas sayang." Alka tak peduli keluhan Amina dan terus menciumi Amina.
Setelah puas menciumi pipi Amina, Alka tersenyum lebar seolah tak memiliki salah.
"Ayo kita berangkat sekarang sayang." ajak Alka.
Amina diam sejenak, seolah enggan melangkahkan kakinya.
"Ada apa?"
Amina menggelengkan kepalanya, Ia segera mengikuti langkah kaki Alka keluar rumah.
Alka melajukan mobilnya pelan, Ia ingin menikmati perjalanan kali ini dengan tenang dan santai.
"Kau hanya diam saja, apa yang kau pikirkan sayang?" tanya Alka melihat Amina hanya diam dan memandangi keluar kaca.
Amina menggelengkan kepalanya, "Aku tidak memikirkan apapun."
Alka tersenyum seolah tahu apa yang dirasakan oleh Amina, Ia mengenggam tangan Amina dan mengatakan, "Semua akan baik baik saja." membuat Amina ikut tersenyum.
Sementara dikantor, Juan dibuat pusing karena Alka beberapa hari tidak berangkat dan semua pekerjaan dilimpahkan padanya. Ia kini bahkan mengambil alih jabatan Alka sebagai bos besar dikantor.
"Sudah berapa lama kau bekerja?" tanya Juan pada Sena salah satu karyawan disana.
Juan melempar berkas dimeja, "Sudah 3 tahun dan membuat laporan seperti ini saja salah, apa kau tidak malu?" sentak Juan.
Sena mengambil berkasnya, membuka dan membaca isinya, "Tapi ini bukan saya yang membuatnya pak."
"Siapa?"
"Lily, anak baru bagian-"
"Panggil dia kesini!" potong Alka yang langsung diangguki oleh Sena.
Sena segera keluar dari ruangan Juan dan tak berapa lama, Lily memasuki ruangan Juan.
"Kau yang membuat ini?" Juan menunjuk ke arah berkasnya.
Lily mengambil berkas itu dan membacanya, Ia segera mengangguk karena itu memang Lily yang mengerjakan.
"Coba kau baca sekali lagi, apa kau merasa ada yang aneh?"
Lily menurut, Ia baca sekali lagi dan Lily merasa tidak ada yang salah dengan pekerjaannya.
"Tidak pak, saya pikir ini benar."
Juan menghela nafas panjang, Ia mendekati Lily dan menjelaskan letak kesalahan Lily.
Lily tersenyum memperlihatkan gigi rapinya, "Maafkan saya pak, akan segera saya perbaiki."
Juan berdecak, "Mudah sekali mengatakan maaf, kau harus diberi hukuman." ucap Juan menarik dagu Lily dan mencium bibirnya.
Lily mencoba melawan namun percuma saja karena tenaga Juan lebih kuat hingga akhirnya Lily hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Juan melepaskan bibir Lily setelah hampir 10 menit mereka berciuman.
"Dasar bos mesum, bisa bisanya kau mengambil ciuman pertamaku!" Lily memukuli dada Juan.
"Ciuman pertama? Pantas saja rasanya manis." ucap Juan mengusapi bibirnya.
Lily menatap Juan tak percaya, "Dasar gila, kau benar benar tak waras!"
Lily berbalik, hendak keluar namun Juan masih menahan tangannya, "Jangan lupa nanti malam aku akan makan malam ditempatmu lagi." bisik Juan.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu masuk, aku akan mengunci pintu ku!" ucap Lily lalu keluar dari ruangan Juan.
"Kita lihat saja baby, aku akan membuatmu jatuh ke pelukanku." Juan tersenyum smirk.
...****************...
Alka membelokan mobilnya dan kini Ia sudah sampai dirumah orangtuanya.
Alka mengenggam tangan Amina, terlihat sangat jelas raut wajah Amina yang pucat serta tangannya yang dingin.
"Percaya padaku, semua akan baik baik saja." kata Alka menenangkan.
"Aku masih belum siap mas."
"Apa kau tidak ingin kita segera menikah?" tanya Alka membuat Amina menunduk.
Alka melihat pintu rumah terbuka, Wina mamanya keluar dari rumah, melihat mobilnya berada dipekarangan membuat Wina tersenyum lebar.
"Ayo kita keluar sekarang sayang." ajak Alka.
"Tapi mas..."
Alka menatap Amina penuh kehangatan, "Semua akan baik baik saja. Percaya padaku."
Amina menyerah, Ia tak mampu lagi menolak permintaan Alka.
Alka turun lebih menyambut pelukan hangat dari mamanya.
"Kau pulang sayang?"
Alka mengangguk, "Apa Papa dirumah?"
"Ya, Papamu libur. Ada apa?"
"Ada yang ingin ku bicarakan pada kalian." ucap Alka terdengar serius.
"kelihatannya serius." kata Wina bersamaan dengan Amina yang keluar dari mobil.
Wina terkejut melihat Amina, "Kau... Bukankah kau Amina anak nya Bik Surti?"
Alka mengangguk, "Ya, ini Amina."
"Ada apa ini? Kenapa kau membawanya kembali kesini?" heran Wina.
"Kita bicara didalam Ma." Alka mengenggam erat tangan Amina membuat Wina semakin terkejut.
"Tidak Alka, jangan katakan..."
"Ma, ayo bicara didalam." ajak Alka.
"KU BILANG TIDAK!"
Suara keras Wina menggetarkan seluruh tubuh Amina.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn