
Amina keluar dari ruang pribadi Alka setelah baru saja selesai membereskan baju baju Alka.
Ia melihat Alka sedang fokus menatap layar laptopny jadi memilih segera keluar dari ruangan
Alka.
Baru sampai dipintu, Suara Alka kembali terdengar, "Aku belum menyuruhmu keluar!"
"Saya hanya ingin mengambil peralatan kebersihan pak."
"Tidak perlu, rapikan itu saja!" Alka menunjuk ke arah berkas berkas yang berjatuhan ke lantai.
Segera Amina menatap tajam ke arah Alka, "Bapak sengaja kan?"
Alka tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "Tadinya aku ingin mencari berkas tapi tidak kutemukan dan malah berantakan seperti itu." ucap Alka tanpa rasa bersalah.
"Benar benar menyebalkan!" omel Amina dengan suara pelan.
"Apa kau mengomel?"
"Tidak pak, tentu saja saya tidak berani mengomel!" balas Amina penuh penekanan.
Alka tersenyum geli dan kembali fokus menatap layar laptopnya.
Amina sudah selesai membereskan berkas berkas milik Alka hingga tertata rapi ditempatnya. Saat Amina ingin keluar, Alka kembali memanggilnya,
"Apa masih ada yang harus saya bereskan pak?"
"Tidak, duduklah disini." Alka menunjuk ke arah kursi yang ada didepan mejanya.
Amina menurut dan duduk disana hingga Alka memberikan sebuah map untuknya.
"Apa ini pak?'
"Buka saja."
Amina segera membuka map itu dan terkejut melihat isinya,
"Ini..." Bibir Amina bergetar, tak sanggup mengucapkan apapun.
"Ya, mulai besok kau sudah bisa kuliah. Aku sudah mendaftarkannya kemarin."
Amina menatap Alka tak percaya, "Kenapa Bapak begitu baik padaku."
Alka berdecak, "Sudah ku katakan aku menyukaimu."
Amina malah menatap Alka sebal, bisa bisanya Alka mengatakan itu dengan santai padahal Alka sudah memiliki wanita pilihan lain.
"Tapi sepertinya saya tidak perlu ini pak, saya ingin fokus membayar hutang saya lebih dulu dan setelah itu mungkin saya akan-"
"Itu permintaan terakhir Ibumu, Ia ingin kau menjadi guru, apa kau masih ingin menolak?"
"Permintaan Ibu?"
__ADS_1
Alka mengangguk, "Waktu aku masuk ke ruang ICU, Ibumu mengatakan itu padaku jadi lebih baik kau turuti atau sama saja kau melanggar wasiat dari ibumu."
"Tapi pak saya masih harus bekerja untuk melunasi hutang saya."
"Kau bisa berangkat siang setelah pulang dari kampus, bukankah tugasmu hanya membersihkan ruangan ini saja?"
Amina mengangguk paham, "Tapi tetap saja saya merasa tidak enak dengan yang lain."
Alka kembali berdecak, "Lalu apa kau akan menolak kesempatan emas ini?"
"Tentu tidak pak, hanya saja..."
"Apa lagi yang kau pikirkan, sudahlah besok berangkat saja ke kampus dan mulailah gapai cita citamu."
Amina mengangguk, rasanya terharu sekali karena mendapatkan kebaikan berlipat lipat dari Alka, "Terima kasih pak, terima kasih banyak."
"Kenapa kau malah menangis?" Alka tak suka melihat Amina menangis karena itu mengingatkan saat Alka pertama kali membuka segel Amina, saat itu Amina menangis dan meminta Alka menghentikan permainanya namun Alka tak memperdulikan tangisan Amina tetap melanjutkan hingga Ia merasa sangat bersalah saat ini.
"Saya terharu pak, tidak menyangka hal baik ini akan datang dihidup saya."
Alka tersenyum, "Orang baik akan selalu dikelilingi hidup yang baik, apa kau tidak tahu itu?"
Amina malah tersenyum kecut, "Tapi saya bukan orang baik pak, saya bahkan-"
"Sudah keluar sana, ambil peralatan kerjamu dan segera bersihkan ruangan ini!" potong Alka yang akhirnya diangguki oleh Amina.
Amina kembali ke pantry, melihat pantry sudah ramai karena teman temannya sudah banyak yang datang.
