
Setelah 2 hari berlalu, sore ini Alka dan Amina bersiap untuk kembali keluar kota, tempat tinggal mereka.
"Jangan lupa sering tes kehamilan dan langsung kabari Mama jika hasilnya positif." kata Wina mengingatkan saat Keduanya berpamitan.
"Mama tenang aja, Alka bakal lembur terus biar calon cucu Mama segera jadi." celetuk Alka dengan menatap Amina nakal.
"Ya, tapi ingat buat jaga kesehatan, jangan biarkan istrimu sakit karena kelelahan melayani mu!"
"Iya iya Ma."
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Alka dan Amina memasuki mobil.
Alka mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah orangtuanya.
"Akhirnya..." Alka bernafas lega karena kini statusnya sudah sah menjadi suami Amina.
"Mas..." Amina menatap Alka ragu.
"Ada apa sayang? pasti mau nanyain masalah honeymoon kan? Cari aja kamu mau kemana?" tebak Alka namun Amina malah menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu mas, aku cuma mau tanya, Mama udah ngebet pengen cucu jadi apa aku nggak usah kuliah dulu ya mas biar kita bisa program anak dulu?"
Seketika Alka menggelengkan kepalanya tidak setuju, "No sayang, kamu harus tetap kuliah."
"Tapi mas..."
"Bisa kok, nanti kita urus anak sama sama tapi aku ingin kamu tetap kuliah."
Amina tersenyum lega, padahal tadinya Ia berpikir jika Alka akan melarangnya untuk kuliah dan fokus dengan program segera memiliki anak namun ternyata malah berbanding balik dengan pikirannya.
"Lagian kamu kuliah juga nggak sampai seharian jadi nggak akan ganggu jatah malam aku." kata Alka sambil tersenyum nakal.
"Makasih ya mas, aku lega karena aku bisa melanjutkan apa yang Ibu inginkan."
Alka tersenyum lalu mengelus puncak kepala Amina, "Aku akan melakukan apapun buat bikin kamu bahagia sama aku."
Amina langsung saja dibuat meleleh dengan ucapan Alka,
"Dan untuk tempat kuliahnya, aku akan minta Juan buat cari fakultas khusus perempuan."
Amina mengangguk setuju karena jujur Ia sangat takut kembali ke kampusnya yang kemarin dan bertemu lagi dengan Brian.
"Aku nurut saja mas, apapun yang Mas pilihkan pasti terbaik untuk kita."
Alka tersenyum mendengar ucapan Amina, Ia merasa senang karena setelah menikah Amina menjadi lebih penurut.
Alka membelokan mobilnya ke sebuah hotel berbintang,
"Kok kesini mas?"
"Istirahat dulu sayang, udah krasa capek nih nyetirnya." ungkap Alka yang akhirnya diangguki oleh Amina meskipun perjalanan mereka masih sangat jauh.
Tadinya Amina pikir Alka akan tidur dihotel sebentar namun ternyata, Alka malah meminta jatah padanya.
__ADS_1
"Katanya capek?" cibir Amina saat Alka sudah mulai membuka kancing bajunya.
"Capeknya hilang kalau lihat kamu nggak pake baju sayang." balas Alka dengan senyuman nakal namun mengoda.
"Bilang aja pengen."
Alka menghentikan gerakan melepaskan kancing baju Amina, "Jadi kamu pengen? Ya udah ayo deh." Alka kembali semangat melepas kancing baju Amina.
"Ih aku nggak pengen, mas sukanya gitu!" suara Amina terdengar manja membuat Alka gemas dan langsung menyerang Amina tanpa jeda.
Beberapa menit bergumul diranjan membuat keringat keduanya bercucuran.
"Kayaknya nginep disini aja."
Amina menggeleng tak setuju, "Nggak usah mas, katanya besok ada pertemuan penting?" Amina mengingatkan karena sore tadi Juan yang sudah pulang dari berlibur mengirimkan agenda penting agar Alka segera kembali ke kantor.
"Ya sudah satu ronde lagi trus kita pulang." ajak Alka yang kini sudah berada diatas Amina.
Amina hanya pasrah menerima ajakan dari Alka, meskipun Ia lelah namun Alka bisa membuatnya melayang terbang ke awan.
Selesai mandi bersama, Alka dan Amina bersiap kembali melanjutkan perjalanan.
