JERAT CINTA ALKA

JERAT CINTA ALKA
40


__ADS_3

Amina bergegas untuk pergi sebelum Alka melihat dirinya namun sayang Ia terlambat karena Alka sudah memanggil namanya lebih dulu.


"Amina tunggu!"


Amina pun berhenti dan berbalik menatap Alka.


"Harus biasa Amina, jangan terlihat kau sedang cemburu." batin Amina memaksakan tersenyum pada Alka.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Amina berjalan mendekati Alka.


"Mau kemana?"


"Pulang pak."


"Tidak boleh pulang, kau harus lembur hari ini!"


"Ta tapi pak-"


"Buatkan kopi 2." potong Alka sebelum Amina sempat menyelesaikan ucapannya.


Amina berdecak kesal, Ia ingin menghindari Alka nalah Alka menyuruhnya, tentu saja Ia harus menuruti perintah bosnya.


Amina kembali masuk menuju pantry untuk membuatkan kopi.


"Hadeh kasian amat sih ini selingkuhan, bentar lagi bakal jadi nyamuk nih!" celoteh Siska sambil menertawakan Amina.


Amina hanya menghela nafas panjang, kembali mengabaikan Siska dan melewati Siska begitu saja.


"Pak Alka itu berkelas pasti dia bakal milih cewek berkelas juga bukan cewek dekil kayak kamu!" celetuk Siska lagi.


"Kamu nggak ada kerjaan lain?" tanya Amina menatap Siska keheranan.


"Kerjaan aku sekarang cuma mau bikin kamu sadar kalau kamu itu nggak pantes buat Pak Alka."


Amina terdiam, Ia meresapi ucapan Siska yang mungkin memang benar,


"Yah tentu saja Pak Alka tidak akan memilihku karena aku bukan seleranya." batin Amina.


"Ehem..." Suara deheman pria tepat dibelakang Amina dan Siska mengejutkan keduanya.


"Pak Juan..." Amina terkejut melihat Juan memasuki Pantry.


"Kopinya sudah ditunggu Pak Alka Nona." kata Juan matanya menatap ke arah Siska yang kini sudah pucat ketakutan.


Amina mengangguk paham dan segera membawa 2 cangkir kopinya keruangan Alka.


Sementara diruangannya, Alka tersenyum senang saat melihat ada nasi bungkus favoritnya dimeja lengkap dengan peralatan makannya.


Alka merasa Amina sudah mulai perhatian padanya.


"Kenapa ada nasi bungkus dimejamu?" tanya Nana, gadis yang bersama Alka, putri dari investor perusahaan Alka.


"Ya, ini makan siang ku."

__ADS_1


"Nasi bungkus itu?" Nana menunjuk jijik ke arah nasi bungkus yang ada dimeja.


"Kenapa? Jika tidak suka jangan dilihat!" Sentak Alka menatap Nana dengan kesal karena jujur Alka tidak menyukai tingkah Nana yang manja dan menyebalkan. Jika saja bukan karena putri dari Investor mungkin Alka sudah mengusir Nana sedari tadi.


Pintu terbuka, Alka melihat Amina datang membawa nampan berisi dua cangkir kopi.


"Aku tidak suka kopi ini, belikan kopi diluar saja!" pinta Nana dengan suara manja.


"Baik Nona saya akan-"


"Tidak, jangan keluar. Kamu tetap disini biarkan Juan yang membelikan kopi untuknya!" Alka menatap Amina dengan tatapan tajam.


"Apa dia marah? Kenapa menatapku seperti itu?" batin Amina tak berani melihat ke arah Alka.


"Kenapa harus Juan, aku ingin dia yang membelikan kopi!" pinta Nana.


"Disini tempatku, jika kau tidak mau menurut pergi saja!" usir Alka sudah tidak bisa sabar lagi menghadapi Nana.


"Kau mengusirku? Apa kau ingin perusahaan ini bangkrut?"


"Sudah sudah, jangan bertengkar lagi biarkan aku yang membelikan kopinya." ucap Amina mencoba melerai Alka dan Nana yang saling memandang kesal.


"Tidak, berani kau keluar, akan kupecat sekarang!"


Amina kembali menghentikan langkahnya, Ia berbalik dan melihat Alka mengangkat ganggang telepon, Alka menelepon Juan agar membelikan kopi seperti yang Nana minta.


Alka meletakan teleponnya, Ia duduk disofa berhadapan dengan Nana yang masih menatap ke arahnya kesal.


