
Hari ini menjadi hari yang sangat menegangkan untuk Alka dan Amina karena ini hari resepsi pernikahan mereka.
Pernikahan layakanya putri raja yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Amina sebelumnya.
Selama ini Amina mengira jika Ia akan menikah dengan orang biasa dengan resepsi pernikahan sederhana namun siapa sangka jika Ia malah menikah dengan Alka, putra dari Tuan Ibunya sekaligus pria yang sudah membeli mahkotanya.
Amina kini berada didepan cermin, menatap dirinya dicermin. Balutan dress baju pengantin yang sangat mengembang dan mewah membuatnya merasa jika Ia sangat cantik hari ini.
"Beautiful." bisik seseorang sambil memeluk pinggang ramping Amina, siapa lagi kalau bukan Alka.
Alka juga sudah rapi mengenakan setelan jas dengan warna senada gaun Amina.
"Aku gugup mas." ungkap Amina, bahkan Alka merasakan jika tangan Amina sangat dingin.
"Jangan gugup baby, kita hanya perlu tersenyum beberapa jam dan setelah itu selesai."
"Tapi tetap saja, aku masih gugup."
Alka mengenggam erat tangan Amina, "Dengan begini kau tidak akan gugup lagi."
"Baiklah mas." Amina tersenyum memperlihatkan giginya membuat Alka gemas dan ingin mencium Amina.
Belum sempat Alka mencium Amina, pintu terbuka tampak salah seorang pihak Wo memasuki ruang rias Amina.
"Waktunya pengantin keluar." pinta orang itu siap mengiringi Amina dan Alka yang akan turun ke tempat acara.
"Kita mulai sekarang Baby." Alka mempersiapkan tangannya agar Amina memegang lengannya.
Keduanya berjalan pelan turun ke bawah menuju ke tempat acara dimana semua tamu yang hadir menunggu kedatangan mereka.
Semua tamu yang hadir terdengar berbisik memuji kecantikan Amina namun banyak juga yang merasa iri dan kesal karena Alka lebih memilih putri dari seorang pembantu daripada dengan mereka yang notabennya anak konglomerat.
"Mereka memandangi ku terus, aku malu mas." bisik Amina pada Alka.
Alka tersenyum, "Karena kau sangat cantik jadi mereka senang melihatmu."
"Ck, aku serius mas."
"Aku juga serius sayang."
Amina akhirnya memilih diam karena berbicara dengan Alka hanya membuatnya semakin gugup.
Hampir 3 jam mereka berada ditempat acara dan tepat pukul 2 siang, acara resepsi mereka selesai.
"Alka... Selamat sayang." ucap Asih yang sedari tadi berada disana membantu kelancaran acara Alka.
"Makasih tante." balas Alka memeluk Asih. "Tante sendiri?" tanya Alka yang langsung diangguki oleh Asih.
"Om Sadam nggak pulang?"
__ADS_1
Asih kembali menggelengkan kepalanya membuat Alka paham jika rumah tangga tantenya itu sedang bermasalah.
Selama ini Alka cukup tahu, hidup seperti apa yang dijalani oleh Asih mengingat beberapa kali Alka melihat Sadam masuk ke hotel bersama wanita lain.
Alka sempat menceritakan itu pada Wina namun Wina malah marah dan memperingatkan Alka agar tak ikut campur membuat Alka akhirnya diam.
Namun sekarang, melihat raut wajah Asih yang menggambarkan kesedihan membuat Alka ikut prihatin apalagi Ia juga mendengar kabar Rania yang masuk penjara karena mencuri.
Alka ingin membantu masalah Tantenya namun karena Mamanya selalu melarang, Ia hanya bisa ikut bersimpati pada Tante Asih.
Setelah mengucapkan selamat pada Alka, Asih ingin pergi ke toilet sebelum Ia pulang.
Asih berjalan ke toilet, sedikit sempoyongan karena Ia merasa pusing saat ini.
"Ada apa?" Wina menahan tubuh Asih yang akan jatuh.
"Tidak, tidak ada apa apa mbak, aku hanya tidak enak badan." balas Asih melepaskan diri dari pelukan Wina.
Wina menghela nafas panjang, Ia sangat tahu jika Adiknya sedang tidak baik baik saja, "Masuk angin? Mau dikerokin?" tawar Wina yang langsung saja diangguki oleh Asih.
