JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
79


__ADS_3

Amina menikmati sotonya, makan dengan lahap sementara Alka, hanya mengaduk aduk isi mangkoknya tanpa mencicipi sedikit pun.


Sesekali Alka melihat kesamping dimana orang orang yang sedang makan soto dipinggir jalan itu menatap ke arahnya dengan tatapan heran.


"Enak kan mas?" bisik Amina yang hanya diangguki oleh Alka padahal sedari tadi Ia belum makan sedikit pun soto yang ada dimangkoknya.


"Besok mau beli kesini lagi lah." gumam Amina setelah menghabiskan semangkok sotonya.


"Aku udah kenyang, balik aja yuk Yank." ajak Alka.


Amina menatap mangkok soto Alka yang masih utuh, "Itu belum dimakan mas?"


"Udah kenyang sayang, bentar lagi ada meeting klien juga." ucap Alka yang akhirnya diangguki oleh Amina.


"Ya sudah ayo pulang."


Alka mengantar Amina hingga memasuki mobil, setelah mobil Amina melaju barulah Alka menaiki mobilnya dan segera melajukan mobilnya kembali ke kantor.


Sampai dikantor, Alka meminta Juan membelikan nasi padang untuknya.


Juan sedikit heran dengan permintaan Alka namun Ia segera pergi membelikan nasi padang tanpa bertanya lebih dulu melihat wajah bad mood Alka sudah dipastikan jika Alka sedang tidak baik baik saja.


"Nasi padangnya Tuan." Juan memberikan nasi padang yang baru Ia beli lengkap dengan peralatan makannya.


Buru buru Alka membuka bungkus nasi padangnya dan langsung menikmati nasi padangnya tanpa memperdulikan Juan yang masih berdiri disana.


"Tuan... Bukankah Tuan baru saja makan siang diluar? Kenapa Tuan terlihat sangat kelaparan?" heran Juan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Kau tidak tahu? aku mengajak Amina pergi ke restoran laksa paling enak disini tapi dia malah tidak mau makan dan mengajak ku makan soto dipinggir jalan." ungkap Alka dengan nada kesal.


"So soto Tuan?" Juan terlihat menahan diri untuk tidak tertawa. Ia cukup tahu jika Alka memang anti dengan penjual makanan dipinggir jalan padahal kalau dipikir, Makanan pinggir jalan rasanya tak kalah nikmat dari makanan restoran.


"Jangan menertawakanku! Aku sangat kesal!"


Juan langsung menundukan kepalanya, Ia tak ingin terlihat tertawa didepan Alka.


"Kalau begitu silahkan menikmati makan siangnya Tuan, saya akan keluar." pamit Juan segera keluar dari ruangan Alka.


"Tunggu-"


Juan kembali berbalik, "Belikan aku es kopi ditempat biasa." pinta Alka.


"Baiklah Tuan."


Juan segera pergi membeli kopi sesuai dengan permintaan Alka.

__ADS_1


Juan sudah kembali dan membawa 3 gelas es kopi. sebelum keruangan Alka, Juan pergi ke ruangan umum dimana ada Lily disana.


"Lily... Keruangan saya!" pinta Juan dengan tatapan galak.


"Baik pak." Lily pura pura menunduk takut.


Juan berjalan lebih dulu dan barulah Lily beranjak dari duduknya.


"Mati Lo, mau diapain sama Pak Juan?"


"Pasti kena omel tuh anak gara gara berkasnya salah lagi." cibir salah satu senior Lily.


Lily tak memperdulikan cibiran teman temannya karena Ia cukup tahu alasan Juan memanggilnya.


Bukan karena ingin memarahinya namun karena Juan merindukannya pikir Lily penuh percaya diri.


"Bapak memanggil saya?" tanya Lily saat sudah sampai diruangan Juan.


"Kunci pintunya!"


Lily menurut mengunci pintu dan segera mendekati Juan.


Seperti biasa, Juan akan memeluk lalu mencium bibirnya beberap detik.


"Miss you." bisik Juan.


