
Alka sibuk menatap layar laptopnya, sesekali Ia memeriksa ponselnya untuk melihat notifikasi dari istrinya.
"Dia pasti baik baik saja karena tak menghubungi ku." batin Alka kembali fokus menatap layar laptopnya.
Juan terlihat memasuki ruangan Alka dengan membawa berkas.
"Ada hal penting yang harus Tuan lihat." kata Juan sambil menyodorkan berkas yang Ia bawa.
Alka mengerutkan keningnya menatap Juan, Ia mengambil berkas yang dibawa Juan lalu dibaca hingga habis.
"Juana corp?"
"Ya mereka ingin bekerja sama dengan kita Tuan."
Alka mengangguk paham, "Apa bagus?"
"Tidak Tuan, mereka bahkan hampir bangkrut."
Alka tertawa sinis, "Jadi kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan kan?"
Juan mengangguk, "Bukan itu yang ingin saya katakan Tuan."
"Lalu apa?"
"Pemilik Juana corp bernama Brawijaya adalah Ayah dari Brian, pria yang pernah menganggu Nona."
Alka terkejut, "Bukankah dia juga pemilik kampus?"
Juan mengangguk, "Benar Tuan."
Alka terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa Tuan tidak ingin memberi pelajaran sedikit untuknya?" tanya Juan dengan senyuman menyerigai.
"Kau ini benar benar!" Alka tersenyum seolah setuju dengan saran Juan.
"Lakukan apa yang biasa kita lakukan." kata Alka akhirnya.
"Baiklah Tuan."
Juan segera keluar dari ruangan Alka setelah selesai dan Alka kembali menatap layar laptopnya.
Sementara itu Amina masih asyik belajar mengendarai mobil bersama Jane.
Ini sudah hari ketiga dan Amina terlihat sudah lancar mengemudikan mobil pemberian dari Alka.
"Kau cepat belajar ya?" puji Jane pada Amina.
"Tidak juga kak, aku masih sedikit gugup."
Jane tertawa, "Kau terlihat sudah lebih baik dari kemarin." ungkap Jane dan Amina hanya tersenyum.
"Apa kau dan suamimu masih pengantin baru?" Jane terlihat penasaran.
Amina mengangguk, "Kami baru seminggu yang lalu menikah."
"Dan dia sudah membelikanmu mobil ini?" Jane terkejut.
Lagi lagi Amina tersenyum, "Mobil ini sudah lama terbeli bahkan sebelum kami menikah."
Jane terlihat kagum, "Kau sangat beruntung."
__ADS_1
"Aku juga sangat bersyukur." balas Amina kembali tersenyum ramah.
"Padahal kalau ku lihat dia tidak terlalu cantik, bagaimana bisa suaminya menyukai Amina?" batin Jane terlihat tak suka.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam untuk belajar, keduanya memutuskan untuk pulang.
"Kak Jane tidak mau makan siang bersamaku?" ajak Amina mengingat pagi tadi Ia sempat membuat lauk.
"Apa kau ingin mengajak ku makan direstoran?"
Amina menggelengkan kepalanya, "Tadi pagi Aku masak sayur asem dan ayam gor-"
"Tidak perlu!" potong Jane langsung menolak, "Aku pikir kau akan mengajak ku makan diluar."
"Kak Jane ingin makan diluar?" tanya Amina.
"Tidak, Ya sudah aku pergi dulu karena muridku yang lain sudah menunggu." pamit Jane lalu pergi meninggalkan Amina.
Amina masih menatap punggung Jane, Ia menghela nafas panjang lalu memasuki rumah.
Amina melihat jam dinding, masih pukul 11 siang, Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
"Sebaiknya aku ke kantor mas Alka buat nganter makan siang sama pamer kalau aku udah bisa pake mobilnya." gumam Amina lalu tersenyum senang.
Amina segera bersiap, mengambil rantang untuk menyiapkan makanan dan Ia segera berangkat ke kantor Alka.
Sampai dikantor Alka, semua anak kantor menyapa Amina dengan ramah padahal dulu jangankan menyapa, melihat ke arahnya saja tidak pernah.
"Eh Amina..." Sapa Yani salah satu rekan kerja Amina saat masih menjadi cleaning service.
"Mbak Yani, gimana kabarnya?" Amina membalas dengan ramah.