"Denger denger Pak Bos udah punya tunangan tapi kok Elo bisa deket juga sama Pak bos jangan jangan..."
"Jangan jangan apa?" Amina menatap Siska berani.
"Lo simpenannya pak Bos ya?" tanya Siska dengan nada menuduh membuat teman teman Amina yang ada dipantry ikut menatap ke arahnya dengan tatapan menusuk.
Amina hanya tersenyum, berjalan melewati Siska namun Siska menahan tangannya, "Jawab kalau ditanya!"
"Kalau iya kenapa? Apa masalahnya sama kamu?" Amina terlihat melawan.
"Pelacur!"
Amina tersenyum sinis, "Apa bukan kamu sendiri yang pelacur?"
"Sialan Lo!" Siska kesal dan menjambak rambut Amina namun Amina melawan, melepaskan tangan Siska dari rambutnya.
"Kamu cemburu kan sama aku karena nggak berhasil godain pak Alka?" ejek Amina.
"Sialan Lo!" Siska kembali ingin menjambak rambut Amina namun Amina lebih dulu menahan tangan Siska.
"Jangan kasar sama aku atau aku akan minta Pak Alka buat pecat kamu!" ucap Amina lalu keluar dari Pantry.
"Kalian lihat kan, diem diem dia kayak gitu!" ucap Siska pada teman temanya, terlihat tak terima dan sangat marah.
"Udahlah Sis, nggak usah gangguin dia lagi dari pada nanti Lo di aduin malah dipecat." ucap salah satu teman yang ada di pantry.
__ADS_1
"Nggak takut gue, cewek songgong kayak gitu harus dikasih pelajaran!"
Teman teman Siska hanya bisa menghela nafas panjang melihat Siska yang seperti itu.
Sementara Amina terlihat bersembunyi ditoilet. Ia memeganggi dadanya yang berdegup kencang. Amina masih tak menyangka jika dirinya berani melawan Siska.
Sejak Ia tahu jika ditipu oleh Rania, Amina tidak ingin ditindas lagi oleh siapapun. Amina ingin jadi gadis tangguh bukan gadis lemah lagi.
Amina membasuh wajahnya, Ia menatap dirinya dicermin, tersenyum pada dirinya lalu segera keluar dari toilet.
Amina membawa peralatan kebersihan ke ruangan Alka.
Ia memasuki ruangan Alka dan tidak melihat Alka disana.
"Mungkin sedang meeting." batin Amina.
Amina mulai membersihkan ruangan Alka. hampir 2 jam Amian berada diruangan Alka namun Alka masih juga belum kembali.
"Sudah hampir jam makan siang tapi kenapa belum kembali?" batin Amina.
Amina akhirnya berinisiatif membelikan makan siang untuk Alka mengingat Alka sering memintanya membelikan makan siang.
Amina baru keluar dari warung makan tempat Ia membeli makanan bersamaan dengan Siska yang akan masuk bersama teman temannya.
"Wah wah, nggak cuma ngasih tubuh tapi juga ngasih perhatian ya." cibir Siska.
"Udahlah Sis, nggak usah cari masalah." salah satu teman Siska memperingatkan Siska.
Amina tak mengubris, melewati Siska begitu saja.
"Songgong banget nggak sih, rasane pengen gue remes." umpat Siska marah karena diabaikan oleh Amina.
Amina sudah kembali berada diruangan Alka namun Alka masih juga belum kembali.
Amina meletakan makan siang dimeja lengkap dengan peralatan makannya setelah itu Ia keluar untuk membantu pekerjaan temannya yang lain.
Jam pulang tiba, Amina sama sekali tak mendapatkan panggilan untuk kembali keruangan Alka, padahal biasanya setiap waktu Amina diminta keruangan Alka.
"Apa dia masih belum kembali?" batin Amina.
Amina yang penasaran kembali keruangan Alka namun lagi lagi Alka tidak ada disana, Alka masih belum kembali.
"Sudahlah aku pulang saja." Amina bergegas keluar kantor.
Diluar, Amina melihat mobil Alka memasuki kantor.
Amina ingin mendekat untuk berpamitan pada Alka namun Ia mengurungkan niatnya karena melihat Alka keluar bersama seorang gadis cantik dan juga seksi.
Deg....
Bersambung ..
Jangan lupa like vote dan komen yaa
__ADS_1