
Amina meletakan peralatan kerjanya lalu berjalan menuju loker tempat Ia menyimpan barang pribadinya.
Keadaan kantor sudah sangat sepi karena memang semua orang sudah pulang bahkan teman teman satu shiftnya sudah pulang meninggalkannya lebih dulu. Amina mendapatkan shift siang jadi mengharuskan Ia pulang paling akhir.
Amina mengambil tasnya diloker lalu segera keluar dari kantor.
"Baru keluar Neng." sapa satpam kantor yang masih berjaga didepan.
"Iya nih pak, duluan ya pak." balas Amina sopan melewati satpam yang begitu ramah padanya.
"Iya neng hati hati."
Amina keluar dari gedung kantor tempat Ia bekerja sebagai cleaning service ya Amina hanya bekerja sebagai cleaning service karena Ia hanya lulusan SMA dan sangat sulit mencari pekerjaan jika hanya lulusan sekolah. Meski begitu Amina tetap bersyukur karena sudah bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup untuk dirinya dan ibunya agar ibunya tidak perlu bekerja lagi.
Sebelum sampai rumah kontrakan, Amina mampir ke warung yang masih buka untuk membeli lauk makan malam.
"Padahal Ibu sudah masak." kata Surti saat melihat putrinya pulang membawa lauk.
"Kan Mina udah bilang Ibu santai aja dirumah nggak usah repot masak." balas Amina mengingat kesehatan Ibunya semakin menurun akhir akhir ini.
Surti tersenyum , "Cuma masak sayur asem soalnya ibu pengen."
"Wah cocok nih, Mina beli ikan goreng jadi pas kalau dimakan sama sayur asem." balas Amina dengan senyum mengembang.
"Kamu mandi dulu biar Ibu siapin makanannya." kata Surti yang langsung diangguki oleh Amina.
Amina baru selesai mandi lanjut makan malam bersama Ibunya.
"Gimana kerjaan kamu?" tanya Surti yang hampir setiap malam menanyakan pada Amina.
"Lancar kok Bu, temen temennya juga makin baik sama Mina."
"Syukurlah kalau begitu."
Surti terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu,
"Ibu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Amina curiga.
"Nggak, Ibu cuma kasihan sama kamu."
Amina mengerutkan keningnya heran, "Amina baik baik aja kok Bu."
Surti tersenyum, "Kalau Ibu nggak ada, kamu malah bisa kerja sama kuliah ya kan nggak perlu repot ngurusin Ibu." kata Surti membuat Amina menghentikan suapannya.
"Ibu ngomong apa sih, kalau Ibu nggak ada trus Amina sama siapa?" mata Amina berkaca menahan tangis karena akhir akhir ini Ibunya sering sekali mengatakan hal seperti itu.
"Tapi setidaknya kamu nggak punya beban."
"Ibu bukan beban buat Amina tapi semangat Amina. Kalau Ibu nggak ada Amina mungkin nggak akan semangat kerja lagi."
__ADS_1
Surti tersenyum, "Kamu harus tetap semangat mencapai cita cita kamu Amina, bukankah kamu bilang mau jadi Dokter?"
Amina tersenyum kecut, "Itu cita cita pas Amina masih kecil, sekarang Amina bahkan sudah nggak pengen lagi. Amina cuma pengen Ibu sehat biar bisa nemenin Amina terus." ungkap Amina yang hanya disenyumi oleh Surti.
Selesai makan malam, Amina masuk ke kamarnya untuk istirahat namun Amina belum bisa memejamkan matanya.
Amina memilih memainkan ponselnya dan membuka grub whatsapp rekan kerjanya.
"Pemilik baru?" gumam Amina membaca pesan dari rekan kerjanya yang membahas tentang pemilik PT Diamond yang baru.
"Semoga bukan atasan yang menyebalkan." gumam Amina lagi lalu mematikan ponselnya dan Ia segera pergi tidur.
...****************...
Pagi ini Alka begitu semangat untuk pergi ke kantor. Bahkan sebelum subuh Ia sudah bangun dan segera bersiap.
"Apa Tuan yakin berangkat sepagi ini?" tanya Juan yang baru datang menghampiri kerumah Alka karena mereka akan berangkat bersama.
