JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
84


__ADS_3

Hari hari berlalu, perut Amina semakin membesar. Calon bayi yang ada diperut Amina tumbuh sehat didalam perut Amina.


Semua karena Amina yang begitu bahagia menikmati kehamilannya apalagi, Suami dan mertuanya sangat baik pada Amina.


Seminggu 2 kali, Wina datang untuk menemani Amina, memberi tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh Amina selama hamil.


Amina sangat bersyukur dan bahagia memiliki Mama mertua seperti Wina.


Dan siang ini Amina baru saja menyelesaikan kelasnya, Ia segera keruang dosen untuk meminta cuti libur karena sebulan lagi Amina akan melahirkan baby nya.


Amina keluar dari kampus, melihat mobil Alka sudah terparkir didepan kampus.


"Sudah dapat izin cutinya?" tanya Alka saat Amina baru memasuki mobil.


"Dapat 3 bulan, lumayan kan mas. 1 bulan sebelum melahirkan dan 2 bulan setelah melahirkan." jelas Amina.


Alka berdecak, "Kurang lama!"


"Kalau kelamaan nanti aku malah tua dikampus." balas Amina membuat Alka tersenyum.


Alka menghentikan laju mobilnya didepan penjual soto pinggir jalan.


"Papa mu sudah hafal sekarang Nak, kita nggak minta udah dianterin kesini." ucap Amina sambil mengelus perutnya.


"Gimana nggak hafal, dari perut masih rata setiap siang makan nya disini." omel Alka mengingat jika Amina tidak bisa makan siang jika tidak makan soto pinggir jalan ini.


"Tapi beneran enak kan mas?"


Alka mengangguk, "Enak tapi kita mggak tahu masalah kebersihannya, apalagi pinggir jalan gini pasti banyak asap dan debu."


Amina tersenyum, "Kalau nggak bersih mungkin aku sudah sakit sejak pertama makan disini dong mas."


Alka kembali berdecak, "Iya deh iya, serah kamu aja."


Selesai makan soto, Alka mengantar istrinya pulang kerumah sebelum Ia kembali ke kantor.


"Mas.. Peluk." pinta Amina sebelum keluar dari mobil.


Alka tersenyum dan segera memeluk Amina. Setelah melewati 4 bulan Amina yang tak mau disentuh, sekarang Amina malah menjadi manja dan agresif, selalu minta peluk dan cium dari Alka tanpa malu.


Setelah memeluk dan memberikan ciuman pada Amina, Alka kembali ke kantornya.


Hari hari berlalu...


Alka baru saja pulang, melihat keadaan rumah sangat sepi.


Alka mencari keberadaan Mama dan istrinya namun mereka tidak ada dirumah.


"Apa Mama ngajak Amina jalan jalan? Tapi kok Bik Narti juga nggak ada." batin Alka.


Alka memang pulang lebih awal hari ini karena merasa hatinya gelisah tidak karuan ingin cepat pulang.


Alka naik ke atas kamarnya, Ia mencharger ponselnya yang mati sejak siang karena kehabisan baterai dan Ia belum sempat mencharger ponselnya saat dikantor.


Alka pergi mandi, selesai mandi Ia menyalakan ponselnya.


Dan betapa terkejutnya Alka melihat ada banyak notifikasi pesan dan panggilan telepon dari Mama dan Amina.


Istri kamu udah mau lahiran, kamu kemana sih! Ponselnya mati lagi!


Pesan terakhir yang Mamanya kirim.


Segera Alka mendial nomor Mamanya.


"Buruan kesini, Amina udah mau lahiran."


"Dimana Ma?" tanya Alka panik.


"Rumah sakit medika farma."


"Oke, Alka kesana sekarang.".


Alka memakai baju asal dan segera pergi kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit, Alka berlari menuju ruang bersalin, tak memperdulikan semua orang yang menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.


"Maa..." teriak Alka saat melihat Mamanya berdiri didepan ruang bersalin.