"Katanya cuma 2 kali masih minta nambah lagi pas mandi." cibir Amina yang membuat Alka langsung saja tertawa.
"Tapi enak kan?" goda Alka dan Amina hanya tersenyum.
Selama perjalanan mereka menghabiskan waktu bercanda hingga tak sadar Amina terlelap dengan sendirinya.
Kini mereka sudah sampai dirumah dan Amina masih terlelap.
Alka mengendong Amina, membawanya masuk kerumah.
Alka ikut berbaring disamping Amina, Ia ikut terlelap bersama Amina.
Paginya, Amina disibukan dengan menyiapkan segala keperluan Alka serta membuat sarapan untuk Alka.
Ya rutinitaa baru yang juga kewajiban yang harus Amina lakukan sebagai seorang istri.
"Aku akan mencari asisten rumah tangga." kata Alka saat keduanya tengah sarapan bersama.
"Tidak perlu mas, aku masih bisa menghandle pekerjaan rumah."
Alka berdecak, "Setelah ini kau harus kuliah, waktu untuk rumah sangat terbatas jadi sebaiknya kita cari asisten saja, aku tidak mau kau kelelahan dan menolak jika aku meminta jatah malam." tegas Alka.
"Ya sudah terserah mas saja."
"Dan satu lagi, setelah ini akan ada guru stir mobil yang akan mengajarimu mengemudikan mobil. Gunakan mobil yang ada digarasi, yang kubelikan untukmu waktu itu.
Aku ingin kau kuliah mengendarai mobil sendiri."
"Tapi mas, sepertinya itu terlalu berlebihan." Protes Amina karena Jujur Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengemudikan mobil.
"Tidak berlebihan sayang, sudah jangan membantah lagi, lakukan apapun yang ku perintahkan."
__ADS_1
"Baik bos siap laksanakan!"
Sontak Alka tertawa mendengar jawaban Amina.
Beberapa menit setelah Alka berangkat ke kantor, guru yang dimaksud Alka sudah datang.
"Bisa kita mulai sekarang?" ajak wanita cantik yang akan mengajari Amina mengemudikan mobil.
"Ya Bisa, mobilnya ada didalam garasi."
"Panggil aku Jane."
"Baiklah, aku Amina."
Perkenalan selesai, pertama kali belajar mobil, Jane mengajak Amina ke lapangan terdekat setelah beberapa jam dan Amina mulai bisa, Jane mengajak Amina ke jalan raya kecil.
Amina sangat gugup dan masih takut namun suara lembut Jane membuatnya tenang dan bisa belajar dengan baik.
"Sudah selesai untuk hari ini, aku akan datang lagi besok. Kita akan belajar setiap hari sampai kau bisa."
"Baiklah, terima kasih banyak Jane."
Jane mengangguk,
"Ngomong ngomong berapa umurmu Jane?"
"Aku masih 23 tahun."
"Wah masih muda sudah bisa jadi guru handal." puji Amina.
Jane hanya tersenyum , "Kalau begitu saya pamit pulang karena masih ada murid lain yang menunggu." pamit Jane.
Amina mengangguk, "Hati hati dijalan Kak Jane." teriak Amina sambil mengayunkan tangannya.
"Mulai sekarang aku akan memanggilnya Kak Jane karena dia lebih tua dariku, tapi tunggu... Dimana Mas Alka dapat guru cantik seperti itu?"
Karena rasa penasaran dan sedikit cemburu, saat Alka sudah pulang, Amina menanyakan pada Alka perihal Jane.
"Mas kenal sama Kak Jane?" tanya Amina saat Ia menemani Alka duduk di balkon kamar mereka.
"Siapa Jane? Aku baru pertama kali mendengarnya."
Amina menatap Alka penuh selidik, "Guru setir mobil."
Alka akhirnya paham, "Jadi mereka membawa guru wanita? Bagus memang itu yang ku inginkan."
"Apa maksudnya mas?"
"Aku tidak kenal siapa itu Jane, aku meminta seseorang dari kursus setir mobil untuk mengajarimu dan aku meminta yang wanita karena aku tidak suka jika gurunya pria mungkin akan genit padamu!" ungkap Alka.
Amina tersenyum geli, Ia sudah salah sangka dan sempat curiga pada Alka.
"Kenapa kau malah tersenyum?" heran Alka.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komenn yaaa