"Ya tentu saja, hari ini ada penyambutan untuk ku jadi aku tidak boleh terlambat." balas Alka yang hanya membuat Juan melongo tak percaya karena tak biasanya Alka seperti itu.
Alka sampai dikantor dan benar saja Ia langsung disambut oleh semua karyawan PT Diamond. Alka melihat satu persatu wajah karyawatinya dan tidak ada satupun yang mirip dengan Amina.
"Kemana gadis itu?" batin Alka.
Niatnya Alka ingin memberikan kejutan untuk Amina namun Ia malah tak menemukan Amina.
"Selamat datang di PT Diamond pak, semoga dengan kehadiran Bapak bisa membuat perusahaan semakin maju." kata Raka salah satu manager di PT Diamond.
"Jika membutuhkan sesuatu katakan saja pada saya Pak."
Alka mengangguk paham. Kini Ia sudah berada diruangannya bersama Juan.
"Apa Tuan yakin dengan ini?" tanya Juan.
"Apa maksudmu?"
"Ya kita membeli perusahaan kecil yang mungkin tidak akan menguntungkan." balas Juan.
"Kau terlalu meremehkan sesuatu, kita lihat saja nanti. Aku yakin pasti bisa membuat perusahaan ini maju."
Juan mengangguk setuju, "Saya yakin Tuan bisa."
Alka berdecak, "Tadi kau meremehkan dan sekarang malah menyemangati, sebenarnya apa mau mu?"
Juan tersenyum memperlihatkan giginya, "Hanya basa basi Tuan karena rasanya aneh jika tidak berbicara dengan Tuan." ungkap Juan lalu tertawa.
"Sana pergi ke ruanganmu dari pada mengangguku!"
"Siap Tuan." ucap Juan sambil hormat pada Alka.
__ADS_1
Alka tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Juan yang selalu usil padanya.
Tak berapa lama, Raka memasuki ruangan Alka membawa beberapa berkas,
"Ini sekilas tentang perusahaan kita pak." ucap Raka meletakan berkas dimeja.
"Ya aku akan membacanya setelah ini." balas Alka yang masih sibuk menatap layar laptop.
Raka baru ingin keluar namun suara Alka menghentikan langkahnya,
"Apa ada karyawan yang tidak masuk hari ini?"
Raka berbalik kembali mendekat, "Tidak Pak, semuanya masuk."
"Apa kau yakin?"
Raka mengangguk, "Beberapa karyawan dibagian cleaning service ada yang masuk siang mungkin sebentar lagi mereka datang."
"Ahh begitu." Alka mengangguk paham, Ia kini tahu jika mungkin Amina masuk siang hari ini.
"Apa ada lagi yang ingin Bapak tanyakan?"
"Siapa yang mengurus kebersihan diruangan ini?" tanya Alka.
Raka tersenyum, "Kepala cleaning service yang biasanya turun tangan membersihkan ruangan Bapak."
Alka berdecak, "Ganti, aku ingin yang lain."
Raka terlihat mengerutkan keningnya, "Baiklah saya akan menggantinya pak."
"Aku ingin anak baru yang masih muda yang membersihkan tempat ini." pinta Alka.
"Baiklah pak." ucap Raka lalu pamit keluar.
Alka tersenyum lega, "Seharusnya dia tahu kan yang ku maksud siapa, anak baru dan masih muda tentu saja itu Amina. Aku akan memberikan kejutan untuk gadis nakal itu." gumam Alka lalu kembali tersenyum lebar.
Alka kembali fokus pada pekerjaannya namun tetap saja Ia tak bisa fokus karena sudah tak sabar untuk bertemu dengan Amina.
Alka menelepon Raka, "Minta bagian cleaning service yang ku maksud tadi untuk membawakan kopi." pinta Alka lalu menutup telepon.
Alka tersenyum tak sabar melihat pintu terbuka dan tak berapa lama pintu terbuka, Alka berbalik agar Amina masuk lebih dulu.
"Kopinya pak..." suara seorang gadis terdengar namun Alka merasa aneh karena suara itu terdengar centil berbeda dengan suara Amina yang lemah lembut.
Alka berbalik dan ternyata...
Bukan Amina.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komenn