Amina hanya tersenyum, jujur Ia sedikit risih jika ada yang mengungkitnya istri bos seperti ini.
"Amina bantuin kami dong para cleaning service." pinta Yani.
"Bantuin apa mbak?"
"Bilang gitu sama suamimu biar gaji kami naik."
Amina terkejut, "Aduh, kalau masalah itu aku nggak ada hak buat ikutan mbak, terserah mas Alka saja."
Yani berdecak, "Ayolah Mina, bantuin kami. Masa iya hidup kamu udah enak tapi tega ngeliat temen temen kamu yang hidupnya susah."
Amina terdiam, Ia merasa terpojokan dengan ucapan Yani.
"Ya udah mbak coba nanti aku bilang sama mas Alka."
Yani tersenyum senang, "Nah gitu dong, kalau gitu kan keliatan kamu itu memang baik nggak sombong."
Amina kembali tersenyum, Ia segera pamit untuk keruangan Alka.
"Nona..." Sapa Juan saat Amina hendak memasuki ruangan Alka bersamaan dengan Juan yang keluar dari ruangan Alka.
"Mau nganter makan siang buat mas Alka." kata Amina sambil memperlihatkan rantang yang Ia bawa.
"Wah kalau begitu saya tidak perlu membelikan Tuan makan siang."
Amina mengerutkan keningnya heran, "Lho, kok kamu yang disuruh? Bukan cleaning service yang bertugas diruangan mas Alka?"
Juan tertawa, "Setelah nggak ada Nona, Tuan pasti meminta saya membelikan makan siang, lagipula cleaning service yang bertugas diruangan Tuan tidak selalu ada."
__ADS_1
"Aneh." gumam Amina.
"Ya sudah kalau begitu Nona masuk saja, mungkin Tuan sudah kelaparan."
Amina mengangguk dan segera memasuki ruangan Alka.
"Ck, ada apa lagi? apa kau lupa harus pesan apa?" suara Alka terdengar kesal.
"Saya lupa Tuan." tersenyum geli melihat Alka fokus menatap layar laptop hingga tak melihat ke arahnya.
Alka mendongak, menatap ke arah pintu dimana istrinya datang membawa rantang makanan.
"Sayang, aku pikir tadi Juan." ucap Alka beranjak dari duduknya dan langsung memeluk istrinya.
"Saking fokusnya kerja ya mas sampai nggak lihat siapa yang masuk."
Alka hanya tersenyum, "Kok tumben? Udah selesai belajar mobilnya?"
Amina mengangguk, "Mau ngajak makan siang bareng Mas." Amina memperlihatkan rantang yang Ia bawa.
"Harusnya tadi telepon dulu, aku udah minta Juan buat beli." kata Alka dengan lembut tak ingin istrinya kecewa.
"Tenang aja mas, tadi udah ketemu mas Juan dan aku juga udah bilang kalau bawain makanan buat mas." jelas Amina.
"Panggilnya Juan aja nggak usah pakai mas!"
Amina tersenyum, "Nggak enak lah mas, kan dulu dia atasan aku juga."
"Nggak usah ngeyel!"
Amina menghela nafas panjang, "Iya udah iya, panggilnya Juan aja."
Keduanya duduk disofa, Amina segera mempersiapkan makanan untuk Alka.
"Disuapin enak nih."
Amina tersenyum, "Iya iya disuapin."
Alka tersenyum senang, Ia mengambil laptopnya dan duduk disamping Amina.
Bibirnya mengunyah dengan pandangan fokus menatap layar laptop.
"Mas..." panggil Amina terlihat ragu.
"Ada apa sayang?"
"Gaji buat para cleaning service nggak ada kenaikan?" tanya Amina memberanikan diri karena Ia sudah berjanji ingin membantu Yani.
"Kenaikan gaji kan setiap awal tahun, sudah pasti naik sayang."
Amina bernafas lega, "Ya sudah mas, cuma mau nanya itu kok."
Alka berdecak, "Pasti kamu diminta temen kamu buat bilang ke aku kan supaya aku naikin gaji mereka?" tebak Alka yang langsung membuat Amina terkejut.
"Mas tahu dari mana?"
"Siapa yang udah nyuruh kamu? Bilang sama aku biar aku pecat aja sekalian!"
Wajah Amina berubah pucat, "Eh jangan dong mas,"
Bersambung....
__ADS_1