"Astaga Alka!" Wina menutup mulutnya saat melihat Alka saking terkejutnya.

__ADS_1


Setelah dekat, Wina memukuli tubuh Alka, "Kamu ini apa apaan Alka, bisa bisanya kerumah sakit pakai celana kayak gitu!" omel Wina membuat Alka menatap ke arah celana yang Ia pakai dan barulah Alka sadar jika Ia hanya memakai boxer dan yang membuat Alka semakin malu warna boxernya pink.


"Arghh, sialan! Pantes pada ngeliatin!" omel Alka pada dirinya sendiri.


"Udah udah, sekarang buruan masuk! Kasian Amina dari tadi belum keluar baby nya." kata Wina.


Dan benar saja, beberapa menit setelah Alka masuk, Amina segera melahirkan.


"Baby Girl." kata dokter yang membantu persalinan.


Alka menerima bayi cantik mungil yang baru saja dibersihkan oleh perawatnya.


Alka segera mengadzani putri pertamanya itu.


Setelah di adzani, Alka memberikan putrinya pada Amina agar segera mendapatkan asi.


"Cantik nih kayak Mamanya." puji Wina.


"Hidungnya mancung tuh kayak punya Papanya." tambah Alka.


Amina hanya tersenyum, Ia segera memberikan asi pertamanya untuk putri kecilnya itu.


"Semangat banget sayang nyedotnya, laper banget ya." ucap Alka lalu mengelus lembut pipi putrinya itu hingga membuat putrinya terusik.


"Jangan ganggu dulu mas!"


"Duh, mulai galak nih emaknya." celetuk Alka.


"Namanya siapa?" tanya Wina.


"Kemarin udah bikin sama Amina, namanya Aisyah Nadira Alkarim." jawab Alka.


"Namanya cantik." puji Wina ikut mengelus pipi gembul cucunya itu.


...****************...


Beberapa minggu berlalu, Amina mulai terbiasa mengurus bayi.


Mulai dari memandikan Aisyah, memakaikan bedong dan masih banyak lagi.


Kini Amina sudah bisa mengurus Aisyah sendirian tanpa bantuan Wina dan suster yang setiap hari memang datang untuk membantu Amina.


"Kamu kok udah sholat, memang nifasnya udah selesai?" tanya Alka saat melihat istrinya melipat mukena yang baru saja dipakai.


Alka tersenyum lebar, "Bisa nih..."


Amina tersenyum, tahu apa yang Alka inginkan.


"Aisyah juga udah bobok tuh." Alka menujuk ke arah keranjang bayi dimana putrinya sudah terlelap disana.


"Iya mas iya, aku siap siap dulu." kata Amina.


Alka yang sudah tak sabar, segera membawa Amina ke ranjang, "Lama sayang, gini aja udah oke." kata Alka yang kini sudah berada diatas Amina.


Baru ingin membuka kancing piyama Amina,


Oeekk... Oekkkk.. Keduanya dikejutkan oleh suara tangisan Aisyah.


Sontak Amina tertawa tidak seperti Alka yang langsung mendengus sebal, "Nggak pengertian banget sih nak sama Papa, baru juga mau buka puasa udah diganggu aja!" omel Alka yang membuat Amina tertawa.


...****************...


Beberapa tahun berlalu, hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Amina setelah 4 tahun lebih berjuang mengapai cita citanya.


Alka turun dari mobil bersama putrinya yang kini sudah berusia 3 tahun.


"Mama mama..." suara cempreng putrinya yang mencari keberadaan Mamanya.


"Mama didalam sayang, yuk kita kesana."


Alka yang tak sabar akhirnya mengendong putrinya memasuki gedung kampus tempat Amina akan diwisuda hari ini.


"Itu mama," tunjuk Alka agar putrinya ikut melihat ke arah Amina yang baru saja naik ke atas panggung.


"Mama... Mamama..." Aisyah melambaikan tangan ke arah Mamanya.


Setelah turun dari panggung, Amina segera menghampiri Suami dan putrinya.