"Tetap saja rasanya tak cukup dan tak rela apalagi melihat pria lain yang sengaja menggodamu!"


"Tidak ada yang menggodaku kebanyakan dari mereka malah mencibirku karena aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar." keluh Lily.


"Bukan tidak bisa, hanya masih belum bisa. Semau butuh waktu sayang."


Lily mengangguk setuju, "Ada apa memanggilku kemari?"


"Es kopi untukmu." Juan memberikan salah satu es kopi yang baru Ia beli.


"Tadi nasi padang sekarang es kopi." Lily merasa berat badannya akan naik karena setiap siang Juan selalu membelikan makan siang dan es kopi untuknya.


"Biar gemuk jadi empuk kalau dipeluk." bisik Juan yang langsung mendapat jiwitan gemas dari Lily.


"Sana dianter dulu ke Pak Alka, nanti keburu marah." pinta Lily.


"Siap nyonya, tunggu disini jangan keluar sebelum aku kembali." pinta Juan lalu pergi meninggalkan Lily diruangannya.


Lily tersenyum sambil menggelengkan kepalanya tak percaya memiliki kekasih yang super baik seperti Juan.

__ADS_1


...****************...


Setelah makan siang bersama Alka, Amina kembali ke kampus untuk mengumpulkan tugas. Setelah urusan dikampus selesai, Amina segera pulang.


Sebelum sampai rumah, Amina menyempatkan mampir ke apotik terdekat untuk membeli tespack karena Ia ingin mengecek kehamilan besok pagi seperti yang sudah disarankan oleh Vera.


"Ada banyak macam tespack, pilih salah satu." kata apoteker yang berjaga.


Karena tak ingin bingung, Amina akhirnya membeli semua jenis tespack yang ada di apotik itu.


Selesai membayar, Amina segera keluar dari apotek dan saat membuka pintu kaca, Amina tak melihat ke depan hingga Ia menabrak seseorang yang membuat tespack yang Ia beli jatuh berceceran.


"Wow, keberuntungan datang padaku hari ini, lihat siapa ini?" suara yang sangat jelas dan sangat Amina kenal.


Brian... Pria itu tersenyum nakal memandang Amina.


Amina mengambil semua tespack yang jatuh dan segera berdiri, berniat melewati Brian namun Brian mencegatnya.


"Kau menghilang, apa kau pindah kampus baby?" tanya Brian.


Amina tak menjawab, Ia hanya menatap berani Brian dan berusaha menghindari Brian namun bukan Brian jika menyerah begitu saja.


Brian tak membiarkan Amina melewatinya hingga Amina meminta tolong pada satpam yang berjaga didepan apotik.


"Pak..." satu panggilan dari Amina membuat Brian mengalah dan memberi jalan pada Amina.


"Aku pasti akan kembali menemukanmu." ucap Brian yang langsung membuat Amina ketakutan.


"Ada apa Neng?" tanya satpam yang kini sudah berada didepan Amina.


"Tidak pak, tidak ada apa apa." kata Amina buru buru meninggalkan apotik.


Dengan tangan gemetar, Amina mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan apotik. perasaannya jadi gelisah dan takut membuatnya melajukan mobilnya sedikit kencang.


"Kenapa harus bertemu dengan Brian lagi? Aku benar benar takut." gumam Amina menambah kecepaatan laju mobilnya agar segera sampai rumah.


Dan sesampainya dirumah Amina segera masuk kerumah, Ia sudah memastikan jika mobil Brian tak mengikutinya namun tanpa Amina sadari jika motor Brian berada tepat dibelakang mobilnya, Ya Brian mengikuti dirinya dengan mengendarai motor bukan mobil.


Kini Brian bisa tersenyum lebar karena akhirnya Ia bisa bertemu dengan Amina setelah beberapa minggu Ia tidak bertemu dengan gadis yang Ia incar itu.


"Dia membeli banyak tespack, apa dia hamil?"


Brian tersenyum sinis, "Tidak, dia tidak boleh hamil."


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennn yaa gayssss... Makasihhh


__ADS_2