"Kita mulai sekarang, jangan membuang buang waktuku lagi!" ucap Alka tegas.


"Agar perusahaan Papamu berhenti menjadi investor diperusahaanku? Silahkan saja, kau pikir aku takut!" balas Alka santai.


"Masih banyak perusahaan bagus yang ingin bekerja sama denganku jadi jika kau merasa tak suka silahkan pergi!"


Nana terlihat semakin kesal, Ia bahkan menghentak hentakan kakinya ke lantai.


"Kau sudah berubah, benar benar berubah, Sarah merubahmu menjadi monster!" ucap Nana.


Alka yang baru ingin membuka map kembali menutupnya, Ia benar benar tidak bisa menangani Nana lagi.


"Pak, lebih baik saya keluar saja ya?" suara Amina terdengar mendekati Alka.


Alka menatap Amina namun Amina malah menunduk, "Tetap disini!"


"Tapi pak-" Amina tidak melanjutkan ucapannya karena Alka menatap tajam kepadanya, Ia akhirnya menunduk, menuruti ucapan Alka, berdiri disana dan mendengar apapun yang tak ingin Ia dengar.


"Biarkan saja dia pergi, untuk apa kau menahannya?" heran Nana.


"Untuk menjagaku dari serangan mu!"


Nana melotot tak terima, "Apa kau gila? Kau pikir aku akan melakukan apa?"


"Tentu saja hal yang biasa kau lakukan, mencoba merayuku lalu menjebak ku, seperti biasa."

__ADS_1


Nana mengepalkan tangannya, Ia berdiri lalu mengambil barang barangnya, "Kita batal bekerja sama!"


"Oke."


Nana masih melotot tak percaya tak menyangka jika Alka tak peduli dengan ancaman darinya. Nana menghentakan kakinya lalu berjalan keluar dari ruangan Alka. Saat Ia akan keluar bersamaan dengan Juan yang hendak masuk membawa segelas kopi yang baru dibeli dari luar.


"Eh Nona Nana, saya sudah membelikan kop-" belum sempat Juan menyelesaikan ucapannya, Nana mengambil kopi dari tangan Juan lalu pergi melewati Juan begitu saja.


"Apa dia marah Tuan?" tanya Juan pada Alka.


"Ya, kau tahu sendiri sifatnya seperti apa." Alka terlihat cuek dan tak mau peduli.


"Tuan, apa kau tahu betapa susahnya aku mendapatkan investor itu?"


"Ck, sudahlah. aku tidak mau lagi berurusan dengan gadis itu. Jangan berpikiran untuk bekerja sama dengan mereka lagi!" tegas Alka.


Juan menggelengkan kepalanya tak percaya, "Tuan hanya perlu sabar sedikit saja agar perusahaan kita ini bisa-"


"Stop it Juan, biarkan aku yang mengurus ini. pergilah sekarang." usir Alka.


Juan mengedikan bahunya, Ia segera keluar dari ruangan Alka.


Kini hanya ada Alka dan Amina diruangan itu.


"Seharusnya Bapak tidak membiarkan Nona tadi pergi." celetuk Amina yang kini tahu jika gadis yang bersama Alka hanyalah rekan bisnis bukan gadisnya Alka.


"Kau juga ikut membelanya? Seharusnya kau berada dipihak ku!"


Amina menghela nafas panjang, Ia merasa sudah salah mengatakan itu pada Alka, seharusnya Ia tak ikut campur urusan Alka.


"Bukan begitu pak, saya hanya tidak ingin perusahaan ini sampai bangkrut."


"Kau terlalu meremehkan ku, dasar menyebalkan!"


"Maaf pak." Amina menundukan kepalanya, sungguh Ia tak ingin membuat Alka kesal.


"Aku lapar."


Amina segera berdiri dan mengambil makanan yang siang tadi Ia beli.


"Aku tidak bisa makan sendiri."


"Apa tangan pak Alka sakit lagi?" tanya Amina namun Alka malah menatapnya tajam.


"Baiklah, saya akan menyuapi Pak Alka."


Amina duduk disamping Alka, mulai menyuapi Alka.


Alka menatap Amina yang terlihat fokus menyuapinya, entah mengapa melihat Amina membuat Alka merasa tenang.


Tanpa sadar Ia mengelus kepala Amina membuat Amina terkejut dan menatap ke arah Alka.


Mata keduanya bertemu.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2