"Cantik amat nih istri orang." goda Alka yang membuat Amina tertawa.

__ADS_1


Amina membawa Aisyah ke dalam pangkuan nya, "Maaf ya sayang, tadi Mama nggak sempat nunggu Ais bangun, Mama buru buru."


Aisyah mengangguk gemas, "Nggak apa apa Mama, kan sekarang udah ketemu."


Amina gemas dan langsung mencium pipi putrinya.


"Udah selesai kan acaranya? Kita berangkat sekarang yokk." ajak Alka yang langsung diangguki Amina.


Alka dan Amina menempuh perjalanan satu jam hingga keduanya sampai ditempat resepsi pernikahan.


"Akhirnya perjaka tua kawin juga." celetuk Alka.


"Huss, nggak boleh ngomong gitu mas!"


Alka tersenyum, Ia mengambil alih untuk mengendong Aisyah dan mereka segera memasuki acara resepsi.


"Tuan..." sapa pengantin pria yang langsung menghampiri Alka.


"Maaf baru bisa datang, acaranya bareng sama wisuda Amina." kata Alka.


"Nggak apa apa Tuan, tidak datang pun juga nggak apa apa yang penting kadonya datang." celetuk pengantin pria itu yang tak lain adalah Juan.


"Nggak kasih kado, kasihnya tiket buat honeymoon." kata Alka membuat Juan tersenyum senang.


Setelah 4 menunggu Lily akhirnya kini Juan mendapatkan restu untuk segera menikahi Lily padahal seharusnya mereka menikah 1 tahun lagi namun karena Papa Lily sakit membuat pernikahan mereka diajukan.


Dikarenakan sudah sore, Alka memutuskan untuk mencari hotel terdekat dan menginap disana.


"Aisyah udah bobok?" tanya Alka yang baru selesai mandi.


"Iya mas, baru aja tidur."


Alka tersenyum nakal, "Bisa dong bikinin adek buat Aisyah."


Alka membawa Amina ke ranjang satunya karena mereka memang memesan twin bed.


Alka sudah tak sabar memulai permainannya, baru ingin membuka baju Amina, keduanya mendengar suara cempreng Aisyah,


"Papa sama Mama mau ngapain?"


Keduanya terkejut dan langsung beranjak dari ranjang.


"Nggak ngapa ngapain sayang, udah yuk bobo lagi." ajak Amina yang kini sudah berbaring di ranjang Aisyah.


"Papa mau nakal ya sama mama?"


"Enggak nakal sayang, Papa baik kok." balas Amina.


Aisyah kembali terlelap membuat Amina dan Alka bisa bernafas lega.


"Gawat mas kalau sampai Ais lihat." kata Amina yang kini sudah kembali ke ranjang Alka.


Alka tersenyum, mengecup kening Amina lama.


"I love you." bisik Alka lalu memandang wajah cantik istrinya yang kini tersipu malu.


Sudah hampir 5 tahun mereka bersama dan Amina masih saja tersipu malu saat Alka mengucapkan kata kata romantis.


"Nggak dijawab nih?" protes Alka.


"I love you too mas dan terima kasih."


Alka mengerutkan keningnya,


"Terima kasih buat banyak hal terindah yang kamu kasih ke aku, terima kasih sudah membantuku menggapai cita citaku dan Ibu."


Alka tersenyum lalu memeluk Amina, "Aku juga lega akhirnya aku bisa menyelesaikan amanah dari Ibu, mengantarkanmu jadi sarjana."


Keduanya tersenyum, memandang satu sama lain hingga akhirnya....


"Nggak usah dilepas bajunya, main aman aja, takut Ais bangun lagi." bisik Alka membuat Amina tertawa.


TAMAT...


Alhamdulilah akhirnya....


Terima kasih buat para readers yang setia nunggu cerita ini.


maaf jika masih banyak kekurangan dari cerita author...

__ADS_1


Jangan lupa tunggu cerita Author selanjutnya ya gayssss...


Makasih...


__ADS_2