
Dengan tangan bergetar Amina mengambil iphone yang harus membuatnya tidur dengan Alka waktu itu.
"Kenapa ini disini? Bukankah seharusnya-"
"Itu milikmu jadi bawalah bersamamu." potong Alka.
"Ta tapi pak-"
"Kau ini bodoh sekali, bagaimana bisa kau ditipu oleh Rania."
"Ditipu?" Amina benar benar tak mengerti dengan ucapan Alka.
"Ponselnya tidak rusak, lagipula ponselnya bukan Iphone tapi dia meminta Iphone padamu dan langsung kau turuti, apa itu bukan bodoh?"
"Jadi?" Amina kembali menangis setelah mendengar penjelasan Alka.
"Ck, kenapa harus menangis lagi!"
Tadinya Alka pikir Amina akan senang karena mendapatkan iphone namun ternyata Ia salah, Amina malah menangis.
"Saya sudah mengorbankan masa depan saya hanya karena ingin bertanggung jawab tapi ternyata saya ditipu." ucap Amina disela sela tangisnya.
"Mengorbankan masa depan?"
Amina mengangguk, "Saya rela tidur dengan Bapak, melepaskan apa yang menjadi hak suami saya nanti karena barang ini dan ternyata..."
Amina kembali menangis.
Alka menghela nafas panjang, sedikit ada perasaan bersalah karena Ia merasa sudah merusak masa depan seorang gadis.
"Semua sudah berlalu, tidak perlu disesali." ucap Alka sambil menepuk bahu Amina.
"Bagaimana Bapak bisa mengatakan hal itu jika Bapak masih menganggap saya seperti itu bahkan mengajak saya melakukannya lagi." protes Amina dengan mata melotot seolah lupa jika Ia sedang berbicara dengan bosnya.
Alka terdiam, kembali merasa bersalah karena apa yang Amina ucapkan benar, Ia baru saja mengajak Amina melakukannya lagi dengan iming iming sebuah rumah, sungguh Alka merasa dirinya sangat jahat saat ini.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi."
Amina mendongak, menatap Alka tak percaya karena kali pertamanya Ia mendengar Alka meminta maaf.
"Aku benar benar tak bermaksud seperti itu Amina, aku pikir kau seperti gadis lainnya yang gila popularitas hingga menjual diri seperti itu. Maaf sekali lagi karena aku sudah salah paham." Alka menatap Amina dengan tatapan yang sangat tulus hingga membuat Amina luluh seketika.
Amina menjadi sangat gugup, entah mengapa tatapan Alka membuatnya salah tingkah "Ti tidak masalah pak, bukannya bapak bilang semua sudah berlalu? kita hanya perlu melupakannya bukan?"
Alka tersenyum lalu mengangguk, entah mengapa Ia merasa lega sekarang. Sebelumnya Alka memang merasa bersalah karena telah mengatakan hal buruk pada Amina dan sekarang Alka sudah meminta maaf, semua sudah selesai.
"Apa Bapak mau mampir?" tawar Amina merasa tak enak karena dirinya sudah di antar.
"Tidak, mungkin lain kali. Aku ada urusan setelah ini."
"Baiklah kalau begitu saya keluar sekarang, terima kasih untuk tumpangannya pak."
Alka mengangguk dan Amina segera keluar.
__ADS_1
Alka belum melajukan mobilnya, Ia masih menatap punggung Amina. Setelah Amina tak terlihat lagi, Alka segera melajukan mobilnya.
Alka menghentikan mobilnya ketika sudah sampai. Bukan rumahnya melainkan gudang kosong yang tak jauh dari kantornya.
"Tuan..." sapa seorang pria bertubuh kekar yang langsung membuka pintu mobil Alka, mempersilahkan Alka keluar.
"Bagaimana?" tanya Alka pada pria itu.
"Sudah didalam Tuan, dia pingsan karena kami menghajarnya sampai babak belur seperti yang Tuan minta." kata pria itu yang langsung diangguki oleh Alka.
"Bagus, tapi aku ingin melihatnya."
Pria bertubuh kekar itu mengangguk dan mempersilahkan Alka masuk ke dalam gudang dimana ada 4 pria berbadan kekar bersama dengan satu orang yang tergeletak berlumuran darah.
"Dia mati?"
"Tidak Tuan, hanya pingsan!" jawab salah seorang yang berada disana.
Alka tersenyum sinis lalu mendekati pria yang tergeletak itu, dengan sekali hentakan Alka menginjak tangan pria itu berkali kali.