Sudah lama sekali Asih tidak minta kerok Wina.
"Tadi mas mu nyewa beberapa kamar hotel disini, ikut nginep aja dari pada pulang, mayan kan itung itung liburan."
Asih terlihat memikirkan tawaran Wina hingga akhirnya Ia mengangguk setuju dengan tawaran Wina.
Mereka segera ke kamar dan Wina mulai mengkerok punggung Asih.
"Iya mbak, udah 2 hari nggak bisa tidur."
Wina menghela nafas panjang, "Mikirin Rania sama Sadam?"
Asih mengangguk, "Biasalah Mbak."
"Kamu beneran laporin Rania ke polisi?"
Asih kembali mengangguk, "Aku sudah tidak tahan lagi mbak sama sikap Rania, aku merasa sudah gagal mendidik Rania."
Wina kembali menghela nafas panjang, "Bukan kamu yang gagal tapi Rania yang tidak tahu diri."
"Aku juga sudah bilang sama Rania kalau aku bukan mama kandungnya."
Wina terkejut hingga menghentikan kerokannya, "Trus gimana respon dia?"
"Ya dia kayak nggak percaya gitu mbak."
Wina kembali melanjutkan kerokannya, "Yah setidaknya setelah ini dia bisa sadar diri dalam bersikap, aku juga tidak menyangka dulu Rania pendiam dan sangat manis didepan semua orang tapi saat sudah dewasa dia benar benar mengerikan." ungkap Wina.
Asih akhirnya diam, tak merespon ucapan Wina.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Sadam?"
Asih tersenyum kecut, "Aku juga tidak tahu mbak."
"Saran mbak mendingan kamu cerai saja."
Lagi lagi Asih hanya tersenyum kecut,
"Buat apa kamu pertahanin rumah tangga yang sudah rusak. Kamu juga pantas buat bahagia!" Wina terdengar geram.
"Tapi aku ini mandul mbak."
"Apa karena mandul dia bisa memperlakukan kamu seenaknya seperti itu? Tidak Asih hentikan sekarang juga, apa yang kau harapkan dari Sadam? Sampai berapa lama lagi kau harus tersiksa karena Sadam? Kau harus mulai bangkit Asih, jangan seperti ini terus!"
Asih kembali diam, Ia meresapi ucapan Wina sang Kakak yang sudah berkali kali memberi saran untuk menceraikan Sadam namun Asih masih takut dan belum siap kehilangan Sadam, pria yang saat ini masih dihatinya.
"Aku ingin kau memikirkan kembali ucapanku, aku ingin kau segera bisa lepas dari penjara neraka ini, sayangi dirimu sendiri Asih, lepaskan Sadam, dia tidak mencintaimu!"
Asih akhirnya menangis, mendengar ucapan Wina yang sangat mengoyak hatinya.
Wina membawa Asih ke dalam pelukannya, Ia mencoba menghibur Asih yang terluka.
Tepat pukul 6 petang, Asih yang berencana untuk menginap dihotel pun membatalkan rencananya, mendadak Ia sangat ingin pulang.
"Kau yakin tidak menginap?"
Asih menggelengkan kepalanya, "Tidak mbak, mau pulang aja."
Wina akhirnya mengizinkan Asih pulang.
Sampai dirumah, Asih melihat mobil Sadam terparkir didepan rumah dan saat Asih memasuki rumah, Ia melihat Sadam duduk disofa menunggu dirinya pulang.
Sadam beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Asih dan Plak...
Asih pikir Ia akan mendapatkan pelukan hangat namun ternyata malah tamparan di pipinya.
"Bagaimana bisa kau mengirim putriku ke penjara!"
"Dia bersalah, tentu saja aku harus melakukan itu." Asih terdengar melawan.
"Tidak becus, kau sudah gagal menjadi istri dan sekarang kau gagal mendidik putriku dengan baik, pantas saja Tuhan membuat mu mandul!"
Mendadak tubuh Asih lemas mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Sadam, Ia benar benar sudah tidak tahan lagi.
"Jika begitu mari kita bercerai!"
Sadam terlihat sangat terkejut, tak menyangka jika Asih berani meminta itu padanya,
"Aku akan segera mengurus surat perceraian kita." kata Asih lalu berjalan melewati Sadam yang masih shock.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komenn