"Ini balasan karena kau sudah berani melecehkan gadisku!" ucap Alka lalu keluar meninggalkan gudang itu diikuti oleh kelima pria berbadan kekar.
"Biarkan saja dia disana, aku pastikan dia tidak akan lapor polisi. Dan untuk bayaran kalian sudah ku transfer."
Kelima pria itu mengangguk senang, "Terimakasih Tuan, jika membutuhkan bantuan lagi jangan sungkan untuk menghubungi kami." kata salah satu pria.
Alka mengangguk dan langsung memasuki mobil, meninggalkan kelima orang anak buahnya.
Alka melajukan mobilnya pulang kerumah.
Amina baru saja sampai kantor, Ia menyimpan barangnya diloker dan segera bersiap bekerja.
"Kamu udah tahu kabar belum Na?" tanya Salah seorang teman Amina.
"Kabar apa?"
"Kamu nggak bukan grub chat kita?"
Amina menggelengkan kepalanya karena semalam Ia langsung tidur sesampainya dirumah.
"Kaka abis dihajar sama preman."
Amina terkejut hingga membuat mulutnya terbuka mendengar berita tentang Kaka. Ya pria yang kemarin melecehkannya itu kini dirawat dirumah sakit karena dihajar oleh preman, entah apa lagi kesalahannya sampai dia dihajar seperti itu.
Di sisi lain Amina merasa senang namun di sisi lain lagi Amina merasa kasihan dan sedih dengan keadaan Kaka, apalagi setelah melihat foto Kaka yang kini dirawat dirumah sakit, wajahnya sampai ditutup perban.
"Amina..." panggilan dari Raka yang kini sudah berdiri didepan pintu mengejutkan Amina dan temannya.
"Buatkan kopi untuk pak Bos!"
Amina mengangguk, Ia segera membuatkan kopi untuk Alka. Kali ini kopi buatan Amina sangat enak tidak lagi pahit seperti semalam.
Dan sampai diruangan Alka, Amina tak mendapati Alka disana.
__ADS_1
"Kemana dia?" batin Amina lalu meletakan kopinya dimeja Alka.
"Orangnya tidak ada jadi lebih baik aku bersihkan saja ruangan ini." batin Amina lagi segera keluar untuk mengambil peralatan kerjanya.
Amina kembali lagi keruangan Alka dan masih tidak ada orangnya. Amina segera membersihkan ruangan Alka karena memang seharusnya ruangan ini dibersihkan saat Alka tidak ada.
Ceklek, pintu ruangan terbuka tampak Alka memasuki ruangannya.
"Kau sudah mulai bekerja?" tanya Alka langsung duduk dikursinya.
Amina mengangguk, "Kopinya sudah dingin pak, apa mau ku buatkan yang baru?"
Alka menggeleng lalu mengambil cangkir kopinya dan langsung menyeruput kopinya, "Enak, tidak seperti kemarin."
Amina tersenyum malu, kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kepala ku pusing sekali!" gumam Alka membuat Amina kembali memperhatikan Alka.
"Bapak sakit? Mau dibelikan obat?"
Alka menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak biasa minum obat."
"Mau dibelikan makan siang sekarang?" tawar Amina lagi.
Alka menggeleng, "Tidak juga, mungkin aku hanya butuh istirahat."
Amina mengangguk paham dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Nanti malam aku ingin mampir ke rumahmu." kata Alka membuat Amina sedikit terkejut.
Jika Alka mengatakan mampir apa itu artinya Alka akan mengantarnya pulang lagi?
"Aku rindu masakan ibumu." ungkap Alka.
Amina tersenyum, "Baik pak."
Setelah pembicaraan baru saja, keduanya sama sama diam tidak lagi berbicara hingga Amina menyelesaikan pekerjaan dan bersiap untuk keluar.
"Tunggu... Bisakah kau bantu aku sebentar?" suara Alka menghentikan langkah kaki Amina yang akan keluar.
"Apa ada yang bisa saya kerjakan pak?"
"Punggungku gatal sekali, bisakah kau menggaruknya untuk ku? Tanganku tidak sampai." keluh Alka.
Amina terdiam cukup lama, rasanya ingin menolak namun Ia tak memiliki kuasa untuk menolak.
"Jika tidak mau tidak apa apa!" raut wajah Alka berubah membuat Amina mau tak mau berjalan mendekat.
Amina menyentuh punggung Alka, rasanya mengingatkan Amina pada hari itu.
Ya hari itu...
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn yaaa